Repotkah traveler muslim ketika bepergian ke Jepang? (Japantrip#2)

JEPANG tak dipungkiri sudah menjadi magnet bagi turis dari seluruh dunia tak terkecuali dari Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Yang menjadi pertanyaan yaitu apakah mudah bagi seorang traveler muslim untuk bepergian di Jepang yang notabene penduduknya mayoritas bukan pemeluk Islam?

IMG_3013
Foto bareng ikon Line

Tulisan ini merupakan lanjutan rangkaian cerita hasil dari bepergian ke Jepang. Bagian pertama bisa dicek di sini ya.

Walaupun bukan merupakan agama mayoritas, mengingat kunjungan turis ke negara Jepang semakin meningkat dari negara muslim maka pemerintah Jepang pun semakin mempermudah para traveler muslim agar semakin nyaman ketika traveling di Jepang.

Tempat ibadah dan makanan halal pastinya menjadi kebutuhan pokok buat traveler muslim. Nah bagaimana mudahnya mengakses dan menikmati kedua hal tersebut (plus satu hal lagi) bisa dicek di tulisan di bawah ya.

Tempat solat

Musholla di bandara Kansai

Saya salut pada pemerintah Jepang yang sudah bisa menyediakan tempat solat di fasilitas umum seperti bandara. Ketika tiba di bandara Kansai, selepas urusan imigrasi dan bagasi, kami menyempatkan diri untuk mendirikan solat Isya dan Maghrib di musholla bandara Kansai. Di bandara Haneda dan Narita pun sudah ada musholla yang tersedia untuk solat bagi para traveler muslim. Sayangnya musholla di Kansai tidak bisa dijadikan tempat tidur untuk bermalam (lha).

Selain di bandara, pada tempat-tempat umum seperti mall pun sudah ada yang menyediakan musholla alias prayer room. Saat kami mengunjungi Odaiba Tokyo Beach mall pun kami sudah menyempatkan untuk menunaikan solat walaupun ukurannya tidak seluas di bandara. Setidaknya pengelola sudah peduli dan memerhatikan pengunjung yang beragama Islam. Tempat wudhu yang disediakan pun ada di dalamnya berupa jerigen dan penampungan air buangan berikut lap kering untuk membasuh kaki yang basah.

Prayer room di Tokyo Decks mall Odaiba

Nah bagaimana jika mengunjungi tempat selain ke bandara atau mall yang menyediakan prayer room? Tenang saja, jika berada di mall yang tidak menyediakan prayer room, bisa menggunakan fitting room hehe. Cara ini disarankan oleh sohib saya, Ramon yang sampai saat ini bekerja di Jepang sana. Caranya ya tentunya sebelum masuk fitting room pastikan sudah dalam kondisi berwudhu serta bawa saja banyak-banyak potongan baju sebagai alibi untuk mencoba pakaian sambil solat tentunya.

Untuk area terbuka, solat di taman-taman kota bisa dilakukan karena terdapat tempat wudhu (aslinya untuk air minum sih) dan solat di pojok-pojokan taman yang memiliki area rata. Ini cara yang sering kami lakukan ketika berkunjung ke objek wisata yang tidak memiliki prayer room.

Jika kebetulan berpelesir ke tempat kawasan perbelanjaan atau pusat kota, malah akan mudahnya ditemui masjid atau pusat komunitas-komunitas muslim seperti Masjid Camii, Mesjid Asakusa atau mesjid yang tersembunyi di kawasan sibuk Shinjuku.

IMG_3496
Masjid Al Ikhlas – sebuah masjid di kawasan sibuk Shinjuku. Penanda masjid berupa kaligrafi sederhana berlatar kuning. Pintu masjid didepannya.

 

Makanan halal

Awalnya agak khawatir akan sulitnya mendapatkan makanan di Jepang. Namun setelah dijelaskan oleh sohib yang tinggal di sana tentu semakin memudahkan kami untuk mengisi perut ketika di sana.

