Category Archives: Tulisan Bebas

Sebuah pengakuan – catatan seorang commuter

HAMPIR dua minggu terakhir, saya menjadi commuter kembali setelah terakhir kalinya sekitar tujuh tahun yang lalu. Bedanya dahulu saya menjadi full-time commuter untuk kuliah pulang-pergi Bogor – Depok, sekarang menjadi buruh perusahaan dari Tanjung Morawa (Greater Medan) ke Galang (sebuah kota di Deli Serdang).

Beda lainnya, dahulu saya menggunakan transportasi umum (angkot, krl) menuju kampus dengan jarak sekira 45 km, sekarang menuju tempat kerja menggunakan sepeda motor atau nebeng mobil teman sekantor dengan jarak hanya 28 km.

Tentunya akan banyak cerita sewaktu masih menjadi anker alias anak kereta dari yang menyenangkan sampai yang tidak menyenangkan. Apalagi saya masih merasakan jelasnya ‘diskriminasi’ angkutan krl ketika itu antara kereta kelas ekonomi yang pintunya tidak bisa ditutup dengan kelas eksekutif yang pintunya otomatis bisa buka-tutup plus berpendingin.

Continue reading Sebuah pengakuan – catatan seorang commuter

Advertisements

Bekam, siapa takut?

Phelps pun berbekam (Sumber : Huffington post)

SAAT penyelenggaraan olimpiade di Rio tahun lalu, sempat viral pada media sosial pada beberapa atlet yang di bagian tubuhnya menampakkan lingkaran kemerahan. Belakangan diketahui merupakan bekas terapi bekam (cupping).

Continue reading Bekam, siapa takut?

Review singkat lensa manual Meike 35mm f/1.7

SETELAH post sebelumnya berkaitan dengan dunia pemetaan (GIS), maka kali ini post nya berhubungan dengan hobi sih bisa dibilang, yaitu fotografi. Post ini sedikit banyak berhubungan dengan yang ini dan itu ya.

Berhubung setelah gear kamera akhirnya berpindah haluan dari yang sebelumnya memakai compact menjadi interchangeable lens, keinginan untuk memiliki lensa fix/prime pun tidak bisa dibendung. Jika dahulu sudah pasti tidak terpakai jika membelinya, maka lain cerita jika sekarang.

Meike 35mm
Meike 35mm

Sebelum membeli barang, sudah pasti saya melakukan riset terlebih dahulu dari berbagai macam forum fotografi. Barang yang akan saya beli pun sudah pasti akan disesuaikan dengan budget yang ada. Intinya jika belum mampu beli ya tidak masalah ditunda, solusinya ya beli second. Untungnya barang yang saya incar harganya cukup terjangkau dengan kualitas ayng ditawarkan.

Continue reading Review singkat lensa manual Meike 35mm f/1.7

Selamat tinggal

Retired. After serving his mater for 4 years
Retired. After serving his master for 4 years

DUA pekan terakhir ini cukup membuat ‘hidup’ saya resah dan gelisah. Apa pasal. Rupa-rupanya cuma karena kamera yang saya beli sekira empat tahun lalu. Kamera ini sangat bersejarah dan berkesan karena merupakan kamera pertama yang saya beli menggunakan jerih payah saya sebagai seorang pekerja yang mengharap upah tiap akhir bulan dari perusahaan.

Tak lama setelah kepulangan saya dari pelosok Putussibau, mendadak kamera menunjukkan gelagat yang tidak normal. Saya tidak bisa menghidupkan apalgi mematikan unit kamera tersebut. Namun selang beberapa hari tiba-tiba bisa dihidupkan dengan normal walaupun butuh usaha ekstra saking emosinya. Percuma, selang beberapa lama kamera kembali mati total alias matot.

Continue reading Selamat tinggal

Perubahan di Bulan Ramdhan

Sumber : Kompasiana
Sumber : Kompasiana

Bicara Bulan Ramadhan sudah pasti berhubungan dengan puasa. Nah momen ini pun cuma ada satu bulan dalam kurun 12 bulan tiap tahunnya. Yang pasti, karena cuma satu bulan pastinya bulan yang spesial, khususnya untuk umat muslim di seluruh dunia.

