Tags

, , , , , , ,

Prolog

Kepulauan Banyak – Adzan subuh berkumandang diselingi oleh hembusan angin laut yang tiupannya cukup kencang. Selesai menunaikan ibadah, saya dan (sebut saja) Bang Amir langsung menuju dipan homestay yang menghadap ke laut dengan perlengkapan kamera dan sebuah ponsel dalam genggaman kami masing-masing. Samar-samar dari nun suatu arah yang jauh, tepatnya di Timur, setitik cahaya yang sedikit demi sedikit memudar perlahan menjadi semakin terang. Ya, itulah sang fajar. Namun, gelayut kegelapan pun menggerayangi ufuk Timur berupa gumpalan awan kegelapan yang menutupi cahaya kemerahan sang fajar. 

Dari sebuah dermaga mungil yang sedikit menjorok ke laut, saya berusaha untuk duduk bersila dengan nyaman. Sejenak saya keluarkan kamera prosumer andalan saya selama tiga tahun terakhir beserta tripod mungil agar proses pengambilan gambar dipagi itu sempurna. Tidak sampai lima menit, posisi kamera sudah mantap dan saya mulai mengabadikan momen matahari terbit saat itu walaupun cuaca sangat tidak mendukung dan tutupan awan gelap menggelayuti langit kala itu. Karena berprinsip “daripada tidak ada sama sekali”, maka saya pun mulai memotret. Saat itu saya coba memainkan kecepatan rana berharap efek gerakan permukaan air laut yang tertiup angin pagi menghasilkan efek dramatis.

Harapan tinggal harapan. Tak berselang lama, berkah Tuhan pun turun dengan perlahan. Tetes demi tetes air hujan mulai turun dan mau tidak mau saya dan Bang Amir menghentikan aktivitas fotografi kami pada pagi itu. Semakin lama, hujan semakin membesar dan kami hanya duduk-duduk pada kursi kayu di dipan. Saat hujan, bang Amri tetap melanjutkan perekaman time lapsenya yang direkam dari atas meja selama (mungkin) 30 menit. Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini yaitu jika berkunjung ke suatu tempat untuk berburu sunrise atau sunset agar diperhatikan cuaca ya.

Leap-frog

byk

Kepulauan Banyak

Setelah menghabiskan sarapan pagi berupa lontong sayur, kami serombongan bersiap untuk melewatkan hari dengan menjelajahi pulau-pulau di gugusan Kepulauan Banyak. Bahasa kerennya lazim disebut island hopping. Bagi saya pribadi menyebutnya leap-frog alias lompat katak. Entah kenapa saat itu saya teringat strategi Jenderal MacArthur saat perang pasifik melawat Jepang. Adapun daftar pulau-pulau yang akan disambangi yaitu Pulau Tailana, Balong, Sikandang, Biawak, Asok, Lambudung, dan Palambak. Rerata pulau memiliki karakteristik fisik yang sama berupa hamparan pasir putih di pesisir, bahkan terdapat terumbu di bagian laut yang paling dangkal tak sapai selutut! Sebagian lagi karakternya unik seperti karakteristik yang ada di Pulau Biawak.

Dari ketujuh pulau tersebut, asli, seluruhnya indah dan menawan. Segala informasi keindahan Kepulauan Banyak yang tersebar di media daring online seluruh informasinya bisa dikatakan sahih. Memang terkadang jika kita melihat rumput tetangga yang selalu lebih hijau, tanpa kita mau melihat sendiri secara langsung keindahan rumput kita, selamanya kita akan dibutakan oleh informasi dari luar. Dan kunjungan saya kali ini ke Banyak (selain ke Mursala sebelumnya), justru kembali membuka mata saya bahwa negeri ini memang benar-benar zamrud di garis khatulistiwa.

Tailana

Tailana

Pulau Tailana merupakan pulau terjauh yang kami kunjungi jika diukur dari lokasi homestay kami di Balai. Walaupun jauh, sajian lanskap yang terlihat sungguh memanjakan mata. Sesekali ikan terbang melompat-lompat dari kejauhan dan di bagian dasar laut yang dangkal, warna air laut hijau toska menjadi pemandangan lazim yang kami temui. Tak jarang terumbu karang bisa dilihat di bagian dasar lautnya yang jernih. Di Tailana tipikal pantainya berupa dataran landai sehingga kita bisa bebas bermain-main air dengan aman pada jarak yang sedikit jauh dari bibir pantai. Hal yang kontras berada di Pulau Biawak.

