Tags

, ,

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari cerita ini. Jadi, setelah akhirnya kami tiba di Bandara Binaka, kami pun langsung tancap gas untuk menuju Kota Gunung Sitoli. Objek wisata pertama yang akan kami kunjungi adalah Museum Pusaka Nias.

Perjalanan dari bandara menuju Kota Gunungsitoli hanya memakan waktu tak lebih dari 30 menit saja. Hampir sebagian perjalanan melewati jalanan di tepi pantai. Penunjuk jalan kami, Yus bercerita panjang lebar mengenai beberapa hal seputar Nias seperti sejarah, orang-orang sakti, makanan serta tak ketinggalan cerita kehidupannya yang masih menjalani perkuliahan tingkat akhir.

Kota di tepian laut : Gunungsitoli

Salah satu sudut kota

Salah satu sudut kota

Kota Gunungsitoli terletak di pesisir bagian Timur Pulau Nias dan merupakan satu-satunya kota otonom. Dahulunya kota ini merupakan ibukota Kabupaten Nias. Kota Gunungsitoli juga merupakan satu-satunya kota tertua dan terbesar yang ada di Pulau Nias.

Fasilitas di Kota Gunungsitoli bisa dibilang lengkap. Jalanan kota yang beraspal, ketersediaan listrik, ATM, tempat ibadah muslim dan kristen yang berdampingan, hingga rumah makan yang menyajikan hidangan halal sampai non halal hehe. Yang kurang hanya mal serta bioskop. Tetapi sejujurnya saya suka kondisi kota yang sedang berkembang seperti Gunungsitoli. Walaupun kotanya agak berantakan, tetapi cukup bersih ternyata dan yang pasti tak ada kemacetan!

Museum Pusaka Nias yang mungil nan sarat sejarah

Komplek museum

Komplek museum

Masih berlokasi dalam wilayah administrasi Kota Gunungsitoli, terdapat sebuah objek wisata yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para wisatawan. Lokasi museum ini sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalanan kota dan berbatasan langsung dengan laut di sisi bagian dalamnya. Kesan pertama saya begitu tiba di museum yaitu bersih.

Biaya masuk ke lingkungan museum ini yaitu lima ribu rupiah. Maksudnya lingkungan museum termasuk kantin, gazebo serta tempat nongkrong di pinggiran pantainya. Untuk masuk ke gedung museumnya akan dikenakan lagi biaya lima ribu rupiah.

Karena saking bersihnya dan rapihnya lokasi museum, saya sempat berpikir bahwa museumnya ini dikelola oleh swasta dan memang ternyata benar. Museum berada di bawah naungan Yayasan Pusaka Nias yang dikepalai oleh seorang pastur dari Jerman. Saat ini beliau sudah menjadi warga negara Indonesia (sejak 70an) dan sangat fasih berbicara dalam bahasa Indonesia bahkan bahasa Nias.

Koleksi Museum

Bangunan utama museum

Bangunan utama museum

Museum utama Pusaka Nias terdiri dari empat ruang utama yang masing-masing ruangnya berupa bangunan dengan atap yang menguncup (lihat gambar di atas). Masing-masing ruang juga berisikan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan suku di Nias. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di tiga ruang museum. Hanya di ruang empat saja pengunjung diperkenankan untuk mengambil gambar.

Kostum perang suku Nias

Kostum perang suku Nias (foto diambil diam-diam)

Salah satu koleksi yang membuat saya kagum yaitu pakaian perang suku Nias. Ada dua macam sebenarnya yang saya lihat. Yang pertama terbuat dari kulit buaya dan yang kedua terbuat dari logam seperti gambar di atas. Nah, yang terbuat dari logam ini yang menurut saya keren. Kostumnya bahkan sebenarnya terlihat kaku dan saya yakin ketika berperang si pemakai akan memiliki sedikit ruang gerak untuk bertempur. Namun itulah hebatnya mereka, kostum ini menjadi kostum perang kebanggaan mereka.

Selain pakaian utama yang melindungi bagian dada pemakai, kostum perang juga dilengkapi oleh perisai, ‘mahkota’ yang juga terbuat dari logam, pelindung leher yang terbuat dari tempurung kelapa, ‘ikat pinggang’ dari kulit pohon, sebilah pedang (mirip dengan pedang Portugis), serta azimat yang diselempitkan di pinggang berupa gumpalan yang berisi taring hiu, babi serta binatang buas lainnya. Perihal azimat, semakin banyak taring yang ada, maka akan semakin memberikan kekuatan kepada pemakainya ketika berperang.

Koleksi museum

Koleksi museum

Selain pakaian, karena pada masa lampau agama yang dianut oleh penduduk Nias sebelum datangnya misionaris adalah animisme, maka banyak juga koleksi yang terbuat dari batu maupun kayu yang berhubungan dengan peribadatannya. Ada yang unik, pada beberapa patung, terdapat bentuk harimau yang aneh. Setelah saya tanya kepada staf museum, ternyata memang dahulu penduduk hanya mendengar perihal harimau karena memang di Nias tidak ada harimau. Sehingga mereka memahat harimau imajiner menurut khayalan mereka. Sekilas malah mirip perpaduan anjing dan harimau. Sayangnya foto tidak ada karena memang dilarang untuk memotret.

Entah kenapa hewan imajiner naga selalu muncul di berbagai kebudayaan utamanya di dunia timur. Pun di Nias saya banyak menemukan ukiran batu maupun kayu yang melambangkan kepala naga. Menurut staf museum, ukiran kayu pada rumah adat juga melambangkan derajat si empunya rumah. Keturunan bangsawan akan memiliki ukiran kayu lebih unik dibandingkan rumah penduduk biasa yang cenderung tanpa ukiran di rumah yang ditempatinya.

Kepala naga

Kepala naga

Replika rumah adat

Replika rumah adat

Sepeda yang dipakai misionaris dahulu

Sepeda yang dipakai misionaris dahulu

Koleksi dokumentasi kedatangan misionaris

Koleksi dokumentasi kedatangan misionaris

Kebun binatang mungil

Buaya Nias

Buaya Nias

Setelah puas berkeliling museum, tak jauh dari situ terdapat kebun binatang mungil. Kebun binatang ini bisa disambangi dengan gratis alias tanpa pungutan biaya. Walaupun tidak banyak koleksinya, cukup bisa menjadi penghibur para pengunjung setelah menikmati koleksi museum sambil ditemani oleh gerayangan angin laut yang bertiup.

Merpati putih

Merpati putih

Si kancil

Si kancil

Ayam Nias

Ayam Nias

Rusa atau kijang?

Rusa atau kijang?

Puas menyambangi masing-masing binatang yang ada, tentunya akan merasa lelah. Untung saja tidak jauh dari lokasi kebun binatang, terdapat tempat untuk ngaso sambil menikmati angin laut. Pelabuhan Gunungsitoli bahkan terlihat dari lokasi tempat kami beristirahat.

Pelabuhan dari kejauhan

Pelabuhan dari kejauhan

Tempat ngaso

Tempat ngaso

Pemandangan pinggir pantai

Pemandangan pinggir pantai

Setelah puas beristirahat, selanjutnya kami pun beranjak ke salah satu rumah adat yang ternyata disewakan kepada pengunjung untuk menginap. Ini sangat menarik karena pengunjung bisa merasakan tinggal di rumah adat Nias yang berupa rumah panggung dengan lokasi yang bagus. Detilnya akan ada di tulisan berikutnya.🙂

Bersambung…