Random. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang kudu dirampungkeun, salah satunya permintaan dari Bang Daydeh, namun entah kenapa tulisannya belum bisa diselesaikan. Benar-benar stuck!

Akhirnya di malam yang masih ramai ini, kebetulan baru saja melakukan ritual makan malam dengan menu bubur ayam. Sepertinya boleh juga untuk dituangkan dalam tulisan malam ini yang bertema random. Tidak murni random karena masih memiliki tema makanan, namun ya sudahlah, anggap saja random.

Selektif

Walaupun saya sudah empat tahun lebih tinggal di Sumatera Utara, makanan menjadi salah satu tantangan buat saya pribadi. Saya tidak suka pedas. Bukan berarti tidak suka sama sekali sebenarnya, namun hanya dalam takaran tertentu. Sehingga pilih-pilih makanan menjadi satu hal yang wajib supaya kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi. Lah.

Diantara sekian banyak masakan-masakan lezat yang hadir di Medan ini rerata memiliki cita rasa pedas yang tajam. Rasa cabai cenderung dominan, mengalahkan rasa bumbu-bumbu yang seharusnya hadir semarak dalam tiap kecupan masakan. Walaupun itu masakan Padang. Rasa yang ada sudah diadaptasi secara sengaja dengan lidah orang-orang Medan. Hal yang berbeda saya rasakan jika makan secara langsung ke Padang atau Bukittinggi sana. Meskipun rasa pedas tetap terasa, riuhnya rasa rempah yang bercampur dalam satu makanan malah terasa lezat, nikmat, semarak liur menerima masakan seperti tersebut.

Alternatif menu makanan selama saya mengembara di Sumatera Uatara ini (utamanya di Medan), menu masakan ala Padang paling banyak hanya satu kali muncul dalam satu hari. Selebihnya saya mencari makan alternatif seperti ketoprak, karedok, siomay, kebab, roti-rotian, persotoan dan persopan, buah-buahan, perbuburan kacang ijo, perbakso dan mie ayaman, serta yang pamungkasnya yaitu bubur ayam.

Semangkuk Bubur Ayam

as

Bubur ayam (sumber : http://tinyurl.com/o7qm7l6 )

Pada awalnya cukup sulit untuk menemukan penjual bubur ayam di Sumatera ini. Mungkin karena tidak banyak penduduk setempat yang suka dengan bubur ayam. Bahkan ketika di Perdagangan, sama sekali saya tidak pernah menyantap yang namanya bubur ayam. Sampai-sampai yang ada di Pematangsiantar pun sampai saat ini belum sempat mencium aromanya apalagi mencicipinya. Seorang rekan kerja sampai-sampai menyebut makan bubur ayam ini ibarat makan muntah bayi hahaha. Jika dipikir-pikir memang benar sih, apalagi kalau makannya diaduk-aduk seperti adonan semen dan pasir, dijamin rasanya menggugah hormon endorfin. Nggak nyambung.

Akhirnya setelah tujuh bulan pertapaan di Medan, setelah melewati masa-masa yang penuh kesulitan di awalnya, beberapa lokasi padepokan perbubur ayaman sudah diketahui, bahkan diplot menggunakan alat penerima sinyal GPS berkualitas geodetik dan dikoreksi secara diferensial. Makin ngelantur. Beberapa padepokan ini menyebar di bilangan Teladan, Setiabudi, hingga Johor. Di luar lokasi tersebut saya yakin masih banyak penjual bubur, namun masih belum terdeteksi untuk dicoba.

  1. Bubur ayam Jakarta simpang Karya Wisata

Bubur ayam ini menempati posisi teratas dari padepokan bubur ayam yang pernah saya sambangi. Lokasinya sebenarnya ada dua. Lokasi pertama persis di simpang lampu merah Karya Wisata. Abangnya jualan dari pagi sampai siang. Menurut saya sebenarnya bubur ayam ini lebih mirip ke bubur ayam Tasik, karena sayang seribu sayang, cakwe tidak disertakan dalam menunya. Padahal kalo ditambah, saya yakin rasanya tambah nikmat. Nah kerupuknya pun memakai kerupuk bubur, bukan kerupuk pecel, jadi lebih berasa nostalgianya makan bubur ayam di kampung halaman. Salah satu yang suka dari bubur ayam di sini yaitu tekstur buburnya yang kental. Selain di lokasi tersebut, istrinya si abangnya juga jualan di Jalan Karya Wisatanya, persis di seberang swalayan yang saya lupa namanya. Harga 10K.

Selain bubur ayam di atas, sebenarnya rasanya tidak terlalu beda jauh. Hanya saja rasanya di lidah ini, bubur ayam di atas cukup enak sehingga cukup lumayan kerap sering saya kunjungi. Tah apa-apa lah ini.

