Dibalik Lensa

Robber Fly

Entah kenapa serangga mungil bernama lalat pembunuh – biasa disebut Robber Fly – ini begitu populer bagi saya. Populer dalam artian saya selalu melihat serangga ini pada tagar-tagar fotografi makro di Instagram.

Serangga berukuran mungil biasanya sulit sekali untuk diabadikan karena ukurannya yang sulit kita deteksi dalam sekali sapuan mata dan juga gesit. Kita harus jeli dan mesti jelalatan sejadi-jadinya untuk menyadari bahwa ada robber fly di sekitar kita. Saya sendiri sangat jarang bersinggungan dengan serangga ini. Mungkin tak lebih dari lima kali.

as
Robber Fly

Namun salah satu pertemuan saya dengan si robber fly sempat diabadikan dengan G15 andalan saya. Jika tidak salah pada akhir tahun 2013, di hari Ahad pagi yang cerah menyengaja ke halaman belakang rumah di Bah Lias untuk mencari-cari objek untuk difoto. Dan kebetulan juga akhirnya saya menemukan dua jenis serangga yang sulit sekali ditemukan di perkotaan yaitu kepik dan robber fly. Keduanya sedang asyik bertengger di daun dan tali jemuran.

kp
Kepik

Tanpa pikir panjang langsung saya bidik kedua hewan tersebut dengan G15, mode manual saya set dan mulai memotret dengan segala angle, bukaan, rana, ISO, dsb. Sebanyak-banyaknya saya ambil selagi kedua hewan tersebut diam tak bergerak begitu saya dekati. Benar saja, tidak semua foto hasilnya sempurna. Namun, dibalik yang tidak sempurna karena kurang fokus dsb, terselip juga banyak foto yang hasilnya baik. Benar kata Barry Kusuma. Saat kita memotret suatu objek pada momen tertentu potretlah sebanyak-banyaknya karena kita tidak tahu pada bagian mana yang akan menghasilkan foto terbaik. Mari memotret!

Advertisements
GIS · Tips dan trik

Koneksi Postgresql dan Postgis

Kehadiran program-program baru di jagat program basis kode terbuka menjadi salah satu hal yang menarik bagi saya. Program komersial yang sudah pasti tidak bisa dijangkau oleh kebanyakan pengguna komputer pada umumnya malah semakin membuat konsorsium program yang berbasis kode terbuka semakin menjamur bak cendawan di musim hujan. Salah dua dari program berbasis sumber kode terbuka yaitu Postgresql dan Postgis. Postgresql merupakan program basis data yang bila dipadankan dengan program komersial, contohnya yaitu program Microsoft SQLServer, Oracle, Informix, atau DB2. Sedangkan Postgis, yaitu sebuah program untuk meng-enable-kan fungsi spasial agar bisa disimpan pada basis data berbasis SQL. Sangat menarik. Jika dahulu (sampai sekarang masih juga sih) saya pernah berurusan dengan program komersial basis data MSSQL dan ArcGIS untuk penyimpanan geodatabase, sekarang saya tertarik juga untuk mencoba program dari sumber kode terbuka. Programnya yaitu Postgresql, Postgis, serta Quantum GIS. Semuanya gratis didapatkan dari situsnya. 😀 Walhasil jika dahulu saya sempat berkutat cukup lama ketika akan menyambungkan data MSSQL dengan ArcGIS, maka kasus yang sama saya dapatkan untuk mencoba menyambungkan program basis data Psql, Postgis, dan Qgis. Sebenarnya jika melihat dari tutorial langkah demi langkah yang bisa didapatkan dari Google, caranya sungguh simpel. Cukup diinstall seperti biasa untuk Psql diikuti Postgis sambil meng-enable-kan fungsi spasialnya. Rerata tutorial yang saya dapatkan hasilnya mulus sempurna.

Continue reading “Koneksi Postgresql dan Postgis”

Uncategorized

Gempa Nepal adalah Gejala Mekanisme Pembentukan Himalaya,

Pakdhe Rovicky, melalui Dongeng Geologi nya menjadi salah satu rujukan saya untuk membaca fenomena alam terutama perlempengan kerak yang ada di bumi.

