Melihat Bumi Lewat Piksel (1)

Perkembangan ponsel pintar serta kamera yang menyertainya secara langsung membuat fotografi kian digemari. Tidak jarang kita melihat orang yang baru bangun tidur berselfie ria dan mengunggahnya di media sosial untuk membuktikan eksistensinya.

Foto merupakan hasil pencitraan lensa dari kamera. Foto terbentuk dari piksel-piksel berukuran mikron yang masing-masing menyimpan nilai digital dan kemudian diterjemahkan ke dalam warna. Nah, bagaimana dengan fotografi jarak jauh alias penginderaan jauh?

Dengan ukuran yang sangat jauh berbeda dengan kamera konvensional fotografi pada umumnya, kita bisa melihat bumi dari sisi yang berbeda. Sebelumnya sudah saya singgung ukuran piksel kamera konvensional yang berukuran mikron meter. Untuk foto satelit, ukuran pikselnya beragam mulai dari 20 cm, 40 cm, 60 cm, 1 meter, 5 meter, 15 meter, 30 meter, sampai 250 meter. Besar, bukan?

Medan from above
Medan from above (menggunakan Landsat 8 tertanggal 21 Februari 2015)

Selain bisa melihat kenampakan bumi secara kasat mata, dengan foto satelit kita bisa melihat kenampakan yang tidak kasat mata. Inilah salah satu kelebihannya dari foto satelit walaupun sebenarnya di dunia medis pencitraan kenampakan yang tidak kasat mata sudah banyak sekali diaplikasikan. Hanya saja jika di dunia medis sifatnya ‘lokal’, sedangkan foto satelit cakupannya global.

Berhubung saya tinggal di Kota Medan, apa ya yang bisa kita intip lewat piksel? Wilayah perkotaan identik dengan maraknya lahan terbangun seperti permukiman penduduk, perkantoran, jalan, serta industri. Aktivitas yang berhubungan dengan pertanian bisa kita katakan hampir tidak ada.

Beberapa tahun belakangan isu lingkungan menjadi isu yang seksi. Tak terkecuali dalam perencanaan tata ruang di seluruh kota-kota dunia termasuk di Indonesia. Ruang terbuka hijau yang dicirikan oleh area bervegetasi seperti taman kota menjadi suatu keharusan proporsinya dalam perencanaan ruang. Biasanya proporsi luasan ruang terbuka hijau yaitu seluas 30% dari total luas suatu kota.Bagaimana ya dengan Kota Medan dan sekitarnya? Masih adakah ruang terbuka hijau di Kota Medan ini?

Dalam beberapa tulisan ke depan, saya akan sajikan dua atau tiga tulisan seputar hasil olahan penginderaan jauh khususnya di Kota Medan dan sekitarnya berikut dengan gambar hasil olah digital. Yuk kita eksplorasi cara kita melihat dunia lewat piksel!

 

Masjid Saksi Sejarah

Prolog

Pesisir Sumatera Timur di abad 19 masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Langkat dan Deli yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Namun kekuasaan kolonial Belanda masih bercokol. Banyak menyisakan kisah pilu di sana akibat tumbuh dan berkembang pesatnya perkebunan tembakau dan karet di bawah perintah pemodal tuan kaya Hindia Belanda. Pribumi, yang memiliki tanah warisan leluhur malah menjadi budak di negerinya saat itu. Orang Eropa, hilir mudik ke sana ke mari ke ujung dunia. Dan di mana pun mereka berada di wilayah jajahannya selalu menjadi orang dengan kasta tertinggi, pemiliki modal sang tuan tanah yang patut disembah pribumi.

Masjid

Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Sebagai simbol, masjid biasanya merupakan representasi ‘wajah’ pribumi di sekitarnya. Tak jarang ditemukan masjid yang ‘wah’ di suatu tempat yang memiliki kekayaan bumi tertetu seperti perkebunan, pertambangan, atau pusat jasa.

Medan dan sekitarnya pada masa lampau, tumbuh dan berkembang seiring hasil bumi seperti perkebunan, tambang minyak, dan hasil laut. Sudah pasti pada masa kolonial, yang menguasai dan mengatur hasil bumi ini adalah dari kalangan kulit putih alias totok. Pribumi (dalam hal ini diwakili sultan atau raja setempat) bertindak sebagai pelayan para administrateur. Tak jarang di beberapa tempat, penguasa setempat dengan sengaja mengobral tanahnya untuk dijadikan kebun untuk si penjajah.

