Category Archives: Opini

Iseng-iseng Menulis

Ias
Artikel singkat yang dimuat di sebuah majalah

Saya suka menulis. Tidak peduli bagus atau jeleknya isi tulisan. Toh biasanya saya menulis di blog. Jika orang suka tulisan saya, bagus! Jika tidak, abaikan saja!

Menjelang tingkat akhir perkuliahan di kampus, bahkan saya pernah menulis buku. Isinya tentang peta meliputi sejarah, perkembangan, dan cara membaca peta. Namun, akhirnya ditolak oleh sebuah penerbit padahal sudah dilakukan revisi beberapa kali. Dongkol? Tidak juga. Sedikit sih dongkolnya haha.

Beberapa waktu setelah ditolak penerbit, akhirnya saya mengirim opini ke sebuah media massa terkemuka. Saya menulis dengan tema urbanisasi. Hasilnya, tulisan tidak dimuat di media versi cetak. Tetapi muncul di halaman suara mahasiswa situs pada versi web. Saya ketahui ini saat iseng browsing nama saya di mesin pencari google yang akhirnya membawa saya pada link tersebut.

Bahkan saya lebih tercengang ketika salah satu artikel saya di blog (tentang isu urbanisasi) dijadikan rujukan makalah mahasiswa! Nampaknya mahasiswa masa kini lebih senang mencari referensi di google dibandingkan dengan mencari bacaan langsung ke jurnal ilmiah. Well, seharusnya mereka menyaring informasi yang akan dijadikan rujukan sebelum menuangkan ke dalam sebuah tulisan.

Menjelang penghujung tahun 2014, saya iseng menuliskan artikel perjalanan ke sebuah majalah. Tidak berharap diterima, hanya dorongan pribadi saja mana tau editor akan tertarik. Ternyata, di edisi awal tahun tulisan saya nampang di majalah tersebut pada sebuah rubrik! Tentu saja saya senang bukan kepalang. Tulisan saya dibaca oleh jutaan penduduk Indonesia. Apalagi saya menulis tentang objek yang belum begitu ramai dibincangkan dunia kepariwisataan Indonesia yaitu kawah putih Tinggi Raja. Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya orang yang datang ke lokasi tersebut, pemerintah setempat akan meningkatkan pelayanan dan fasilitas (juga amenitas) yang ada.

Oh ya, ada pula yang spesial pada gambar di atas. Kedua penulis merupakan satu almamater Departemen Geografi UI. Bedanya, saya sudah menjadi alumnus, satunya masih menjadi mahasiswa. Selain itu pada majalah yang sama, terdapat artikel yang ditulis oleh alumnus yang lebih senior yang menceritakan pengalamannya mendaki di Annapurna (Himalaya).

Mari menulis 🙂

GIS Software are everywhere

Maraknya pengembangan aplikasi pemetaan dan SIG berbasis sumber terbuka saat ini, sepertinya membuat SIG tidak spesial saja hanya untuk orang-orang yang memiliki latar belakang keilmuan ilmu kebumian. Bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, industri, teknologi informasi, kesehatan, perdagangan, ekonomi, arkeologi, dan lain sebagainya memiliki kecenderungan memakai perangkat lunak SIG untuk menunjang analisis di bidangnya masing-masing.

asd

Perangkat lunak SIG paling mainstream saat ini diproduksi oleh ESRI. Namun, dikarenakan harga lisensi yang cukup mahal, banyak dari pengguna yang akhirnya beralih ke perangkat SIG berbasis sumber terbuka. Bahkan kemampuan perangkat lunak berbasis terbuka ini sudah bisa menyaingi perangkat SIG yang diproduksi oleh komersial. Mulai dari aplikasi desktop, ketersambungan dengan database yang juga berbasis sumber terbuka, hingga aplikasi WebGIS! Tak ada alasan untuk orang yang bergelut di bidang SIG saat ini untuk tidak bisa menggunakan perangkat SIG untuk menunjang pekerjaannya. Beberapa perangkat lunak SIG sumber terbuka yang saya ketahui diantaranya yaitu:

1. Quantum GIS : Salah satu aplikasi desktop SIG yang banyak digunakan saat ini.

2. ILWIS : Perangkat pengolah penginderaan jauh yang dikembangan ITC.

3. Map Window : Aplikasi SIG berbasis desktop legkap dengan programmer toolsnya juga.

4. GRASS GIS : Salah satu perangkat mumpuni untuk mengolah data remote sensing.

5. gvsig

6. Postgresql : Untuk penyimpanan basis data, postgresql bisa menjadi pilihan. Menunya kurang lebih sama dengan yang ada di SQL Server.