Dongeng Geologi

PrayforNepalGempa Nepal April 2015 ini tidak dapat terlepas dari pembentukan Pegunungan Himalaya. Sebuah Pegunungan tertinggi didunia. Pegunungan Himalaya sendiri terbentuk setelah terjadinya benturan keras antara Benua Asia (Benua EURASIA) dengan Lempeng Benua India.

Kalau kita lihat pegunungan Himalaya terlihat disepanjang benturan ini. Gambar peta morfologi dibawah ini sangat mudah menjelaskan dan menunjukkan mana yang disebut Pegunungan Himalaya, dan mana yang merupakan Tibet Plateu, atau Tinggian Tibet yang merupakan bagian dari Benua Eurasia yang tergencet.

View original post 266 more words

Geografi · GIS · Inderaja

Melihat Bumi Lewat Piksel (2)

Pada tulisan kedua ini saya akan menyajikan hasil interpretasi dari foto satelit di Kota Medan dan Binjai dengan menggunakan metode standar untuk melihat vegetasi. Lha untuk apa melihat vegetasi? Tentu saja dengan melihat vegetasi kita bisa menentukan apakah masih ada area-area yang hijau. Lalu buat apa jika sudah tahu area hijaunya? Dalam konteks tata ruang perkotaan tentu saja si ruang hijau memiliki posisi penting. Sudah banyak kota menerapkan koefisien wilayah ruang terbuka hijau sebesar 30% dari total luas areanya. Jika masih kurang, ya harus ditambah ya! 🙂

Adapun tahapan pengolahan citra satelit yang saya lakukan yaitu sebagai berikut:

1. Merubah nilai dijital pada citra menjadi nilai reflektan. Nilai default Landsat 8 berupa nilai-nilai dijital (digital number) yang nilainya biasanya ribuan. Dengan merubah nilai dijital ke nilai reflektan maka nilai tiap piksel yang mencerminkan tingkat reflektansi objek tiap piksel bisa diketahui. Objek air memiliki nilai reflektansi yang tinggi karena tidak mampu menyerap sinar matahari secara sempurna. Lain hal dengan aspal misalnya yang memiliki nilai reflektansi jauh lebih rendah dari air. Nilai reflektansi tiap objek berkisar dari 0 sampai 1.

2. Melakukan koreksi dari sudut azimuth penyinaran sinar matahari. Pada metadata setiap scene dari Landsat terdapat nilai sudut azimuth penyinaran. Dari angka yang tertera kita bisa melakukan perhitungan untuk mengoreksi citra sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Step by step dari cara ini akan saya sajikan di lain kesempatan.

3. Koreksi lainnya seperti koreksi awan tipis atau substraksi piksel gelap. Namun begitu, pengolah data harus pandai menentukan apakah koreksi perlu dilakukan atau tidak.

4. Perhitungan Normalised Difference Vegetation Index. NDVI merupakan algoritma standar yang populer digunakan untuk menghitung tingkat kehijauan vegetasi. Rumus untuk melakukan hitungan NDVI yaitu – ini untuk Landsat 8 : (kanal NIR atau kanal 5 – kanal Red atau kanal 4) / (kanal NIR atau kanal 5 + kanal Red atau kanal 4). Hati-hati jika melakukan perhitungan NDVI antara Landsat ETM dengan Landsat 8 ya. Intinya ada di NIR dan Red. Untuk perhitungan di luar Landsat 8, silakan cek terlebih dahulu spesifikasi kanalnya ya.

kjk
NDVI Kota Medan dan Kota Binjai

Gambar di atas memperlihatkan kondisi indeks vegetasi di Kota Medan dan Kota Binjai. Apa yang bisa kita simpulkan dari gambar tersebut? Untuk mempermudah membaca hasil olahan gambar, saya buat simbol indeks vegetasi dari berwarna hijau hingga merah. Semakin hijau menandakan area bervegetasi dengan kerapan yang tinggi. Sebaliknya semakin merah, area tersebut tidak memiliki vegetasi. Nah, jika melihat gambar tentu saja untuk Kota Medan didominasi oleh area berwarna oranye sampai kemerahan yang berarti area tersebut sudah tak bervegetasi.

