Tempat makan halal di Hong Kong dan Macau

SALAH satu yang agak repot bagi seorang muslim yang bepergian ke  negara yang mayoritasnya non muslim adalah makanan. Padahal makanan adalah salah satu kebutuhan dasar yang harus kita penuhi kapan dan di mana pun.

Persis di awal bulan April lalu, saya beserta istri dan tiga orang teman kantor pergi ke Hong Kong dan Macau untuk berjalan-jalan. Mengingat tempat tujuan, penduduknya non muslim maka salah satu yang diwanti-wanti dan disiapkan jauh sebelum perjalanan yaitu mencari tempat makan yang halal dan thoyib.

Nasi biryani

Continue reading “Tempat makan halal di Hong Kong dan Macau”

Repotkah traveler muslim ketika bepergian ke Jepang? (Japantrip#2)

JEPANG tak dipungkiri sudah menjadi magnet bagi turis dari seluruh dunia tak terkecuali dari Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Yang menjadi pertanyaan yaitu apakah mudah bagi seorang traveler muslim untuk bepergian di Jepang yang notabene penduduknya mayoritas bukan pemeluk Islam?

IMG_3013
Foto bareng ikon Line

Continue reading “Repotkah traveler muslim ketika bepergian ke Jepang? (Japantrip#2)”

Bubur Random

Random. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang kudu dirampungkeun, salah satunya permintaan dari Bang Daydeh, namun entah kenapa tulisannya belum bisa diselesaikan. Benar-benar stuck!

Akhirnya di malam yang masih ramai ini, kebetulan baru saja melakukan ritual makan malam dengan menu bubur ayam. Sepertinya boleh juga untuk dituangkan dalam tulisan malam ini yang bertema random. Tidak murni random karena masih memiliki tema makanan, namun ya sudahlah, anggap saja random.

Continue reading “Bubur Random”

Manna House

Beberapa hari lalu di siang menjelang sore dengan panas matahari nan menyengat, berkesempatan mengunjungi Manna House untuk bersantap siang bersama rekan sejawat. Pertama mendengar ‘manna’ saya teringat akan materi guru ngaji saya sewaktu SD. Kurang lebih seperti ini: Dahulu Bani Israil pernah diberikan hidangan Manna dan Salwa oleh Tuhan. Menurut tafsir, Manna yaitu semacam makanan dari gandum atau biji-bijian. Adapun Salwa yaitu burung kecil yang dagingnya lembut dan enak. Kisah ini diabadikan pada Al-Quran surat Al-Baqarah.

Sebenarnya tidak berkekspektasi berlebihan makanan di sini, mengingat menurut saya pribadi biasanya sih makanan yang ada di cafe atau resto yang ‘agak’ ekslusif, rasanya biasa dan kurang gahar. Cita rasa otentik bahkan sejatinya bisa ditemukan di rumah makan biasa dan sederhana di pinggir-pinggir jalan. Yang menarik dari Manna House yaitu suasananya yang teduh di bagian dalam. Ada pangkas rambut malah di ruang utama Manna House!

Makanan pembuka diawali singkong goreng. Rasanya enak. Sayangnya, tekstur singkong terlalu rapat. Saya lebih suka singkong goreng yang permukaannya merekah dengan garis-garis berkedalaman yang mengeluarkan kepulan asap panas. Rekahan biasanya dihasilkan dari hasil perebusan terlebih dahulu. Singkong yang saya makan memang direbus terlebih dahulu, namun rekahannya tidak nampak pada permukaan singkong.

Makanan utama saya coba nasi ayam bumbu Bali. Beberapa rekan sejawat mencoba nasi goreng kampung, spinach bla bla bla (saya lupa namanya), serta mie tiauw. Porsi nasi pas untuk perut saya. Untuk ayamnya lumayan dan bumbu Balinya terasa biasa. Saya sendiri tidak tau apa rasanya bumbu Bali sebenarnya. Untuk pedasnya cukup lah berhubung saya tidak suka pedas. Ada tambahan sayur berkuah pada menu yang saya makan yaitu sayur asam. Jujur saja saya kurang terlalu suka rasanya karena terasa aneh. Untuk minuman saya mencoba ice lemon tea. Cukup menyegarkan dahaga saya yang baru dinas dari lapangan. Beberapa kali mencecap, rasa lemon tea di sini hampir sama dengan yang disajikan di District 10.