7. Mapserver : Perangkat lunak gratis untuk pengembangan aplikasi SIG berbasis web.

Sebenarnya jumlah perangkat yang gratis alias berbasis open source masih banyak. Hanya pada umumnya pengguna saat ini menggunakan perangkat di atas. Tidak menutup kemungkinan ke depannya akan bermunculan perangkat lunak SIG yang baru sehingga pada akhirnya seluruh aplikasi SIG yang ada berbasis open source.

 

Dracula Untold

Ini tulisan serius daripada tulisan yang posted sebelumnya :). Ternyata masih draf dan belum publikasi ini tulisannya. Baru sadar setelah sekian pekan ini tulisan belum published.

Kebetulan untuk menghabiskan akhir pekan di kota yang padat dengan hingar bingar kendaraan, saya memutuskan untuk menonton film baru yang berjudul Dracula Untold. Nah, walaupun sudah curiga bakal aneh ceritanya, karena didorong rasa penasaran akhirnya saya tonton juga. Mengapa saya sebut bakal aneh ceritanya ? Saya pernah membaca satu buku yang berjudul tentang Sejarah Vlad Dracula (Judul pastinya lupa) dengan sampul berwarna hitam. Saya membaca di toko buku Gramedia di Bogor sekitar empat tahun yang lalu. Karena saking menariknya sejarah yang tersaji, saya lahap habis membaca sekali duduk (faktanya sambil berdiri) dari halaman pertama sampai selesai. Dengan sumber yang jelas dan tersaji pada daftar pustaka, saya meyakini fakta yang disajikan sesuai dengan kebenarannya.

Jadi inti cerita dari film tersebut adalah Sang Pangeran Wallachia (si Dracula) yang akhirnya ‘menjual’ dirinya kepada iblis haus darah untuk mengalahkan pasukan Ottoman (Utsmaniyah). Tentunya kekuatan yang didapatkan dari si iblis sarat dengan kekuatan supranatural. Di akhir cerita, akhirnya Dracula mengalahkan Sultan Mehmed dan si Dracula tetap hidup sampai di zaman modern.

Nah, apa saja hal-hal yang cukup mengusik saya pada film tersebut ? Berikut ini penjelasan singkat dari saya.

Pada buku sejarah yang saya baca, pada abad ke 15, Kesultanan Ottoman memang sedang melebarkan wilayah kekuasaanya hingga ke Eropa dan dimulai dari Eropa Timur. Salah satu targetnya yaitu wilayah Wallachia yang dihuni oleh beberapa kerajaan kecil, termasuk si Dracula dan ayahnya. Karena Wallachia merupakan kerajaan lemah, Ottoman menguasai wilayah tersebut dengan cara menerima upeti rutin yang harus diserahkan Wallachia kepada Ottoman. Selain itu, sebagai tanda ketundukkan dan kesetiaan Wallachia kepada Ottoman maka Vlad si Dracula kecil dan saudaranya Radu harus diserahkan kepada Ottoman. Tentunya, dengan kesepakatan tersebut, Wallachia (di bawah kesulatan Ottoman) mendapat kedaulatan untuk menjalankan roda pemerintahan sendiri tentunya harus tunduk dan patuh kepada Ottoman. Dan jika Wallachia diserang, maka Ottoman wajib untuk melindungi Wallachia dan warganya karena sudah membayar upeti. Intinya, Wallachia sama lah dengan wilayahnya Ottoman.

Sekilas fakta sejarah tersebut secara tersirat maupun tidak tersirat terceritakan pada film, terutama di bagian awalnya. Namun setelahnya, tak lebih film hanya bercerita khayalan dan penuh dengan kebohongan sampai film berakhir. Kisah kekejaman si Dracula sekilas terceritakan melalui sebutan atau gelar atas kekejamannya yaitu Vlad the impaler (Vlad sang penyula). Sayangnya kurang dibongkar fakta sejarah yang ada atas hal tersebut seperti orang Turki (penduduk dan pedagang) yang disula oleh Dracula hingga jumlah yang fantastis yaitu 30.000 orang. Bahkan ada sumber yang menyebutkan 300.000!