Bagaimana dengan Binjai? Kabar gembira untuk yang ingin berinvestasi tanah di sana, hehe :). Di bagian Tenggara, Selatan, dan Barat Laut masih berwarna hijau royo-royo tuh ya. Hal ini berarti di ketiga bagian tersebut masih terdapat area yang berupa vegetasi alias non built up area.

Cukup sekian ulasan dari saya terkait dengan kondisi indeks vegetasi di Medan dan Binjai. Sebenarnya masih banyak yang bisa dikupas lebih mendalam, namun sebaiknya disajikan di tulisan-tulisan berikutnya saja.

postscript: Pada bagian ketiga akan mengulas secara singkat kondisi tutupan lahan di Medan dan Binjai

 

Geografi · GIS · Inderaja

Hyperion – Hyperspectral Imagery

Berbicara spektral dalam dunia penginderaan jauh memang tidak ada habis-habisnya. Bermula dari pankromatik, menuju multispektral dengan 4 kanal, 8 kanal, 11 kanal, hingga 20 kanal sampai hiperspektral yang memiliki lebih dari 200 kanal! Untuk resolusi spasial, citra Hyperion ini masih sama seperti Landsat yaitu 30 meter. Kebetulan iseng menjelajah ke situsnya earthexplorer mencari sampel Hyperion untuk area Medan dan hasilnya ada walaupun tanggalnya sudah out of date, yakni tahun 2003. Berhubung saya belum pernah mencicipi dan mengeksplorasi tipe data hiperspektral, tanpa tunggu lama langsung saya unduh. Kadang saya berpikir, teknologi ini adalah hasil dari para manusia berpengetahuan yang curiousitynya sangat tinggi. Sebegitu inginnya mereka ingin mengetahui karakteristik objek di permukaan bumi melalui identifikasi sebegitu banyaknya spektral-spektral yang ada. Namun begitu tujuannya ya mengerucut ke satu hal, natural resources. Hasil eksplorasi Hyperion ini nantinya akan saya masukkan ke tulisan berseri mengenai “Melihat Dunia Lewat Piksel”. Supaya ngga penasaran, sebelum saya tampilkan contoh citranya, sebaiknya saya lampirkan saja contoh metadatanya. 😀

Continue reading “Hyperion – Hyperspectral Imagery”

Geografi · GIS

Melihat Bumi Lewat Piksel (1)

Perkembangan ponsel pintar serta kamera yang menyertainya secara langsung membuat fotografi kian digemari. Tidak jarang kita melihat orang yang baru bangun tidur berselfie ria dan mengunggahnya di media sosial untuk membuktikan eksistensinya.

Foto merupakan hasil pencitraan lensa dari kamera. Foto terbentuk dari piksel-piksel berukuran mikron yang masing-masing menyimpan nilai digital dan kemudian diterjemahkan ke dalam warna. Nah, bagaimana dengan fotografi jarak jauh alias penginderaan jauh?

Dengan ukuran yang sangat jauh berbeda dengan kamera konvensional fotografi pada umumnya, kita bisa melihat bumi dari sisi yang berbeda. Sebelumnya sudah saya singgung ukuran piksel kamera konvensional yang berukuran mikron meter. Untuk foto satelit, ukuran pikselnya beragam mulai dari 20 cm, 40 cm, 60 cm, 1 meter, 5 meter, 15 meter, 30 meter, sampai 250 meter. Besar, bukan?

Medan from above
Medan from above (menggunakan Landsat 8 tertanggal 21 Februari 2015)

Selain bisa melihat kenampakan bumi secara kasat mata, dengan foto satelit kita bisa melihat kenampakan yang tidak kasat mata. Inilah salah satu kelebihannya dari foto satelit walaupun sebenarnya di dunia medis pencitraan kenampakan yang tidak kasat mata sudah banyak sekali diaplikasikan. Hanya saja jika di dunia medis sifatnya ‘lokal’, sedangkan foto satelit cakupannya global.