2. Bubur ayam Jakarta di simpang Karya Jaya (lapangan bola)

Lokasinya persis berada di simpang jalan dari bilangan Polonia menuju simpang AH Nasution. Berbeda dengan yang nomor 1, di sini pakai cakwe. Tapi bumbunya kurang liar. Entah kenapa saya cukup jarang walaupun rasanya lumayan dan tempatnya pun lebih nyaman dari nomor 1. Mungkin karena di situ sering nongkrong Pak Polisi kali ya suasananya jadi beda. Harga 10K (agak lupa).

3. Bubur Ayam Jakarta dekat doorsmeer mobil Milala

Nah ini bubur ayam agak beda. Bedanya cuma di porsi daun bawang yang ditaburkan melimpah. Ada manis-masnisnya lagi, eh ada gurih-gurihnya maksudnya. Sayang seribu sayang, akhir-akhir ini padepokannya kerap tutup sehingga saya ngga bisa lagi mencicipi daun bawangnya. Lah. Harga 8K (agak lupa)

4. Bubur ayam Jakarta di Setiabudi deket Kantor Pos lah pokoknya – susah jelasinnya haha

Padepokan buburnya agak ngumpet dan kalo cari pertama kali kudu bolak-balik biar ngeh. Nah, ini padepokan udah lama jualannya. Soalnya rekan sejawat yang tinggal di Setiabudi udah dari dulu nyicipin ini bubur. Ini tipikal bubur ayam Jakarta, lengkap sama cakwenya. Konon rekan sejawat ini suka banget, sampai-sampai udah beberapa kali pindah, posisi padepokannya sampai tau lokasi-lokasi bekas pindahnya. Lain lidah lain selera, saya pribadi ngga terlalu suka karena terlalu plain rasanya. Penyajiannya kurang liar dan menggugah.

5. Bubur ayam Cirebon Gelora Plaza

Nah ini padepokan yang saya kunjungi pertama kali di Medan. Diajak sama Bang Joko dkk. Lokasinya gampang dicari karena deket Gelora Plaza dekat rel kereta api. Bubur ayam Cirebon ini bukanya cuma pagi aja dan banyak penggemarnya. Yang saya kurang suka cuma porsi bumbu dan juga suwiran ayam dan kacangnya kurang sangar, jadi rasanya numpang lewat. Ingat ya, lain lidah lain selera. Harga 10K (agak lupa).

6. Bubur ayam Cirebon depan Museum gedung Arca

Nah ngga jauh dari nomor 5, ada juga bubur Cirebon di Jl HM Joni dekat simpang Jl Gedung Arca. Ini bubur ayam enak menurut ane walaupun pake kerupuk pecel yang warnanya merah itu, entah pakai pewarna tekstil kali ya merahnya. Salah satu yang menarik ane di sini yaitu cara penyajian abangnya sewaktu menyiapkan bubur ayam di mangkoknya. Magnificent lah pokoknya. Gerakannya tangannya paling luwes dibandingkan abang tukang bubur yang pernah saya temuin. Goyang-goyangnya pun enak diliat waktu nuangin kerupuk pecel, suwiran ayam, kaldu, kacang dll hahaha. Dua kakinya cenderung statis, tapi bagian pinggang abangnya sampai atas termasuk tangan ini yang kadang bikin saya geli juga sih liatnya. Seriusan dah perhatiin kalo sempet ke sini. Harga 10K.

7. Bubur ayam Jakarta simpang Gedung Arca

Nah ngga jauh dari nomor 6, ada juga yang jual bubur ayam sekalian sama mie ayam, somay dan bakso cuang ki! Baksonya sih belum pernah coba. Kalo buburnya menurut saya biasa. Kerupuknya pakai emping sama kerupuk pecel. Penyajiannya kurang liar juga, terlalu rapih. Buat saya kalo bubur lebih menggugah selera kal penyajian agak sedikit urakan, jadi keliatan menantang buat disantap. Apaan sih.

8. Bubur ayam Brebes

Padepokan ini termasuk sering saya kunjungi karena pertimbangan yang cukup dekat dari kosan. Lokasinya ada di Jalan Bakti, dekat bengkel Ahass. Bukanya cuma malam hari. Abangnya medok banget dah logat ngapaknya. Ini bubur ayam dengan penyajian terliar nih macem border town haha. Buburnya cenderung agak encer, diisi di mangkok hampir penuh, kaldunya pun dikecrotin sampai mendekati batas bibir mangkok, agak luntrah-luntrah gitu. Kadang saya perhatiin abangnya pun bawa agak repot, kadang bagian ujung jempol abangnya sampe kecelup sama kaldunya saking repotnya bawa buburnya wkwkwk. Terpaksa kalo kondisi gitu, tindakan pensterilan dilakukan dengan mencungkil sebagian bubur pada daerah yang terkontaminasi celupan.

Sekian kisah-kisah random buburnya. Selamat beristirahat.