Selain gedung, masjid-masjid yang ada di pesisir Sumatera Timur menjadi saksi sejarah kisah pilu pribumi dari pelayan administrateur perkebunan hingga menjadi manusia yang merdeka hingga saat ini. Kemegahannya cerminan kekayaan hasil bumi di masanya. Diantara sekian banyak masjid di Sumatera Timur terutama di Medan dan sekitarnya ada tiga masjid yang bisa dijadikan pilihan untuk dikunjungi.

1. Masjid Raya Medan

Masjid Raya Al Mashun
Masjid Raya Al Mashun (Sumber: Yupegi — http://bit.ly/1DPiM08)

Masjid ini gampang ditemukan di Kota Medan. Terletak di simpang empat Yuki, tidak jauh dari Hotel Madani dan Yuki Simpang Raya. Masjid inilah yang menjadi salah satu ikon Kota Medan. Masjid ini selesai dibangun pada 1909 dan mendapat pengaruh arsitektur dari Timur Tengah, Spanyol dan India.

Masjid Raya Medan memiliki tiga kubah utama dan memiliki bentuk segi delapan pada bagian utama. Dibalik indahnya arsitektur, masjid ini menyimpan cerita menarik di masa pembangunannya. Selain didanai oleh Sultan Deli, masjid ini juga banyak mendapat biaya pembangunan dari seorang Kapiten dari etnis Tionghoa yaitu Tjong A Fie yang saat itu terkenal sebagai konglomerat kaya di Medan.

2. Masjid Azizi

Masjid Azizi Tanjung Pura
Masjid Azizi Tanjung Pura

Di pertengahan bulan Januari lalu, saya kembali berdamai dengan diri sendiri. Berangkat dari Medan menuju Tanjung Pura menggunakan si kuda besi. Tak sampai 70 menit akhirnya tiba di Tanjung Pura. Masjid Azizi ternyata berada di jalan lintas Sumatra. Awalnya saya ingin berkeliling Kota Tanjung Pura. Namun urung saya lakukan karena kota terendam banjir! Akhirnya di Masjid Azizi inilah saya menghabiskan waktu sambil mengagumi arsitektur yang ada di sana. Kabarnya arsitektur bangunan masjid ini mendapat pengaruh dari India dan Timur Tengah.

Saya terpukau ketika memasuki ruang utama masjid. Hiasan pada langit-langit kubah tidak bosannya untuk dilihat. Saat berada di bagian dalam hawa sejuk meruak. Mungkin jika tidak ada larangan saya bisa tidur dengan nyenyaknya di bagian dalam.

Menara Masjid Azizi
Menara Masjid Azizi
Langit-langit di bagian dalam Masjid Azizi
Langit-langit di bagian dalam Masjid Azizi

Di bagian luar masjid, selain terdapat makam T A Hamzah serta keluarga sultan, juga terdapat perpustakaan. Sayangnya perpustakaan sedang tutup. Menara masjid terletak terpisah. Di dekat pintu masuk menara terdapat prasasti yang berisi mengenai pembangunan masjid dalam bahasa Belanda.

3. Masjid Osmani

Di luar kedua masjid pada penjelasan di atas, ternyata masjid tertua berada di Belawan! Pada awalnya saya kira Masjid Azizi lah yang merupakan masjid tertua. Perkiraan saya meleset. Masjid ini tidak sengaja saya kungjungi saat dalam perjalanan menuju Belawan. Lokasinya persisi di pinggir jalan dan mencolok mata bagi siapapun yang sedang melintasi jalan Medan – Belawan. Masjid ini juga kerap di sebut Masjid Osmani Labuhan Deli.

Masjid Osmani
Masjid Osmani

Masjid Osmani dibangun pada tahun 1854 dan dipermanenkan bangunannya pada tahun 1872. Arsitektur masjid ini mendapat pengaruh dari banyak negara seperti Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan Cina yang diarsiteki oleh seorang Jerman. Sama seperti dua masjid sebelumnya, warna kuning adalah warna yang mendominasi masjid ini yang merupakan warna kebanggan Melayu. Sayangnya saya tidak sempat masuk ke ruang utama dikarenakan saat berada di sana masjid sedang direnovasi di bagian belakang.

Sekian.

 

Trip to Aceh – Prolog

Setelah tidak kesampaian untuk menuliskan beberapa ide di blog beberapa bulan terakhir, akhirnya sampai juga momentum untuk menuliskan satu tulisan saat ini. Mumpung masih hangat karena baru melaluinya beberapa hari yang lalu. Yup, mulai posting-an ini dan beberapa posting-an ke depannya saya akan menuliskan catatan perjalanan (bahasa gaul zaman sekarangnya ngebackpaking) saya selama tiga hari ke Tanah Rencong alias Nanggroe Aceh Darussalam. Mudah-mudahan beberapa catatan di bawah akan berguna untuk pembaca sekalian. Siapa tahu beberapa informasi yang ada bisa dipakai untuk jalan-jalan kelak ketika mengunjungi Aceh.