Berhubung saya tinggal di Kota Medan, apa ya yang bisa kita intip lewat piksel? Wilayah perkotaan identik dengan maraknya lahan terbangun seperti permukiman penduduk, perkantoran, jalan, serta industri. Aktivitas yang berhubungan dengan pertanian bisa kita katakan hampir tidak ada.

Beberapa tahun belakangan isu lingkungan menjadi isu yang seksi. Tak terkecuali dalam perencanaan tata ruang di seluruh kota-kota dunia termasuk di Indonesia. Ruang terbuka hijau yang dicirikan oleh area bervegetasi seperti taman kota menjadi suatu keharusan proporsinya dalam perencanaan ruang. Biasanya proporsi luasan ruang terbuka hijau yaitu seluas 30% dari total luas suatu kota.Bagaimana ya dengan Kota Medan dan sekitarnya? Masih adakah ruang terbuka hijau di Kota Medan ini?

Dalam beberapa tulisan ke depan, saya akan sajikan dua atau tiga tulisan seputar hasil olahan penginderaan jauh khususnya di Kota Medan dan sekitarnya berikut dengan gambar hasil olah digital. Yuk kita eksplorasi cara kita melihat dunia lewat piksel!

 

Catatan Perjalanan · Pariwisata

Taman Nasional Gunung Leuser

Weekend tiba lebih cepat dari pekan-pekan sebelumnya karena kebetulan Jumat di pekan ini adalah tanggal merah. Yippie! Kesempatan emas ini tentunya tidak bisa dilepaskan begitu saja. Saya dan dua teman berencana untuk mengunjungi Taman Nasional Gunung Leuseur yang sudah kesohor dengan obyek ekowisata dan orangutannya. Pada hari yang ditentukan, ditentukanlah titik kumpul (tikum) yang sudah ditentukan yaitu Terminal Pinang Baris. Sayangnya, satu teman membatalkan kepergiannya dikarenakan ada urusan sehingga hanya saya dan satu orang teman yang akhirnya pergi ke Bukit Lawang.

Sambil menunggu minibus yang akan berangkat ke Bukit Lawang, kami duduk di area sekitar terminal yang ditemani oleh semriwing bau pesing dan bau tak sedap. Yah, begitulah kondisi kebanyakan terminal di Indonesia. Kumuh kondisinya. Tak lama, minibus Pembangunan Semesta tiba dihadapan kami dan tanpa pikir panjang langsung menaikinya tepat dibelakang punggung supir.

Perjalanan menuju Bukit Lawang memakan waktu kurang lebih tiga jam. Kondisi jalanan menuju Bukit Lawang cukup bagus. Hanya di beberapa lokasi saja agar berbatu. Namun bisa dibilang secara umum sangat accessible jalurnya. Jika minibus melewati jalanan yang rusak, bersiaplah terbangun dari lamunan atau tidur karena goncangannya sangat sexy. Bisa dibilang minibus tersebut sudah tidak memiliki shock breaker lagi, hehehe. Sepanjang perjalanan kita akan disajikan oleh pemandangan rumah-rumah penduduk, sawah, atau kebun sawit. Saat melewati Turangie Palm Oil Mill sejenak pikiran saya melayang kembali ke Bah Lias. Mengenang memori-memori yang sudah tersimpan pada kotak masa lalu saya. Kalo lagu Slank-nya, “Terlalu maniiis, untuk dilupakannn….”. Skip.

Minibus menepi kemudian memasuki pelataran Terminal Bukit Lawang. Kondisi terminal yang menyatu dengan pasar sudah bisa ditebak wajahnya. Permukaan jalan di terminal berbatu, jika sehabis hujan akan menyisakan genangan air di sana-sini. Di bagian tengah terminal terdapat selasar yang digunakan oleh pedagang rokok dan warung kopi untuk menjual makanan kepada supir-supir minibus, tukang becak, atau ojeg. Tanpa pikir panjang kami langsung menaiki becak menuju kawasan Bukit Lawang.