Berbicara sula, apakah itu? Sula adalah teknik populer yang digunakan Dracula untuk membunuh penduduk desa yang membangkang atau penduduk musuh. Tekniknya dengan menancapkan kayu terhunus panjang yang ditusukkan dari dubur hingga menembus mulut atau dada dan dilakukan saat korbannya hidup. Metode pembunuhan yang kejam ini adalah salah satu metode yang disukai oleh Dracula untuk perang psikologis juga terhadap pasukan lawannya (Ottoman). Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Dracula adalah orang yang paling haus darah. Mungkin di zaman modern, personal yang mirip dengan Dracula yaitu peristiwa NAZI di Jerman atau Kamboja (Pol Pot, rezim Khmer merah) dan penumpasan akar rumput PKI di Indonesia.

Pada film diceritakan, sebelum Ottoman menyerang Wallachia, si Dracula mencari kekuatan yang setara 1000 orang (kalo di Jawa mungkin ajian bolo sewu kali ya). Nah inilah yang menjadi inti cerita dari film tersebut dan saya meyakini bahwa kekuatan tersebut ya sangat tidak mungkin. Ternyata untold yang dimaksudkan sutradara mungkin hal-hal seperti itu. Bahkan di penghujung film diperlihatkan bahwasanya si Dracula mengalahkan sekaligus membunuh Sultan Mehmed dalam duel!? How come?

Kisah mengenai makhluk terkutuk yang memberikan kekuatannya kepada Dracula juga menjadi bagian yang termasuk dari kebohongan-kebohongan isi cerita film dibandingkan dengan fakta sebenarnya. Saya rasa orang barat lebih tertarik dengan mitos-mitos aneh yang disampaikan secara turun menurun dan berkembang menjadi legenda di sana.

Jelas-jelas hal tersebut di atas merupakan penyimpangan cerita dari sejarah dan malah menjadi inti cerita filmnya! Ya mau tidak mau sebagai penonton ya nrimo saja lah. Jika mau membantah ya harus disampaikan dalam bentuk film juga agar sepadan daripada membuat buku (in my opinion). Karena bagaimanapun kecenderungan orang lebih menyukai karya yang lebih sederhana dan mudah diterima (baca: menonton lebih sederhana dibandingkan dengan membaca buku).

Fakta sejarah:

Dracula akhirnya mati dalam pertempuran melawan Ottoman dan bukan sebaliknya seperti yang ditampilkan dalam film tersebut. Sekian.

Zamrud Khatulistiwa dan Fenomena Cincin Api

Cincin Api Sumber : HTTP://WWW.VOLCANO.SI.EDU/WORLD/REGION.CFM?RNUM=06
Cincin Api di zamrud khatulistiwa
Sumber : HTTP://WWW.VOLCANO.SI.EDU/WORLD/REGION.CFM?RNUM=06

Indonesia, sebuah negara yang terletak di antara dua benua dan dua samudera menyimpan banyak cerita dibalik pesona alamnya yang kesohor hingga seantero dunia. Sekarang Indonesia sedang berduka. Dua gunung api yang bersemayam di Sumatera bagian Utara dan di Jawa Timur mengalami batuk-batuk seiring ritme dan siklus alaminya. Gunung SInabung dan Gunung Kelud sontak menjadi pemberitaan di berbagai media cetak dan daring. Salah seorang ilmuwan vulkanologi (baca: Surono) yang menjabat lembaga yang menangani ke-Geologi-an pun tak lepas menjadi incaran berita para kuli tinta, kuli disket, atau kuli flash disk, entah apapun namanya. Tak kurang dari informasi ilmiah yang disajikan media, agar berimbang penyajiannya juga ada media yang menghubungkan dengan mitos dan klenik dibalik meletusnya kedua gunung tersebut. Lengkap sudah berbagai pemberitaan bencana serta politik dan gosip para artis menjadi satu sajian utama pada beberapa pekan terakhir.

Tanpa mengesampingkan korban jiwa yang timbul dari bencana gunung meletus (semoga Tuhan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya), seharusnya penduduk Indonesia ‘akrab’ dengan bencana tersebut. Mengapa? Tak lain dan tak bukan, kita hidup di atas pertemuan lempeng benua paling aktif di dunia ini. Mulai dari ujung Sumatera, Jawa, Sunda Kecil, Maluku, hingga Sulawesi berjejal deretan gunung api aktif yang berdiri dengan gagahnya.

