Tags

Beberapa hari lalu di siang menjelang sore dengan panas matahari nan menyengat, berkesempatan mengunjungi Manna House untuk bersantap siang bersama rekan sejawat. Pertama mendengar ‘manna’ saya teringat akan materi guru ngaji saya sewaktu SD. Kurang lebih seperti ini: Dahulu Bani Israil pernah diberikan hidangan Manna dan Salwa oleh Tuhan. Menurut tafsir, Manna yaitu semacam makanan dari gandum atau biji-bijian. Adapun Salwa yaitu burung kecil yang dagingnya lembut dan enak. Kisah ini diabadikan pada Al-Quran surat Al-Baqarah.

Sebenarnya tidak berkekspektasi berlebihan makanan di sini, mengingat menurut saya pribadi biasanya sih makanan yang ada di cafe atau resto yang ‘agak’ ekslusif, rasanya biasa dan kurang gahar. Cita rasa otentik bahkan sejatinya bisa ditemukan di rumah makan biasa dan sederhana di pinggir-pinggir jalan. Yang menarik dari Manna House yaitu suasananya yang teduh di bagian dalam. Ada pangkas rambut malah di ruang utama Manna House!

Makanan pembuka diawali singkong goreng. Rasanya enak. Sayangnya, tekstur singkong terlalu rapat. Saya lebih suka singkong goreng yang permukaannya merekah dengan garis-garis berkedalaman yang mengeluarkan kepulan asap panas. Rekahan biasanya dihasilkan dari hasil perebusan terlebih dahulu. Singkong yang saya makan memang direbus terlebih dahulu, namun rekahannya tidak nampak pada permukaan singkong.

Makanan utama saya coba nasi ayam bumbu Bali. Beberapa rekan sejawat mencoba nasi goreng kampung, spinach bla bla bla (saya lupa namanya), serta mie tiauw. Porsi nasi pas untuk perut saya. Untuk ayamnya lumayan dan bumbu Balinya terasa biasa. Saya sendiri tidak tau apa rasanya bumbu Bali sebenarnya. Untuk pedasnya cukup lah berhubung saya tidak suka pedas. Ada tambahan sayur berkuah pada menu yang saya makan yaitu sayur asam. Jujur saja saya kurang terlalu suka rasanya karena terasa aneh. Untuk minuman saya mencoba ice lemon tea. Cukup menyegarkan dahaga saya yang baru dinas dari lapangan. Beberapa kali mencecap, rasa lemon tea di sini hampir sama dengan yang disajikan di District 10.

Hidangan penutup saya gas dengan menyantap es krim cokelat dan vanilla. Manisnya terlalu tajam menurut saya. Sehingga beberapa kali menggayang es krim, sesaat terasa tenggorokan sedikit mengering karena saking manisnya. Akhirnya saya netralisasi dengan seruput kapucino tanpa gula yang terasa melegakan di rongga mulut. Sempat tergoda dengan rekan di sebelah yang menyeruput espresso dengan gelas liliput. Mungkin lain kali akan saya coba.

Manna House berlokasi di dekat Tiara Convention Hall tepatnya di Jalan Cut Meutia. Saat saya tulis tulisan ini saya tersadar bahwa saya tidak memiliki dokumentasi sama sekali untuk ditampilkan. Jadi bercerita tentang makanan dan tempat tanpa satu pun foto untuk dilihat.