Tags

Ada sebuah dalil yang dikemukakan oleh ahli geografi, bahwa lebar sungai bergantung pada bentuk pulaunya. Jika diperhatikan, memang terbukti secara faktual bahwa sungai-sungai yang berada di Jawa alurnya lebih sempit jika dibandingkan dengan sungai-sungai yang berada di Sumatra atau Kalimantan. Hal ini penulis lihat sendiri ketika melakukan perjalanan dari Kota Medan menuju Kota Perdagangan yang berada di sebelah tenggara Kota Medan dengan waktu tempuh selama tiga jam perjalanan darat. Beberapa sungai, yang dalam bahasa setempat disebut “sei”, yang penulis jumpai memang memiliki lebar yang lebih dibandingkan dengan yang ada di Jawa. Penulis perkirakan memiliki lebar jarak lebih dari 100 meter. Dari sekian sei yang dilewati, hanya Sei Bedagai yang penulis ingat, dekat kota kecil Tanjung Beringin.

Sepanjang perjalanan, terlihat dengan jelas bahwa adanya jalur transportasi alias jalan amat memengaruhi pola permukiman. Amat kentara nampak jelas bahwa permukiman penduduk yang ada bergantung dari adanya jalan. Rumah-rumah penduduk hampir selalu ada di kedua sisi jalan. Nampaknya keberadaan jalan ini sebagai jalur penghubung antar kota, lambat laun menjadi magnet untuk tempat tinggal karena dekat dengan akses transportasi jalan tersebut.

Selama menempuh perjalanan dari Kota Medan menuju Kota Perdagangan, beberapa kota yang dilewati yaitu Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Perbaungan, Sei Rampah, serta Indrapura. Pemandangan yang dilihat sepanjang perjalanan relative homogen.  Jika bukan permukiman di sisi kiri dan kanan jalan, maka yang terlihat adalah hamparan kebun sawit milik PTPN atau swasta. Kerap kali hamparan tanah kosong penuh semak-semak juga ditemui namun amat jarang, tidak sebanyak permukiman dan kebun sawit.

Hampir semua kota yang dilewati selama perjalanan memiliki struktur yang memanjang mengikuti jalur transportasi. Dengan melihat kondisi ini dapat dikatakan bahwa ketergantungan kota terhadap jalur transportasi amat besar sehingga membuat bentuk kota menjadi tidak kompak. Akses jalan sendiri, berdasarkan pengamatan, selain dilewati oleh angkutan bus antar transportasi juga dilewati oleh truk-truk pengangkut tandan sawit sehingga di beberapa ruas jalan terlihat berlubang.

Sama seperti kota-kota yang dilewati, Kota Perdagangan merupakan kota persinggahan. Bentuknya mengikuti jalur jalan. Hampir sebagian besar areal terbangun di kota digunakan untuk usaha perdagangan. Berdasarkan pengamatan bentuk bangunan yang ada di Kota perdagangan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dahulu banyak pedagang etnis Tionghoa yang berdagang disini. Bentuk bangunan yang mencirikannya yaitu memiliki lebar muka bangunan yang sempit, namun memanjang ke belakang dan bertingkat. Bangunan seperti ini dapat dilihat di bagian kota tua seperti di Jakarta (Glodok), Bogor (Suryakencana), yang notabene memang merupakan pecinan. Menurut beberapa sumber sejarah, dahulu penjajah menarik pajak dari toko berdasarkann lebar muka depan bangunannya, sehingga untuk menyiasatinya para pedagangan memilih untuk memanjangkan sisi bagian dalam bangunannya. Hampir sebagian besar bentuk toko di Kota Perdagangan memiliki bentuk demikian. Selain itu, toko-toko di Kota Perdagangan ada yang memiliki arsitektur bangunan khas kolonial, dengan tiang dasar yang kokoh serta bentuk jendela yang khas. Penulis simpulkan bahwa kota ini dahulunya merupakan kota yang berkembang dari semacam kota transit atau persinggahan hingga ke bentuknya yang sekarang ini menjadi hub bagi daerah di belakangnya.

Sisi kelam transportasi Kota Perdagangan#

Karena dekat dengan lokasi kebun sawit baik swasta maupun BUMN, banyak truk-truk ukuran besar yang hilir mudik melintas kota sehingga membahayakan pengguna jalan lainnya. Aspek keselamatan lalu-lintas di Kota perdagangan juga amat rendah. Hal ini terbukti dari para pengguna sepeda motor yang mayoritasnya tidak menggunakan hel ketika berkendara, bahkan ada yang sama sekali tidak memakai baju ketika melintasi jalan-jalan di Kota Perdagangan ini.

Selain keteledoran pengguna seperti di atas, kelengkapan perangkat kendaraan pun amat buruk. Amat jarang ditemui sepeda motor yang masih memiliki kaca spion lengkap dua. Rata-rata tidak memakai spion atau hanya menggunakan satu spion. Mereka beralasan keberadaan spion akan menghambat laju kecepatan berkendara. Faktor lainnya yang turut ‘memperkeruh’ sisi kelam transportasi yaitu keberadaan hewan ternak yang sembarangan digembalakan dekat dengan akses jalan. Kerap kali hewan ternak seperti lembu yang jumlahnya lebih dari sepuluh turut menghalangi jalan-jalan yang ada di sekitar Kota Perdagangan.

#bahlias 120611