Tags

, ,

Prolog

Fungsi blog yang saya buat semata-mata hanya untuk mengarsipkan tulisan agar mudah diakses. Syukur-syukur malah bisa bermanfaat buat orang banyak. Kebanyakan mungkin tulisan seputar kunjungan ke suatu tempat atau tutorial-tutorial terkait SIG dan komputer. Dahulu saya terbiasa untuk membuat draf tulisan pada perangkat microsoft word kemudian saat sempat baru saya posting ke blog. Namun akhir-akhir ini terbiasa dengan cara akses langsung ke blog. Siang tadi malah menemukan cara baru yaitu mengunduh aplikasi wordpress di android. Lebih simpel.

Ide menulis bisa muncul kapanpun. Bagi saya, jika tidak langsung ditulis maka akan beresiko lupa akan deskripsi idenya, entah itu deskripsi tempat atau apapun. Namun bisa terbantu dengan adanya dokumentasi yang bisa sedikit banyak menjadi alat untuk mendeskripsikan ide atau suatu lokasi. Tulisan di bawah sebenarnya hasil kunjungan ke Berau pada awal tahun 2014. Namun baru sempat dituliskan sekarang ini.

Teluk Sumbang : Beranjangsana ke Rumah Nenek

Bekerja sambil jalan-jalan ke tempat baru memang menarik. Setelah berpenat ria untuk menyelesaikan tuntutan pekerjaan, di sisa waktu sambil menunggu kepulangan tak ada salahnya untuk memanfaatkan waktu mencuci mata ke tempat menarik. Dengan berkunjung ke tempat menarik akan ada pengalaman baru yang siap diceritakan kepada keluarga, teman, atau ke diri sendiri.

Ada pengalaman menarik saat saya berkunjung ke Teluk Sumbang di Kabupaten Berau. Teluk Sumbang bisa dicapai dari Teluk Sulaiman (Pangkalan TNI AL) dengan kapal motor selama kurang lebih satu jam. Untuk biayanya, nah, saya benar-benar lupa. Jika tidak salah sebesar empat ratus ribu untuk pulang-pergi.

Teluk Sumbang merupakan kampung yang tidak begitu ramai. Di pesisir banyak dihuni penduduk dari Sulawesi yang berprofesi sebagai nelayan. Hampir seluruh penduduk yang menghuni di bagian pesisirnya adalah muslim. Nah, adapun penduduk yang berada di agak pedalaman seluruhnya adalah orang Dayak yang bermata pencaharian sebagai petani ladang berpindah dan peternak. Agama yang dipeluk mereka yaitu Kristen.

Tujuan kunjungan saya dan kawan-kawan adalah mengunjungi air terjun bidadari yang tersohor di sana. Menurut informasi dari penduduk, terdapat tiga air terjun di Teluk Sumbang. Yang palng indah terletak lebih di pedalaman. Karena kami tiba saat hari sudah sangat siang, kami tak kebagian penduduk dari suku Dayak yang bisa mengantar kami ke lokasi. Para penunjuk jalan sudah jalan terlebih dahulu saat pagi. Kami mafhum, sudah pasti ukup memakan waktu untuk ke lokasi sehingga mereka memilih jalan lebih pagi. Beruntunglah para pelancong yang sempat berangkat pagi itu.

Di kampung Dayak, karena tak kunjung mendapatkan penunjuk jalan yang bersedia mengantar, kami berbincang dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain. Bingo. Kami mendapat informasi air terjun kedua yang tak jauh dari kampung lokasinya. Untuk lokasi air terjun pertama sih mudah ditemukan karena lokasinya tak jauh dari pelabuhan setempat. Akhirnya dua orang anak kecil bersedia untuk mengantar kami menuju air terjun bidadari kedua.

Sambil megusap sisa ingus di hidungnya kedua anak kecil beranjak pergi meninggalkan kampung Dayak. Berjalan menyusuri jalan setapak dengan rerumputan yang tampak meregang nyawa karena mulai sering dilewati, langit tampak mendung. Sempat kami lewati perladangan milik penduduk setempat juga pesawah yang tak seberapa luasnya. Di sebuah kubangan terlihat beberapa kerbau sedang mandi lumpur dengan asyiknya. Salah satunya kerbau bule yang tampak mencolok warnanya.

Jalur jalan setapak sudah habis, kedua anak kecil tampak masuk melalui semak. Ternyata jalurnya baru dirintis belum lama. Mungkin karena banyak pelancong yang datang sehingga dibuatkan jalur baru. Sekonyong-konyong kami harus menyiapkan tenaga ekstra untuk menuruni lereng yang curam juga licin. Kami harus berhati-hati juga dengan tumbuhan sejenis pandan yang tumbuh di sepanjang jalur. Bahkan, kami harus meniti pohon yang tumbang di lereng. Di ujung jalur sudah tampak air terjun juga gemericik airnya yang terdengar hingga jauh. Namun untuk mencapai air terjun kami harus melewati sungai selebar kurang lebih sepuluh meter dengan jembatan alam! Ya, satu-satunya cara yaitu dengan meniti pohon besar yang tumbang melintangi sisi ke sisi sungai. Di bagian tengah, batang pohon bahkan terendam hingga ketinggian tulang kering kaki saya.

Saya curiga semenjak melihat sungai yang kami lintasi tersebut alirannya tidak deras karena saya yakin memiliki kedalaman yang lumayan. Permukaannya tenang berwarna kehijauan dan dasarnya tidak tampak. Di sisi-sisi sungai terdapat tumbuhan pandan ‘raksasa’ yang cukup lebat. Sejujurnya pemandangannya cukup menyeramkan, terlihat seperti masih sangat alami.

Air terjuan bidadari 2

Air terjuan bidadari 2

Sampai di lokasi, kami langsung mengabadikan potret kami selama beberapa waktu. Air terjunnya sendiri menurut saya biasa saja. Kira-kira hanya memiliki ketinggian tidak lebih dari dua meter. Awalnya kami berniat untuk berenang. Namun entah kenapa perasaan saya saat itu tidak enak. Salah seorang kawan malah menyempatkan untuk BAB di sekitar lokasi karena tidak bisa menahan tekanan zat padat di usus besarnya. Tidak lama kami menghabiskan waktu di sana. Saat pulang kami kembali melewati jalur yang dilewati saat berangkat. Meniti jembatan alam yang terendam (sekarang saya menyesal tidak mengabadikan momen ini) hingga jalur rintisan di semak-semak yang rimbun.

Perjalanan pulang kami kembali melewati perladangan yang kebetulan empunya lahan sedang di sana (beliau sudah tua dan kami memanggilnya nenek). Melihat kami lewat beliau tersenyum dan sempat bertanya-tanya. Beliau sempat bertanya berapa orang jumlah rombongan, asal kampung halaman, dan sebagainya. Beliau pun sempat menimpali kami mengapa berani untuk berkunjung air terjun tersebut. Sang Nenek akhirnya mengatakan sesuatu yang di luar perkiraan kami. Beliau mengatakan tempat kami berfoto-foto dan lokasi jembatan tumbang tersebut merupakan lokasi yang memang terdapat buayanya (penduduk setempat menggunakan nenek sebagai pengganti kata buaya). Sejenak kami langsung tercengang dan saling melihat satu sama lain. Sekian.