Tags

, , , , ,

Kunjungan kedua ke Kolam Abadi – Belum sampai satu tahun, pekan lalu saya kembali mengunjungi Kolam Abadi dalam rangka jalan-jalan santai menghabiskan akhir pekan. Pada kunjungan kali ini saya lakukan bersama dengan enam teman kantor termasuk tiga diantaranya ekspatriat asal Australia dan Skotlandia. Karena kebetulan dalam rombongan hanya saya saja yang pernah mengunjungi Kolam Abadi, ya mau tidak mau sekalian saya menjadi penunjuk jalan (walau sempat nyasar) dan pendamping rombongan.


Pada kunjungan kali ini, sengaja saya menggunakan jasa guide yang berbeda dibandingkan kunjungan saya pertama kali. Ya hitung-hitung berbagi rezeki dan siapa tahu mendapat pengalaman berbeda dibandingkan sebelumnya.

tongkat5

Saya sudah memperhitungkan matang-matang sebelumnya apakah akan melakukan body rafting atau tidak. Dengan pertimbangan kondisi sungai yang cukup sempit dan bebatuan granit yang kadang bersembunyi sedikit di bawah permukaan air sungai, maka saya putuskan untuk tidak melakukannya. Saya masih ingat betul kedua lutut saya dan teman-teman saya bercucuran darah saat kunjungan pertama karena asyik mengambangkan badan dan tiba-tiba terbentur batuan yang tidak terlihat dari permukaan air sungai. Selain itu rombongan kami saat ini terdiri dari tiga gadis dan tiga orang berumur >55 tahun. Cukup riskan jika harus memaksakan body rafting. Padahal kondisi aliran sungai sangat-sangat menggoda. Debit terlihat melimpah karena sudah memasuki musim penghujan.

Sekilas tentang Kolam Abadi

Kolam Abadi dahulu kerap dipakai untuk melakukan ritual adat mendoakan dan memandikan dua sejoli agar ikatan pernikahannya langgeng dan tetap abadi

Selama dua kali kunjungan saya ke sini, saya temukan terdapat dua versi mengapa akhirnya kolam tersebut dinamakan Kolam Abadi. Versi pertama mengatakan bahwa debit air di Kolam Abadi sepanjang tahun relatif sama dan tidak pernah kering. Saya bisa memahami ini karena bisa kita lihat mata air yang mengalir dengan derasnya di samping kana dan kiri sungai. Versi kedua mengatakan, dinamakan Kolam Abadi karena dahulu penduduk Karo di sekitar Kolam Abadi kerap menggunakannya sebagai prosesi ritual untuk mendoakan dan memandikan dua sejoli yang akan menikah supaya ikatannya tetap langgeng dan abadi. Menurut warga (sekaligus guide kami) bahkan tak jarang saat ritual pun lengkap dimainkan alat musik untuk mengiringi ritual tersebut. Menurutnya terakhir kali ritual tersebut dilakukan di sini sekitar 50 tahun yang lalu.

Perjalanan dari pos menuju Kolam Abadi kami lalui selama hampir setengah jalan dengan kecepatan jalan sangat santai. Lintasan yang kami lalui berupa jalan tanah dengan kemiringan lereng curam hingga terjal terutama saat menuruni lereng terakhir menuju kolam.

Tidak ada yang spesial saat perjalanan menuju kolam. Beruntungnya kami yaitu rombongan kami adalah rombongan pertama yang tiba di Kolam Abadi yang berarti kondisi kolam kosong melompong. Kami bisa mandi sepuasnya dari gaya berendam, kodok ngambang, menyelam laiknya hiu ataupun gaya batu hehe. Masih seperti dulu, kolam sangat-sangat bening dan dingin. Selintas saya teringat dengan Danau Dua Rasa di Labuan Cermin, Berau.

Air Terjun Teroh-Teroh

Puas bermandi ria dan berfoto-foto, rombongan pun melanjutkan menuju Air Terjun Teroh-Teroh lewat jalur trekking. Jalur ini berada di pinggiran sungai, tepatnya di igir-igir tebing yang harus dilalui dengan hati. Beberapa kali kami terpeleset dan menyeberang melintas sungai dengan kemiringan lereng yang tegak (90 derajat!). Dikarenakan seluruh jalur trekking yang tidak memungkinkan, pada sepertiga perjalanan akhir menuju Teroh-Teroh kami mau tidak mau harus menyusur sungai. Tentunya harus dilalui dengan hati-hati karena jika silap sedikit akan terpeleset karena kondisi batuan yang sangat licin. Dianjurkan untuk nyeker saja daripada memakai sandal atau sepatu.