Hidangan penutup saya gas dengan menyantap es krim cokelat dan vanilla. Manisnya terlalu tajam menurut saya. Sehingga beberapa kali menggayang es krim, sesaat terasa tenggorokan sedikit mengering karena saking manisnya. Akhirnya saya netralisasi dengan seruput kapucino tanpa gula yang terasa melegakan di rongga mulut. Sempat tergoda dengan rekan di sebelah yang menyeruput espresso dengan gelas liliput. Mungkin lain kali akan saya coba.

Manna House berlokasi di dekat Tiara Convention Hall tepatnya di Jalan Cut Meutia. Saat saya tulis tulisan ini saya tersadar bahwa saya tidak memiliki dokumentasi sama sekali untuk ditampilkan. Jadi bercerita tentang makanan dan tempat tanpa satu pun foto untuk dilihat.

 

YearEnd 2012

Awalnya liburan akhir tahun 2012 terutama saat menjelang Natal dan Tahun Baru saya sudah berniat untuk berkunjung ke Serambi Mekah untuk sekedar refreshing dan bertamu ke salah seorang kawan yang saat ini dinas di BPN Banda Aceh. Namun apa daya, dikarenakan training dan meeting dadakan di Jakarta akhirnya saya urungkan saja niat untuk berkunjung ke Serambi Mekah. Dikarenakan kunjungan dinas ke Jakarta maka saya pun langsung mengatur rencana juga agar bisa maksimal sekalian untuk berkunjung ke Bogor yang merupakan kampung halaman sekaligus tempat tinggal orang tua.

Singkat cerita saya pun mengatur keberangkatan lebih dahulu jadwalnya dibandingkan dengan jadwal keberangkatan atasan. Saya memang sengaja mengambil cuti agar lebih banyak waktu dihabiskan di Bogor. Tentunya jadwal kepulangan pun saya atur lebih lama semaksimal mungkin. Selama berdinas di Jakarta saya memutuskan untuk bermalam saja di Jakarta agar selain lebih praktis juga bisa sempat untuk bercengkrama dengan kawan semasa kuliah di Jakarta. Inti dari percengkramaan tersebut pasti tidak jauh dari makan sambil mengobrol juga diselingi menonton film layar lebar buatan anak bangsa yakni 5 cm dan Habibie – Ainun. Nah dua film ini sama-sama diadaptasi dari novel. Bedanya buat saya, untuk 5 cm saya terlebih dahulu membaca novelnya baru kemudian menonton versi layar lebarnya sedangkan film Habibie saya menonton filmnya saja dan novelnya belum pernah saya baca. Mungkin ulasan kedua film dan unek-uneknya saya postingkan pada episode berikutnya saja.

Cerita Kuliner Mie Ayam Kampung Gerobak Biru

Setelah rangkaian dinas yang melelahkan di Jakarta seperti biasa saya berkunjung ke Bogor. Tidak banyak perubahan yang terjadi di Bogor. Yang kentara mungkin lalu lintas kendaraan bermotor yang semakin padat saja dari waktu ke waktu.

Saat pulang kampong, ada tiga jenis makanan khas kampung yang biasanya saya cari yaitu Mie Ayam Sari Raos, Bakso Sesepan, Bubur Ayam, dan Gondel. Mengingat saat kepulangan saya hanya sempat mencicipi Mie Ayam maka yang akan saya coba ceritakan pada postingan kali ini yaitu Mie Ayam Sari Raos yang sudah cukup melegenda di Kampung Anyar dan sekitarnya.

Mie Ayam Sari Raos sebenarnya tidak berbeda jauh dengan mie ayam yang di jual di pinggir jalan dan mall-mall di Indonesia. Yang pasti, Mie Ayam Sari Raos merupakan mie ayam kering tanpa kuah (juga tanpa tambahan bakso). Mie ayam hanya berisi mie, sayur sawi, serta taburan suwiran ayam kecap. Mie ayam ini merupakan yang paling terkenal di kampung kami bahkan terkenal hingga kampung-kampung di sekitarnya. Mie ayam ini pula yang menjadi santapan wajib Pakde saya apabila berkunjung ke rumah orang tua saya. Juga sepupu-sepupu saya, keponakan, bibi, dan juga teman-teman saya dan temannya adik saya. Saking hapalnya saya akan kebiasaan mereka, setiap berkunjung sudah pasti ibu saya tidak akan memasak. Jadi kita pesankan saja mie ayam dengan delivery order, hehe.

