Tags

, , , , , , ,

Prolog

Pesisir Sumatera Timur di abad 19 masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Langkat dan Deli yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Namun kekuasaan kolonial Belanda masih bercokol. Banyak menyisakan kisah pilu di sana akibat tumbuh dan berkembang pesatnya perkebunan tembakau dan karet di bawah perintah pemodal tuan kaya Hindia Belanda. Pribumi, yang memiliki tanah warisan leluhur malah menjadi budak di negerinya saat itu. Orang Eropa, hilir mudik ke sana ke mari ke ujung dunia. Dan di mana pun mereka berada di wilayah jajahannya selalu menjadi orang dengan kasta tertinggi, pemiliki modal sang tuan tanah yang patut disembah pribumi.

Masjid

Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Sebagai simbol, masjid biasanya merupakan representasi ‘wajah’ pribumi di sekitarnya. Tak jarang ditemukan masjid yang ‘wah’ di suatu tempat yang memiliki kekayaan bumi tertetu seperti perkebunan, pertambangan, atau pusat jasa.

Medan dan sekitarnya pada masa lampau, tumbuh dan berkembang seiring hasil bumi seperti perkebunan, tambang minyak, dan hasil laut. Sudah pasti pada masa kolonial, yang menguasai dan mengatur hasil bumi ini adalah dari kalangan kulit putih alias totok. Pribumi (dalam hal ini diwakili sultan atau raja setempat) bertindak sebagai pelayan para administrateur. Tak jarang di beberapa tempat, penguasa setempat dengan sengaja mengobral tanahnya untuk dijadikan kebun untuk si penjajah.

Selain gedung, masjid-masjid yang ada di pesisir Sumatera Timur menjadi saksi sejarah kisah pilu pribumi dari pelayan administrateur perkebunan hingga menjadi manusia yang merdeka hingga saat ini. Kemegahannya cerminan kekayaan hasil bumi di masanya. Diantara sekian banyak masjid di Sumatera Timur terutama di Medan dan sekitarnya ada tiga masjid yang bisa dijadikan pilihan untuk dikunjungi.

1. Masjid Raya Medan

Masjid Raya Al Mashun

Masjid Raya Al Mashun (Sumber: Yupegi — http://bit.ly/1DPiM08)

Masjid ini gampang ditemukan di Kota Medan. Terletak di simpang empat Yuki, tidak jauh dari Hotel Madani dan Yuki Simpang Raya. Masjid inilah yang menjadi salah satu ikon Kota Medan. Masjid ini selesai dibangun pada 1909 dan mendapat pengaruh arsitektur dari Timur Tengah, Spanyol dan India.

Masjid Raya Medan memiliki tiga kubah utama dan memiliki bentuk segi delapan pada bagian utama. Dibalik indahnya arsitektur, masjid ini menyimpan cerita menarik di masa pembangunannya. Selain didanai oleh Sultan Deli, masjid ini juga banyak mendapat biaya pembangunan dari seorang Kapiten dari etnis Tionghoa yaitu Tjong A Fie yang saat itu terkenal sebagai konglomerat kaya di Medan.

2. Masjid Azizi

Masjid Azizi Tanjung Pura

Masjid Azizi Tanjung Pura

Di pertengahan bulan Januari lalu, saya kembali berdamai dengan diri sendiri. Berangkat dari Medan menuju Tanjung Pura menggunakan si kuda besi. Tak sampai 70 menit akhirnya tiba di Tanjung Pura. Masjid Azizi ternyata berada di jalan lintas Sumatra. Awalnya saya ingin berkeliling Kota Tanjung Pura. Namun urung saya lakukan karena kota terendam banjir! Akhirnya di Masjid Azizi inilah saya menghabiskan waktu sambil mengagumi arsitektur yang ada di sana. Kabarnya arsitektur bangunan masjid ini mendapat pengaruh dari India dan Timur Tengah.

Saya terpukau ketika memasuki ruang utama masjid. Hiasan pada langit-langit kubah tidak bosannya untuk dilihat. Saat berada di bagian dalam hawa sejuk meruak. Mungkin jika tidak ada larangan saya bisa tidur dengan nyenyaknya di bagian dalam.

Menara Masjid Azizi

Menara Masjid Azizi

Langit-langit di bagian dalam Masjid Azizi

Langit-langit di bagian dalam Masjid Azizi

Di bagian luar masjid, selain terdapat makam T A Hamzah serta keluarga sultan, juga terdapat perpustakaan. Sayangnya perpustakaan sedang tutup. Menara masjid terletak terpisah. Di dekat pintu masuk menara terdapat prasasti yang berisi mengenai pembangunan masjid dalam bahasa Belanda.

3. Masjid Osmani

Di luar kedua masjid pada penjelasan di atas, ternyata masjid tertua berada di Belawan! Pada awalnya saya kira Masjid Azizi lah yang merupakan masjid tertua. Perkiraan saya meleset. Masjid ini tidak sengaja saya kungjungi saat dalam perjalanan menuju Belawan. Lokasinya persisi di pinggir jalan dan mencolok mata bagi siapapun yang sedang melintasi jalan Medan – Belawan. Masjid ini juga kerap di sebut Masjid Osmani Labuhan Deli.

Masjid Osmani

Masjid Osmani

Masjid Osmani dibangun pada tahun 1854 dan dipermanenkan bangunannya pada tahun 1872. Arsitektur masjid ini mendapat pengaruh dari banyak negara seperti Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan Cina yang diarsiteki oleh seorang Jerman. Sama seperti dua masjid sebelumnya, warna kuning adalah warna yang mendominasi masjid ini yang merupakan warna kebanggan Melayu. Sayangnya saya tidak sempat masuk ke ruang utama dikarenakan saat berada di sana masjid sedang direnovasi di bagian belakang.

Sekian.