Tags

Alkisah ada seorang pengembara dari negeri nun jauh di ujung dunia. Tujuannya hanya satu, yaitu menggapai cahaya-Nya.

Berbekal persiapan yang tidak seadanya, sang pengembara menempuh padang pasir maha luas. Sesekali, badai pasir menghempaskan badannya. Ia tidak patah arang jika badannya terhempas, menerbangkan perbekalannya. Yang ia tahu, ia harus menuju cahaya-Nya.

Dari kejauhan, cahaya terlihat semakin terang. Ia tentu tahu dimana arahnya. Badai pasir sudah sirna. Ia pun terlihat berseri.

Namun, tiba-tiba langit sekonyong-konyong gelap. Ia kaget. tangan sendiri pun tak bisa dilihatnya. Ia hanya bisa duduk bersimpuh dan memanjatkan doa pada Tuhan.

Lambat laun, matanya menangkap semburat cahaya tujuannya. Tempatnya masih terlampau jauh untuk ditempuh. Bahkan kegelapan pekat menyelimuti ruang antara dirinya dan cahaya tujuannya.

Ia tahu tidak bisa berbuat apa-apa. Iman yang terteguh dalam hatinya lah satu-satunya bekal berharga tersisa yang ia bawa. Ia yakin Tuhan akan menunjukkan jalan-Nya.

Ia kembali duduk bersimpuh, tangannya menengadah. Matanya terpejam dengan khusyuknya. Lambat laun terdengar rintihan pengharapan kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan kepadanya.

Benar saja. Tuhan berkenan mengabulkan doanya. Ruang gelap pekat antara dirinya dan cahaya tujuannya perlahan sirna. Tersaji di hadapannya ribuan jalur untuk menuju cahaya tujuannya. Ia bersyukur dengan takzim kepada Tuhan.

Namun, ada yang aneh. Ia seketika memperhatikan dan melihat setiap jalur menuju cahaya tujuannya. Ada secercah cahaya yang keluar dari dalam terowongan dan berhenti tepat di tiap-tiap pintu masuknya.

Sang pengembara terpekur sejenak. Ia sadar ia disediakan pilihan oleh Tuhan. Tak main-main, ribuan pilihan adanya.

Ia datangi masing-masing pintu masuk terowongannya. Ia perhatikan masing-masing cahayanya. Ia yakin, cahaya-cahaya tersebutlah yang akan membawa dan memandu dirinya menuju cahaya tujuannya.

Ia perhatikan dengan seksama cahayanya. Ada yang bulat sempurna, berbentuk panah, prisma, batuan tak sempurna, berbentuk titik, seperti nyala api yang berkobar, bahkan yang bercahaya menyilaukan seperti matahari pun ada.

Sang pengembara kembali terpekur. Dilihatnya satu-satu jalur terowongan menuju cahaya tujuannya. Tidak mungkin ia coba satu-persatu jalur terowongannya. Ia sadar, waktunya tidak tak terbatas.

Di langit, ia melihat malaikat maut hilir mudik beterbangan membawa nyawa orang-orang seperti dirinya yang sudah lepas dari tubuh empunya. Entah di belahan ruang yang lain. Bukan tak mungkin, 20 tahun lagi, atau bahkan 20 detik lagi nyawanya akan dicabut.

Ia kembali terpejam. Sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah. Ia sadar harus segera membuat pilihan. Tapi yang mana? Sang pengembara berpikir matang-matang pilihan yang akan diambilnya.

Ia mantap. Memilih tiga dari sekian banyak jalur terowongan dengan cahayanya. Namun, hatinya masih merasa ragu. Ia kembali tersadar akan hinanya dirinya. Betapa lemahnya dirinya. Tak sanggup jika hidup tanpa pedoman, petunjuk.

Ia kembali berdoa dengan khusyuknya. Memohon pada Tuhan untuk meneguhkan pilihannya. Ia pun mantap untuk mencobanya.

Pertama, sang pengembara memililih jalur dengan cahaya berbentuk panah. Perlahan ia masuk ke terowongan. Seketika cahaya tersebut memandunya dari belakang punggungnya.

Ia tidak bisa melihat bagian depan jalurnya. Namun, cahaya tersebut memandunya dari belakang. Ia dibelokkan badannya, berjinjit, bahkan diloncatkannya dari aral rintangan dalam terowongan. Sang pengembara sadar ia akan aman. Namun berpikir ini bukanlah jalannya. Ia pun kembali ke jalur masuknya dan memilih pilihan keduanya.

Di jalur pilihan keduanya, ia memilih cahaya yang nampak seperti purnama. Cahayanya terang. Meneduhkan mata siapapun yang menatapnya. Ia bergumam dalam hatinya, “Inilah jalanku menuju cahaya tujuannya”.

Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk menuju jalur tersebut. Berjalan semakin jauh masuk ke terowongan, ia sadar, cahaya tersebut tidak mengikutinya. Tanpa mempedulikannya ia pun meneruskan perjalanan semakin jauh ke dalam. Ternyata cahayanya menerangi hingga jauh ke dalam!

Sang pengembara semakin bersemangat. Namun, tatkala ia menemukan batas terang cahaya semakin meredup, ia ragu meneruskan langkahnya. Hanya kegelapan pekat di hadapannya. Ia sadar, tanpa cahaya, ia akan tersangkut rintangan-rintangan yang ada dalam terowongan tersebut.

Ia sempat berpikir sejenak, kemudian balik badan kembali menuju jalur masuk terowongan. Ia sadar tinggal pilihan terakhir yang akan ia tempuh.

Tanpa ragu ia menuju jalur masuk pilihan ketiga dan mungkin terakhirnya. Setitik cahaya yang akan menemaninya menuju ujung jalur terowongan menuju cahaya tujuannya.

Saat melangkahkan kakinya masuk ke terowongan, setitik cahaya meneranginya di depan dadanya. Cahayanya tidak cukup terang menerangi seluruh jalur, hanya bisa menerangi sang pengembara dalam radius sepuluh langkah saja.

Ia tersenyum, dan bergumam dalam hatinya, “Mungkin inilah cahaya yang akan menuntunku menuju cahaya tujuanku”.

Pelan namun pasti, aral rintangan dalam terowongan sedikit-sedikit terlewati. Sekali ia maju, pantang untuk berbalik menuju kegelapan pekat yang sudah dilewatinya.

Setitik cahaya tersebut terus-menerus menerangi jalan sang pengembara dengan cahayanya menerangi terowongan. Lambat ia melangkah, menghindari rintangan-rintangan dalam terowongan sampai akhirnya dari kejauhan ia melihat setitik cahaya yang sangat terang. Ia yakin itulah tujuan akhirnya.

Semkin mendekati titik akhir, ia semakin bersemangat. Langkahnya semakin mantap. Ucapan syukur pada Tuhan tak hentinya ia gumamkan dalam tiap hembusan nafasnya.

Langkah terakhir menuju tujuan akhir, ia berdiri di ujung terowongan. Tak percaya apa yang ia saksikan dihadapannya. Tujuannya tercapai, lelahnya terbayar, kesabarannya tergantikan, namun imannya masih melekat terhunjam dalam hatinya.