Matahari sudah akan menjelang ke peraduannya begitu kami menapaki kawasan wisata Bukit Lawang. Hujan pun belum lama berhenti sehingga kondisi agak sedikit redup. Beberapa warung bahkan sedang bersiap untuk tutup. Kami menapaki jalan berbatu untuk menyeberangi Sungai Landak dengan tujuan mencari penginapan satu malam. Setalh deal dengan empunya penginapan, kami langsung bernegosiasi dengan porter kami guna acara keesokan paginya.

Tepat jam 07.30, kami langsung start petualangan menuju lokasi yang sudah lama ditemukan sejak tahun 70-an. Tujuan kami yaitu ke Goa Kampret. Waktu perjalanan dari penginapan menuju goa hanya memakan waktu setengah jam dengan kondisi jalur yang sangat baik karena sudah lama dibuka. Kami hanya melewati kebun karet dan sawit milik rakyat selama perjalanan menuju goa.

Untuk masuk ke goa, kita harus melewati celah bebatuan yang sempit dan terjal. Beberapa tangga bantuan untuk menyangga kaki kita dibuat oleh pengelola untuk kemudahan melewati jalur tersebut. Pintu masuk goa berupa rongga yang lebar. Dinding-dinding goa berwarna krem dan kehijauan. Itu yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari yang menjadi sumber cahaya masuk melalui celah goa. Jika masuk lebih ke dalam kita harus membawa sumber penerangan tambahan karena keadaan gelap gulita.

Kampret
Kampret

Atap goa menjadi tempat beristirahat bagi ratusan kelelawar pada siang hari. Sinarilah dengan lampu blitz kamera, maka cericit kelelawar akan terdengar bersahutan. Bagaimana dengan bentukan batuan di dalam goa? Sebagaimana lazimnya goa, rembesan air dari bagian atap akan menghasilkan stalaktit atau stalakmit. Di bagian terujung goa kita bisa menemukan stalaktit yang unik. Stalakmit tersebut menempel pada dinding goa, namun terlihat seolah terbang karena bagian dasarnya tidak menempel pada lantai goa. Ada juga batu yang menyerupai bentuk binatang. Saya melihatnya seperti kura-kura namun kata yang lainnya nampak seperti seekor naga.

Stalaktit terbang
Stalaktit terbang
Batu hewan
Batu hewan

Puas menikmati goa kampret lantas kami berbalik arah kembali keluar. Tujuan berikutnya yaitu berburu makhluk berbulu merah yang biasa bergelantungan di pepohonan, orangutan. Belum lama kami berjalan, kami sudah disambut ratusan anak tangga menembus bukit dengan kemiringan yang cukup membuat nafas tersengal. Ritme nafas saya awalnya tidak beraturan, kembang kempis bak pompa roda lawas karena saking bersemangatnya. Sejenak menenangkan dan mengatur ritme nafas, akhirnya ritme menanjak bisa saya dapatkan dengan langkah teratur. Peluh pun mulai membanjiri kening. Walau sinar matahari tidak sampai menembus kanopi, olahraga jantung membuat peluh tidak berhenti mengalir bak rembesan air pada genteng yang bocor.

Di pintu perbatasan taman nasional, kami harus melewati pos penjaga taman nasional dan menyerahkan izin masuk taman nasional yang sudah diuruskan oleh pemandu kami. Tampak di depan kami serombongan keluarga yang sudah mulai menembus rerimbunan hutan. Beberapa juga kami lihat sekelompok turis asing. Nampak oleh saya dua bidadari dari Khayangan Jerman yang sudah melintas jalur untuk mencari orangutan. Ada juga turis asing wanita (nampaknya dari Timur Tengah atau Malaysia) yang sendirian (berdua dengan pemandu tentunya) untuk menjelajah Bukit Lawang. Gear sepatu dan kondisi tas backpacknya (yang berinisial “d”) menyiratkan bahwa dia sudah cukup sering berpesintas secara backpacker.