Aktivitas gempa bumi sudah pasti tidak bisa dihindarkan lagi. Kita harus paham bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa kita. Menurut artikel yang saya baca,  prediksi gempa bumi lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan prediksi gunung meletus. Nah disitulah pentingnya peranan peringatan dini bencana dan mitigasi. Dengan adanya peringatan dini, jumlah korban jiwa akan bisa diminimalkan sesedikit mungkin. Di masa lalu mungkin kita bisa bercermin dari hilangnya peradaban akibat letusan hebat akibat gunung meletus seperti Gunung Vesuvius di Italia yang banyak memakan korban jiwa bangsa Romawi, letusan gunung di Santorini di laut Tengah yang memusnahkan seluruh peradaban di sana, atau bahkan letusan maha dahsyat yang bahkan bisa sampai merubah iklim bumi seperti letusan purba Gunung Toba, Gunung Krakatau, atau Gunung Tambora. Tidak hanya yang ada di negara Indonesia, negara tetangga pun bisa memberikan dampak kepada Indonesia apabila gunung aktif yang adameletus seperti yang pernah terjadi di awal abad 20 dengan kejadian meletusnya Gunung Pinatubo di Filipina.

Nah, ada beberapa opini dari saya terkait dengan bencana yang terjadi. Pertama, Indonesia merupakan wilayah rawan bencana sehingga mau tidak mau penduduknya harus hidup dengan bahaya yang terus mengintai (dalam hal ini gunung meletus). Hal ini mutlak tidak bisa kita hindarkan lagi. Mau seman apapun rumah tempat tinggal kita, jika berurusan dengan tenaga yang keluar dari perut bumi (endogen) kita tak kuasa melawannya. Coba jika kita berpikir dari sudut pandang sisi lainnya. Kita tidak bisa menolak jika memang saatnya gunung akan meletus. Hal itu merupakan siklus alam yang memang sudah saatnya gunung itu memuntahkan isi perutnya. Memohon agar gunung api aktif agar tidak akan pernah meletus, mengutip dari perkataan seorang dosen geodesi UGM, itu sama saja dengan meminta agar hari esok tidak ada. Maksudnya adalah siklus alam berjalan sesuai ritme yang sudah ditentukan Tuhan. Sisi negatifnya sudah pasti akan berjatuhan banyak korban dan rusaknya bangunan. Di samping itu ada juga sisi positifnya. Abu vulkanik akan menyuburkan tanah sekitar gunung dengan kandungan mineralnya dan manusia akan mendapatkan manfaat dari bercocok tanam di tanah tersebut.

Yang kedua adalah kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Dari dulu kita semua tahu bahwa penduduk Indonesia sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Disparitas pembangunan terlihat antara provinsi di bagian barat dengan bagian timur. Entah bagaimana, karena segala fasilitas, pekerjaan, dan mungkin kenyamanan masih ditemukan di Jawa, akhirnya yang membuat penduduk luar Jawa berbondong-bondong menuju Jawa. Akibatnya, kepadatan penduduk bertambah. Gejala urban sprawl terlihat di kota-kota besar. Wilayan kekotaan meluas hingga hinterland yang sudah pasti lambat laun akan merambah wilayah perdesaan. Lokasi gunung api di Jawa yang mayoritas sudah pasti berada di perdesaan, dengan adanya pertumbuhan penduduk, sudah pasti apabila terjadi bencana jumlah korbannya lebih banyak. Siapkah pemerintah kita menangani hal tersebut dalam bentuk mitigasi bencana?

Sebesar apapun bencana mutlak diperlukan mitigasi. Mitigasi ini utamanya untuk mengurangi dampak kerusakan serta korban jiwa yang diakibatkan ketika terjadi bencana. Sederhananya seperti ketersediaan tempat aman untuk berkumpul ketika terjadi bencana, sistem peringatan deteksi dini bencana, jalur evakuasi bencana, banggunan aman tahan gempa,  serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan usaha untuk mengurangi dampak akibat bencana. Tentunya mitigasi bencana akan memperhitungkan faktor resiko bencana yang dalam hal ini pasti bervariasi bergantung pada kondisi wilayah yang ada di masing-masing daerah.

Kesimpulan : Indonesia adalah negara yang berada di wilayah rawan bencana. Sistem mitigasi bencana yang terintegrasi mutlak diperlukan untuk mengurangi dampak kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan.

Tertawa di Dunia Digital

Hahaha
Hahaha

Dalam percakapan digital (baca: media sosial), sedikit banyak saya memerhatikan orang-orang yang menggunakan ungkapan tertawa. Dalam satu hal ungkapan tersebut bsas mempermanis percakapan tergantung konteksnya. Nah, berikut ini akan saya coba rangkum beberapa ungkapan tertawa tersebut.

