Tags

, , , ,

Semenjak mengenal buku pintar karangan Iwan Gayo, saya jadi sedikit banyak tahu tentang pulau-pulau yang ada di Indonesia. Nias adalah salah satunya. Pulau yang berada di bagian Barat Sumatra ini sangat dikenal dengan tradisi lompat batunya. Bahkan pada pecahan uang seribuan, tradisi ini diabadikan dalam bentuk gambar di salah satu bagian lembaran uang tersebut.

Kesempatan untuk menuju Nias semakin terbuka lebar tatkala saya mengecek sisa miles GA yang saya miliki. Ternyata di akhir bulan, akan ada poin yang kadaluarsa sehingga daripada hangus percuma, saya berencana untuk redeem poin dan menukarnya dengan tiket pp Medan – Gunungsitoli. Untung memang tak sulit diraih, saya mendapatkan diskon redeem poin dari yang tadinya 8000 poin menjadi 6000 poin saja. Amboi. Thanks LSIP, eh GA.

Saya sempat melakukan sedikit riset terlebih dahulu lewat internet dan mendapatkan info yang menyatakan bahwa untuk berkeliling Nias membutuhkan waktu sekurangnya tiga hari. Sedangkan saya hanya memiliki waktu dua hari saja di akhir pekan. Karena baru saja memakai banyak hari cuti saat Lebaran lalu ya mau tak mau harus dikompromikan perjalanan ke Nias dengan hanya dua hari dan satu malam saja.

Nah menjelang hari H, berhubung dibuat sibuk dengan pekerjaan di kantor sejujurnya saya tidak sempat untuk serius menyusun itinerary kunjungan ke sana, apalagi penginapan dan transport selama disana pun belum terpikirkan. Baru di hari H-1 akhirnya saya serius untuk mencari informasi objek yang berpotensi dikunjungi. Saya mendapatkan info dari teman kuliah yang kebetulan dua bulan lalu baru berkunjung ke sana untuk mengunjungi kerabatnya. Fix! Dari obrolan jarak jauh, beliau menyarankan untuk pergi ke dua objek wisata saja yaitu salah satu objek di Kota Gunungsitoli serta satu objek lagi di Lahewa, Nias Utara.

Itinerary sudah dibuat di dalam kepala, tinggal pengaturan transport dan guide selama di sana yang belum saya dapatkan. Jam menunjukkan jam 9 malam dan saya masih belum berkemas, masih terpaku dengan layar ponsel pintar sambil gogoleran di tikar. Couchsurfing ternyata amat sangat berguna ketika saya sedang gundah gulana mencari seorang penduduk Nias yang bisa saya ajak trip sekaligus memberi info selama di Nias. Alhamdulillah, nomor kontak yang dicantumkan pada akunnya asli dan malam itu pun juga saya langsung menghubungi beliau dan mengatur rental transport selama kunjungan di Nias besok.

Matahari masih berada di peraduannya ketika saya berangkat menuju bandara pagi itu bersama salah seorang teman kantor. Karena jalanan kosong, tentunya tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Bandara Kuala Namu. Setelah check-in tanpa menunggu lama kami pun langsung mencari restoran di bandara untuk sarapan.

Jreng jreng panggilan boarding pesawat menuju Nias pun mengudara. Setelah menaiki bus menuju pesawat ATR berada, bus pun tidak menunjukkan gelagat untuk membuka pintu turun. Ternyata benar dugaan saya, pesawat mengalami masalah dan penerbangan harus ditunda sampai 50 menit ke depan. Kejadian ini sebenarnya menghilangkan mood saya pagi itu karena sudah kepalang bungah untuk menaiki pertama kali pesawat bertipe baling-baling ATR.

ATR 72-600

ATR 72-600

Akhirnya setelah kami dipulangkan kembali ke gate, pada akhirnya digiring kembali menuju pesawat untuk menaikinya. Pesawat pun meninggalkan landasan untuk menuju ketinggian sekira empat ribu meter di atas permukaan laut. Ternyata tidak ada perbedaan ‘rasa’ yang signifikan antara menaiki ATR, Boeing, atau Bombardier. Hanya tinggi terbangnya saja yang lebih rendah sehingga kita bisa melihat cukup jelas lanskap di permukaan bumi.

Bukit Barisan

Bukit Barisan

Pelangi

Pelangi

Sekira 50 menit sudah pesawat mengudara dan pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Binaka, Pulau Nias. Akhirnya saya bisa menjejak langkah juga di Pulau Nias ini. Tak butuh waktu lama saya pun langsung mengontak guide kami yang penduduk Nias bermarga Laia. Kami pun bergegas menuju mobil untuk memulai perjalanan menuju Kota Gunungsitoli.

Bersambung…

with

Travelmate ke Nias