Onigiri

Nasi kepal dengan rumput laut alias onigiri adalah makanan pokok andalan kami saat bepergian di sana. Tentunya dengan pilih-pilih isi nasi yang sebaiknya berupa rumput laut, tuna atau salmon. Favorit saya yaitu salted tuna dan rumput laut yang ketika dipadukan dengan rendang masakan ibu mertua terasa wow di lidah. Untuk mendapatkan perasaan kenyang, sebaiknya makan nasi kepal minimal dua atau tiga sekali makan. Enam pun boleh sih.

Nasi onigiri ini memang tidak ada label halalnya namun bebas dari bahan yang haram seperti mirin dan babi. Tentunya dengan konsultasi sebelumnya dengan sohib  saya untuk memastikan kehalalannya. Bisa dibilang nasi onigiri ini makanan yang halal friendly bagi traveler muslim. Rerata harga nasi kepal ini yaitu 107 yen hingga 121 yen di conbini alias convenience store seperti 7eleve* dan Family Mar*.

Onigiri

Takoyaki dan taiyaki

Untuk makanan khas Jepang yang mudah ditemui dan bahannya tidak menggunakan bahan yang haram misalnya takoyaki yang dibuat dari daging gurita dan adonan terigu plus ada jahe-jahenya. Ini enak banget, beda rasanya  ketika beli di Indonesia. Daging guritanya besar dan bulatannya juga kok kayaknya lebih besar. Harganya ada di kisaran 400 yen hingga 500 yen per porsi (delapan buletan). Takoyaki mudah ditemui di pusat-pusat keramaian. Untuk ukuran perut saya, makan satu porsi takoyaki sudah bisa menjadi pengganti makan siang.

IMG20180401130621
Takoyaki

Selain takoyaki, ada juga penganan ringan bernama taiyaki. Taiyaki ini mirip dengan bolu aceh dengan isi khasnya yaitu kacang merah atau ada juga custard. Bentuk taiyaki pada umumnya ikan dan sangat nikmat dimakan panas-panas dalam kondisi cuaca dingin. Pokoknya enak banget lah buat lidah. Sama seperti takoyaki, taiyaki ini mudah ditemui di pusat keramaian. Harga taiyaki sekitar 200 – 300 yen per buahnya.

Taiyaki

Dorayaki

Masih dengan makanan yang ada kata yaki-yakinya, tidak lengkap rasanya jika ke Jepang tanpa menikmati kue terkenal kesukaan Doraemon yaitu dorayaki. Dorayaki kayaknya buatnya seperti kue apem kali ya, hanya saja diberi isian. Isi yang paling umum yaitu kacang merah namun ada juga variasi lainnya seperti yang berisi custard, mochi bahkan memodifikasi menjadi dorayaki ice cream.

Dorayaki

Namun kita masih harus hati-hati karena biasanya titik kritis kehalalannya (menurut penuturan sohib) yaitu bahan isiannya yang terkadang ditemui mengandung gelatin babi. Biasanya dorayaki yang berisi kacang merah pada umumnya halal. Kami pun saat membeli oleh-oleh dorayaki dibantu oleh sohib yang memang lancar membaca hiragana atau katakana pada detil komposisi dorayaki yang dijual.

Ramen dan sushi

Untuk makanan berat khas Jepang kami mencoba dua macam (satu lagi suki sih) yaitu ramen dan sushi halal. Saking enaknya kami datangin kedai tersebut sampai dua kali karena ketagihan haha. Kedua tempat tersebut sudah tersertifikasi halal Pemerintah Jepang jadi jangan khawatir untuk menikmatinya.

Genki Sushi Uobei (lokasi di sini ya) adalah tempat makan sushi pertama yang kami datangi yang berada di kawasan sibuk Shibuya. Tempat ini tidak jauh dari Sibuya crossing yang terkenal itu. Satu lagi kelebihannya, produk sushi di sini sudah tersertifikasi halal termasuk penggunaan soy saucenya yang bisa dipesan khusus pelanggan muslim.

Sushi

Penyajian sushi ini cukup menarik karena memakai conveyor belt untuk penyajiannya dan serba otomatis untuk ordernya. Tinggal klik-klik di layar monitor untuk menu yang kita pesan, kemudian setelah jadi sushi akan diantarkan secara otomatis ke depan meja kita.