“Hehehe”

Kata “hehehe” menurut saya merupakan kata yang paling sering dipakai dalam percakapan digital tersebut dan terdengar lebih tidak dibuat-buat. Cobalah kita untuk tertawa singkat, maka refleks yang keluar dari mulut kita kurang lebih adalah hehehehe.

“Hahaha”

Nah, “hahaha” masih sama dengan “hehehe”. Mengapa, karena rerata orang pun jika ketawa pasti akan mengeluarkan kata “hahaha”. Hanya saja biasanya orang yang menggunakan “hahaha” dalam percakapan lebih kepada hal yang lebih terbahak-bahak konteks lucunya. Mungkin jika diibaratkan, “hahaha” itu untuk hal yang lucu sedangkan “hehehe” untuk hal yang setengah lucu atau bahkan formalitas kita untuk menghormati kawan yang sedang melucu, “hehehe”. Evolusi dari “hahaha” dalam percakapan digital yaitu “bhahaha” dan “whahaha”. Mungkin untuk menekankan bahwa si penulis sangat terkocok perutnya. Ada juga evolusi berikutnya dari “hahaha”, “hehehe”, dan “huhuhu” yang hasilnya adalah “heuheuheu”. Entah apa maksudnya yang pasti kata tersebut menunjukkan ekspresi tertawa pada intinya.

“Hihihi”

Kata ini masih bersaudara dengan “hahaha” dan “hehehe”. Masuk akal karena saya pernah mendengar orang yang tertawa menggunakan kata ini. Hanya saja pasti berkonotasi kea rah hal yang gaib karena konon kabarnya ada setan yang tertawa seperti itu. If you know what I mean. Evolusi dari “hihihi” ada juga “whihihi”.

“Wkwkwk atau wakakaka”

Untuk kata di atas agak lebih kurang rasional. Karena jika kita lafalkan akan lebih mirip dengan suara bebek ketimbang suara manusia tertawa. Namun herannya banyak juga orang yang menggunakan kata tersebut dalam percakapan digitalnya termasuk saya (kadang-kadang) di akhir kalimat. Entah berasal darimana, yang jelas kata tersebut sudah dipakai banyak orang di era social media belakangan ini. Dan bahkan lebih mengerikan lagi saya menemukan evolusi penggunaan “wkwkwk” menjadi “kwkwkwkw”. Saya tidak tahu apa maksudnya. O_o

“Kekeke” atau “kkkkkk”

Beberapa kawan akun twitter saya menggunakan kata tersebut untuk menggunakan ungkapan tertawa di media social. Agal sulit diterima akal memang karena bila kita coba mengucapkannya dengan mulut kita malah terdengar agak mengerikan dan tidak lazim. Seumur-umur saya belum pernah mendengar manusia yang menggunakan kata tersebut ketika tertawa.

“Fufufu” atau “khukhukhu”

Kata ini sangat jarang digunakan. Bahkan bisa dikatakan terbatas pada suatu komunitas. Orang yang sering membaca anime pasti mengerti untuk penggunaan kata tersebut. Kata yang digunakan untuk mengungkapkan kelucuan ini lebih ke arah meremehkan dibandingkan dengan menunjukkan kelucuan dalam percakapan.

Jadi anda lebih sering pakai yang mana?

Demikian sekilas opini saya atas pengamatan di media sosial terutama twitter, facebook, dan blog. Saya yakin pasti akan ada evolusi dari kata-kata tersebut suatu saat karena manusia lah yang membuat bahasa tersebut. Tidak ada yang melarang membuat kata-kata baru sejauh sudah disepakati oleh konsensus pengguna bahasa.

Musik

nada

Siapa yang tidak kenal musik? Semua orang pastinya mengenal yang namanya musik. Musik seolah menjadi bagian dari kehidupan manusia termasuk saya yang sampai sekarang masih mendengarkan musik walaupun tidak sesering dahulu.

Pertama kali tahu tentang musik bagi saya pastinya semenjak masih dibuaian ibu yang sering mendendangkan lagu-lagu jawa seperti Gundul-gundul pacul, ilir-ilir, atau yang terdengar sedikit heroik yaitu Aku seorang kapitan.  Lambat laun menjelang SMP sudah mulai masuk ke telinga saya jenis musik yang lebih beragam terutama musik rock. Puncaknya pada masa SMA ketika saya diberikan kado ulang tahun oleh ayah saya berupa gitar akustik yang akhirnya membuat saya semakin getol bermain musik.