Mie Ayam Sari Raos
Mie Ayam Sari Raos

Masalah rasa memang mie ayam ini enak. Mungkin karena pengaruh mie yang dibuat sendiri setiap hari dan tanpa pengawet. Bahkan sejak SD saya sudah menjadi pengonsumsi tetap mie ayam tersebut setidaknya seminggu sampai dua minggu sekali. Mulai dari harga per bungkus Rp 300 hingga Rp 6000 saat ini. Murah bukan. Rasanya tidak pernah berubah dan porsinya sangat mengenyangkan perut. Ibu saya kadang tidak habis memakan mie ayamnya sehingga sering saya menjadi in charge ibu saya untuk meneruskan menghabiskan mie ayam agar tidak mubazir. Sebenarnya penjual mie ayam ini ada dua gerobak pada awalnya, namun akhirnya lama setelah mereka masing-masing berkeluarga akhirnya pisah gerobak dan berdiri mandiri sendiri-sendiri. Walaupun terpisah (jarak gerobaknya tidak jauh) masing-masing sudah memiliki pelanggan tetapnya sendiri dan dijamin 100% setiap hari mie ayam tersebut sold out tanpa terkecuali termasuk saos dan kecapnya, hehe. Keluarga kami lebih sering membeli mie ayam tersebut ke penjual yang lebih muda dibandingkan kakaknya karena relative lebih cepat pembeliannya. Apabila memesan ke tempat kakaknya minimal kita baru bisa mendapatkan bungkusan mie ayam setelah satu jam menunggu! Saya sendiri bahkan pernah sampai 2 jam menunggu!

Kebetulan ada dua teman dekat saya berkunjung  ke rumah pada akhir pekan, sebut saja Cukil dan Komet. Mereka berdua sahabat dekat saya selama kuliah. Intensitas mereka berkunjung ke rumah kami cukup sering terutama ketika masa kuliah. Disamping alasan untuk bersilaturahim atau mengerjakan tugas fiktif ke rumah saya, mereka pun ternyata menyimpan misi untuk selalu minta dihidangkan Mie Ayam Sari Raos tersebut, hehe. Kedua kawan saya sudah menjadi korban pesona dan rasa Mie Ayam Sari Raos tersebut. Bahkan lebih gilanya lagi, Cukil meminta dua porsi mie ayam untuk disantap jadi totalnya akhirnya saya harus memesan empat porsi untuk tiga orang. Dan lebih gilanya lagi, Cukil menghabiskan tanpa sisa dua porsi mie tersebut O_o. Saya sempat terheran-heran karena sebelumnya baru sepupu saya saja dari Jawa Timur yang bisa menghabiskan dua porsi mie ayam dalam satu kali makan. Bisa dibilang wajar karena sepupu saya memang memiliki badan yang sembodo alias kentung namun Cukil tidak memiliki postur badan seperti sepupu saya tersebut.

Nah bagi pembaca yang berminat untuk mencicipi Mie Ayam Sari Raos bisa langsung menuju TKP di Kelurahan Muarasari, Bogor Selatan. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan penjual mie ayam tersebut. Tanya saja pada penduduk sekitar dan mereka akan langsung memberitahu dimana persisnya lokasi penjual Mie Ayam Sari Raos.

Berhubung pembahasan kali ini mayoritas membahas tentang kuliner maka saya tutup postingan ini dengan mengutip sebagian kata-kata pakar kuliner (yang juga masih wartawan): “Tetap sehat, tetap semangat, supaya bisa jalan-jalan bareng…”

BahLias 031213

Sop Daging Rusa

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan, saya akhirnya mencicipi juga nikmatnya Sop Daging Rusa. Dan tak kepalang tanggung, langsung mencobanya di pedalaman Kalimantan tepatnya di Satuan Permukiman (demikian saya menyebutnya karena bukan merupakan sebuah kota juga) Lebak Cilong.

Sepintas dagingnya memang seperti daging sapi pada umumnya. Namun akan terasa saat gigitan pertama masuk ke rongga mulut kita. Dagingnya sungguh terasa sangat lembut dan lebih ‘manis’ jika dibandingkan dengan daging sapi atau kambing. Yang saya suka dari Sop Daging Rusa di Lebak Cilong ini, bumbunya tidak terlalu neko-neko sehingga rasanya lebih ‘jujur’. Mungkin tebakan saya, bumbunya hanya bawang putih dan garam saja, hehe.

#bahlias17122011