Tags

, , , , , , , ,

“Jika sedang jenuh dan jengah, keluarlah dari rutinitas sesekali.

Hiruplah udara kebebasan sebagai manusia merdeka.”

Tetiba saja kalimat di atas terlintas di pikiran saat hendak menuliskan catatan perjalanan ini. Malam semakin larut dan saya pun mengetik huruf demi huruf diiringi lantunan campursari Manthous dan Cah Poerdjo. Suara khas gamelan Jawa membuat pikiran saya sekejap melayang menembus batas menuju Pulau Jawa seakan terbang dan tetiba kembali jatuh ke bumi saat lagu Castol yang berputar di mp3 player. Akhirnya jadilah saya senyum-senyum sendiri karena lirik yang dibawakan Tani Maju berisi sesuatu yang lucu dan tidak jelas, hahaha. Walhasil jadi tersadar dan kembali menulis dengan seriusnya.

Saya terpikir juga untuk tidak menuliskan catatan perjalanan ini dalam bentuk kronologis. Jika mendengar kata kronologis, pasti pikiran saya terbayang ke zaman perkuliahan geologi dasar dimana metode ‘Chronologies’ menjadi salah satu cara untuk melihat kelogisan benar tidaknya suatu peristiwa kebumian di masa lalu relatif terhadap peristiwa lainnya berdasarkan bukti dan data tertinggal yang masih membekas. Namun, akhirnya daripada meributkan dengan metode penulisan saya berkesimpulan dan memutuskan untuk menuliskannya secara bebas tapi sopan.

Target kami selama sehari penuh di hari ke-2 di Pulau Weh yaitu pantai, pantai, dan pantai. Malam hari sebelumnya kami sudah membooking dua sepeda motor matic untuk kami gunakan sebagai sarana berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Satu unit sepeda motor bisa disewa dengan harga 80 ribu sehari penuh dari pagi hingga malam. Tidak perlu susah untuk mencari tempat penyewaan karena hampir di tiap penginapan tersedia sepeda motor yang bisa disewa oleh pengunjung. Saya pribadi menyarankan untuk menggunakan moda transportasi ini karena bisa lebih bebas untuk menjelajahi ujung-ujung pulau sesuka hati.

Pantai Gapang

Pantai Gapang

Pantai Gapang

Pantai Gapang menjadi tujuan pertama kami di Hari Jumat pagi. Sekitar pukul jam 9.30 tiba dan suasana pantai tersebut jempling. Deburan ombak menyapu pinggiran pantai. Suara deburan terdengar sangat jelas. Seketika saya berada di dunia lain. Hanya terlihat seorang anak penjaga warung di dekat pantai. Tidak terlihat wisatawan seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa ada sesuatu ganjil telah terjadi. Sejenak kami memesan kopi dan snack sambil ditemani suara deburan ombak dan akhirnya bertanya kepada si penjual kopi mengapa Pantai Gapang -yang banyak muncul ketika saya browsing lokasi wisata di Google- kok malah sepi adem ayem tentrem kerto raharjo. Singkat cerita akhirnya terkuak sudah akhirnya mengapa Pantai Gapang sedang adem ayem tentrem kerto raharjo. Ternyata terdapat aturan tidak tertulis di Hari Jumat yang melarang segala aktivitas di pantai hingga selesai ditunaikannya solat Jumat. Akhirnya solatlah kami di masjid besar terdekat. Kemudian sesuatu yang ganjil terjadi setelah rukun salam kami tunaikan di rakaat terakhir. Ada seorang makmum yang kembali iqamah dan serentak jamaah di beberapa barisan depan kembali berdiri dan kembali solat! Kami sekonyong-konyong keluar dari masjid dan langsung meluncur menuju Pantai Iboih. Sampai saat ini, saya sebenarnya masih bingung dengan kejadian solat Jumat tersebut dan terdapat sedikit penyesalan karena tidak bertanya kepada penduduk sekitar.

Pantai Iboih

Pantai Iboih (doc JH)

Pantai Iboih (doc JH)

Tak jauh dari Pantai Gapang ke arah Barat Laut terdapat sebuah pantai yang digadang-gadang sebagai pantai terbaiknya yang ada di Pulau Weh yaitu Pantai Iboih (penduduk setempat mengejanya Iboh). Dan memang benar di sini memiliki pemandangan indah apalagi yang terdapat di bawah permukaan air lautnya. Sesampainya di sana kami langsung menuju tempat penyewaan alat snorkel seperti pelampung, kacamata, serta fin seharga 40 ribu per satu unit. Tak lengkap rasanya apabila berkunjung ke Iboih bila tidak menyeberang ke Pulau Rubiah. Pulau mungil nan sepi tersebut merupakan salah satu daya tarik apabila kita berkunjung ke sana.

Harga sewa boat untuk pulang pergi yaitu 150 ribu dengan jumlah penumpang mulai 3 hingga 11 orang. Apabila ingin menyewa boat untuk keliling pulau pun ada, bahkan kapal dengan lantai kaca pun ada untuk menikmati suasana bawah laut di Pantai Iboih. Oh ya apabila ada yang senang menyelam, tersedia juga penyewaan alat selam berikut instrukturnya.  Hanya saja untuk diving saya tidak sempat bertanya tentang harga yang ditawarkan oleh penyedia.

Anjungan di Pantai Iboih, lengkap dengan kedainya (doc JH)

Anjungan di Pantai Iboih, lengkap dengan kedainya (doc JH)

Snorkeling

Hampir kebanyakan pengunjung pasti akan menyempatkan diri merasakan ber-snorkeling ria di pantai Iboih atau Pulau Rubiah. Begitu juga dengan kami. Tanpa perlu berenang jauh dari garis pantai Pulau Rubiah, kita sudah disajikan oleh pemandangan laut yang luar biasa. Terumbu karang berwarna warni tetiba berada di hadapan kita secara langsung. Tampak ikan-ikan berwarna biru terang (temannya Nemo) berenang hilir mudik. Saya pun bahkan melihat langsung kuda laut yang berada di dasar laut. Di satu kesempatan terlihat kerang berwarna kemerahan yang apabila kita dekatkan tangan kita kepadanya mulut sang kerang pun bergerak merespon dengan lucunya. Benar-benar mengasyikkan hingga tanpa sadar kepala saya pernah menabrak karang yang memang tingginya mencapai permukaan air. Hampir tiga jam kami menghabiskan untuk menikmati keindahan bawah laut Iboih juga yang berada di sisi Timur Pulau Rubiah. Hanya saja di bagian Timur pemandangan bawah lautnya tidak sebagus di selat Iboih. Justru saya banyak melihat bulu babi yang bertebaran laiknya ranjau laut.

Kenampakan Pantai Iboih

Kenampakan Pantai Iboih

Saya bersyukur sudah mengunjungi Pulau Weh. Sebenarnya masih banyak objek wisata yang belum sempat untuk dikunjungi. Mengingat keterbatasan waktu, mau tidak mau harus diakhirkan berpelesir di Pulau Weh. Apalagi jika mengingat pulang di Hari Minggu akan lebih sulit mendapatkan karcis kapal menuju Ulee Lheue dari Balohan dibandingkan di Hari Sabtu. Tulisan selanjutnya akan banyak bercerita hasil kunjungan ke Kota yang pernah diluluhlantakkan oleh bencana tsunami 2004 silam, yakni Banda Aceh.

~bersambung…