Dibalik Lensa · random

Selamat datang

TULISAN ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya. Walaupun akan meninggalkan tahun 2016, saya tetap memberi judul selamat datang karena ada barang baru yang saya gunakan untuk jeprat jepret.

Proses untuk menjatuhkan pilihan pada kamera EOS M3 ini sebenarnya sudah dimulai sejak kerusakan kamera G15 saya bulan lalu. Diantara sekian banyak pertimbangan yang saya pakai yaitu budget, kepraktisan serta kualitas gambar yang baik untuk fotografi lanskap atau still.

Ternyata memang di luar sana banyak tipe kamera dengan sensor kurang lebih serupa namun dengan performa (terutama auto focus) yang lebih mumpuni. Tetap saja, ada harga ada rupa. Kebanyakan di luar budget yang sudah saya siapkan.

Di bawah ini saya sajikan kesan pertama pemakaian M3. Mohon jangan dibaca serius karena yang menulis cuma pehobi foto karbitan amatir saja 🙂 dan tulisan ini bisa jadi sangat subjektif.

Selayang pandang

Kamera ini sangat enak saya pegang. Terdapat handgrip yang memudahkan saya menggenggam kamera dengan solid. Jadi saya tidak terlalu kaget karena G15 saya pun memiliki handgrip walaupun tidak senyaman M3. Khusus untuk M3 ini, diantara kakak-kakaknya seperti M1 dan M2, baru di seri M3 inilah handgripnya ‘terlihat’. Seri sebelumnya, asli saya tidak suka karena terlalu datar dan terkesan kurang tough. Bahkan dahulu pemilihan G15 pun dahulu salah satunya karena handgripnya.

Untuk fungsi kontrol ini yang saya suka. Tidak jauh berbeda dengan G15. Jika di G15 fungsi pengatur shutter speed ada di bagian depan, maka di M3 terdapat di seputaran tombol shutter. Kemudian untuk mengatur exposure value, sama persis dengan G15 yaitu di bagian atas juga untuk pengatur aperture di bagian belakang kamera. Secara umum saya sangat suka jika melakukan pengaturan manual. Tidak berbeda jauh dengan G15 lawas saya.

Performa

Belum banyak sih hasil foto menggunakan M3 ini. Masih coba mengenal fitur-fitur kamera sambil test jeprat jepret random seperti di bawah.

Contoh
Test pakai 15-45 mm. Bagus jika potret lanskap.
Contoh
Test pakai 15-45 mm
contoh
Pakai maksimum focal length 45 mm
hasil crop gambar di atas
hasil crop gambar di atas
Test gambar
Test gambar
Makro
Makro
Makro
Makro

Secara umum, karena control, user interface, dan sensor lebih besar (dari G15) saya suka menggunakan M3 ini (kan tidak mungkin juga langsung saya jual). Selain itu karena saya sudah lama familiar dengan hasil gambar Canon, jadi melihat hasil gambar Sony kok ya nampaknya terlalu kontras. Saya juga pernah mencoba kamera fuji mirrorless dan sangat suka hasilnya, terutama kalo mengabadikan portrait manusia karena tone warna kulitnya khas banget. Sayangnya harga XA3 di luar budget.

Salah satu yang terasa kekurangannya dari memotret dengan M3 ini yaitu kecepatan autofokus yang cukup lambat. Walaupun terdapat 49 titik autofokus, kecepatan mendeteksi objek menurut saya cukup lambat. Nah faktor ini pasti akan terasa jika memotret action scene yang notabene membutuhkan burst rate dan kecepatan auto fokus yang cepat.

Sekilas saya mencoba membandingkan saat mencoba 750D (DSLR) dengan M3 yang menggunakan sensor gambar yang sama besar namun sistem autofokus nya berbeda. Jelas M3 terasa kalah. Jika dibandingkan dengan Nikon yang selevel (J5) kalah telak juga karena M3 hanya bisa memotret sekitar 4 frame per secon sedangkan J5 mencapai 20.

Jika cerita kamera yang berharga murah dengan fitur yang sempurna ya pasti susah. Mau tidak mau kita harus berkompromi dengan fitur dan kualitas dengan harga yang ada. Mirrorless Canon yang ambisius dari Canon sebenarnya versi M5 yang baru saja dikeluarkan, sayangnya harganya sangat tinggi. Entahlah, nampaknya Canon masih bermain di segmen DSLR sehingga segmen mirrorlessnya seakan anak tiri. Pilihan lensanya masih tergolong sedikit jika dibandingkan Olympus/Panasonic. Tapi bisa diatasi menggunakan adapter EF lens saja sih.

Overall karena saya cenderung lebih menyukai fotografi lanskap, still dan macro (rencana beli lensa tahun depan) maka buat saya M3 ini sudah cukup mumpuni bahkan sangat baik kualitas gambarnya. Namun jika harus mengabadikan sport scene ya sangat tidak direkomendasikan, Sony a6000 tentu lebih baik. Untuk kualitas video sendiri saya tidak mempedulikannya sih karena amat sangat jarang pakai video kamera.

Advertisements

2 thoughts on “Selamat datang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s