Salah satu sushi favorit

Di Indonesia saya baru pertama kali mencoba sushi dan makan di salah satu tempat paling terkenal (kali ya) di Indonesia. Buat saya, makan salmon mentah rasanya agak aneh dan agak gimana gitu. Tetapi begitu mencoba makan sushi di sini, asli deh nambah-nambah terus. Sampai-sampai istri tercinta pun terheran-heran. Enak pake banget deh, sushinya segar, rasanya pun fresh, berkali-kali saya pesan salmon, lemak salmon, kerang-kerangan, semuanya yang mentah-mentah hehe. Pas digigit keluar cairan gurih-gurih enak dari dagingnya. Yang paling jos, harganya terjangkau. Hampir semua menu harganya 108 yen sudah termasuk pajak.

Gembul

Walhasil cukup lama saya, istri serta sohib menghabiskan waktu makan malam di sini karena memang beda rasanya. Beberapa menu sushi favorit saya di sini yaitu fatty salmon, salmon, salted tuna, udang tempura (garing di luar, mentah di dalam, jadi ngiler), kemudian yang ada telur salmon serta telur ikan lupa namanya yang bentuknya kecil-kecil merah namun kenyal di lidah. Untuk jaringan sushi Genki sendiri, kalau tidak salah di Jakarta sudah ada tempatnya dengan penyajian yang sama. Entah kalau untuk urusan rasanya.

Makanan di Jepang berikutnya yang kami coba yaitu ramen. Saya mengenal ramen dari komik Naruto dan penasaran dengan rasa ramen asli di Jepang tentunya yang halal. Kedai ramen yang kami coba ada dua yaitu di Osaka dan Kyoto. Di Osaka kami mencoba di Ramen Honolu sedangkan di Kyoto kami coba Ayam Ya.

Ramen halal di Honolu

Ramen Honolu tempatnya perlu jalan kaki sekira 10 menit dari stasiun JR Namba. Tempatnya khas kedai di Jepang, yaitu sempit dengan deretan bangku berdekatan dan di depannya langsung berhadapan dengan pramusaji yang menyiapkan dan memasak ramennya di situ juga. Di sini disediakan juga toilet dan tempat solat untuk traveler muslim yang akan mendirikan solat di tempat.

Saya pernah mencoba ramen di Indonesia dan ekspektasi saya terlampaui ketika mencobanya langsung di Jepang. Kaldunya sangat terasa kuat dan ayamnya enak banget. Padahal kalau saya perhatikan menggunakan ayam ras juga, sama dengan di Indonesia. Mungkin pakan dan perawatan yang berbeda yang membuat rasanya jauh lebih enak. Penyajian telur rebusnya pun khas, yaitu dimasak setengah matang dan tampaknya diberi gula karena rasanya cenderung manis. Saya terpuaskan makan ramen di sini.

Beda dengan di Honolu, di Ayam Ya pun menurut saya sama-sama enak banget. Hanya saja di sini disajikan berbagai macam ramen, jadi tidak yang berkuah saja seperti ramen umumnya. Saya lupa namanya (tsukemen kalau tidak salah) apa tapi yang pasti kuah dan mienya di buat terpisah dan makannya harus dicelup dahulu. Di dindingnya pun terdapat cara memakan ramen ala Jepang dimana harus diseruput hingga bersuara seruputannya hehe. Informasi tambahan, tempat solat di Ayam Ya space nya jauh lebih luas daripada di Honolu. Ayam Ya bisa diakses dari stasiun kereta JR Kyoto dengan berjalan kaki selama 10 menit saja.

Selain ramen ada juga makanan sampingan yang bisa dicoba seperti spicy fried chicken dan gyoza (keduanya halal tentunya). Fried chicken sebenarnya sama seperti dimana-mana tetapi ayamnya rasanya buat saya kok agak beda ya lebih enak. Ini enak jadi lauk sampingan ketika makan ramen. Adapun gyoza yaitu kayaknya isinya daun bawang-bawangan, serta telur dan irisan daging yang digoreng sebentar dan dilapisi oleh semacam selimut lumpia. Inipun enak rasanya. Oh ya, rerata harga seporsi ramen halal tersebut yaitu sekitar 1000 yen.

