Dibalik Lensa · Tulisan Bebas

Review singkat lensa manual Meike 35mm f/1.7

SETELAH post sebelumnya berkaitan dengan dunia pemetaan (GIS), maka kali ini post nya berhubungan dengan hobi sih bisa dibilang, yaitu fotografi. Post ini sedikit banyak berhubungan dengan yang ini dan itu ya.

Berhubung setelah gear kamera akhirnya berpindah haluan dari yang sebelumnya memakai compact menjadi interchangeable lens, keinginan untuk memiliki lensa fix/prime pun tidak bisa dibendung. Jika dahulu sudah pasti tidak terpakai jika membelinya, maka lain cerita jika sekarang.

Meike 35mm
Meike 35mm

Sebelum membeli barang, sudah pasti saya melakukan riset terlebih dahulu dari berbagai macam forum fotografi. Barang yang akan saya beli pun sudah pasti akan disesuaikan dengan budget yang ada. Intinya jika belum mampu beli ya tidak masalah ditunda, solusinya ya beli second. Untungnya barang yang saya incar harganya cukup terjangkau dengan kualitas ayng ditawarkan.

Continue reading “Review singkat lensa manual Meike 35mm f/1.7”

Dibalik Lensa · Tulisan Bebas

Selamat tinggal

Retired. After serving his mater for 4 years
Retired. After serving his master for 4 years

DUA pekan terakhir ini cukup membuat ‘hidup’ saya resah dan gelisah. Apa pasal. Rupa-rupanya cuma karena kamera yang saya beli sekira empat tahun lalu. Kamera ini sangat bersejarah dan berkesan karena merupakan kamera pertama yang saya beli menggunakan jerih payah saya sebagai seorang pekerja yang mengharap upah tiap akhir bulan dari perusahaan.

Tak lama setelah kepulangan saya dari pelosok Putussibau, mendadak kamera menunjukkan gelagat yang tidak normal. Saya tidak bisa menghidupkan apalgi mematikan unit kamera tersebut. Namun selang beberapa hari tiba-tiba bisa dihidupkan dengan normal walaupun butuh usaha ekstra saking emosinya. Percuma, selang beberapa lama kamera kembali mati total alias matot.

Continue reading “Selamat tinggal”

Tulisan Bebas

Perubahan di Bulan Ramdhan

Sumber : Kompasiana
Sumber : Kompasiana

Bicara Bulan Ramadhan sudah pasti berhubungan dengan puasa. Nah momen ini pun cuma ada satu bulan dalam kurun 12 bulan tiap tahunnya. Yang pasti, karena cuma satu bulan pastinya bulan yang spesial, khususnya untuk umat muslim di seluruh dunia.

Selama bulan puasa ini kebiasaan orang yang menjalankan puasa pastinya akan berubah. Mulai dari pola makan yang berubah hingga pola istirahat. Tentunya hal ini dikarenakan adanya aktivitas-aktivitas ruhiyah yang mesti dijalankan di luar hanya menahan lapar dan dahaga saja. Lagipula jika hanya menahan lapar dan dahaga saja, anak kecil juga bisa, bahkan unta apalagi.

Continue reading “Perubahan di Bulan Ramdhan”

Tulisan Bebas · Uncategorized

Curandal di Masigit

Unlucky (source: shutterstock)
Unlucky (source: shutterstock)

Mau coba bikin cerita untuk kali ini. Selamat menikmati. Sebagian besar isi pastinya cerita fiksi :p

Ucok sedang bersantai di kamar kosnya. Lampu kamar terang benderang pada malam itu. Tiba-tiba, pet! Kegelapan terlihat dimana-mana. Ternyata malam itu ada giliran mati lampu akibat dari kerusakan pembangkit listrik di Belawan.

