BERPESIAR tanpa mengabadikan momen di masa kini bagaikan es dawet tanpa gula merah. Lain zaman lain pula caranya. Bahkan bisa dibilang tak lazim dan tak lengkap jika kita tak mengabadikannya melalui foto atau video kemudian menguploadnya di media sosial.

Ceria

Salah satu alat untuk mengabadikan momen yaitu menggunakan smartphone, kamera atau camcoder. Saya sangat suka menggunakan kamera dibandingkan menggunakan smartphone. Alasannya sederhana, walau sedikit ribet hasil gambarnya jauh lebih memuaskan jika dibandingkan menggunakan smartphone.

Sebagai salah satu pengguna Canon mirrorless, banyak pilihan lensa untuk dipakai mulai dari yang native seperti EFM 22 mm, EFM 55-200mm, EFM 11-22 mm hingga varian lensa EF (via adapter) yang ratusan jumlahnya. Saking banyaknya tentu saya bingung ketika akan berencana untuk membeli lensanya.

Dari beberapa lensa yang saya miliki, ada satu lensa favorit yang tidak mungkin saya tinggalkan ketika bepergian. Lensa tersebut yaitu lensa native canon mirrorless yaitu EFM 22 mm f/2. Mengapa lensa tersebut jadi favorit saya? Bisa disimak pada ngemeng-ngemeng di bawah.

Ukuran

Pancake lens (Sumber : The digital picture)

Lensa ini adalah lensa paling imut buat saya. Beratnya hanya sekitar 100 gram dengan tebal lensa sekitar 3 cm. Dengan bentuk lensa seperti ini, lensa ini pun sering disebut lensa pancake karena bentuknya yang mirip dengan pancake. Jika terpasang pada body kamera, maka terlihat tidak terlalu bulky dan pas dipandang mata.

Panjang focal yang pas

https://www.instagram.com/p/BhQDOESDj35/

Lensa ini memiliki panjang focal 22 mm pada sensor APSC atau setara 35 mm pada sensor full frame. Untuk kegunaan all round situation, lensa ini buat saya sangat mumpuni sekali. Buat lanskap oke, nyetrit oke, portrait oke. Rentang panjang focal 22 mm memberi kebebasan buat saya untuk mengabadikan momen ketika berjalan-jalan.

Bukaan yang besar

https://www.instagram.com/p/Bj_bP-Ml_0m/?utm_source=ig_web_copy_link

Dengan nilai maksimum bukaan f/2, lensa ini sangat cocok digunakan pada kondisi pemotretan minim cahaya. Bukaan maksimal f/2 bisa dimaksimalkan dengan mempercepat kecepatan shutter saat nyetrit ataupun jika sesekali ingin berastrofotografi, menggunakan lensa ini cukup bisa diandalkan. Soal bokeh, creamy sekali lho bokehnya.

Body lensa

Body lensa mungil ini menurut saya cukup oke. Mountingnya dari logam, tidak seperti mounting lensa EFM 55-200 mm yang notabene tidak bagus karena berbahan plastik.

Harga

Berhubung lensa ini merupakan jajaran lensa native mirrorless Canon yang tertua (kalau tidak salah mulai 2012) harga jual saat ini menurut saya cukup affordable jika dibandingkan pula dengan spesifikasi teknis lensanya. Saya sendiri membeli lensa ini secara copotan sehingga harganya hanya sekitar kurang dari separuh harga jual lensa barunya.

https://www.instagram.com/p/BhFjoIzDhct/

https://www.instagram.com/p/Bc3i7BsDGof/

Verdict

Saya rasa lensa ini hukumnya wajib untuk pengguna Canon mirrorless karena merupakan salah satu lensa native dengan rentang panjang focal dan bukaan besar dengan harga yang tidak menguras kantong sangat dalam. Dengan panjang focal 22 mm sudah cukup mumpuni dipakai sehari-hari, landscape ataupun street photography.

3 thoughts on “Lensa favorit untuk jalan-jalan

  1. wah lensa prime wide ini menarik. aku belum pernah coba lensa prime mas, masih suka pakai lensa kit atau kalau buat jalan-jalan sifatnya lensa sapujagat gitu hehe..

    blognya menarik karena ringan bahasannya.

    1. Bedanya sama lensa kit, harus zoom manual pake kaki koh hehe tapi lebih tajam. Makasih koh udah mampir ke blog sy 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s