Sang Juragan Teh

image

Iseng ngeblog langsung dari hp berhubung baru saja mendapat kabar bahwa penerbangan GA195 ditunda lebih lama dari tadinya jam 20.35 menjadi 21.35! Untungnya salah satu buku yang masuk dalam my so many waiting list’s books to be read dibawa sekalian mencicil sedikit membaca saat jemu menunggu di salah satu lounge Bandara Kuala Namu.
Sang Juragan Teh, novel karya Hella Haasse, sedikit menyentil mata ketika saya berkunjung ke toko buku beberapa waktu silam. Setting tempat yang berlokasi di Hindia, mau tak mau  akhirnya menggoda iman saya untuk akhirnya membeli.
Karena baru baca seuprit belum banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari novel tersebut. Namun, Rudolf nampaknya akan menjadi tokoh utama pada isi novel tersebut yang merupakan anak pengusaha kebun teh di Arjasari. Pada awal-awal penceritaan juga disinggung-singgung keluarga Bosccha. Wah, jadi penasaran kelanjutan ceritanya.
Setelah selesai membaca novel ini mungkin beberapa minggu atau bahkan bulan ke depan, akan saya tulis juga semacam ringkasan di blog ini. Itu pun jika tidak malas haha.

Bait-bait Suci Gunung Rinjani

Membaca akhirnya menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi saya selama bekerja di lingkungan perkebunan sawit. Apa pasal? Hanya dengan membacalah kita bisa menambah wawasan keilmuan dan juga sebagai pengisi waktu yang sangat bermanfaat di sela-sela waktu yang kosong.

Novel terakhir yang saya baca yaitu Bait-bait Suci Gunung Rinjani buah karya Khairul “Ujang” Siddiq. Novel tersebut terbitan Dian Rakyat tahun 2009. Pada sampul depan novel terdapat tulisan ‘Novel yang lahir dari jalanan’ yang akhirnya membuat saya penasaran untuk membaca novel tersebut.

Secara garis besar, alur cerita dari novel tersebut sederhana yaitu bercerita tentang kehidupan seorang Fajar, lulusan pesantren yang menyukai hiking sebagai sarana untuk bersyukur kepada Tuhan. Rangkaian alur cerita menyajikan potret pemuda mandiri yang memiliki pengetahuan agama dan mengamalkannya di dalam kehidupannya secara konsisten. Tampaknya penulis ingin menitikberatkan pada aspek dakwah dalam setiap alur cerita yang disajikannya.

Menurut saya, nilai moral yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca yaitu bagaimana seharusnya seorang muslim mengimplementasikan dan mengejawantahkan nilai-nilai Islam yang telah terintegrasi secara kultural (terutama agama warisan) secara konsisten. Penulis menyampaikan dan menyajikan kejadian-kejadian tersebut dalam praktik yang sederhana dan jamak terjadi dalam kehidupan remaja/pemuda terutama dalam konteks percintaan.

Selebihnya jika ingin mengetahui lebih lanjut jalan cerita dan petualangan Fajar sila saja baca novelnya dari awal halaman hingga akhir halaman. Nikmati rangkaian cerita yang sederhana namun sarat makna dengan nilai-nilai dakwah di setiap peristiwa yang diceritakan. 🙂

#bahlias17012012

“Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Negeri ini memang ironi. Ya, itulah yang bisa dilihat dari film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Baru saja saya menonton film ini walaupun sudah tampil di layar lebar mungkin satu atau dua tahun yang lalu. Kebiasaan tidak menonton di bioskop selama mahasiswa banyak sedikit mengurangi pengetahun akan film-film yang sedang beredar. namun bukan berarti tidak menonton sama sekali, kebanyakan hanya menonton di depan layar monitor komputer dari film-film yang diunduh oleh kawan-kawan saya.

Potret pengangguran terdidik sebagai gambaran di negeri ini, ditampilkan pada awal film diputar. Sang tokoh utama, Muluk, yang merupakan sarjana manajemen tampak kesulitan mencari pekerjaan. Ironi, karena di satu sisi pemerintah menggalakkan pendidikan, namun ternyata mencari bekerja setelah lulus pun malah sulit. Muluk pun kemudian akhirnya bertemu dengan anak jalanan yang berprofesi sebagai pencopet. Tampak dari setting film, mengambil latar Pasar Asemka yang tidak jauh Stasiun Beos. Singkat cerita, karena tidak kunjung mendapat pekerjaan akhirnya Muluk pun bertemu dengan bos si pencopet untuk mengajukan proposal kerja sama.