Continue reading “Curandal di Masigit”

Tulisan Bebas

DURIAN BlogM

BlogM, sebuah komunitas yang terdiri dari kumpulan blogger di Medan kembali menggelar Diskusi Ringan Anak Medan (Durian) yang bertempat di Kopi Baba yang berlokasi di bilangan Kesawan pada tanggal 16 Maret lalu. Bukan hanya sekedar berkumpul dan kombur-kombur, pertemuan tersebut juga diisi dengan materi yang bertemakan “Tips mengikuti lomba blog” yang disajikan oleh Sabda Awal.

Kebetulan pada Durian ini, saya baru mengikuti pertama kalinya. Kesan pertama saya pada komunitas ini, saya merasa tua saat bertemu para anggota yang masih kuliah haha. Selebihnya cukup seru mengikuti acara Durian tersebut.

Blogger Medan
Blogger Medan (Sumber foto : M. Ramli)

 

Tulisan Bebas

Plagiarism (?)

When I was looking for remote sensing definition in two thick text books, I found something smelled plagiarism in one book. My first book’s reference written by Lillesand, Kiefer, and Chipman. Lillesand is well known person in remote sensing world and that is why I used to read his book.

RS Def
Remote sensing definition (Source: Lillesand et al. 2004. Remote sensing and image interpretation)

My second book’s reference is written by Mr. X in 2008. I found the same definition (I mean same exactly words and letters!) about remote sensing! How come…

as
Remote sensing definition from Mr. X in 2008 (Text Book of RS and GIS)
Tulisan Bebas

Rumit

Saya terkadang bingung saat kumpul bersama keluarga besar dari ibu. Hampir seluruhnya berasal dari Jawa Tengah. Bingung karena ibu saya adalah anak bungsu dari sekian banyak saudara dan mbah saya termasuk yang memiliki banyak adik kandung. Sehingga singkatnya, pada tingkatan orang tua saya, saya termasuk hirarki yang paling rendah namun pada tingkatan mbah dan adik-adiknya, saya termasuk ke dalam hirarki yang tinggi.

Sebenarnya dalam tata cara penyebutan kepada saudara, dalam adat jawa sudah lengkap. Hanya saja tidak saya hafal. Bahkan penyebutan mbah atau putu (cucu) hingga tujuh tingkat pun ada tata cara penyebutannya.

Menjadi rumit ketika orang yang memiliki hirarki lebih tinggi berumur lebih muda dibandingkan dan bertemu dengan hirarki yang lebih rendah. Contohnya adik sepupu saya yg lebih tua sepuluh tahun dari umur saya. Saya sebenarnya diperkenankan menyebut dik kepada dia. Walaupun dalam kenyataannya saya tetap menyebut mas karena segan jika menyebut dik kepada orang yang lebih tua. Bahkan para orang tua kadang mengingatkan jika kita salah menyebut! Itulah adat. Harus dijunjung bagaimanapun keadaannya.

Kadang saya tidak mau ambil pusing jika kumpul keluarga besar. Saya panggil saja mas kepada yang terlihat lebih tua walaupun pada hirarki keluarga seharusnya saya lebih tinggi.

Kadang muncul situasi yang unik. Contohnya, kakak sepupu saya banyak yang seumuran dengan ibu saya. Saya agak canggung jika harus menyebut mas atau mbak kepada beliau. Akhirnya entah bagaimana caranya saya kondisikan ketika berbicara tidak sampai harus menyebutkannya. Dan itu terjadi. Anak dari kakak sepupu saya bahkan rerata umurnya lebih tua dari saya. Ini lebih gawat hehe. Keponakan saya lebih tua dari saya. Sehingga mereka sering menyebut oom atau lek kepada saya. Agak tergelitik sebenarnya ketika mendengarnya.

Kenyataan ternyata mengharuskan kondisinya lebih daripada gawat. Mungkin sampai darurat haha. Beberapa dari keponakan saya ada yang sudah beranak pinak. Dengan kata lain anaknya mereka kelak ketika bertemu dengan saya akan mengatakan mbah! Atau lebih mengerikan, eyang! Lebih ekstrim lagi eyang kakung!

