Tags

,

Saya terkadang bingung saat kumpul bersama keluarga besar dari ibu. Hampir seluruhnya berasal dari Jawa Tengah. Bingung karena ibu saya adalah anak bungsu dari sekian banyak saudara dan mbah saya termasuk yang memiliki banyak adik kandung. Sehingga singkatnya, pada tingkatan orang tua saya, saya termasuk hirarki yang paling rendah namun pada tingkatan mbah dan adik-adiknya, saya termasuk ke dalam hirarki yang tinggi.

Sebenarnya dalam tata cara penyebutan kepada saudara, dalam adat jawa sudah lengkap. Hanya saja tidak saya hafal. Bahkan penyebutan mbah atau putu (cucu) hingga tujuh tingkat pun ada tata cara penyebutannya.

Menjadi rumit ketika orang yang memiliki hirarki lebih tinggi berumur lebih muda dibandingkan dan bertemu dengan hirarki yang lebih rendah. Contohnya adik sepupu saya yg lebih tua sepuluh tahun dari umur saya. Saya sebenarnya diperkenankan menyebut dik kepada dia. Walaupun dalam kenyataannya saya tetap menyebut mas karena segan jika menyebut dik kepada orang yang lebih tua. Bahkan para orang tua kadang mengingatkan jika kita salah menyebut! Itulah adat. Harus dijunjung bagaimanapun keadaannya.

Kadang saya tidak mau ambil pusing jika kumpul keluarga besar. Saya panggil saja mas kepada yang terlihat lebih tua walaupun pada hirarki keluarga seharusnya saya lebih tinggi.

Kadang muncul situasi yang unik. Contohnya, kakak sepupu saya banyak yang seumuran dengan ibu saya. Saya agak canggung jika harus menyebut mas atau mbak kepada beliau. Akhirnya entah bagaimana caranya saya kondisikan ketika berbicara tidak sampai harus menyebutkannya. Dan itu terjadi. Anak dari kakak sepupu saya bahkan rerata umurnya lebih tua dari saya. Ini lebih gawat hehe. Keponakan saya lebih tua dari saya. Sehingga mereka sering menyebut oom atau lek kepada saya. Agak tergelitik sebenarnya ketika mendengarnya.

Kenyataan ternyata mengharuskan kondisinya lebih daripada gawat. Mungkin sampai darurat haha. Beberapa dari keponakan saya ada yang sudah beranak pinak. Dengan kata lain anaknya mereka kelak ketika bertemu dengan saya akan mengatakan mbah! Atau lebih mengerikan, eyang! Lebih ekstrim lagi eyang kakung!

Sekian.