Tags

, , , ,

Sistem pemetaan navigasi global semakin canggih. Hal ini dibuktikan dengan akurasi hasil survey yang semakin tinggi hingga menembus level sentimeter! Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan dalam dunia persurveyan. Hanya saja untuk di Indonesia bergantung dengan tipe alat penerima sinyal GPS. Alat penerima sinyal GPS tipe geodetik tentunya memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan yang bertipe navigasi (handheld). Hal ini berbeda dengan di wilayah Amerika atau Jepang dimana alat penerima sinyal GPS tipe navigasi sudah bisa menerima koreksi SBAS.

Metode penentuan posisi menggunakan sinyal GPS terdiri dari dua jenis yaitu tipe absolut dan relatif. Nah yang dibicarakan dalam tulisan ini yaitu tipe relatif yang bisa kita lakukan dengan gratis. Penentuan posisi relatif ini lazim juga disebut metode diferensial.

Di Indonesia, sistem koreksi diferensial sudah dimudahkan dengan adanya sistem InaCORS yang merupakan kepanjangan dari Indonesia Continously Operating Refference System. Sistem ini merupakan rangkaian jejaring base station yang merupakan referensi pengukuran bidang di permukaan bumi. Seluruh data yang terekam di masing-masing base station ini bisa digunakan untuk mengoreksi hasil survey menggunakan alat penerima sinyal GPS bertipe geodetik seperti Trimble, Leica, Topcon, Magellan, dan sebagainya. Adapun institusi yang menginisiasi dan mengoperasionalkan sistem ini digawangi oleh Badan Informasi Geospasial.

asdf

Sebaran base station CORS di Indonesia. (Sumber : http://inacors.big.go.id)

Open Data

Apakah kita bisa mengakses data tersebut? Tentu bisa dan gratis. Sistem ini tentunya merupakan sumbangan pajak-pajak kita yang sudah pasti kita pun berhak menikmatinya. Jika ingin mengakses dan menggunakan data base station tersebut pastikan kita sudah memiliki akun di link berikut http://inacors.big.go.id. Selain itu pastikan data yang akan kita olah merupakan luaran dari hasil survey menggunakan alat penerima sinyal GPS bertipe geodetik seperti produk Trimble, Leica, Topcon, Magellan, dan sebagainya. Bagaimana cara mengolah datanya? Kita tentunya harus memiliki perangkat lunak pengolah data post correctionnya seperti Pathfinder Office (produk Trimble).

Adapun tahapan untuk mengakses data base station tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Buat akun pada link inacors kemudian log in menggunakan akun yang sudah dibuat. Pilih Rinex job service – Create new job, kemudian isikan tanggal pengukuran kita saat di lapangan.

Step 1

Step 1

2. Isikan jam pengukuran atau observasi saat ini kita melakukan pegukuran di lapangan. Agar lebih aman dilebihkan saja jam observasinya.

Step 2

Step 2

3. Isikan form seperti tampak pada gambar di bawah. Untuk select site pastikan lokasi base stationnya yang paling dekat dengan lokasi survey yang kita lakukan. Sebagai informasi, rerata jangkauan base station hanya berjarak kurang lebih pada radius 30 kilometer saja. Menurut saya yang paling beruntung yaitu lokasi pengukuran di Pulau Jawa. Base station yang ada tampak tersebar merata. Tentunya pilihan menggunakan base station akan lebih bebas dan bisa lebih akurat hasilnya. Saya biasa menggunakan data base station dari Sabang mengingat stasiun CORS terdekat dari Medan adalah Sabang. Namun, saya hanya menggunakan hasil koreksi sebagai pembanding saja.

Step 3

Step 3

4. Cek ulang inquiry yang sudah kita buat dan klik submit.

as

Step 4

5. Proses permintaan data tidak memakan waktu lama. Lima menit setelah klik submit hampir pasti data akan sudah selesai diolah sistem. Caranya yaitu dengan klik result. Isikan rentang waktu pengukuran atau observasi kemudian klik next. Akan tampak hasil olahan data yang siap diunduh.

as

Step 5. Voila!

Setelah melakukan pengunduhan data selanjutnya tinggal melakukan pengolahan data post correction. Tahap ini bisa menggunakan perangkat lunak pengolahan data yang biasa digunakan seperti Pathfinder Office (gunakan menu Differential Correction dan arahkan base filenya pada hasil ekstrak data yang sudah kita unduh. Selamat mencoba!