Tags

, , ,

Ada sebuah cerita menarik yang kebetulan saya dapatkan langsung dari penduduk Nias. Yang bersangkutan bekerja sebagai staf museum dan cerita ini saya dapatkan langsung dari diskusi dengannya ketika berkunjung ke Museum Pusaka Nias.

Tradisi perang

IMG_9019

Kepala naga

Kondisi kebudayaan yang ada di Pulau Nias tidak bisa dipisahkan dari keberadaan misionaris yang datang dari Eropa, terutama dari Jerman untuk menyebarkan agama Kristen. Hal ini bisa dilihat dari perbedaan tradisi yang dilakukan pada waktu sebelum kedatangan pada misionaris dan sesudah kedatangannya.

Jauh sebelum kedatangan para misionaris, para penduduk di Nias hidup dalam kelompok-kelompok dalam satuan kampung-kampung yang tersebar di penjuru pulau mulai dari pantai hingga pengunungan. Masing-masing kampung dipimpin oleh seorang kepala kampung yang sangat dijunjung tinggi kedudukannya. Selain itu juga terdapat pemuka agama yang biasanya memimpin ritual-ritual penyembahan kepada leluhur ataupun dalam prosesi ritual penyembuhan penyakit.

Pada masa tersebut antara kampung satu dengan yang lain memiliki kecenderungan saling bermusuhan. Tak jarang diantara mereka terjadi pertikaian antar kampung yang pasti berujung dengan korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Konon perang antar kampung satu dengan yang lainnya ini hampir terjadi tiap minggu. Mungkin saja tarian perang yang ada di Nias memang berakar pada tradisi perang antar kampung tersebut.

Di waktu bersamaan juga tradisi mengayau sudah menjadi tradisi yang lumrah. Menurut penuturan abang staf museum yang saya temui, tradisi mengayau terjadi karena hal-hal tertentu. Misalnya, dikarenakan upacara kematian, proses menuju kedewasaan bagi seorang laki-laki atau bagian dari proses untuk menikahi seorang wanita.

Mengayau

Dalam upacara kematian, tradisi mengayau dilakukan sebagai bagian untuk menghormati orang yang sudah mati. Konon hal ini dilakukan karena dipercaya korban dari tradisi berburu kepala akan menemani orang yang sudah mati tersebut. Semakin banyak kepala yang tersedia untuk si mayit maka semakin terhormat lah ahli mayit alias keluarganya tersebut.

Sama seperti proses kematian, tradis mengayau juga dilakukan sebagai tahapan yang harus dilalui seorang laki-laki untuk pantas disebut dewasa. Mereka diharuskan untuk memenggal sebanyak mungkin kepala agar bisa disebut laki-laki dewasa di kampungnya. Biasanya mereka akan mencari korban dari kampung yang bermusuhan dengan kampungnya.

Tradisi menikah juga ternyata bisa menjadi tradisi mengerikan pada masa tersebut. Salah satu yang menandakan betapa berharganya si mempelai wanita di mata mempelai laki-laki dan keluarganya yaitu dengan menunjukkan seberapa banyak kepala yang bisa dipersembahkan dalam mas kawinnya tersebut. Simpel saja, semakin banyak kepala dibawakan pada pesta tersebut, setinggi itulah nilai mempelai wanita. Mengerikan, bukan?

Nah, sepengetahuan saya ketika pernah menyinggahi Borneo (suku dayak) dan kemarin Nias, tradisi mengayau memang sama-sama ada. Namun, ada sedikit perbedaan antara cara mengayau di antara kedua suku tersebut. Jika di Borneo, yang saya tahu kepala yang dipenggal disembelih pada bagian leher saja maka lain yang terjadi di Nias. Dahulu mereka memotong mulai dari bagian ketiak kanan hingga diagonal ke pundak kiri! Sehingga bagian tubuh yang terlepas yaitu termasuk kepala, lengan kanan dan sebagian kecil dada. Menurut kabar, teknik mengayau tersebut dilakukan supaya lebih mudah membawa bagian kepala (dengan memegang lengan) dibandingkan jika yang dibawa oleh tangan hanya kepala saja. Saya sempat merinding saat menulis bagian ini.

Kedatangan misionaris

Para misionaris yang pernah mengabdi di Nias

Para misionaris yang pernah mengabdi di Nias

Salah satu dari beberapa hal yang banyak merubah tradisi Nias yaitu karena kedatangan misionaris. Mereka selain bermisikan untuk menyebarkan Kristen, juga memberikan pelayanan dalam hal pendidikan serta sanitasi bagi masyarakat Nias. Pada awal kedatangan mereka, cukup sulit untuk mengajak penduduk untuk datang dan mendengarkan khutbah atau pengajaran. Jadi sebagai ‘balas jasa’ misionaris memberikan tembakau atau uang rimis (mata uang Nias) kepada penduduk Nias.

Pada masa kedatangan misionaris, tradisi mengayau ini masih saja terjadi di kehidupan keseharian penduduk Nias. Namun lambat laun, misionaris berusaha untuk mengurangi sedikit demi sedikit tradisi yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan berusaha menggantinya dengan tradisi yang lain. Salah satu tradisi yang lain ini yaitu lompat batu yang pada masa lampau digunakan untuk menandai kedewasaan seorang anak laki-laki.

Dengan usaha yang dilakukan secara terus menerus oleh para misionaris, lambat laun tradisi mengayau pun semakin berkurang bahkan hilang sama sekali. Kegigihan misionaris membuat penduduk Nias mayoritasnya menganut Kristen dan meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyang yang dinilai bertentangan dengan nilai Kekristenan.

Bersambung…