PENDAHULUAN

Kota merupakan perkembangan dari desa. Di kota terdapat permukiman yang memusat dan memiliki karakter yang multifungsi, termasuk central business district (CBD) (Getis et al, 2000). Penggunaan tanah yang dominan di kota didominasi oleh kegiatan pelayanan jasa dan juga permukiman. Usaha  pertanian di kota bisa ada, namun biasanya luasannya lebih kecil dibanding dengan yang digunakan sebagai permukiman, pelayanan jasa, serta perdagangan.

 

Dari sisi demografi, jumlah penduduk di suatu kota biasanya memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan penduduk di desa. Hal ini terjadi karena di kota terdapat akses dan fasilitas yang lebih banyak dibandingkan yang ada di desa sehingga banyak terjadi perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi). Proses ini membuat suatu kota menjadi lebih heterogen dan kompleks akan permasalahan yang ada akibat urbanisasi. Tak jarang, banyak kita temukan orang yang hidup di sembarang tempat dalam kota akibat kurangnya keahlian yang dimiliki olehnya. Kemunculan masalah lebih jauhnya bisa berdampak di segala bidang baik dalam bidang sosial, budaya, dan juga lingkungan.

Kemunculan permasalahan yang ada di kota tentunya memiliki dampak negatif yang merugikan. Salah satunya yaitu ketika jumlah penduduk bertambah akan banyak terjadi masalah sosial kependudukan di suatu masyarakat. Diantara banyak masalah tersebut yaitu masalah kemiskinan, ketidakadilan, kekurangan perumahan, penggunaan obat-obatan terlarang, tindak kekerasan, pengangguran, pelayanan umum, hingga permasalahan lingkungan.

GAMBARAN SINGKAT KOTA MAGELANG DAN PENDUDUKNYA

Kota Magelang merupakan salah satu daerah tingkat II yang terletak di tengah wilayah Kabupaten Magelang dan terletak antara 110o12’30’’ dan 110o12’52’’ BT dan 7026’18’’ dan 7o30’9’’ (BPS, 2007). Kota Magelang diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Merbabu yang terletak di sebelah timur laut dan Gunung Sumbing di sebelah baratnya. Kota Magelang terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Utara, Magelang Tengah, dan Magelang Selatan. Dari ketiga kecamatan ini terbagi menjadi 17 wilayah kelurahan/desa.

Jumlah penduduk Kota Magelang pada tahun 2007 berjumlah 121.010 jiwa yang terdiri dari 58.680 jiwa laki-laki dan 62.330 jiwa perempuan dengan rasio penduduk 106%. Hal ini menunjukkan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Laju pertumbuhan penduduk pada 2007 sebesar 1,99% dibanding dengan jumlah penduduk pada 2006 yang berjumlah 118.646 jiwa. Jumlah penduduk paling tinggi terletak di Kecamatan Magelang Tengah yang berjumlah 46.789 jiwa, sedangkan yang terendah terletak di Kecamtan Magelang Utara yang berjumlah 34.289 jiwa.

Kepadatan penduduk tiga kecamatan di Kota magelang yang tertinggi terdapat di Kecamatan Magelang Tengah dengan kepadatan 9.197 jiwa/km2 sedangkan kecamatan yang paling rendah kepadatannya yaitu di Kecamatan Magelang Utara dengan kepadatan 5.595 jiwa/km2. Dengan melihat dari jumlah penduduk tersebut kita bisa tahu bahwa pusat kegiatan Kota Magelang terdapat di Kecamatan Tengah. Berdasarkan dengan data jumlah rumah di tiga kecamatan yaitu 29.361 rumah, rata-rata rumah yang berada Kota Magelang menempati empat orang dalam satu rumah.

Fasilitas pelayanan umum merupakan sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Fasilitas pelayanan umum ini dapat berupa rumah sakit, puskesmas, dan tempat ibadah. Di Kota Magelang, jumlah rumah sakit yang ada berjumlah sembilan buah sedangkan jumlah puskesmas, sebagai sarana kesehatan di tingkat kecamatan, berjumlah 16 termasuk puskesmas pembantu. Di sisi lain, jumlah tempat ibadah di Kota Magelang berjumlah 133 masjid dan 32 gereja.

PEMBAHASAN

Penduduk di Kota Magelang terkonsentrasi di bagian tengah kota. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah penduduk yang menempati Kecamatan Magelang Tengah. Selain itu Kecamatan Magelang Tengah juga memiliki tingkat kepadatan tertinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Banyaknya jumlah penduduk yang berada di Kecamatan Magelang Tengah ini tidak diimbangi dengan jumlah fasilitas layanan umum seperti rumah sakit. Rumah sakit yang berada di Kecamatan Magelang Tengah hanya berjumlah dua rumah sakit, yang berada di Kelurahan Kemirirejo dan Cacaban. Ketimpangan antara jumlah rumah sakit dan jumlah penduduk tentunya bisa menimbulkan masalah yang serius  terutama ketika suatu penyakit mewabah dalam satu waktu.  Di Kecamatan Magelang Utara dan Magelang Selatan, masing-masing hanya memiliki dua dan satu rumah sakit. Pelayanan kesehatan di tingkatan yang lebih rendah ditunjang oleh puskesmas yang tersebar di masing-masing kecamatan. Total puskesmas pusat berjumlah lima, yang terbagi di Kecamatan Magelang Selatan dan Magelang Utara, masing-masing berjumlah tiga dan dua puskesmas.

