Tags

, , , , ,

Kepulauan Banyak – Perjalanan menuju Pulau Balai saya nikmati dengan menikmati belaian demi belaian angin laut yang bertiup. Sesekali mengobrol dengan kawan-kawan seperjalanan yang ada di kanan dan kiri tempat saya bersandar. Riuh tawa dan teriakan dari rombongan lain di bagian depan kapal, beberapa kali kami perbincangkan sambil diselingi canda. Tak ayal karena mereka sibuk berselfie ria sambil meneriakkan tagwords dari sebuah acara travelling yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta nasional. 

Tak berselang lama, salah satu bule yang ikut dalam perjalanan (sebut saja Jean) menyapa saya untuk bertanya lokasi ekowisata Leuser, yakni Bukit Lawang dan Ketambe (asli baru dengar waktu itu). Untuk Bukit Lawang saya bisa mendeskripsikan lokasi tersebut, namun untuk Ketambe no idea. Belakangan saya ketahui bahwa Ketambe merupakan lokasi ekowisata yang tidak berbeda dengan Bukit Lawang dan Tangkahan. Saya diperlihatkan peta lokasi Ketambe dari Lonely Planet yang Jean bawa. Sekilas nampak oleh saya ternyata lokasinya berada di Aceh. Hmmm, another destination waiting to be explored in the future. 

Berawal dari pertanyaan lokasi Ketambe, akhirnya obrolan ringan berlanjut bersama dengan Jean dan salah seorang (dan satu-satunya wanita) rombongan kami, sebut saja Meimei. Obrolan random berkisar dari kamar mandi tanpa shower, upah pekerja di Indonesia dan Perancis, pekerjaan yang saat ini digeluti, pajak, bahasa dan lain sebagainya. Memang benar, menunggu sambil melakukan sesuatu akan tidak terasa dibandingkan jika menunggu tanpa melakukan apapun.

 

Samar-samar dari kejauhan, terlihat bayangan kebiruan yang semakin lama semakin jelas. Nyiur melambai di tepi pantai semakin terlihat menandakan pulau yang kami tuju semakin dekat jaraknya. Kapal melaju ke arah Barat Daya menembus melintasi celah di antara dua pulau yakni Pulau Ujung Batu di sebelah Utara dan Pulau Tapuitapui (atau Tapustapus) di bagian Selatan. Pulau Balai sendiri terletak dibalik kedua pulau tersebut.

Kapal akhirnya merapat di dermaga mungil Pulau Balai. Nampak sejurus jalan perkampungan nelayan yang terbuat dari paving block sebagai jalan satu-satunya dari dermaga menuju perkampungan di Pulau Balai. Tanpa berpikir panjang, kami serombongan langsung menuju sebuah homestay sederhana yang lokasinya pas di bibir pantai. Rumah singgah ini di bagian belakangnya memiliki dermaga kecil dengan kapal ikan berukuran kecil yang ditambatkan. Dari lokasi ini terlihat celah laut antara Pulau Ujung Batu dengan Pulau Tapuitapui di arah Timur. Dan bertepatan di arah tersebut juga lah sang fajar tiap pagi akan menampakkan batang hidungnya.

Island hopping

Selesai mengeyangkan perut dan menunaikan shalat, sesi island hopping pertama pun dimulai. Dikarenakan sesi lompat-lompat pulau ini dimulai pada pukul 15.00, saya sudah menduga tidak akan banyak pulau yang akan disambangi. Paling-paling hanya pulau terdekat dari Pulau Balai saja.

Kapal dilengkapi alat penerima sinyal GPS navigasi

Kapal dilengkapi alat penerima sinyal GPS navigasi

Kapal yang kami tumpangi kali ini merupakan kapal kecil yang dilengkapi dengan atap. Kira-kira 10 penumpang sekaligus bisa naik dalam sekali jalan. Tak sampai 30 menit, kapal mendekati sebuah pulau yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Balai. Laut yang berwarna biru gelap perlahan memudar menjadi kebiru-hijauan bening diikuti warna putih yang menandakan pasir pantai.

Pantai Pulau Tapuitapui

Pantai Pulau Tapuitapui

Kapal merapat di tepi pulau dan tanpa dikomando kami langsung menceburkan diri ke air laut yang bening (pake banget) sambil bermain air (cem bocah). Segar dan nikmat rasanya mandi air laut, tak peduli rasanya asin dan sinar matahari yang akan membuat kulit semakin eksotis (gosong). Setelah puas bermain air dan mengambil dokumentasi (reramai dan sendiri-sendiri), kami kembali ke kapal untuk menuju pulau terdekat berikutnya, Pulau Panjang.