Sekian.

Catatan Perjalanan · Pariwisata · Tulisan Bebas

Pagoda Shwedagon

Beberapa hari terakhir, Kota Medan selalu diguyur hujan. Ditambah dengan hari libur yang berselang-seling, paduan membaca roman dan beristirahat di dalam kamar adalah komposisi paling pas untuk membunuh waktu. Bahkan untuk sekedar keluar mencari makan adalah hal yang paling tidak diinginkan walaupun perut lapar mencekik lambung.

Keesokan harinya, mentari memamerkan nafas hangatnya. Waktu yang sangat disayangkan untuk dihabiskan di dalam kamar. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi kawan untuk keluar kota mencari udara segar. Sayangnya yang bersangkutan tidak bisa. Berhubung niat sudah terpatri dengan kokohnya, maka saya memutuskan untuk ber-solo trip.

Awal perjalanan sudah dihiasi cerita salah naik angkot menuju Simpang Pos. Terus terang, selama tinggal di kota ini saya lebih banyak menghabiskan perjalanan dalam kota menggunakan motor. Sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan kemampuan saya mengingat trayek angkot yang ada di Medan. Setelah bergelut dengan ingatan (dan tanpa bertanya barang seorang pun) akhirnya tiba lah akhirnya saya di Simpang Pos. Simpang Pos adalah salah satu lokasi yang padat dengan aktivitas perpindahan manusia (maksudnya transportasi) dari atau menuju luar kota.

Sekonyong-konyong nampak deretan mobil Elf Sumatera Transport berjejer menunggu penumpang. Tanpa pikir panjang saya turun dari angkot dan menaiki Sutra terdepan. Walhasil saya duduk di bagian paling belakang. Terlebih dahulu saya memastikan kembali untuk mengingatkan lae kondektur untuk menurunkan saya nantinya di Simpang Tongkoh. Pada awalnya tujuan saya bukan di Simpang Tongkoh, namun setelah berpikir ulang dan mempertimbangkan masak-masak maka tujuan saya pada awalnya saya tunda di kemudian hari.

Sutra
Suasana tampak dalam Sutra

Selama perjalanan kami disuguhi berbagai macam tembang karo dan dangdut. Mulai dari lirik yang tak saya mengerti hingga yang saya mengerti. Saking ngertinya dalam hati saya berbahak. Liriknya seputar minum tuak yang bisa mengusir segala kebosanan. Sesekali saya pun disuguhi percakapan karo antara penumpang di sebelah dan depan saya. Sesekali curiga, jangan-jangan mereka sedang ngomongin saya. Persentuhan saya dengan masyarakat di sini membuat saya berpikir bahwa di hari tersebut saya sedang berdamai dengan diri sendiri. Tidak peduli dengan ketidak mengertian saya, saya nikmati sepenuh hati. Rasanya sudah lama saya tidak melakukan solo trip sejak masa mahasiswa. Jelas rasanya berbeda dan kelak saya akan melakukan hal sama untuk waktu ke depannya.

Hampir selama perjalanan, di kiri kanan disajikan pemandangan yang biasa saja. Namun kontur jalan yang curam sesekali membuat saya awas selama perjalanan. Tak terasa hampir dua jam saya berada di dalam Sutra. Saya turun di Simpang Tongkoh. Tempat ini dapat dikenali dari landmark tugu jeruk persis di pinggir jalan. Ongkos naik Sutra cukup murah. Hanya sepuluh ribu rupiah untuk menikmati kelokan jalan selama perjalanan dan keberingasan berkendara supirnya.

