Tags

Unlucky (source: shutterstock)

Unlucky (source: shutterstock)

Mau coba bikin cerita untuk kali ini. Selamat menikmati. Sebagian besar isi pastinya cerita fiksi :p

Ucok sedang bersantai di kamar kosnya. Lampu kamar terang benderang pada malam itu. Tiba-tiba, pet! Kegelapan terlihat dimana-mana. Ternyata malam itu ada giliran mati lampu akibat dari kerusakan pembangkit listrik di Belawan.

Tak berapa lama mati lampu terjadi, Ucok pun keluar kos mencari angin menggunakan motornya, eh kretanya maksudnya. Setelah merasa lebih segar terkena angin malam, Ucok pun bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat. Dari mulai sholat sampai selesai tidak ada yang aneh sampai akhirnya saat akan memakai sandal jepit kesayangannya yang bermerk Ager, sandal jepit tersebut tidak kelihatan.

Mata Ucok pun langsung singit. Tanpa diperintah, mata Ucok langsung menyisir jejeran sandal para jamaah lainnya. Sandal jepit Ucok masih belum terlihat! Ucok masih tidak percaya. Ucok pun mendatangi masing-masing pasangan sandal jamaah sampai tiga kali mulai dari selasar paling barat hingga bagian timur. Ucok bahkan sampai mengucek-ngucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat. Setelah yakin sandalnya tidak ada, Ucok pun bergegas menghidupkan starter kretanya sambil berceker ayam.

Tidak sampai 20 detik Ucok pun sampai ke minimarket yang tepat berada di samping masjid. Ucok pun memasuki minimarket tersebut dengan terburu-buru. Sekilas pelayan wanita pun sempat tercengo-cengo melihat Ucok memasuki minimarket tanpa beralas kaki. Ucok tidak peduli dengan hal tersebut dan langsung menuju rak sandal jepit. Hal tidak mengenakkan terjadi lagi. Pelayan pria yang sedari tadi melihat gelagat si Ucok nampaknya curiga. Si pelayan dengan gerakan mengendap-endap perlahan mendekati tempat si Ucok memilih sandal sambil menjaga jarak dan memasang kuda-kuda, entah untuk bersiap kabur atau untuk menendang. Nampaknya pelayan itu curiga dengan kelakukan si Ucok karena masuk ke minimarket tanpa alas kaki. Pasti si pelayan menganggap si Ucok itu orang gila.

“Peduli setan”, gumam Ucok. Setelah menemukan ukuran sandal jepit yang pas, Ucok langsung menuju kasir. Mbak-mbak yang tadi cengo melihat Ucok, kini mengulum senyumnya, tak ketinggalan si mas-mas yang tadi agak curiga tampak menahan senyum. Ucok sempat berbasa-basi kepada kedua pelayan minimarket tersebut dan berkata bahwasanya Ucok baru kehilangan sandal jepit kesayangannya. Akhirnya kedua pelayan tersebut hanya tersenyum simpul saja, padahal dalam hatinya pasti sedang terngakak-ngakak.

Setelah membayar uang sandal jepit Sualou seharga 17.000, Ucok pun langsung keluar dari minimarket. Kedai mie rebus menjadi tujuan selanjutnya untuk melupakan peristiwa curandal yang baru saja terjadi. Sialnya sampai di kedai mie rebus, ada dua orang mamak-mamak yang sedang mengobrol menggunakan bahasa lokalnya. Kepala Ucok tambah merasa pening. Akhirnya Ucok menambahkan sambal cabe sebanyak-banyaknya agar bersemangat 45 menghabiskan mie rebus dan juga meninggalkan kedai mie rebus karena ada dua mamak-mamak yang menyerocos dengan bahasa yang Ucok tak mengerti.

Dalam perjalanan pulang kembali menuju kost, Ucok menyengaja melewati rute samping masjid. Masih berharap melihat secercah harapan untuk melihat sandal jepit kesayangannya yang mungkin orang meninggalkannya karena salah pakai. Husnudzon Ucok ternyata tidak membuahkan hasil, sandal jepit yang diharap terlihat tak menampakkan batang cokornya. Masjid sudah lengang dan tak terlihat sama sekali sandal terlihat.

Kesimpulannya : Bang Napi pernah bilang, kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya tetapi karena ada kesempatan. Waspadalah!