Tags

Beberapa hari terakhir ini entah kenapa saya sangat suka sekali menonton film yang berlatar perang dunia kedua (WWII) seperti Schindler’s List, Saving Private Ryan, Fury serta Defiance. Judul yang disebut terakhir bahkan difilmkan berdasarkan kisah nyata.

Yang menarik diceritakan dari film-film tersebut salah satunya tentang bagaimana seseorang untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Seperti Oskar Schindler – dalam film Schindler’s List – (seorang Katolik Jerman) yang memilih untuk menyelamatkan ribuan Yahudi saat invasi Nazi di Polandia, Pvt Ryan – dalam film Saving Private Ryan – yang memilih untuk mempertahankan garis pertahanan dibandingkan ikut pulang ke Amerika, Collier – film Fury – yang memilih menggunakan tank Shermannya untuk melawan satu batalion SS dengan memepertaruhkan nyawanya dan anak buahnya, atau Tuvia – film Defience – yang memililih untuk bertahanan hidup berpindah-pindah di dalam hutan untuk menghindari pembantaian SS kepada kaum Yahudi.

There is no security in this world, there is only opportunity (Douglas MacArthur)

Salah satu quote dia atas merupakan salah satu quote favorit saya dari seorang jenderal perang pasifik sekutu yang berhasil memukul mundur Jepang dengan strategi lompat kataknya. Benar memang, apalagi dalam masa perang, tidak ada yang aman di dunia ini, yang ada hanyalah kesempatan-kesempatan yang dengan bebasnya kita bisa pilih sesuka hati.

Pilihan tidak hanya milik para jenderal perang saja, kok. Tadi pagi bahkan ada pencurian sepeda motor di lokasi rumah kos teman tempat saya menitipkan sepeda motor untuk berolahraga di USU. Naas, motor yang baru dicicilnya dalam waktu tiga bulan, karena lalai menggemboknya, menjadi kesempatan bagi orang-orang yang memilih jalan maling untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Ini benar-benar menjengkelkan karena udah sampai tiga kali rumah kos tersebut kemalingan sepeda motor. Tinggal bagaimana kita sebagai pemiliki sepeda motor membuat pilihan dan keputusan untuk menggembok sampai lima gembok agar si maling berpikir ulang untuk melaksanakan aksinya.

Hidup ini kadang terlihat simpel, tapi terkesan sulit ketika dijalani apalagi jika harus membuat pilihan-pilihan yang sifatnya berpengaruh besar dengan hidup kita. Contoh mudahnya ya saya yang memilih untuk merantau dari Jawa untuk mencari sesuap nasi di sebuah kota yang terkenal dengan watak keras orang-orangnya. Pilihan, oh pilihan.