Karena terenyuh melihat kehidupan para pencopet cilik yang semrawut, Muluk tergerak untuk melakukan kerja sama dengan mereka dari hasil copet sehari-hari. Muluk berencana untuk memutar uang yang ada agar suatu saat mata pencaharian para pencopet cilik tidak melulu mengandalkan dari hasil mencuri. Muluk menginginkan memutar uang mereka untuk dijadikan lahan usaha yang tetap dan bertahap mulai dari mengasong, membuka ruko, hingga memperluas usahanya.

Lambat laun dan sedikit demi sedikit para pencopet mulai tergerak untuk berubah. Tak hanya memutar uang hasil copet mereka, Muluk pun membekali juga dengan pendidikan sehingga mengajak dua tetangganya yang sama-sama berpendidikan tinggi untuk mengajar di lingkungan pencopet  tersebut. Pelajaran membaca, kebersihan, Pancasila, serta agama pun diberikan oleh Muluk dan kawannya.

Orang tua Muluk pun lambat laun tahu bahwa hasil uang yang didapatkan anaknya, Muluk, dari hasil copet para pencopet cilik. Ayahnya kecewa karena selama ini anaknya mendapatkan uang dari hasil copet yang merupakan hasil yang haram. Muluk dan kawannya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti mengelola sekolah pencopet setelah berhasil memodali para pencopet dengan enam buah kotak asong.

Karena negeri ini memang penuh dengan ironi, di akhir film disajikan drama lucunya negeri ini. Para pencopet yang akhirnya ‘insaf’ dan memilih untuk berdagangan asongan akhirnya dikejar-kejar oleh Satpol PP.  Adapun kawan-kawan pencopet yang belum insaf dan tetap mencopet di jalanan, juga dikejar-kejar oleh massa yang beringas. Memang sungguh ironi, mencari nafkah secara halal tidak aman, apalagi mencari nafkah yang tidak halal. Benar-benar lucu negeri ini.

Menurut saya, film ini sangat sarat makna dan membuka mata kita akan realita fenomena yang terjadi di negeri kita tercinta. Masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menyelesaikan dan mengatasi berbagai krisis multidimensi yang membelenggu Negara kita. Tinggal tunggu peran kita sebagai orang yang berpendidikan untuk menjadi bagian solusi menyelesaikan berbagai krisis tersebut.

#bahlias231011

Robinson Crusoe (Terj. PT Bentang Pustaka)

Novel ini merupakan salah satu novel pertama yang muncul di Inggris. Penulisnya yaitu Daniel Defoe. Novel ini sangat terkenal di dunia dan merupakan salah satu karya besar yang muncul dari daratan Eropa. Hingga saat ini, novel yang menceritakan tentang pelaut yang terdampar merupakan novel yang tersohor hingga seluruh kalangan di dunia.

Novel yang saat ini memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia ini bisa dijadikan alternatif pengisi liburan bagi semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, profesional, pecinta sastra, dan lainnya.

Isi dari novel ini menceritakan seorang anak manusia yang menyukai laut hingga akhirnya dalam suatu perjalanan terdampar di suatu pulau yang tak berpenghuni. Ia pun akhirnya menghabiskan lebih dari 20 tahun di pulau tersebut. Saat terdampar awalnya ia sangat menyesali nasibnya karena tidak menuruti nasihat ayahnya untuk mencari nafkah di darat. Sehari-hari Robinson Crusoe memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tangannya sendiri dan mengolah sumber makanan dengan hasil bumi di pulau tersebut.

Pada awal kedatangannya, Crusoe adalah seorang yang jauh dari agamanya. Namun setelah melalui perjalanan panjang hidup di pulau terpencil, lambat laun ia pun menyadari akan eksistensi Tuhan di alam semesta ini. Dengan kisah-kisah dan petualangan menarik, sang penulis menyajikan secara deskriptif (walau kurang detail) dalam untaian kata-katanya.

Dari segi bahasa kadang terdapat kata-kata yang tidak efektif atau kurang lengkap. Namun, kesemuanya tidak mengurangi keseluruhan isi dari cerita. Aslinya, novel ini tidak memiliki bab-bab. Namun, dalam terjemahan (oleh PT Bentang Pustaka) di bagi-bagi ke dalam +10 bab tanpa judul bab. Penulis sering menambah atau memperjelas filosofi cerita dengan panjang lebarnya sehingga pembaca dapat paham apa yang ada dalam pikiran si tokoh ketika menemukan ‘pencerahan’ dalam cerita tersebut.