Dalam bahasa Karo, teroh-teroh berarti di bagian bawah-bawah bukit.

Der

Air Terjun Teroh-Teroh (Dok. kunjungan pertama)

Tak berselang lama kami berjalan, suara limpasan air terjun pun terdengar. Kami bergegas turun meniti tebing yang curam untuk mendekat ke arah air terjun. Sampai di sana, hanya satu orang dari rombongan yang turun untuk menceburkan diri. Saya sendiri mengurungkan niat karena jempol kaki saya kembali bercucuran darah.

Sebenarnya yang menjadi spesial dari air terjun ini yaitu lokasinya yang terletak di bagian bawah bukit (sesuai dengan namanya). Di samping air terjun utama, terdapat juga air-air terjun yang lebih mungil yang limpasannya cukup deras juga dan menambah cantik pemandangan di sana.

Sebelum memutuskan untuk pulang, our guide offered us to visit another waterfall named Tongkat. Sebuah tawaran yang menarik karena menurut penuturannya kita hanya akan trekking 20 menit saja untuk sampai di lokasi air terjun. Setelah berdiskusi dengan rombongan semua sepakat untuk menyambangi Tongkat sebelum kami pulang ke Medan. Perjalanan ke Tongkat ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Air Terjun Tongkat

Jpeg

Air Terjun Tongkat

Setelah beristirahat sejenak di pos, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Tongkat menggunakan mobil. Sekitar satu kilometer kami berjalan, mobil berbelok ke arah kanan mengikuti plang Air Terjun Tongkat. Kami sempat melewati rimbunnya perkebunan karet rakyat serta sawit sebelum akhirnya kami bertemu jalan curam yang melintasi bebatuan cadas. Mobil akhirnya diparkir di pinggir jalan (tepatnya di jalan) karena tidak memungkinkan untuk dilanjutkan (jalanannya curam!).

Terdapat batang pohon kayu melintang pada air terjun sehingga dinamakan Tongkat karena terlihat seperti tongkat yang besar

Rombongan melanjutkan melalui jalan kaki. Estimasi saya, jika perjalanan menghabiskan 20 menit maka jaraknya sekitar 1,3 km. Namun ternyata posisi kami masih di bukit dan sepanjang mata memandang ke ujung lembah, air terjun nyata-nyata tidak terlihat! Awalnya sempat curiga kepada si guide karena saya punya pengalaman jika bertanya jarak kepada orang lokal. Jika mereka menjawab 15 menit, bisa jadi perjalanan 1 jam buat kami (surveyor) atau jika orang lokal bilang 1 jam, bisa berarti 2 jam perjalanan bagi kami. Nah sialnya benar terjadi kali ini hehe. Perjalanan menuju Tongkat memakan waktu sampai 50 menit! Terlihat raut wajah kelelahan dari masing-masing kami terutama ketiga bule yang mukanya sudah memerah karena saking capeknya.

Perjalanan lelah kami akhirnya terbayar ketika sampai di lokasi. Air terjunnya keren karena ada ‘tongkat’nya. Tak pikir panjang, untuk membayar kelelahan selama jalan kaki mencari kitab suci (eh), kami langsung menceburkan diri sepuasnya ke kolam air terjunnya. Kolam Air Terjun Tongkat memiliki kedalaman yang rendah alias hanya sepinggang saja, jadi kita tidak perlu khawatir tenggelam. Saya sendiri akhirnya mencapai di bagian dasar dekat tempat jatuhnya air terjun dan badan saya pun sedikit dibungkukkan untuk merasakan terapi akupunktur air terjun yang jatuh akibat gravitasi. Rasanya seperti dipijat oleh ribuan tongkat-tongkat kecil ternyata.

Jalu rmenuju Tongkat

Jalur menuju Tongkat

Jpeg

Pemandangan yang tersaji selama perjalanan menuju Tongkat

Tak lebih dari 30 menit kami berada di sini karena hari sudah beranjak sore. Setelah bersalin dan mengudap cemilan, kepulangan kami lanjutkan dengan berjalan kaki lagi. Karena kondisi sudah capek dan lelah to the max, saya memutuskan untuk jalan sendirian dan tidak mengikuti ritme jalan rombongan. Jika melambatkan diri, biasanya saya malah meraa capek sendiri. Akhirnya lambat laun saya meninggalkan rombongan dengan ritme kecepatan jalan saya. Dan memang terbukti, jika jalan sedikit cepat waktu tempuh saya sampai tempat terakhir memarkirkan mobil tak lebih dari 30 menit, sedikit lebih lama dibandingkan penuturan si guide sebelumnya.

Selamat menikmati hari libur 15 November…

Selesai.