Salah satu teman SMA yang akhirnya mengenalkan saya musik rock yaitu Jack. Dari dia lah saya mengenal beragam macam aliran musik bahkan hingga sejarahnya. Sampai-sampai dalam suatu tugas membuat karya ilmiah, kelompok kami membuat makalah yang bertemakan sejarah musik rock. Terdengar asing dan anti mainstream karena kebanyakan kelompok lain bertemakan ke-fisika-fisika-an atau ke-kimia-kimia-an. Saat itu saya sudah mengenal dan mendengarkan lagu-lagu dari Led Zeppelin, Queen, Dream Theater, Deep Purple, Jimi Hendrix, Metallica atau dari dalam negeri seperti God Bless, Voodoo, Powermetal, dan masih banyak lagi pokoknya. Jack kerap membawa majalah musik Rolling Stone kebanggannya ke sekolah dan di sanalah saya membaca pengetahuan dan perkembangan musik. Saat itu ada stasiun radio Plus FM di Bogor yang hampir setiap hari memutar musik rock dari zaman baheula hingga terkini. Pada malam tertentu terdapat sesi request lagu yang mana saya tidak pernah melewatkan bagian tersebut. Dengan meminjam hp milik ibu saya, saya sering merequest lagu plus kirim-kirim salam. Seringnya yang mendapat kirim salam yaitu Jack dan teman-teman sekelas kami. Jack pun bahkan kerap mengirim balik salam dan hal tersebut selalu menjadi bahan candaan kami ketika di dalam kelas. Sayangnya saat ini stasiun radio tersebut sudah tidak mengudara.

Lewat radio Plus FM tersebut, Saya pernah mendengarkan lagu paling lama sedunia (sepertinya) selama 45 menit yang dibawakan oleh grup band Moby Dick yang sangat progressive rock sekali. Saya terakhir tahu mungkin lagu rock progresif terpanjang kedua setelah band Moby Dick yaitu lagu milik Dream Theater yang berjudul Six Degrees of Inner Turbulence selama 42 menit yang terdiri dari (seingat saya) enam bagian. Saking penasaran saya sempat meminjam CD audio original milik teman saya yang seorang drummer.

Di masa SMA pun saya memiliki grup band yang rutin berlatih di studio murah yang diawali dengan bermain PS sebelum berlatih musik. Band kami digawangi oleh sekumpulan orang aneh dan unik bahkan sedikit tidak waras karena setiap kami berkumpul pasti ada hal-hal lucu yang keluar dari tingkah polah salah seorang anggota band kami. Kebanyakan kami membawakan lagu-lagu buatan sendiri. Kadang membawakan lagu band indie asal Bandung yang hanya kami ketahui dan orang lain tak ketahui. Kadang memainkan lagu Mr Big hanya saja bukan yang judulnya Collorado Bulldog melainkan OSTnya Power Ranger! Intinya musik yang kami mainkan agak berbeda dengan yang teman kita mainkan pada umumnya. Paling-paling lagu populer yang cukup sering kami mainkan yaitu milik Radiohead yang judulnya Creep. Judul lagu andalan kami yaitu “Taman Safari” yang berisi nama-nama binatang di kebun binatang. Terdengar asing dan nyeleneh namun lagu inilah yang akhirnya membawa saya untuk manggung pertama kali di pentas seni SMA sepanjang sejarah kehidupan saya. Untuk pertama kalinya saya tampil di depan penghuni SMA sambil memegang bass dan tak tanggung-tanggung band kami membawakan lagu “Taman Safari” dan para penonton terlihat sangat terhibur (hahaha).

Masa SMA adalah masa pertama dan terakhir saya bermain musik. Masa kuliah sudah berganti menjadi penikmat musik saja. Mungkin sudah bukan prioritas lagi bagi saya untuk memuaskan diri di bidang musik. Malah saya lebih banyak berkecimpung di perkuliahan dan organisasi. Hal ini pun karena saya saat kuliah tidak kos sehingga cukup banyak energi yang terbuang setiap hari untuk perjalanan pergi-pulang menggunakan kereta api atau sepeda motor. Namun hal ini tidak mengurangi saya untuk tidak menikmati musik. Saya masih senang mendengarkan musisi favorit saya yaitu Eric Clapton. Petikan blues khas Eric Claptop saya selalu membuat terbuai (inilah salah satu dampak buruk musik menurut saya) dalam alunan nada. Saya sudah “jatuh cinta” dengan Eric Clapton lewat album Unplugged original yang saya dapatkan gratis dari kamar kontrakan yang tidak bayar uang bulanannya kepada orang tua saya. Selain Eric Clapton, musik jazz juga menjadi salah satu alternatif saya apabila sudah bosan mendengarkan musik rock. Casiopea, Tompi, Utha Likumahua, Balawan, Earth Wind and Fire, Fourplay, dan musik populer lainnya.

