Tags

,

gerhana

Gerhana

Tanggal 9 Maret kemarin, Indonesia dibuat gegap gempita dengan kemunculan fenomena alam yang sangat jarang-jarang terjadi. Fenomena tersebut yaitu gerhana matahari.

Gerhana matahari total yang melewati beberapa provinsi di Indonesia menjadi primadona berita di pelbagai surat kabar baik elektronik maupun cetak. Dalam satu waktu dan tanpa disuruh, seolah para media mendapat perintah untuk menjadikan peristiwa langka tersebut menjadi headline. Beberapa stasiun televisi yang saya saksikan bahkan sedari pagi hingga malam, berita gerhana matahari menjadi salah satu menu yang wajib hadir dalam setiap kesempatan.

Duh, gerhana sejak kapan engkau menjadi terkenal seperti kemarin. Kurang lebih 15 tahun yang lalu malah setiap hari saya menyaksikan gerhana. Hampir tiap malam saya bersama adik kakak serta orang tua menyaksikan adegan Gerhana. Masih lekat dalam pikiran saya akan akting dingin nan menghanyutkan Pierre Roland yang dipadu-padankan dengan manisnya kecantikan Dina Lorenza. Rasanya gurih-gurih enyoi di mata.

Sayangnya, akting para antagonis kerap menganggu kenikmatan saya menonton tayangan tersebut. Ya tentunya, siapa lagi kalau bukan Poltak Si Raja Minyak serta Darti Manullang. Alamakjang! Lengkap sudah bumbu-bumbunya. Padahal adegan yang paling saya tunggu tentunya kedipan sakti sang Gerhana yang siap melumpuhkan musuh-musuhnya haha. Dalam keseharian saya terkadang mempraktikannya dan kakak saya pun berpura-pura terpental. Amboi, indahnya memang mengenang masa lalu yang tak akan pernah kembali.🙂

Empat paragraf di atas akhirnya habis untuk mukaddimah tulisan ini. Niatnya sebenarnya mau bercerita seputar pengabadian gambar gerhana saja sih haha.

Sekitar pukul 7.20 saya memastikan bahwa sebagian cahaya matahari sudah mulai tertutup rembulan lewat mata telanjang. Setelah menunaikan sholat, saya segera bergegas mengambil kacamata hitam serta kamera prosumer kesayangan saya menuju lantai tiga rumah kos. Beberapa kali saya memastikan kembali menggunakan kacamata bahwasanya sang bulan sudah mulai secara perlahan menggerayangi matahari.

Setelah yakin benar, langsung saja tanpa ba-bi-bu langsung mengeset kamera ke mode manual dan menggeser dengan kasar tombol putar rana ke angka tercepat serta bukaan diafragma terendah. Cekrek! Gambar hasil jepretan terlihat. Duh, hasilnya masih gagal. Pancaran sinar matahari masih terlalu kuat sehingga hasil gambar nampak seperti telur ceplok matasapi tetapi tanpa kuning telurnya.

Mengejar Matahari

Gagal

Setelah bertapa selama beberapa detik, ternyata eh ternyata internal filter belum diaktifkan haha. Pantas saja cahaya matahari yang merasuk ke dalam sensor sangat banyak laiknya air banjir kiriman di Jakarta.

Tak lama filter neutral-density (ND) diaktifkan, akhirnya titik terang pun terlihat. Bias cahaya matahari di sekitar bulatannya semakin tak terlihat. Tak ayal, saya set rana ke nilai yang lebih cepat. Konsekuensinya ya gambar terlihat lebih gelap di sekitar matahari namun kenampakan gerhana sebagiannya sangat jelas terlihat. Lengkung matahari yang tidak tertutup oleh bulan sangat jelas terlihat. Bias cahaya matahari bahkan efeknya terlihat seperti “The God’s Light”. Cahayanya seolah terlihat merembes melalui kelambu gelap sang bulan.

Kompilasi fenomena gerhana di Medan

Kompilasi fenomena gerhana di Medan

Luar biasa memang fenomena gerhana tersebut. Inilah kali pertama saya melihat dan mengalami sensasi gerhana matahari. Tak henti-hentinya diri ini mengucap tasbih, takbir dan istighfar kepada Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatunya di alam semesta ini.