Rencana saya dan beberapa kawan untuk mengunjungi Aceh bisa dibilang dadakan karena memang tidak direncanakan sangat matang. Persiapan kami tak lebih dari 10 hari menjelang hari keberangkatan. Kami memutuskan untuk menggunakan moda transportasi darat dari Medan menuju Banda Aceh dan pulangnya menggunakan moda transportasi udara. Pilihan otobus dari Medan menuju Banda Aceh jatuh kepada PO PMTOH super executive jet bus. Pilihan ini diputuskan setelah mencari informasi dari internet terutama milis bismania serta obrolan ke beberapa orang. Untuk keefisienan waktu, sebaiknya pilih saja yang non stop. Harga tiketnya 200,000 ,- sedangkan untuk yang kelas patas executive harga tiket berada di kisaran 140,000,-. Keberangkatan bus pada malam hari (makanya disebut bus malam :D) jam 21.00.

Interior PMTOH Jet Bus Medan - Bd Aceh (AK)
Interior PMTOH Jet Bus Medan – Bd Aceh (AK)

Singkat cerita, jam 21.00 kami berangkat dari Medan. Bus pun melaju dengan mulusnya. Karena kondisi lalu lintas yang lumayan ramai, bus melaju dengan kecepatan sedang sampai Binjai. Namun, selepas dari Binjai bus mulai melakukan pertambahan kecepatan. Percepatan pun bertambah. Tak pelak, bus melalui kelokan-kelokan jalan dan dahsyatnya suspensi bus pun mulai terasa. Saat melalui jalan yang sedikit bergelombang (gojlagan) ataupun manuver menyalip, goncangan terasa sangat lembut. Walhasil saya pun terngiang-ngiang pengalaman salah seorang blogger yang juga menyatakan bahwa PMTOH super executive Medan ke Banda Aceh sangat memuaskan kesannya.

Praktis berhubung perjalanan dilakukan pada malam hari, tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Saya hanya bisa melihat dari plang-plang kantor untuk mengetahui sudah sampai mana bus melaju. Kondisi jalan yang dilewati untuk sampai Banda Aceh relatif sangat bagus dan mulus-mulus tanpa halangan berarti. Apalagi perjalanan malam hari yang memang cukup sepi lalu lintasnya. Namun ada beberapa lokasi yang cukup menyentil perhatian saya selama perjalanan. Saat bus kami melintasi Kabupaten Aceh Tamiang tepatnya di Kuala Simpang, bus melewati tikungan sangat tajam sehingga berbeloknya bus sangat terasa bagi saya. Sejenak pikiran saya pun melayang ke Cianjur, dimana ada tikungan serupa (biasa disebut pengkolan tapal kuda) yang merupakan perlintasan jalur Puncak – Bandung.

Tepat pukul enam pagi akhirnya bus sampai di Terminal Batoh, Kota Banda Aceh setelah setengah jam sebelumnya bus sempat merapat ke salah satu masjid untuk melaksanakan solat Subuh. Tanpa piker panjang kami langsung menuju kantin terminal dan memesan lontong sayur sebagai santap sarapan ditambah segelas teh panas. Sekilas saya melihat ada beberapa bapak-bapak yang sedang bercengkrama dengan koleganya sambil menyeruput kopi. Ya, akhirnya saya pun tersadar saya sudah menginjakkan kaki di Tanah Rencong, negerinya kedae kupi.

~bersambung…

Ps: Rute jalur darat à Medan – Binjai – Stabat – Pangkalanbrandan – Kuala Simpang – Langsa – Peureulak – Lhoksukon – Lhokseumawe – Bireun – Sigli – Banda Aceh

Memoar Bus Malam

Berbicara mengenai alat transportasi, bus malam merupakan salah satu favorit saya. Mengapa? Hal ini karena saat kecil, terutama saat SD dan SMP hampir tiap Lebaran tiba kami sekeluarga menyempatkan untuk merayakannya di kampung halaman ibu saya di Purworejo. Nah, hampir setiap tahun pula bus malam menjadi angkutan andalan kami sekeluarga menuju Purworejo.