Wagyu

Selain makanan di atas, kami pun sempatkan mencoba menu yang memakai wagyu. Wagyu merupakan daging kualitas nomor wahid. Menurut informasi sapi-sapi yang diternakkan ini dipelihara secara tradisional dan jauh dari keramaian kota supaya tidak stres. Saya menduga pakan sapi wagyu ini sehari-harinya bisa jadi lebih bergizi dibandingkan makanan saya sehari-hari haha. Kabarnya juga sapi-sapi wagyu ini diberikan sake supaya nafsu makannya lebih tinggi.

Wagyu steak (sumber : http://www.halalmedia.jp/wp-content/uploads/2016/01/BULLS4.jpg )

Tentunya kami mencoba sapi wagyu ini yang dijual pada restoran yang ada sertifikat halalnya. Kami mencoba wagyu ini di sebuah resto di samping stasiun JR Namba bernama Bulls. Jadi di lokasi ada dua tempat Bulls. Yang satu khusus yang menu haram semua kayak yang mengandung babi sedangkan satunya dikhususkan untuk makanan halal (tetapi di sini disajikan juga minuman alkohol).

Menu yang kami pesan yaitu sukiyaki serta beef steak. Nah untuk yang steak karena sudah matang, bentuk merah daging wagyunya tidak terlalu kelihatan tetapi untuk menu suki karena disajikan masih mentah terlihat warna merah segar dagingnya diselingi putihan lemak yang sekilas kalau dilihat seperti marmer.

Memang rasa makanan kalau beli sebanding sama harganya sih ini. Daging wagyu ini enak pake banget, sewaktu digigit kaldunya seakan meleleh di lidah, lumer dan bikin hati jadi bahagia haha.

Tempat bersuci

Closet canggih

Maksudnya tempat bersuci di sini bukan tempat wudhu, tetapi lebih ke tandas alias toilet haha. Tenang saja bagi yang terbiasa bersuci menggunakan air setelah BAB, di Jepang terdapat toilet high-end yang memenuhi kebutuhanmu. Khusus untuk yang baru pertama ke Jepang, pokoknya kalian harus mencoba closet ini ya haha.

Awalnya saya mencoba pagi hari karena masih dingin suhu udaranya, pastinya dudukan toiletnya akan terasa dingin juga. Ternyata tidak, dudukan terdapat penghangat supaya yang buang hajat berasa nyaman dan penuh kehangatan. Dan jika kita membutuhkan privasi lebih (baca: buang hajatnya berisik), maka tinggal tekan tombol musik untuk mendengarkan alunan musik indah saat buang hajat.

Untuk cebok, tinggal tekan tombol juga supaya air menyiram bagian burit sesuai selera kekencangannya. Bisa juga diatur putarannya juga sesuai dengan kenyamanan dan selera kita. Untuk mengeringkan, tinggal pakai tisu yang tersedia dan buanglah tisu pada lubang closet. Tisu yang dipakai dibuat dari bahan yang lekas hancur ketika bercampur dengan air. Jika sudah selesai tinggal matikan musik dan tinggalkan tandas dengan hati yang lega :D.

 

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Repotkah traveler muslim ketika bepergian ke Jepang? (Japantrip#2)”

      1. Ngga pake travel quree hehe, semuanya ngurus sendiri, pas di tokyo aj diguide sama temen. Jadinya penuh kejutan perjalanannya

  1. Menarik sekali ceritanya mas. Ternyata wisata kuliner di Jepang ga susah susah bgt ya utk cari makanan halalnya. Semoga ada rejeki bisa ke Jepang 😊

    1. Iya cukup mudah kok, asal berani tanya aja ke penjualnya. Kalo susah ngomong, kemarin pakai google translate juga yang isinya “no alkohol, no pork” sebelum beli makanannya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s