Curandal di Masigit

Unlucky (source: shutterstock)
Unlucky (source: shutterstock)

Mau coba bikin cerita untuk kali ini. Selamat menikmati. Sebagian besar isi pastinya cerita fiksi :p

Ucok sedang bersantai di kamar kosnya. Lampu kamar terang benderang pada malam itu. Tiba-tiba, pet! Kegelapan terlihat dimana-mana. Ternyata malam itu ada giliran mati lampu akibat dari kerusakan pembangkit listrik di Belawan.

Continue reading “Curandal di Masigit”

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 9,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Gempa Nepal adalah Gejala Mekanisme Pembentukan Himalaya,

Pakdhe Rovicky, melalui Dongeng Geologi nya menjadi salah satu rujukan saya untuk membaca fenomena alam terutama perlempengan kerak yang ada di bumi.

Dongeng Geologi

PrayforNepalGempa Nepal April 2015 ini tidak dapat terlepas dari pembentukan Pegunungan Himalaya. Sebuah Pegunungan tertinggi didunia. Pegunungan Himalaya sendiri terbentuk setelah terjadinya benturan keras antara Benua Asia (Benua EURASIA) dengan Lempeng Benua India.

Kalau kita lihat pegunungan Himalaya terlihat disepanjang benturan ini. Gambar peta morfologi dibawah ini sangat mudah menjelaskan dan menunjukkan mana yang disebut Pegunungan Himalaya, dan mana yang merupakan Tibet Plateu, atau Tinggian Tibet yang merupakan bagian dari Benua Eurasia yang tergencet.

View original post 266 more words

Iseng-iseng Menulis

Ias
Artikel singkat yang dimuat di sebuah majalah

Saya suka menulis. Tidak peduli bagus atau jeleknya isi tulisan. Toh biasanya saya menulis di blog. Jika orang suka tulisan saya, bagus! Jika tidak, abaikan saja!

Menjelang tingkat akhir perkuliahan di kampus, bahkan saya pernah menulis buku. Isinya tentang peta meliputi sejarah, perkembangan, dan cara membaca peta. Namun, akhirnya ditolak oleh sebuah penerbit padahal sudah dilakukan revisi beberapa kali. Dongkol? Tidak juga. Sedikit sih dongkolnya haha.

Beberapa waktu setelah ditolak penerbit, akhirnya saya mengirim opini ke sebuah media massa terkemuka. Saya menulis dengan tema urbanisasi. Hasilnya, tulisan tidak dimuat di media versi cetak. Tetapi muncul di halaman suara mahasiswa situs pada versi web. Saya ketahui ini saat iseng browsing nama saya di mesin pencari google yang akhirnya membawa saya pada link tersebut.

Bahkan saya lebih tercengang ketika salah satu artikel saya di blog (tentang isu urbanisasi) dijadikan rujukan makalah mahasiswa! Nampaknya mahasiswa masa kini lebih senang mencari referensi di google dibandingkan dengan mencari bacaan langsung ke jurnal ilmiah. Well, seharusnya mereka menyaring informasi yang akan dijadikan rujukan sebelum menuangkan ke dalam sebuah tulisan.

Menjelang penghujung tahun 2014, saya iseng menuliskan artikel perjalanan ke sebuah majalah. Tidak berharap diterima, hanya dorongan pribadi saja mana tau editor akan tertarik. Ternyata, di edisi awal tahun tulisan saya nampang di majalah tersebut pada sebuah rubrik! Tentu saja saya senang bukan kepalang. Tulisan saya dibaca oleh jutaan penduduk Indonesia. Apalagi saya menulis tentang objek yang belum begitu ramai dibincangkan dunia kepariwisataan Indonesia yaitu kawah putih Tinggi Raja. Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya orang yang datang ke lokasi tersebut, pemerintah setempat akan meningkatkan pelayanan dan fasilitas (juga amenitas) yang ada.

Oh ya, ada pula yang spesial pada gambar di atas. Kedua penulis merupakan satu almamater Departemen Geografi UI. Bedanya, saya sudah menjadi alumnus, satunya masih menjadi mahasiswa. Selain itu pada majalah yang sama, terdapat artikel yang ditulis oleh alumnus yang lebih senior yang menceritakan pengalamannya mendaki di Annapurna (Himalaya).

Mari menulis 🙂

Speechless

A : “Bang, nasi gurih komplit satu ya pakai dadar, ngga pake CABE!”
B : “Oke, nanti diantar ya, Bang.”
Lima menit saya manfaatkan untuk memainkan ponsel pintar. Tak berapa lama pesanan nasi gurih pun tiba.
B : “Bang, nasinya. Ini kukasih cabenya. Ya, buat syarat aja ya. Sikit aja nya.”
A : *&^%$!#@!$#@%&*^%$@#!@*

Terkadang kita temukan penjual makanan yang karena saking mendarah dagingnya makan dengan sambal hingga ia tak tega jika ada satu pembelinya yang walaupun sudah meminta tak dikasih sambal, tetap saja diberikan pada makanan pesanan si pembeli. Walhasil makanan saya makan dengan penuh kehati-hatian dengan menyingkirkan goresan sambal yang kadung menempel pada lauk pauk.