Pelayanan umum di bidang peribadatan tergolong cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah tempat ibadah yang ada di ketiga kecamatan di Kota Magelang. Jumlah masjid di Kecamatan Magelang Selatan, Magelang Tengah, dan Magelang Utara masing-masing berjumlah 40, 41, dan 52 buah. Sedangkan jumlah fasilitas ibadat gereja untuk kecamatan yang sama berjumlah enam, 14, dan 10 buah. Dengan jumlah tempat ibadat sebanyak itu dapat ditarik kesimpulan bahwasanya pelayanan umum di Kota Magelang di bidang keagamaan berlangsung baik.

Kota Magelang memiliki pengangguran sejumlah 3.428 jiwa. Hal ini berarti sekitar 8,2% orang masih menganggur mencari pekerjaan. Jika dilihat dari pembagian tingkat pendidikan bagi para pengangguran, didapat angka tertinggi bagi para pengangguran yaitu para lulusan universitas sejumlah 1.193 jiwa sedangkan jumlah yang terendah sebesar 7 jiwa (lulusan SD). Jumlah pengangguran lulusan universitas pada tahun 2007 meningkat dari sebelumnya pada tahun 2006 berjumlah 1097 jiwa. Hal ini berarti terjadi kenaikan jumlah pengangguran yang berpotensi mengakibatkan kerawanan-kerawanan social di dalam masyarakat. Jumlah prosentase pengangguran relatif kecil jika dibandingkan dengan pengangguran yang terdapat di kota-kota besar di Indonesia. Namun, jumlah tersebut jika dibiarkan tentunya akan semakin menambah persoalan penduduk di suatu kota. Jumlah pengangguran yang banyak akan mengundang kerawanan-kerawanan sosial seperti kemiskinan hingga tindak kriminalitas yang muncul akibat pengangguran. Sesuai dengan pernyataan Thomson (1984) dimana kemiskinan pada awalnya akan muncul dari kota-kota kecil, hal ini berpotensi terjadi di kota-kota seperti Magelang.

Dalam permasalahan kriminalitas, dalam data statistik tidak dirinci jenis kejahatannya seperti obat-obatan terlarang atau kekerasan. Dalam data hanya dicantumkan jumlah terdakwa yang diadili di pengadilan. Berdasarkan data BPS 2007, jumlah kejahatan, yang dalam hal ini diwakili dari jumlah terdakwa pada tahun 2007, berjumlah total 284 kasus. Sedangkan pelanggaran di jalan raya pun cukup tinggi, yaitu pelanggaran roda dua atau lebih berjumlah 2.607 kasus dan pelanggaran roda dua berjumlah 9.349 kasus. Dari penyajian fakta di atas, Kota Magelang masih menemui kendala dalam bidang kriminalitas pada jenis pelanggaran lalu lintas dan pelanggaran dalam masyarakat. Dari kedua data gambaran di atas, ternyata Kota Magelang, dalam perkembangannya menemui permasalahan umum yang dihadapi oleh kota-kota lainnya di Indonesia.

Dari data yang didapatkan penulis, data kemiskinan Kota Magelang tidak terdapat dalam data statistik.

Penggunaan tanah yang ada di Kota Magelang teridiri atas pekarangan 72,7 % luas total, industri 2,87%, pertanian 18.75 % dan penggunaan tanah lainnya berjumlah 5,68%. Untuk tanah pertanian, dibagi lagi klasifikasinya seperti sawah 64,04%, perkebunan 29,92%, tegalan/ladang 4,04%, dan kolam 2,01%.  Berdasarkan data luasan penggunaan tanah tersebut di atas, dapat kita lihat bahwa Kota Magelang masih memiliki proporsi penggunaan tanah pertanian yang cukup luas yaitu sebesar 18,75%. Padahal luas penggunaan tanah terbesar ialah pekarangan yang prosentasenya melebihi 70%. Besarnya luasan tanah pekaranngan ini bisa dikembangkan menjadi potensi dalam pengembangan pertanian yang lebih luas. Dengan munculnya usaha pertanian yang baru akan menurunkan tingkat pengangguran di Kota Magelang yang jumlahnya mencapai 8,2%. Tentunya hal ini bias dijadikan sebagai solusi alternatif dalam usaha mengurangi jumlah pengangguran di Kota Magelang.

RINGKASAN

Kota Magelang merupakan salah satu daerah tingkat II yang terletak di tengah wilayah Kabupaten Magelang yang terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Utara, Magelang Tengah, dan Magelang Selatan. Dari ketiga kecamatan ini terbagi menjadi 17 wilayah kelurahan/desa.

Penduduk Kota Magelang terkonsentrasi di bagian tengah kota yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah penduduk di Kecamatan Magelang Tengah. Hal ini pun bisa dilihat dari tingkat kepadatan penduduk yang mencapai 9.197 jiwa/km2. Kondisi kerawanan social di Kota Magelang tidak ada data rinci pastinya, namun jika dilihat dari variabel yang mungkin menjadi potensi kerawanan sosial seperti pengangguran dan jumlah kasus di pengadilan, bisa menjadi gambaran bahwasanya Kota Magelang memiliki permasalahan-permasalahan tersebut.

DAFTAR BACAAN

  • BPS Kota Magelang. 2007. Kota Magelang Dalam Angka 2007.
  • Getis, Getis, dan Fellman. 2000. Introduction to Geography. 7th ed. New York : McGraw Hill.
  • Koestoer, R.H. et al (eds). 2001. Dimensi Keruangan Kota. Jakarta : UI press.
  • Thomson, M.A. 1984. Urban Poverty and Basic Needs: The Role of Public Sector. Dalam Urban Poverty and Basic Needs oleh Richard, P.J. & A.M. Thomson (eds). Kent: Beckenham.