Tags

, , , , ,

Melayu sebagai bahasa maupun budaya tidak bisa dipisahkan antara negara Indonesia dengan Malaysia. Hubungan historis maupun sosio-kultural antara keduanya menembus lintas batas, tanpa menghiraukan apa yang dinamakan sekat legal seperti batas negara dan apapun yang terkait dengannya.

Kepulauan Riau, sebagai salah satu ‘kumpulan’ banyak pulau yang secara administratif berada di Provinsi Kepulauan Riau, adalah salah satu bagian yang merupakan akar dari kebudayaan Melayu. Sosok pahlawan nasional Raja Ali Haji sudah pasti tak asing di telinga para penikmat sastra Indonesia. Gurindam Dua Belas sebagai salah satu mahakarya dari beliau, amat dikenal di kawah candradimuka kesusastraan lokal.

Jika berkunjung ke Kepri, cobalah ajak bicara para penduduk setempat. Dengarkan dengan seksama logat dan cengkok bahasanya. Sungguh menawan bahasa melayu, seakan ikut bermain dalam film anak-anak dari Malaysia, Upin Ipin. Itulah akar bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi faktor integratif bersatunya beragam suku di nusantara di bawah naungan Garuda Pancasila. Bahasa memang unik. Ada pula ‘permainan bahasa’ seperti gurindam, sajak, maupun pantun. Di Kota Tanjungpinang, sudah lazim sekali orang berbalas pantun ketika saling berbicara dalam situasi semiformal maupun formal. Seakan otak mereka sudah terinstall program otomatis untuk berbalas pantun. Mereka saling berbalas pantun dengan spontan namun santun bahasanya. Kadang terselip ungkapan yang kaya nilai dalam pantun mereka.

Di luar aspek budaya seperti bahasa, rona alam Kepri pun menyajikan sesuatu yang unik, hanya ada di negeri Melayu. Letak kepulauan yang dekat dengan garis khatulistiwa memang tak dapat dipungkiri menjadikan kepulauan ini bersuhu ‘lebih panas’ dibandingkan di Jawa. Ditambah, luasnya laut yang mendominasi wilayah ini amat memengaruhi kondisi cuaca yang ada sehingga faktor letak dan bentuk kepulauan yang ada di Kepri seperti menjadi ‘model’ mini iklim kepulauan di Nusantara. Walau sebagian merupakan pulau yang ukurannya kecil dengan bukit-bukit yang rendah, terdapat pula pulau yang memiliki gunung.

Pulau Lingga, salah satu pulau besar yang terdapat di bagian Selatan provinsi, seperti pulau yang terlupakan. Pulau ini memiliki hamparan pantai yang kurang enak dipandang mata karena berwarna suram. Hal ini mungkin karena pasir pantai mengandung timah atau bauksit, amat kontras dengan pesisir yang ada di Pulau Semak Daun di Kep Seribu. Padahal pulau ini menyimpan sejarah gemilang Kerajaan Riau Lingga. Saat ini yang dapat dilihat, hanya reruntuhan Istana Damnah yang kemegahannya tinggal cerita. Replika istananya lah yang menjadi penyambung kejayaan masa lalu dengan masa kini. Jika menyusuri reruntuhan Istana Damnah, cobalah bercengkrama dengan juru kunci setempat. Dengan antusias, beliau akan menceritakan seluk beluk Kerajaan Riau Lingga dengan semangatnya. Tak jauh dari reruntuhan istana, terdapat kolam yang airnya sangat bening. Kita dapat melihat dengan jelas dasar kolam yang terdiri dari bebatuan kerikil. Konon, tempat tersebut adalah tempat pemandian kuda kerajaan yang tersohor di masa lalu. Pada spot ini juga merupakan titik awal jika kita hendak mendaki puncak tertinggi di pulau ini, yaitu Gunung Daik Lingga yang memiliki ketinggian sekitar 1150 mdpl. Menurut cerita, sampai saat ini belum ada yang bisa mencapai puncak tertingginya yang memiliki tiga puncak, dari kejauhan tampak seperti punggung naga. Melihat kondisi jalur awal pendakian yang masih perawan alias masih belum banyak terlihat ada campur tangan manusia untuk merusaknya, tampaknya mendaki gunung ini akan menjadi favorit para petualang di kemudian hari. Tercatat belum banyak yang menjamah gunung ini, catatan berikut foto para petualang yang pernah mendaki dapat dilihat di Museum Lingga Cahaya yang lokasinya tak jauh dari replika Istana Damnah.

Selain Pulau Lingga, ada juga pulau yang memesona yaitu Pulau Penyengat. Pulau ini terletak sekitar 1,5 km dari Kota TAnjungpinang. Pulau Penyengat memiliki luas + 3 km persegi. Inilah pulau penuh pesona, yang disebutkan sebagai asal mula akar kebudayaan melayu. Di pulau kecil ini, seluruhnya tercakup satu kelurahan. Saat terakhir penulis berkunjung dua tahun yang lalu, Pulau Penyengat dipimpin oleh seorang lurah yang ternyata seorang wanita, lajang pula. Sang Ibu Lurah amat pandai berdendang melayu maupun saat melantunkan mahakarya Gurindam Dua Belas. Suara dan cengkok melayu amat terasa ketika beliau unjuk gigi dalam pertunjukan yang disajikan.Lain lubuk lain belalang, lain di Batam yang amat penuh sesak dengan barang serba teknologi lain pula di Pulau Penyengat. Jika Batam terkenal dengan surga belanja barang elektronik, maka Pulau Penyengat memiliki flora khasnya yaitu Bunga Alamanda, bunga mungil yang mirip dengan bentuk bunga sepatu dengan warna kuning menyala.

Makanan di Kepri sungguh spesial. Sesuai dengan iklimnya yang ‘sangat tropis’, makanan di Kepri tidak bisa dipisahkan dengan rasa pedas. Hampir semua jenis makanan seperti rendang daging maupun ragam sayuran pelengkapnya menggunakan nuansa balado. Sungguh nikmat menyantapnya, namun bagi perut yang terbiasa dengan makanan manis, amat disarankan untuk melakukan ‘aklimatisasi’ makanan terlebih dahulu dengan tidak menyantap langsung dengan porsi besar. Jika ingin menyantap santapan laut yang segar, cobalah berkunjung ke restoran Golden Prawn di Kota Batam. Dijamin rasanya mantap. Jangan lupa untuk mencoba ‘gonggong’, sejenis kerang laut yang rasanya gurih dan empuk serta amat kaya protein. Disajikan hanya dengan merebus langsung dari hasil tangkapan. Konon rekan sejawat pernah memakan gonggong terlalu banyak, sehingga jatuh pingsan dan tak sadarkan diri selama beberapa waktu.

Masih banyak tempat yang belum dijelajahi di melayu, terutama di gugusan pulau terdepannya seperti Kepulauan Anambas yang memiliki sejuta pesona. Waktu lah yang akan menjawabnya.