Saat SD dan SMP, hampir tidak ada bus malam AC yang melintasi Purworejo. Kalaupun ada yaitu bus malam Jogja via Magelang. Jadi jika mau menuju Purworejo harus transit dahulu di Magelang baru kemudian menyambung angkutan ke Purworejo. Namun karena alasan kepraktisan, kami lebih sering untuk menggunakan bus malam non AC. Bus malam AC yang melewati Purworejo baru ada saat saya menginjak SMA, namun saat ini malah sudah jarang untuk pulang kampung lagi ke Purworejo. Bus malam yang sering dinaiki kami sekeluarga yaitu Lima* Express. Berangkat dari Bogor sekitar jam dua siang dan sampai di Purworejo pasti jam empat pagi. Pastinya, saya sangat menikmati perjalanan tersebut bahkan menjadi pengamat bus malam AKAP di sepanjang perlintasan perjalanan. Saya dan kakak saya bahkan menjadikan nama PO bus malam menjadi tandingan tebak-tebakan menjelang tidur. Sangat sering kami memainkannya dan kami menyebutnya permainan “bis-bisan”. Sebenarnya permainannya simpel yaitu hanya menyebutkan nama bus malam secara bergantian. Nah, saat salah satu dari kami tidak bisa menjawabnya saat itulah dia kalah.

Limas

Saking terobsesinya dengan bus malam bahkan saat pelajaran menggambar ketika SD saya sudah pasti bertemakan bus malam, lengkap dengan nama Perusahaan Otobusnya. Jika kawan-kawan saya selalu menggambar pemandangan (dua gunung, matahari di tengah, dibelah jalan, ada persawahan) yang jamak kita temui bahkan hingga anak SD zaman sekarang, saya sudah pasti menggambar bus malam. Entah kenapa saya lebih menyenangi menaiki bus dibandingkan kereta api atau bahkan pesawat terbang sekalipun. Saya senang ketika melewati pergantian hari di dalam bus malam. Menikmati fajar atau mega merah dari dalam bus malam. Saya selalu terperangah saat suara desisan rem bus yang selalu mendesis ataupun saat suara deru mesin intercooler yang berteriak. Untuk rute kampung halaman bapak saya di Probolinggo seringnya kami menggunakan Loren* atau Pahala Kencan*.

Perjalanan jauh terakhir yang saya rasakan menggunakan bus malam yaitu saat kuliah lapang terakhir angkatan kami menuju Bintuhan di Bengkulu dari Depok. Lama perjalanannya sekitar 27 jam, sudah termasuk melintasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan serta jalan kaki di tanjakan daerah Liwa karena bus tak kuasa untuk melaju dengan beban penumpang penuh. Rute perjalanan sangat menantang mengingat yang dilintasi adalah deretan Bukit Barisan. Namun pemandangan yang tersaji sangat indah terutama hamparan pasir putihnya. Saya teringat ketika menjadi tim advance untuk kegiatan ini. Saat perjalanan survey pendahuluan bus kami sempat terjebak di tengah hutan jam 12 malam karena mengalami masalah di ban belakang. Walhasil dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi, tidak ada seorang pun yang berani turun dari bus karena takut akan binatang liar. Sang kernet pun akhirnya memperbaiki ban bus saat pagi tiba.

Mulai SMA hingga kuliah, intensitas pulang kampung ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur sudah berkurang, tidak sesering SD atau SMP. Moda transportasi yang dipakai pun selain bus malam yaitu kereta api. Nah, sekarang karena saya sementara berdomisili di Simalungun sebenarnya ingin lagi merasakan sensasi naik bus malam. Hanya saja sangat sulit mencari waktu yang pas mengingat hari kerja yang padat dan cuti yang terbatas. Rute yang ingin dicoba yaitu rute Medan – Banda Aceh, Medan – Padang, atau Medan – Jakarta. Dari ketiga rute tersebut yang paling realistis yaitu Medan – Banda Aceh, hanya tinggal mencari momentum waktu yang pas saja untuk dieksekusi. Selain itu rute Medan – Jakarta menggunakan kapal laut pun sepertinya harus dirasakan mengingat serunya melintasi perjalanan laut. Perjalanan laut terpanjang yang pernah dirasakan hanya sekitar 5 jam, dari Sekupang menuju Lingga di Kepulauan Riau. Untuk rute Selat Sunda, tidak terlalu lama, hanya 2 jam. Nah, Untuk rute Medan – Jakarta kurang lebih akan memakan waktu 3 hari sehingga jadi lebih penasaran saja menggunakan moda tersebut.

Selayang Pandang dari Kota Medan

Pulau Sumatra, memang penuh dengan pesona. Salah satu pulau terbesar di dunia ini merupakan pulau yang memiliki kekayaan perut bumi melimpah dengan sejuta suasana alami yang menyebar di penjuru pulau. Si Singa Mangaraja, pejuang gagah berani asal Sumatra Utara adalah salah satu ikon persona dari sosok putra bangsa yang akan dikenang oleh sejarah panjang bangsa ini. Jika berkunjung ke beberapa kota besar, maka tak jarang dijumpai nama jalan utama yang memakai nama pahlawan ini.