Asli bening airnya

Asli bening airnya

Di Tailana terdapat beberapa pondok yang disewakan oleh penduduk yang ‘bekerja’ di sini untuk para pelancong yang ingin menikmati sensasi bermalam persis di pinggir pantai. Pulau Tailana tidak terlalu luas, dan kita bisa mengelilinginya dalam waktu singkat. Dalam kondisi seperti ini memang yang paling enak yaitu bermalas-malasan sambil menikmati suara hempasan ombak yang berdebur tanpa hentinya. Amboi.

Pulau Biawak

Pulau Biawak. Tampak seperti Bikini Bottom dalam serial kartun Spongebob

Pulau Biawak yaitu pulau yang tidak berpenghuni bahkan oleh biawak sekalipun. Entah toponimi Biawak tersebut bermula dari apa. Yang pasti akan sangat menarik jika ditelusuri asal-usul penamaan pulau tersebut. Di Pulau Biawak, saya beserta rombongan menyempatkan untuk berfoto-foto sekalian berenang di sekitar pulau. Yang menarik di sini yaitu dasar permukaan pesisir yang curam pada jarak yang tidak jauh dari bibir pantai (sekitar 20 meter saja). Seperti terlihat pada gambar di bawah, di sisi kanan gambar merupakan dasar pesisir yang curam, hampir vertikal seolah kecuraman palung. Dan di area ini pula kami menghabiskan waktu untuk berenang. Sensasinya sangat berbeda karena seolah kita sedang berenang di laut dalam. Apalagi jika menyempatkan untuk menengok ke bawah permukaan air. Rasanya ngeri-ngeri sedap lah!

Tepian dasar pesisir yang curam di Biawak

Tepian dasar pesisir yang curam di Biawak (dok. Amri)

Spot menarik lainnya di Kepulauan Banyak untuk melakukan snorkeling yaitu di Pulau Asok. Hampir di sekeliling pulau ini ditempati oleh terumbu karang yang pantas dinikmati dari mulai kedalaman (sekira) lima meter hingga satu meter saja dari permukaan. Saya sangat menikmati kegiatan di sini karena satu hal: sunyi! Ya, sensasi menikmati keindahan alam tanpa keramaian adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Kapan lagi menikmati indahnya alam tanpa diganggu oleh hilir mudiknya para pengunjung lainnya.

Hamparan terumbu karang (dok. Jenni)

Hamparan terumbu karang (dok. Jenni)

Hamparan terumbu karang tersebar merata di sekeliling Pulau Asok. Hanya saja ada satu hal yang mengusik saya. Ikan-ikan tampaknya tidak terlihat banyak atau bergerombol di terumbu karang. Apakah kondisi terumbu karangnya tidak sehat? Saya sendiri tidak mengetahuinya secara pasti walaupun menurut saya pribadi kecenderungannya ke arah sana. Sebenarnya ikan-ikan tetap ada berikut bintang laut dan bulu babinya, hanya saja tidak sesemarak jika kita bertemu gerombolan ikan laiknya di Iboih.

Ada pengalaman sangat menarik buat saya ketika bersnorkeling ria di Asok. Tubuh kita akan dimanjakan oleh sensasi air laut yang terasa hangat kemudian tiba-tiba terasa dingin. Nampaknya aliran air laut yang melewati tubuh kita mengalir secara berseling-seling. Pernah saya merasakan bagian dada ke atas terasa sangat hangat airnya namun di saat bersamaan bagian perut ke bawah aliran arus dingin menerpa. Jika bergerak lagi kondisi sebaliknya terjadi. Bagian atas tubuh saya terasa dingin, namun bagian tubuh bawah terasa hangat. Luar biasa!

Kondisi bawah laut sekitar Pulau Asok (dok. Amri)

Kondisi bawah laut sekitar Pulau Asok (dok. Amri)

Pulau Palambak adalah spot terakhir kunjungan rombongan kami di hari itu. Kami berencana untuk menikmati matahari tenggelam di sana. Tak disangka kami kembali bertemu Jean dan kawannya. Ternyata mereka menghabiskan waktunya di Palambak saja. Tak lama setelah mengobrol dilanjutkan oleh berfoto bersama dengan rombongan sambil menikmati air kelapa segar yang beru diambil dari pohonnya.

Sunset di Palambak

Sunset di Palambak

Sebelum kami pulang ke Balai, matahari tenggelam sempat saya abadikan walaupun kembali didera kecewa karena cuacanya memang tidak mendukung. Gambaran sunset di Banyak yang langitnya kemerahan berselang-seling hanya tinggal wacana. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati sensasi berpetualang di Kepulauan Banyak.

Selesai.