Setelah menyusur rerimbunan jalur setapak, akhirnya ada titik terang. Terlihat serombongan orang yang berkerumun. Voila! Di atas pepohonan nampak dua sosok (satunya berukuran besar dan satunya mungil) sedang nongkrong di dahan mengamati para sekumpulan manusia yang dibuat penasaran oleh kehadirannya. Bulu merahnya nampak kontras dengan warna di sekelilingnya. Saya cukup terkejut dan takjub. Untuk pertama kalinya saya melihat orangutan langsung di habitatnya. Bukan melihat dari kebun binatang atau pusat primata.

Pesek dan bayinya yang lucu
Pesek dan bayinya yang lucu

Hampir seluruh wisatawan langsung mengabadikan orangutan dan bayinya, tak terkecuali saya. Secara bergantian pun orang-orang berfoto dengan latar orangutan. Pemandu kami sempat memberikan beberapa buah pisang kepada orangutan yang secara sigap diterimanya. Orangutan bergelayutan menuju dahan yang lebih rendah kemudian menerima pemberian buah pisang dari pemandu yang langsung dimakannya dengan lahapnya. Pemandu memberitahu kami bahwa orangutan betina tersebut bernama Pesek. Bayinya tak ketinggalan tingkah polahnya. Mungkin melihat banyaknya mata tertuju padanya, si bayi senang bermain sambil bergelayutan diantara dahan-dahan pohon. Tak jarang ketika dia bergelayutan dan menggantung pada dahan yang agak lemah, sontak refleksnya mencari-cari dengan sigapnya dahan terdekat yang bisa diraihnya agar tidak terjatuh. Sungguh lucu tingkah polahnya. Nampaknya dia sedang mencari perhatian dari para wisatawan. Hampir seluruh wisatawan tertawa melihat tingkah caper si bayi Pesek tersebut.

Puas bertemu Pesek dan bayi lucunya, kami melanjutkan perjalanan menuju lebih ke dalam hutan. Siapa tahu bertemu orangutan lagi. Setelah berputar-putar ternyata tak kunjung jua kami bertemu ada tanda-tanda orangutan. Pemandu kami dan seorang teman sempat melihat sesosok burung merak (orang setempat menyebutnya tiko). Namun, belum sempat saya melihatnya untuk diabadikan, si burung sudah menyadari kehadiran kami lalu menghilang secepat kilat. We didn’t lucky.

Tak berapa lama kami istirahat. Saya mencoba mereahkan badan pada gundukan kayu yang sudah lapuk. Baru saja mengatur nafas, terasa di jempol kanan kaki saya sesuatu bergerak-gerak dan menggelikan rasanya. Saya sudah menyadarinya, pasti pacet! Benar saja, saya lihat pacet sedang menyensor permukaan kulit jempol kaki saya. Mungkin sedang mencari area yang siap untuk dihisap. Secepat kilat saya gibas dengan daun kering. Naas, karena badannya sudah lengket, pacet masih menempel. Pacet masih berusaha untuk menempelkan mulutnya utuk mengisap darah saya. Saya tidak rela hahaha. Akhirnya sambil menahan rasa geli di jempol, saya keluarkan senjata pamungkas saya, sebotol kecil minyak angin. Saya teteskan ke jempol kaki dan sekejap saja si pacet menyerah dan melepaskan diri dari jempol kaki saya. Bye pacet.

Fix, nampaknya orangutan susah ditemui lagi dalam penjelajahan pagi menjelang siang ini. Kami memutuskan untuk menuju sungai mempersiapkan tubing kembali ke penginapan. Dalam perjalanan menuju lembah, kami menyusuri anak tangga sampai bawah. Di tengah perjalanan ternyata ada satwa endemik yang sedang memerhatikan kami dari tingginya dahan-dahan pohon. Yup, Thomas hadir untuk memberi salam pada kami. Thomas, atau surili merupakan satwa terancam punah yang hanya dapat ditemui di Leuser. Populasinya menyusut seiring dengan laju deforestasi. Hewan ini sangat ramah walaupun masih liar. Mereka berani mendekati kami. Tak berpikir panjang kami pun mengupas pisang dan langsung diberikan kepada mereka dari telapak tangan kami. Menarik! Tak lupa saya mengambil beberapa gambar hewan langka ini. Kondisi cahaya cukup sulit karena matahari meninggi dan saya baru sadari saya tidak menyetel filter ND pada kamera saat mengambil gambar. Namun, beberapa gambar cukup bisa mengabadikan potret hewan ramah ini. Tak berapa lama kami bercengkrama dengan Thomas, sekelompok topeng monyet (monyet yang biasa dipakai topeng monyet keliling di kampung) tiba. Matanya usil, mengamati barang-barang bawaan kami untuk mengambil makanan. Beberpa pisang yang kami ulurkan untuk si Thomas pun kerap dicuri oleh si topeng monyet. Sungguh usil dan nakal topeng monyet ini. Aargh, kedatangan topeng monyet membuat kondisi semakin tidak nyaman. Saatnya menuruni ke lembah untuk melanjutkan tubing.