Selama bulan puasa ini kebiasaan orang yang menjalankan puasa pastinya akan berubah. Mulai dari pola makan yang berubah hingga pola istirahat. Tentunya hal ini dikarenakan adanya aktivitas-aktivitas ruhiyah yang mesti dijalankan di luar hanya menahan lapar dan dahaga saja. Lagipula jika hanya menahan lapar dan dahaga saja, anak kecil juga bisa, bahkan unta apalagi.

Continue reading Perubahan di Bulan Ramdhan

DURIAN BlogM

BlogM, sebuah komunitas yang terdiri dari kumpulan blogger di Medan kembali menggelar Diskusi Ringan Anak Medan (Durian) yang bertempat di Kopi Baba yang berlokasi di bilangan Kesawan pada tanggal 16 Maret lalu. Bukan hanya sekedar berkumpul dan kombur-kombur, pertemuan tersebut juga diisi dengan materi yang bertemakan “Tips mengikuti lomba blog” yang disajikan oleh Sabda Awal.

Kebetulan pada Durian ini, saya baru mengikuti pertama kalinya. Kesan pertama saya pada komunitas ini, saya merasa tua saat bertemu para anggota yang masih kuliah haha. Selebihnya cukup seru mengikuti acara Durian tersebut.

Blogger Medan
Blogger Medan (Sumber foto : M. Ramli)

 

Plagiarism (?)

When I was looking for remote sensing definition in two thick text books, I found something smelled plagiarism in one book. My first book’s reference written by Lillesand, Kiefer, and Chipman. Lillesand is well known person in remote sensing world and that is why I used to read his book.

RS Def
Remote sensing definition (Source: Lillesand et al. 2004. Remote sensing and image interpretation)

My second book’s reference is written by Mr. X in 2008. I found the same definition (I mean same exactly words and letters!) about remote sensing! How come…

as
Remote sensing definition from Mr. X in 2008 (Text Book of RS and GIS)

Rumit

Saya terkadang bingung saat kumpul bersama keluarga besar dari ibu. Hampir seluruhnya berasal dari Jawa Tengah. Bingung karena ibu saya adalah anak bungsu dari sekian banyak saudara dan mbah saya termasuk yang memiliki banyak adik kandung. Sehingga singkatnya, pada tingkatan orang tua saya, saya termasuk hirarki yang paling rendah namun pada tingkatan mbah dan adik-adiknya, saya termasuk ke dalam hirarki yang tinggi.

Sebenarnya dalam tata cara penyebutan kepada saudara, dalam adat jawa sudah lengkap. Hanya saja tidak saya hafal. Bahkan penyebutan mbah atau putu (cucu) hingga tujuh tingkat pun ada tata cara penyebutannya.

Menjadi rumit ketika orang yang memiliki hirarki lebih tinggi berumur lebih muda dibandingkan dan bertemu dengan hirarki yang lebih rendah. Contohnya adik sepupu saya yg lebih tua sepuluh tahun dari umur saya. Saya sebenarnya diperkenankan menyebut dik kepada dia. Walaupun dalam kenyataannya saya tetap menyebut mas karena segan jika menyebut dik kepada orang yang lebih tua. Bahkan para orang tua kadang mengingatkan jika kita salah menyebut! Itulah adat. Harus dijunjung bagaimanapun keadaannya.

Kadang saya tidak mau ambil pusing jika kumpul keluarga besar. Saya panggil saja mas kepada yang terlihat lebih tua walaupun pada hirarki keluarga seharusnya saya lebih tinggi.

Kadang muncul situasi yang unik. Contohnya, kakak sepupu saya banyak yang seumuran dengan ibu saya. Saya agak canggung jika harus menyebut mas atau mbak kepada beliau. Akhirnya entah bagaimana caranya saya kondisikan ketika berbicara tidak sampai harus menyebutkannya. Dan itu terjadi. Anak dari kakak sepupu saya bahkan rerata umurnya lebih tua dari saya. Ini lebih gawat hehe. Keponakan saya lebih tua dari saya. Sehingga mereka sering menyebut oom atau lek kepada saya. Agak tergelitik sebenarnya ketika mendengarnya.

Kenyataan ternyata mengharuskan kondisinya lebih daripada gawat. Mungkin sampai darurat haha. Beberapa dari keponakan saya ada yang sudah beranak pinak. Dengan kata lain anaknya mereka kelak ketika bertemu dengan saya akan mengatakan mbah! Atau lebih mengerikan, eyang! Lebih ekstrim lagi eyang kakung!

Sekian.