Salah satu pusat pertumbuhan di Sumatra yaitu Kota Medan. Kota yang penuh dengan sejarah ini ternyata jauh dari perkiraan penulis saat mampir berkunjung ke sana. Sesaat sebelum landing, pilot memberitahu melalui kokpit bahwa pesawat akan bersiap landing, “Preparing for landing”, Sayup terdengar suara sang pilot dari pengeras suara yang malah terdengar parau. Pesawat pun perlahan mulai menukik menuju landas pacu. Apa yang penulis lihat memang agak mengagetkan, saat melihat jendela dari kabin yang terlihat adalah rumah-rumah padat dengan warna genteng agak kemerahan. Tidak terlihat hamparan padang rumput seperti yang terlihat di Bandara Sukarno-Hatta atau hamparan tanah merah luas seperti yang terdapat di Bandara Raja Ali Haji di Pulau Bintan. Penulis tersadar, bahwa ternyata letak Bandara Polonia terdapat di dalam Kota Medan!

Walau tidak sebesar bandara di Cengkareng, Bandara Polonia merupakan salah satu hub pusat pertumbuhan yang ada di Sumatra. Untuk itu rencana pemerintah daerah setempat untuk  memindahkan bandara ke Kuala Namu, diharapakan menjadi semakin lebih optimal dalam menjalankan ‘fungsi’nya sebagai  pusat pertumbuhan. Tak sampai hitungan jam, cukup satu menit saja untuk langsung menuju pusat Kota Medan. Kota Medan memberlakukan sistem  sterilisasi angkutan umum di jantung kotanya sehingga yang kita jumpai hanyalah sepeda motor atau mobil yang berseliweran hilir mudik. Tak jarang pula angkutan becak yang lewat, mencuri kesempatan mencari penumpang dikala polantas lengah mengawasi.

Tak berbeda jauh dengan Kota Jakarta, Kota Medan juga kota yang sedang terkena stroke alias penyumbatan pembuluh darah. Nampaknya kecenderungan meningkatnya jumlah kendaraan yang tak sebanding dengan pertambahan jalan menjadi suatu ‘gaya hidup’ bagi kota-kota metropolitan di Indonesia. Pemandangan macet adalah hal yang lazim di Kota Medan. Jalan yang tidak terlalu lebar, ditambah banyaknya persimpangan menjadikan situasi jalan di Kota Medan tampak runyam. Apalagi ketika jam istirahat kantor atau jam pulang kerja, salah-salah kota yang terserang penyumbatan pembuluh darah ini malah menularkan serangan stroke betulan kepada penduduknya.

Pesona dibalik keruwetan#

Dibalik segala penyakit transportasi yang menderanya, Kota Medan tetap memiliki pesona tersendiri. Amatilah bangunan yang ada di Kota Medan, pasti akan dengan mudahnya ditemukan bangunan tua peninggalan arsitektur kolonial. Gedung PTPN, adalah bangunan tua yang penulis lihat di Kota Medan. Bangunannya menjulang dan lebar dengan jendela khas zaman dulu yang tinggi. Tiang bangunan selalu menjadi kekuatan utama penopang bangunan sekaligus menjadi daya tarik estetika bagi siapapun yang melihatnya. Luar biasa memang bangunan tua peninggalan Belanda, bangunannya kokoh tak tergerus dimakan zaman dan arus perubahan.

Selain bangunan peninggalan Belanda, ada pula bangunan tua khas arsitektur Tionghoa. Sama seperti banyaknya pendatang dari Jawa, etnis Tionghoa pun sama banyaknya. Ada sebuah bangunan tua (seingat penulis) di Jalan Ahmad Yani, terletak di sisi timur jalan, yang merupakan bangunan berarsitektur Tionghoa yang saat ini sudah ditempati oleh generasi ketiga keluarga tersebut. Menurut cerita, generasi pertama keluarga tersebut adalah salah satu pejuang yang turut menumpahkan segenap jiwa dan raganya untuk kemerdekaan RI. Bangunan tersebut sampai sekarang masih berdiri megah, bahkan terlihat mencolok karena memiliki warna bangunan yang berbeda dengan bangunan lain di sekitarnya.

Masih banyak sudut-sudut Kota Medan yang belum dijelajahi oleh penulis. Mungkin di kesempatan berikutnya datang kesempatan untuk melakukan kunjungan berikutnya, pesona Kota Tua Medan.

#bahlias 120611