Tags

,

SETELAH post sebelumnya berkaitan dengan dunia pemetaan (GIS), maka kali ini post nya berhubungan dengan hobi sih bisa dibilang, yaitu fotografi. Post ini sedikit banyak berhubungan dengan yang ini dan itu ya.

Berhubung setelah gear kamera akhirnya berpindah haluan dari yang sebelumnya memakai compact menjadi interchangeable lens, keinginan untuk memiliki lensa fix/prime pun tidak bisa dibendung. Jika dahulu sudah pasti tidak terpakai jika membelinya, maka lain cerita jika sekarang.

Meike 35mm

Meike 35mm

Sebelum membeli barang, sudah pasti saya melakukan riset terlebih dahulu dari berbagai macam forum fotografi. Barang yang akan saya beli pun sudah pasti akan disesuaikan dengan budget yang ada. Intinya jika belum mampu beli ya tidak masalah ditunda, solusinya ya beli second. Untungnya barang yang saya incar harganya cukup terjangkau dengan kualitas ayng ditawarkan.

Mengapa saya ingin membeli lensa ini? Pertama karena ingin mencari lensa yang berbukaan besar. Saya pasti terkesima jika melihat foto dengan bokeh yang menawan. Foto berbokeh menawan seolah membius mata saya. Kedua ingin mencoba lensa berfokus manual. Sedikit banyak sebenarnya saya merasa kurang puas menggunakan eos M terutama untuk obyek yang bergerak.

Incaran pertama lensa sebenarnya bermerk Canon, yakni EF M 22mm f/2.0, hanya saja harganya cukup mahal. Opsi yang masuk budget saya untuk lensa prime yaitu Meike 35 mm f/1.7. Karena dari harga saja cukup terpaut jauh (hampir 1/3 dari Canon), maka sudah barang tentu akan banyak perbedaan antara keduanya yaitu:

  • Harga: Sudah pasti jauh bedanya
  • AF : untuk Canon, memiliki koneksi mekanik auto focus dengan kamera eos M, tentunya akan lebih mudah mendeteksi objek yang ingin diambil gambarnya. Untuk Meike sudah pasti manual fokusnya.
  • Build quality : untuk Canon, belum pernah coba dan pegang langsung namun jika build qualitynya sama dengan lensa native eos M yang sudah saya punya (15-45 mm dan 55-200 mm) sudah bisa dipastikan fabricnya dari plastik sehingga beratnya ringan. Meike jauh lebih solid build qualitynya karena dibuat dari metal dan tentunya lebih berat.
  • Kualitas : untuk Canon, belum pernah coba dan baru melihat dari youtube hasilnya. Meike pun baru saya coba kurang dari 20 potretan dan cukup puas dengan hasilnya.

Pertama kali saya membuka dan memegang lensa, kesan pertama saya adalah lensanya berat hehe namun terlihat bagus dan retro. Retro karena tampilannya mirip dengan dengan lensa-lensa zaman dulu walaupun ini lensa Meike benar-benar lensa yang baru diproduksi di Hongkong. Spesifikasi lensa lengkap bisa dilihat di sini.

Perbandingan dengan lensa zoom 55-200mm

Perbandingan dengan lensa zoom 55-200mm

Tampak samping

Tampak samping

Sekilas melihat lensa maka akan terlihat deretan angka-angka yang menghiasi bagian ring lensa. Di bagian pangkal yaitu ring bukaan yang dimulai dari bukaan terbesar 1/1.7 sampai yang terkecil yaitu 1/22. Bukaan ini untuk menentukan banyak sedikitnya cahaya yang masuk dalam mengambil gambar. Nah sepengetahuan saya, biasanya ring bukaan itu sistemnya yang klik-klik untuk lensa manual. Untuk lensa Meike ini berbeda, yaitu menggunakan ring yang loss, sama dengan ring fokus.

Untuk ring di bagian depan tentu saja ring fokus yang digunakan untuk menentukan ruang fokus pada objek yang difoto. Ring fokusnya terasa smooth saat diputar dan buat saya cukup nyaman menggunakan ring fokus lensa Meike.

Oh ya, berhubung ini lensa manual maka antara kamera dengan lensa tidak ada kontak elektrik/mekanik. Jadi hasil foto jika menggunakan lensa ini tidak bisa kita trace dengan sempurna data f nya (terbaca 0). Namun untuk data exif lainnya seperti ISO, shutter speed masih tercatat pada file gambar.

Jika menggunakan kamera mirrorless, fungsi focus peaking akan benar-benar sangat membantu dalam mengambil gambar. Bahkan area fokus yang kita inginkan untuk didapatkan ruang tajamnya bisa diberi wewarnaan yang mencolok (seperti merah/kuning) untuk memastikan benar di live view kamera.

Dari hasil percobaan memotret di pekarangan depan rumah seorang teman, saya cukup puas dengan hasilnya walaupun ada beberapa catatan minor. Ternyata saya sangat menikmati sensasi menggunakan fokus manual. Jauh lebih nyaman menggunakan manual saat pakai Meike dibandingkan dengan lensa native Canon.

Testing

Testing

Test close up

Test close up

Contoh bokeh

Contoh bokeh yang joss

Dari beberapa potret-potret awalan saya menggunakan lensa ini ada juga kekurangan yang sedikit mengganggu. Salah satunya yaitu lensa rentan sekali dengan lens flare. Jadi jika kita mengarahkan kamera dengan objek yang backlight cahaya terang (seperti sinar matahari) langsung terlihat. Jangankan langsung berhadapan dengan sinar matahari, dengan pantulannya yang cerah saja akan terlihat.

Selain itu, setelah saya amati ternyata ketajaman gambarnya pada bukaan besar akan berbeda dengan di tepi gambar. Jadi yang paling tajam yaitu yang berada di bagian tengah frame, untuk di tepiannya akan ada sedikit blur serta efek vignette (kehitaman). Namun jika nilai bukaan diperkecil, kekurangan tersebut akan semakin sirna. Tinggal pandai-pandainya si pemotret sih untuk kompromi hasilnya degan baik.

Contoh

Contoh

Sekian dulu sekelumit tulisan dari saya. Semoga bermanfaat bagi yang sedang mencari alternatif lensa berkualitas dengan harga yang terjangkau. Satu lagi, jangan terlalu percaya sama tulisan fotografer  karbitan kayak saya hehe.

Advertisements