Ternyata tipikal pantai di Kepulauan Banyak memiliki kemiripan. Pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih. Sangat cantik untuk dijadikan latar pemotretan ataupun hanya sekedar dinikmati sebagai pemuas dahaga pelepas kepenatan. Satu keunggulan jika berkunjung ke sini yaitu suasananya yang sepi karena memang belum banyak orang datang berkunjung ke sini. Tetapi apakah menjamin keasrian tempatnya? Iya, namun masalah sampah nampaknya hampir selalu ada di seluruh wilayah Indonesia. Saat berkunjung ke Pulau Tapuitapui, beberapa sampah botol air mineral atau botol kaca minuman beralkohol nampak terlihat di pesisir pantainya. Saya perkirakan sampah tersebut terbawa oleh ombak dari salah satu pulau yang padat penduduknya seperti Pulau Balai atau Pulau Ujung Batu.

Tidak sampai satu jam, kapal sudah merapat di pantai Pulau Panjang. Beberapa sampah nampak terlihat di pesisirnya. Sungguh pemandangan yang membuat malu jika sampai dilihat oleh wisatawan asing. Kondisi ini sebenarnya sama seperti kunjungan saya ke Mursala pada bulan Mei lalu. Penduduk masih belum memiliki kesadaran penuh untuk menjaga lingkungannya dari sampah-sampah rumah tangga.

Seorang bocah tengah memancing

Seorang bocah tengah memancing

Suasana sepi ketika kami menginjakkan kaki di Pulau Panjang. Di kejauhan nampak satu keluarga yang sedang berenang di pesisir pantai sambil mencoba peruntungan memancing menggunakan benang. Saya memutuskan menyusuri pesisir pantai sampai ujung, hingga tidak terlihat dari tempat kapal bersandar. Suara deburan ombak menjadi hiburan tersendiri. Beberapa kawan pun memanfaatkan kesempatan untuk mendokumentasikan kunjungan kami di Pulau Panjang.

Pulau Panjang

Pulau Panjang

Puas bermain air dan berfoto-foto, perjalanan pun dilanjutkan ke pulau berikutnya yang unik. Pulau ini bernama Pulau Malelo. Pulau Malelo hanya berukuran seluas lapangan futsal dan tidak ada satu pun pohon kelapa yang tumbuh di sini. Menurut sang juru mudi kapal kami, (sebut saja) Zarkasih, sebelum tsunami 2004 pulau ini dipenuhi oleh pepohonan kelapa. Namun setelah tersapu gelombang, pulau mengalami subsiden dan menghabiskan vegetasi yang ada di pulau hingga tak bersisa. Saya sendiri memprediksi bahwa Pulau Malelo ini berukuran jauh lebih luas dahulunya, sempat saya cek pada peta lama yang ada pada arsip data geospasial yang saya unduh dari BIG dan terbukti.

Pulau Malelo

Pulau Malelo

Matahari pun mulai merendah dan akan beranjak ke paraduannya. Tidak terasa island hopping hari pertama pun akan diakhiri. Kami memutuskan untuk mengabadikan momen matahari tenggelam di Pulau Baguk, pulau yang berlokasi tidak jauh dari Pulau Balai, tepatnya sebelah Barat Daya dari Pulau Balai. Setelah kapal merapat di pantai Pulau Baguk, sesaat saya mengarahkan pandangan ke arah Barat, awan nampak tebal di arah matahari akan tenggelam. Saya cukup yakin momen sunset tidak bisa didapatkan. Namun, daripada tidak ada sama sekali, tetap saya pasang mini tripod saya dan mencoba memulai mengambil gambar.

Tiba-tiba rasa nyelekit terasa di lengan kanan dan kiri saya. Ternyata makhluk agas mengerumuni para pemotret sore itu. Mengingat agas, saya ingat kenangan buruk 2013 silam. Tanpa pikir panjang saya langsung merapikan kembali kamera dan tripod dan kembali ke kapal. Saya tidak mau kenangan suram 2013 terulang kembali akibat agas-agas ini.

Senja

Senja

Bersambung…