Evolusi Indra Pengecap

Suap demi suap nasi saya masukkan ke dalam rongga mulut. Potongan ayam goreng perlahan saya suir dan dicocol saus cabai dua b****** dengan lahapnya. Sejenak rasa gurih, tawar, dan pedas bergumul dalam rongga mulut saya sebelum berpindah ke kerongkongan dan dengan bantuan gravitasi ‘jatuh’ hingga ke perut saya.

Beberapa saat kemudian saya tersadar dari buaian kenikmatan menikmati makanan. Pikiran saya tetiba langsung menuju masa silam di sudut pinggiran jalan Kukusan Kelurahan – Kukel. Dengan menu yang kurang lebih sama, lengkap dengan merek saus cabai pun sama, saya sedang bergelinjang semangat menghabiskan makanan tersebut. Keringat butiran jagung tak hentinya mengalir dari bagian wajah saya. Saya kepedasan.

Efek kepedasan dahulu ternyata tidak saya rasakan saat ini. Pun dengan mencecap saus cabai favorit dengan merek yang sama. Tidak ada rasa pedas dibarengi keringat deras yang menetes dari wajah dan sebagian tubuh saya kemarin.

Saya selalu mengingat definisi kebiasaan walaupun sumbernya saya lupa. Jika tidak salah sih dari buku ajar SMA. Kebiasaan dalam buku tersebut didefinisikan sebagai aktivitas yang kita lakukan berturut-turut selama minimal 40 hari.

Saya langsung menganalogikan kebiasaan makan saya selama merantau di Sumatera. Selama hampir empat tahun, saya selalu makan makanan khas Sumatera dengan cita rasa pedas pake banget. Pun tanpa sambal – orang sini menyebutnya dengan cabe, bagi saya masih terasa sangat pedas di lidah. Karena tidak banyak pilihan, mau tidak mau saya makan walaupun dengan efek yang cukup merepotkan bagi tubuh saya untuk beradaptasi terutama pada masa awal perantauan.

Tanpa saya sadari, tingkat kepekaan mengecap pedas pada indra pengecap saya berubah perlahan. Saus cabai dua b****** yang dahulu saya anggap saus pedas banget maka saat ini saya tidak bereaksi kepedasan saat mencocol saus tersebut! Ini berarti selera pedas saya naik level walaupun secara pribadi sebisa mungkin saya akan menghindari makan pedas jika masih bisa. Bahkan sampai sekarang saya selalu menolak menggunakan sambal cabai di rumah makan atau nasi kapau bungkus. Nah, bagaimana dengan Anda?

Alarm Bahaya SDM Migas. WAWANCARA, ENERGIA Tahun 1 Vol. 08.

Dongeng Geologi

JALEnergia-1AN hidup seseorang tak selamanya dimulai dari kecintaan pada sesuatu. Bisa juga sebaliknya. Atau keduanya seperti yang dialami Rovicky Dwi Putrohari saat memulai perjalanan panjang karir profesionalnya sebagai seorang geolog. Dia memilih kuliah di jurusan Geologi karena sejak sekolah menengah, menyukai naik gunung, Hobi membaui alam, menurut Rovicky, bisa tersalurkan di jurusan tersebut yang memang kerap keluar masuk hutan dan gunung.

“Saya juga masuk Geologi karena paling sedikit matematikanya dibandingkan jurusan teknik yang lain,” ujar laki-laki berusia 51 tahun ini. Entah mengapa, ia kurang begitu suka dengan pelajaran Matematika. “Saat S2 pun, saya sampai mengulang tiga kali,” ujar Rovicky. Ia menamatkan program master di Jurusan Geo Fisika Universitas Indonesia pada 1998.

View original post 1,316 more words

Landsat 8

Belum lama ini USGS sudah merilis produk unggulan yang merupakan kelanjutan dari misi sebelumnya. Produk tersebut yaitu Landsat 8 yang meneruskan kedigdayaan Landsat 7. Masih sama seperti produk lawas, data Landsat 8 ini bisa kita unduh secara gratis. Namun, ada sedikit perbedaan dibandingkan dengan Landsat 7 sebelumnya terutama letak masing-masing saluran kanal atau band nya.

Untuk lebih jelasnya bisa dibuka pada link berikut ini. Informasi tersebut berisi spesifikasi produk Landsat 8 yang secara cuma-cuma bisa kita manfaatkan untuk berbagai aplikasi terutama landcover. Resolusi menengah yang ditawarkan oeh landsat 8 cukup mumpuni untuk melakukan analisis skala regional dan ditambah tidak ada lagi masalah SLC OFF seperti yang ada pada produk Landsat sebelumnya 🙂 . Tautan yang dipakai umumnya untuk mengunduh data Landsat 8 yaitu melalui EarthExplorer, GloVis, or via the LandsatLook Viewer.

Selamat mengeksplorasi!