Karena sedikit ragu, saya bertanya kepada bocah penjaga warung (di sini lebih dikenal dengan nama kedai/kedae) mengenai arah jalan menuju Taman Lumbini. “Lurus saja ikuti jalan, terus belok kanan.” Jawabnya. Saya melanjutkan dengan berjalan kaki. Hari sebelumnya saya sudah meriset lokasi-lokasi yang akan saya kunjungi. Sehingga saya percaya diri untuk berjalan kaki. Memang jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan lintas. Dengan berjalan santai, dapat ditempuh dengan waktu dua puluh menit saja. Taksiran saya jaraknya satu kilometer lebih.

Pagoda Emas
Pagoda Emas Shwedagon ala Indonesia

Tak berapa lama akhirnya saya sampai di lokasi. Sempat terkagum karena di hadapan saya berdiri dengan megahnya pagoda untuk peribadatan umat Budha. Yang bikin saya heran adalah karena lokasi yang berada di dataran tinggi dengan mayoritas penduduk batak karo yang notabene beragama Kristen atau Islam. Mungkin saja memang sengaja dibangun di tempat yang sejuk dan jauh dari keramaian.

Pengunjung yang ingin melihat langsung pagoda ini bisa berkunjung setiap hari mulai pukul 09.00 – 17.00 dan tanpa dipungut biaya. Kita hanya diharuskan mengisi buku tamu dan dipastikan tidak membawa makanan, minuman, dan rokok ke dalam kawasan pagoda. Di bagian depan pagoda, terdapat lapangan yang cukup luas dan di sini kebanyakan pengunjung mengabadikan potret mereka dalam fotografi. Di bagian lantai terlihat debu vulkanik yang tersamar tipis-tipis sebagai tanda bahwa pada pagi atau malam hari sebelumnya angin membawa debu vulkanik Sinabung sampai ke lokasi ini.

Saya tidak menyangka jika area Taman Lumbini ini cukup luas. Jika kita berjalan ke bagian belakang taman maka kita akan menjumpai jembatan yang menghubungkan antara dua bukit dan di dasar jembatan terdapat taman-taman lengkap dengan air mancur. Sungguh asri. Suasana pegunungan yang sejuk dan tenangnya lingkungan pagoda adalah kondisi yang sesuai untuk melepas kepenatan. Bangunan utama tentu saja yang menjadi pusat perhatian pengunjung. Dengan warna emas berkilauan dan beberapa menara di sekelilingnya lengkap dengan detil ornamennya memang benar-benar membuat kita sedang merasa di Burma atau Thailand (walaupun saya belum pernah ke dua negara tersebut).

Nah, bagaimana dengan ruang dalam pagoda? Sejujurnya pada awalnya saya sangat penasaran untuk masuk ke dalam. Hanya saja, pegawai kebersihan setempat hanya mengizinkan untuk masuk ke dalam pagoda untuk yang ingin bersembahyang saja. Sekilas saya melihat bule-bula yang langsung memasuki ruang dalam, saya sempat protes kepada si pegawai. Dia hanya beralasan sudah diperingatkan namun para bule itu tidak menurut. Saya sempat protes. Namun tidak mau memperpanjang masalah dan menghindari si pegawai tersebut. Saya harus menghormati aturan yang ada (walaupun lisan) dan tidak rugi juga sebenarnya jika tidak sempat masuk ke dalam.

Bagi yang senang dengan hal yang berkaitan dengan strawberry, jangan lewatkan kesempatan untuk membeli buah tersebut dengan langsung memetik dari pohonnya. Di sepanjang jalan menuju pagoda tersaji hamparan kebun strawberry yang bisa kita petik atau membeli bibitnya. Dari kejauhan, saya melihat satu keluarga yang sedang memetik buah strawberry bersama anak-anaknya.

Kita harus sadar, bahwa setiap tempat adalah unik dan menarik. Ternyata, tanpa perlu berjalan-jalan jauh ke luar negeri, di Indonesia, negeri yang kita cintai ini banyak tersebar objek-objek yang tak kalah menarik dengan negara tetangga. Ya, kita hanya butuh memulai perjalanan dan bereksplorasi sebanyak-banyaknya.