Nah sekarang saya malah tidak terlalu sering mendengarkan musik. Mendengarkan musik hanya sekedarnya saja sebagai selingan. Mengapa? Karena saya pikir apabila kita sudah ‘dibuai’ oleh lagu, kita akan sulit untuk keluar dari zona ‘buaian’ tersebut. Ya pada intinya sih yang sedang-sedang saja dan tidak berlebihan. Sekian postingan tulisan saya untuk tema musik.

 

Tahun Baru

Tulisan ini akan menjadi posting pertama per tahun 2013. Juga posting pertama dengan menggunakan handphone. Tak ada alasan khusus sebenarnya. Hanya ingin merasakan hal yang sedikit berbeda saja.

Sama seperti perayaan tahun baru yang sudah terlewati, saya tidak memiliki acara khusus untuk itu. Bagi saya sama saja sebenarnya. Bahkan sebenarnya justru kita semakin dekat dengan waktu kematian kita. Berbicara kematian, justru di tahun baru ini saya mendengar kabar yang mengagetkan. Total sejak kemarin malam hingga sekarang saya sedang di Medan, ada 3 orang yang meninggal yang saya dengar. Bahkan salah satunya adalah kawan mengobrol ketika saya mengunjungi Kopma Fakultas entah untuk memfotokopi atau membeli keperluan kuliah. Kaget sudah pasti. Apalagi waktunya bersamaan dengan tahun baru. (update) Bahkan di tahun baru, saya mendengar guru saya wafat karena penyakit leukeumia. 😦

Nah intinya jangan terlalu berlebihan saat merayakan pergantian tahun. Apalagi sampai nenghamburkan uang sedemikian banyaknya. Cukuplah Tuhan yang pantas untuk selalu diingat sepanjang waktu. Dan satu hal yang pasti, kita tidak akan tahu kapan kematian akan menjemput kita.

*postscript:
Susah juga ternyata posting blog via handphone terutama kenyamanan pengetikan. Lain kali mungkin akan saya lanjutkan posting ini

Medan 010113

Sekolah itu Pilihan, Kawan…

Kesempatan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi adalah anugerah bagi saya. Hal ini karena suatu fenomena piramida laiknya umur manusia. Orang yang berumur tua pasti lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan penduduk yang lebih muda. Atas dasar tersebut saya pun berani menyimpulkan bahwa jumlah orang yang menempuh pendidikan tinggi akan lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang menempuh pendidikan di tingkat bawahnya. Kesimpulannya bersyukurlah untuk semua orang yang mampu mengenyam pendidikannya sampai perguruan tinggi dan jangan lupakan pula Tridarma-nya.

Piramida pendidikan
Piramida pendidikan

Nah, kebetulan saya sendiri sudah melewati jenjang salah satu pendidikan tinggi level S1, hanya tinggal dua jenjang lagi apabila ingin melanjutkan hingga S3. Berbicara jurusan saat kuliah, jurusan yang saya tempuh termasuk yang kurang popular dikalangan masyarakat umumnya. Kebanyakan orang tua pasti mengharapkan anaknya untuk berkuliah di jurusan yang mentereng seperti Teknik, Kedokteran, ataupun Akuntansi. Saya sendiri saat kuliah mengambil jurusan Geografi dan bukan pada jurusan yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya.

Jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan awal mula saya menyenangi pelajaran IPS. Saat SD bisa dibilang kemampuan dalam pelajaran eksakta dan social hampir sama bagusnya. namun saya pikir, dipelajaran IPS lah (sejarah dan pengetahuan umum) saya sedikit lebih unggul. Dari dua kejuaraan saat SD di bidang Nalar Matematika dan Cerdas Cermat IPS Terpadu, hanya di bidang Cerdas Cermat lah saya mendapatkan prestasi. Untuk adu Nalar Matematika cukup hanya menjadi penggembira saja. Dari 12 soal Matematika, hanya bisa dijawab seingat saya tiga soal dan selebihnya saya kosongkan karena sama sekali tanpa persiapan dari SD dan baru pertama kali dalam sejarah saya melihat soal Matematika yang seperti itu. Yang pasti tidak pernah ada di buku-buku Matematika SD yang saya miliki.

