Tags

, , , , ,

Prolog

Kolam Abadi – Pesona alam Sumatera Utara memang tidak ada habisnya. Semakin ditelusuri, semakin sedikit rasanya lokasi yang sudah dikunjungi di Tano Batak ini. Namun seiring berlalunya waktu, media sosial memegang peranan penting untuk mempromosikan lokasi-lokasi tersembunyi nan indah di provinsi ini.

Pekan lalu saya dan tiga orang teman, salah satunya rekan sealmamater saat kuliah, memutuskan untuk beranjangsana ke salah satu wisata alam yang semakin hari nampaknya sudah banyak orang yang datang berkunjung ke sana yakni Kolam Abadi. Yang menarik, kami melakukannya di bulan puasa!

Dengan menggunakan dua sepeda motor, rute yang ditempuh untuk menuju ke lokasi yaitu Medan, Binjai, Namu Ukur, dan Rumah Galuh. Aksesibilitas menuju lokasi cukup baik, hanya beberapa spots yang jalannya agak rusak namun bisa dengan mudah dilalui oleh sepeda motor. Pada awalnya kami akan memulai dari Pos Pelaruga hanya saja karena sesuatu dan lain hal, kami memulainya dari Pos Rumah Galuh.

Setiap orang yang akan melakukan petualangan di Kolam Abadi akan dikenakan biaya yang kisarannya Rp. 35.000 – Rp. 40.000. Semakin banyak orang tentunya akan semakin murah hitungan per kepalanya. Silakan dinegosiasikan dengan pengelola pos setempat. Biaya ini sudah termasuk guide lokal, penitipan barang dan kendaraan, serta life jackets. Oh ya, sebenarnya untuk memulai trekking menuju Kolam Abadi terdapat beberapa pos yang bisa dipilih, salah duanya yaitu Pos Rumah Galuh dan Pelaruga yang masing-masing posnya pun dikelola oleh penduduk setempat.

Saran untuk yang berkunjung ke lokasi, sebaiknya saat trekking dan susur sungai menggunakan alas kaki yang nyaman dan kuat. Apa pasal? Saat kunjungan pekan lalu tiga orang dari kami melakukan trekking tanpa alas kaki alias kaki ayam sesuai yang disarankan guide setempat dengan alasan kondisi bebatuan licin. Sebaiknya alas kaki dipakai selama berkegiatan. Jika bertemu medan yang harus berkaki ayam tinggal dilepas saja alas kakinya dan dibawa terpisah.

Let’s Go!

Di awal petualangan, sudah tersaji medan menantang yang harus dilalui. Kami harus menuruni bukit yang lerengnya sangat curam. Untungnya sudah diperkeras pijakan tanahnya. Setelah turun ternyata harus menanjak lagi dengan kelerengan curam. Di sini lah puasa kami diuji. Nafas sudah tersengal-sengal, peluh pun bercucuran, tetiba seorang wanita berteriak untuk menawarkan minuman segar dari kejauhan. Suaranya bagai malaikat pemberi bantuan di kondisi yang genting seperti ini :p . Sungguh tawaran baik yang sayang untuk dilewatkan dari seorang penjual minuman tersebut. Untungnya kami masih berpikiran waras. Kami balas dengan teriakan dari kejauhan kepada wanita tersebut bahwa kami sedang berpuasa.

Setelah selama kurang lebih 20 menit melakukan trekking, sampai juga akhirnya di Kolam Abadi. Ternyata berbeda dari ekspektasi saya. Awalnya saya kira berbentuk kolam tersendiri (semacam danau), namun kenyataannya Kolam Abadi merupakan lokasi yang masih bagian dari sungai itu sendiri. Yang luar biasa adalah airnya bening, betul-betul bening, bening sebening kaca. Tak hanya bening, tapi juga segar. Ingin rasanya meminum langsung air tersebut.

asdf

Davit’s free style jump

qwerty

Gilak beningnya

Tanpa pikir panjang kami langsung merendamkan diri di kolam abadi sambil berfoto-foto ria tentunya. Berbagai pose pun diabadikan. Mulai dari ngambang seperti Kentung sampai salto berkali-kali.

Setelah puas bermain air di kolam abadi, maka perjalanan dilanjutkan dengan susur sungai sekaligus body rafting. Nah disinilah tantangannya. Permukaan batu sungai cukup licin. Jadi sebaiknya harus berhati-hati saat melewati permukaan batu tersebut. Jika permukaan air cukup dalam, maka itulah saatnya untuk menceburkan badan kita mengikuti aliran air sungai yang megalir. Dalam kegiatan ini harus hati-hati, kerap ada batu yang bersembunyi tepat di bawah permukaan sungai. Jika tertabrak akan lumayan sakit rasanya. Bagian tulang kering saya terantuk batu cukup keras. Hasilnya lecet-lecet dan darah segar yang mengalir.

Perjalanan susur sungai memiliki tujuan akhir yaitu air terjun Teroh-teroh. Selama perjalanan dari kolam abdi sampai air terjun kita akan disajikan bentang alam berupa ngarai berbatu. Suasananya sejuk, airnya segar dan bening, what a perfect combination! Dibalik keindahannya, terselip juga bahayanya jika bertindak ceroboh. Di beberapa titik perlintasan dijumpai jeram-jeram yang cukup deras di dilewati dengan berenang. Sebaiknya susuri pinggiran sungai atau bebatuan yang muncul di permukaan. Melihat kondisi yang seperti itu, objek wisata tersebut tidak cocok untuk dikunjungi anak-anak kecil ataupun orang tua. Terlalu riskan jika mereka nekat untuk nyebur.

Ter

Air Terjun Teroh-teroh

Akhirnya setelah bersusah payah menyusur sungai, sampailah di air terjun Teroh-teroh. Air terjun ini memiliki satu air terjun utama, sisanya merupakan limpasan air terjun yang berukuran jauh lebih kecil. Di bagian dasar air terjun berupa kolam yang banyak orang menghabiskan waktu untuk berendam sambil mengambil foto selfie. Di sinilah akhir perjalanan susur sungai. Tak lama kami pun beranjak pulang. Mendaki gunung dan melewati lembah dengan kelerengan yang aje gile!

Ada tumbuhan menarik nan langka yang saya temui saat perjalanan pulang. Tumbuhan tersebut tampak kontras dengan daerah sekitarnya. Warnanya merah marun dengan bonggol berwarna hijau. Terlihat bunga menguncup namun masih menutup. Ammorphophallus! Ya akhirnya saya melihat bunga bangkai dengan ukuran yang lumayan. Untungnya sedang tidak mekar. Jika sedang mekar sudah terbayang bagaimana baunya.

Ammorphophallus

Ammorphophallus

The journey end

Tak salah rupanya jika MTMA pernah shooting salah satu episodenya di Pelaruga. Tempatnya indah, menawan, dan penuh tantangan. Sayangnya masih ada oknum-oknum pengunjung yang kerap membuang sampah sembarangan. Amat sangat mengganggu mata alias menjadi polusi mata. Overall, it was really nice adventure.