Dibalik Lensa · Tulisan Bebas

Selamat tinggal

Retired. After serving his mater for 4 years
Retired. After serving his master for 4 years

DUA pekan terakhir ini cukup membuat ‘hidup’ saya resah dan gelisah. Apa pasal. Rupa-rupanya cuma karena kamera yang saya beli sekira empat tahun lalu. Kamera ini sangat bersejarah dan berkesan karena merupakan kamera pertama yang saya beli menggunakan jerih payah saya sebagai seorang pekerja yang mengharap upah tiap akhir bulan dari perusahaan.

Tak lama setelah kepulangan saya dari pelosok Putussibau, mendadak kamera menunjukkan gelagat yang tidak normal. Saya tidak bisa menghidupkan apalgi mematikan unit kamera tersebut. Namun selang beberapa hari tiba-tiba bisa dihidupkan dengan normal walaupun butuh usaha ekstra saking emosinya. Percuma, selang beberapa lama kamera kembali mati total alias matot.

Sabtu lalu akhirnya saya menyerah dan menyerahkan saja pada ahlinya, sebuah pusat servis Canon di Kota Medan. Selanjutnya, hari Rabu lalu saya menyengaja cuti dan pergi untuk konsultasi kerusakan kamera tersebut. Hasilnya cukup mengguncang hidup saya haha. Ternyata mainboard mengalami kerusakan karena korosi, bagian optik pun ikut-ikutan rusak. Sungguh kerusakan yang fatal.

Harga servis dan pemasangan kembali mainboard dan optik baru ternyata membuat saya vertigo sepersekian milidetik. Tak tanggung-tanggung harganya senilai harga dahulu saya membeli unit barunya, bahkan lebih mahal Rp 75.000 haha. Selain vertigo ternyata mata saya pun melotot dalam hati sambil jatuh berkelonjotan.

Dalam sekejap, saya pun berpikir. Otak saya bekerja dalam waktu singkat. Tawaran Mba-mba pun akhirnya saya tolak dengan percaya diri. Emang enak ditolak hehe. Namun begitu saya tetap harus membayar separuh biaya diagnosis kerusakan kamera.

Sejenak akhirnya saya pun memutar memori otak ke masa lalu kapankah kiranya si korosi itu menyebabkan kamera digerogoti imunitasnya. Ingatan saya kembali ke 2012 ketika salah seorang kawan sempat meminjam kamera untuk berlibur dengan keluarganya ke sebuah pantai. Dan ketika dikembalikan banyak terlihat percik tempias air laut di lensa. Nah nampaknya korosi disebabkan juga dari garam yang terkandung pada angin pantai.

Di lain kesempatan kamera saya pun pernah terekspos oleh tempias air terjun ketika saya mengabadikan menggunakan long exposure mode ketika di Berau atau Dwi Warna Sibolangit. Sampai sini saya jadi memikirkan ternyata kamera yang memiliki environmental seal ternyata penting untuk foto luar ruangan (contohnya XT1).

Puncaknya memang ketika survey ke Putussibau bulan lalu. Ketika memasuki hutan, saya hanya membawa tas selempang dan kamera malah saya gantungkan di leher. Saat itu saya bergantian merintis jalan dengan teman kantor dan tau sendiri ketika survey lapangan/trekking keringat yang mengucur keluar dengan dahsyat. Seluruh baju keluar keringat yang rasanya asin dan kamera secara langsung menempel di pakaian yang basah. Partikel-partikel mikro uap dari tubuh tentunya akan masuk ke celah dan pori-pori kamera yang semakin memperparah karat di dalamnya.

Hikmah

Dibalik rusaknya si G15, sebagai manusia yang masih waras ya saya terima dengan ikhlas kepergiannya. Saya sudah berniat untuk mempesiunkan dan memajangnya kelak di sudut rumah. Jika ada pepatah patah tumbuh hilang berganti, demikian pun berlaku dengan kamera haha.

Setelah berpikir masak-masak akhirnya saya akan meninggalkan G series nya Canon yang legendaris ini dan akan beranjak ke dunia perkameraan yang lebih kekiniian, yakni mirrorless. Alasannya sederhana, saya tidak akan membeli DSLR kamera yang bodynya termasuk besar dan juga sudah meninggalkan dunia pocket camera dan compact. Tentu saja pilihannya tinggal mirrorless.

Beberapa pilihan mengerucut sebagai pengganti G15 saya jatuh pada tiga merk yang sudah tak asing buat semua orang yaitu Canon, Nikon, dan Fujifilm. Oh ya saya menggunakan situs yang bermanfaat ini untuk membandingkan kualitas kamera yang isinya sangat-sangat informatif. Namun dari ketiga pilihan tersebut baru dari jajaran Canon yang sudah saya coba. Sedikit banyak fiturnya masih sama dengan G15 yang biasa saya pakai dengan kelebihan dan kekurangannya. Pertimbangan lokasi pusat servis yang tersedia di Medan pun menjadi salah satu pilihan untuk menjatuhkan pilihan kamera nantinya. Nampaknya sudah kelihatan ya.

 

Advertisements

8 thoughts on “Selamat tinggal

  1. Iyeess emang bang mendingan pake mirrorless, aku juga lagi kepengen banget punya mirrorless, cuma nunggu harganya turun dulu deh soalnya lensanya banyak&mahal juga. Klo aku sih klo buat foto2 di air pake SJ CAM, emang sih ga sebagus go pro, tapi hasilnya lumayan kok

  2. wah, langsung kepikiran ngechek.in kamera yang baru-baru ini di pakai di suhu ekstrem rendah dan kemudian ekstream tinggi …. huhuhu. nice pengalaman… :v

  3. sejak jenis mirrorless belum ada ada sampe kamera mas Anggik ini mau diganti,, aku belom sanggup beli dua2nyaa hahahha #curhat mas Anggik, ntar kalo jdi beli kamera baru, mau dong baca review-nyaa hihih

    1. hehehe semoga dipercepat deh mba beli mirrorless nya ya. Kebetulan sudah beli hehe, ngga kuat berlama-lama tanpa kamera 🙂 Sip nanti bakal ada postingannya mba 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s