Thomas
Thomas

Sebelum memulai tubing, saya sempat mengabadikan air terjun yang ada di dekat camp taman nasional di lembah. Walaupun sudah tahu hasil foto tidak akan maksimal karena pantulan matahari yang sudah tinggi, saya tetap menyempatkan untuk mengambil beberapa gambar air terjun.

Curug
Curug

Barang dan tas kami dikemasi ke dalam kantong plastik. Tubes sudah disiapkan. Tanpa pikir panjang kami langsung menaiki dan berlayar menuju penginapan di bawah. Karena arus Sungai landak yang tidak terlalu besar, perjalanan tidak cukup mengalirkan adrenalin. Hanya sesekali ajlut-ajlutan dengan kadar yang biasa saja. Overall menghibur tetapi tidak cukup menantang. Tak sampai setengah jam tubes sudah mencapai lokasi terakhir. Tubes lantas ditambatkan dan kami menyempatkan mandi untuk membilas di Sungai Landak. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan pemandu, lantas kami menikmati semangkuk mie instan rebus + cabai rawit dan berkemas untuk kembali ke Medan.

Beberapa Catatan Logistik

untuk menuju Bukit Lawang dari Medan bisa ditempuh menggunakan angkutan umum minibus Pembangunan Semesta dari Pinang baris. Ongkos sebesar Rp. 25.000 hingga terminal Bukit Lawang. Dari Terminal Bukit Lawang bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki (para bule banyak yang melakukan ini) atau menyewa becak motor dengan ongkos Rp. 10.000. Akomodasi di Bukit Lawang bervariasi dari yang seharga Rp. 50.000 per malamnya hingga Rp. 500.000. Harga makanan sedikit lebih tinggi dari harga normal.

GIS · Tips dan trik

Composite Bands

Dalam melakukan pekerjaan, terkadang hal remeh sulit diingat kembali. Terutama ketika dalam keadaan rush hour. Contohnya saat akan melakukan penggabungan bands suatu citra satelit multikanal.

Seharusnya pekerjaan tersebut adalah hal yang mudah. Namun karena kondisi lingkungan kerja serta kepanikan si penafsir citra saat rush hour, seluruh teknik yang dikuasai bisa sirna dalam sekejap.

Untuk itulah saya posting hal tersebut di sini agar tidak mudah lupa dalam melakukan teknik komposit tersebut. Pada awalnya saya terbiasa menggabungkan citra multikanal pada program ErMappe*. Namun karena tidak berjalan pada laptop berplatform 64-bit, maka saya menggunakan program SIG yang populer seperti ArcMa*.

Tools
Tool untuk komposit kanal

Untuk menjalankan perintah penggabungan komposit agar terlebih dahulu membuka ToolBox kemudian urutan lokasi toolnya yaitu di ArcToolBox – Data Management Tools – Raster – Raster Processing – Composite Bands. Eksekusi tool tersebut, kemudian akan muncul jendela eksekusinya. Masukkan satu persatu kanal yang akan dikompositkan (sebaiknya secara berurutan dari kanal 1,2,3 dst). Tentukan juga folder luarannya sesuai yang diinginkan. Saya biasanya membuat hasil komposit tersimpan dalam sebuah geodatabase. Jika sudah sesuai pengaturannya, klik OK. Voila! Selamat bereksperimen dengan citra komposit tersebut.