Saat SMP, pelajaran Geografi sudah mencuri perhatian saya. Bab di buku yang saya senangi yaitu tentang profil bentang alam permukaan bumi dan profil Negara di Asia, Eropa, ataupun Amerika. Apabila tebak-tebakan ibukota Negara atau mata uang dijamin hapal, hehe. Saya berpikir bahwa inti dari pelajaran Geografi hanya hapalan. Hal ini ditunjang oleh proses belajar mengajar yang mengharuskan seperti itu sehingga pola pikir saya pun seperti itu juga. Di kemudian hari (saat kuliah tepatnya) saya baru menyadari bahwa Geografi sebenarnya bukan berfokus pada hapalan tetapi analisa timbal balik fenomena permukaan bumi. Lain dari itu, skill pelajaran eksakta saya bisa dibilang lumayan karena masih rajin belajar. Bahkan selalu mendapat ranking hingga kelas 3.

Menginjak SMA semua berubah. Karena sering bermain dan sibuk berekskul, ranking kelas tidak pernah didapatkan, tidak menyukai pelajaran Kimia dan Fisika (terbukti dengan nilai rendah yang didapatkan saat UAS), dan sangat menikmati belajar Matematika, Biologi, dan tentu saja Geografi. Pola mengajar yang didapatkan masih sama seperti saat SMP sehingga Geografi terasa monoton. Bahkan sempat ada tes peta buta untuk pelajaran Geografi dan tak kepalang tanggung soalnya yaitu peta buta Afrika. Namun tes tersebut dengan mudah dilalui (jika sekarang sudah lupa, hehe). Akibatnya nilai di rapor untuk pelajaran Geografi sempat menyentuh angka 9. Namun anehnya saat penjurusan kelas 3 saya tidak tertarik pada kelas IPS. Image anak IPS yang berandal dan selalu membuat keributan di sekolah kami akhirnya membuat saya memutuskan untuk masuk ke kelas IPA.

Karena abang saya dua tahun lebih tua dari umur saya, saya sempat mencari tahu lebih dahulu mengenai kemungkinan-kemungkinan jurusan yang kelak akan saya ambil melalui buku pendaftaran SPMB miliknya itu. Keputusan memilih Geografi sebenarnya didasarkan atas dua hal yaitu minat dan relita. Prinsip saya saat kelas 3 SMA hanya satu yaitu harus melanjutkan pendidikan di universitas negeri favorit seperti ITB, UI, dan Unpad. Pilihan pertama saya saat SPMB sebenarnya jurusan Biologi ITB dan Geografi UI. Mengapa Biologi dan Geografi karena saat SMA kedua pelajaran itulah yang saya senangi disamping memang nilai try out SPMB saya tidak bisa menjangkau nilai FK UI atau FT ITB (inilah realita yang harus saya terima, haha). Bahkan saking terobsesinya dengan ilmu bumi, saat UM UGM pilihan jurusan saya sangat geosentris yaitu Teknik Geologi, Teknik Geodesi, dan Geofisika. Walhasil tidak lulus saat tes tersebut.

Singkat cerita akhirnya saya berkuliah di jurusan Geografi UI. Jurusan yang selalu ribut dengan Jurusan Fisika saat adu futsal di fakultas. Tahun pertama kurang menikmati perkuliahan karena masih bertemu dengan Fisika dan Kimia Dasar. Namun terobati dengan kehadiran Kalkulus dan Biologi Umum. Walaupun sangat menyenangi Kalkulus dan memiliki nilai bagus, nilai mata kuliah Statistik dan Metode Kuantitatif saya tidak begitu bagus. Hal ini tetap mengherankan saya sampai saat ini.

Sepanjang petualangan ilmu di Geografi UI, ada beberapa mata kuliah yang menjadi favorit saya untuk digeluti tentunya tanpa mengecilkan peran mata kuliah lainnya untuk membentuk pola pikir Sarjana Geografi. Mata kuliah tersebut yaitu Introduction to Geography, Cartography, Geomorphology, GIS, Digital Imagery Interpretation, Urban Geography, Geography of Transport, Political Geography, Tourism Geography, dan Regional Climatology of Indonesia. Lebih lanjut seputar perkuliahan di jurusan Geografi UI akan saya postingkan di kesempatan berikutnya. Semoga menambah informasi untuk pembaca.