Opini

Cutting Edge Technology

How come!
How come!

I never realised before if technology could bring something that I never imagined. Google maps, well-known web GIS provider, has already done that! Their 360 degree camera have mapped my parent’s residential! All people who connected via internet can access freely without restriction.

Advertisements
Opini · Uncategorized

Iseng-iseng Menulis

Ias
Artikel singkat yang dimuat di sebuah majalah

Saya suka menulis. Tidak peduli bagus atau jeleknya isi tulisan. Toh biasanya saya menulis di blog. Jika orang suka tulisan saya, bagus! Jika tidak, abaikan saja!

Menjelang tingkat akhir perkuliahan di kampus, bahkan saya pernah menulis buku. Isinya tentang peta meliputi sejarah, perkembangan, dan cara membaca peta. Namun, akhirnya ditolak oleh sebuah penerbit padahal sudah dilakukan revisi beberapa kali. Dongkol? Tidak juga. Sedikit sih dongkolnya haha.

Beberapa waktu setelah ditolak penerbit, akhirnya saya mengirim opini ke sebuah media massa terkemuka. Saya menulis dengan tema urbanisasi. Hasilnya, tulisan tidak dimuat di media versi cetak. Tetapi muncul di halaman suara mahasiswa situs pada versi web. Saya ketahui ini saat iseng browsing nama saya di mesin pencari google yang akhirnya membawa saya pada link tersebut.

Bahkan saya lebih tercengang ketika salah satu artikel saya di blog (tentang isu urbanisasi) dijadikan rujukan makalah mahasiswa! Nampaknya mahasiswa masa kini lebih senang mencari referensi di google dibandingkan dengan mencari bacaan langsung ke jurnal ilmiah. Well, seharusnya mereka menyaring informasi yang akan dijadikan rujukan sebelum menuangkan ke dalam sebuah tulisan.

Menjelang penghujung tahun 2014, saya iseng menuliskan artikel perjalanan ke sebuah majalah. Tidak berharap diterima, hanya dorongan pribadi saja mana tau editor akan tertarik. Ternyata, di edisi awal tahun tulisan saya nampang di majalah tersebut pada sebuah rubrik! Tentu saja saya senang bukan kepalang. Tulisan saya dibaca oleh jutaan penduduk Indonesia. Apalagi saya menulis tentang objek yang belum begitu ramai dibincangkan dunia kepariwisataan Indonesia yaitu kawah putih Tinggi Raja. Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya orang yang datang ke lokasi tersebut, pemerintah setempat akan meningkatkan pelayanan dan fasilitas (juga amenitas) yang ada.

Oh ya, ada pula yang spesial pada gambar di atas. Kedua penulis merupakan satu almamater Departemen Geografi UI. Bedanya, saya sudah menjadi alumnus, satunya masih menjadi mahasiswa. Selain itu pada majalah yang sama, terdapat artikel yang ditulis oleh alumnus yang lebih senior yang menceritakan pengalamannya mendaki di Annapurna (Himalaya).

Mari menulis 🙂

GIS · Tips dan trik

Differential GPS

Sistem pemetaan navigasi global semakin canggih. Hal ini dibuktikan dengan akurasi hasil survey yang semakin tinggi hingga menembus level sentimeter! Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan dalam dunia persurveyan. Hanya saja untuk di Indonesia bergantung dengan tipe alat penerima sinyal GPS. Alat penerima sinyal GPS tipe geodetik tentunya memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan yang bertipe navigasi (handheld). Hal ini berbeda dengan di wilayah Amerika atau Jepang dimana alat penerima sinyal GPS tipe navigasi sudah bisa menerima koreksi SBAS.

Metode penentuan posisi menggunakan sinyal GPS terdiri dari dua jenis yaitu tipe absolut dan relatif. Nah yang dibicarakan dalam tulisan ini yaitu tipe relatif yang bisa kita lakukan dengan gratis. Penentuan posisi relatif ini lazim juga disebut metode diferensial.

Di Indonesia, sistem koreksi diferensial sudah dimudahkan dengan adanya sistem InaCORS yang merupakan kepanjangan dari Indonesia Continously Operating Refference System. Sistem ini merupakan rangkaian jejaring base station yang merupakan referensi pengukuran bidang di permukaan bumi. Seluruh data yang terekam di masing-masing base station ini bisa digunakan untuk mengoreksi hasil survey menggunakan alat penerima sinyal GPS bertipe geodetik seperti Trimble, Leica, Topcon, Magellan, dan sebagainya. Adapun institusi yang menginisiasi dan mengoperasionalkan sistem ini digawangi oleh Badan Informasi Geospasial.

asdf
Sebaran base station CORS di Indonesia. (Sumber : http://inacors.big.go.id)

Open Data

Apakah kita bisa mengakses data tersebut? Tentu bisa dan gratis. Sistem ini tentunya merupakan sumbangan pajak-pajak kita yang sudah pasti kita pun berhak menikmatinya. Jika ingin mengakses dan menggunakan data base station tersebut pastikan kita sudah memiliki akun di link berikut http://inacors.big.go.id. Selain itu pastikan data yang akan kita olah merupakan luaran dari hasil survey menggunakan alat penerima sinyal GPS bertipe geodetik seperti produk Trimble, Leica, Topcon, Magellan, dan sebagainya. Bagaimana cara mengolah datanya? Kita tentunya harus memiliki perangkat lunak pengolah data post correctionnya seperti Pathfinder Office (produk Trimble).

Adapun tahapan untuk mengakses data base station tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Buat akun pada link inacors kemudian log in menggunakan akun yang sudah dibuat. Pilih Rinex job service – Create new job, kemudian isikan tanggal pengukuran kita saat di lapangan.

Step 1
Step 1

2. Isikan jam pengukuran atau observasi saat ini kita melakukan pegukuran di lapangan. Agar lebih aman dilebihkan saja jam observasinya.

Step 2
Step 2

3. Isikan form seperti tampak pada gambar di bawah. Untuk select site pastikan lokasi base stationnya yang paling dekat dengan lokasi survey yang kita lakukan. Sebagai informasi, rerata jangkauan base station hanya berjarak kurang lebih pada radius 30 kilometer saja. Menurut saya yang paling beruntung yaitu lokasi pengukuran di Pulau Jawa. Base station yang ada tampak tersebar merata. Tentunya pilihan menggunakan base station akan lebih bebas dan bisa lebih akurat hasilnya. Saya biasa menggunakan data base station dari Sabang mengingat stasiun CORS terdekat dari Medan adalah Sabang. Namun, saya hanya menggunakan hasil koreksi sebagai pembanding saja.

Step 3
Step 3

4. Cek ulang inquiry yang sudah kita buat dan klik submit.

as
Step 4

5. Proses permintaan data tidak memakan waktu lama. Lima menit setelah klik submit hampir pasti data akan sudah selesai diolah sistem. Caranya yaitu dengan klik result. Isikan rentang waktu pengukuran atau observasi kemudian klik next. Akan tampak hasil olahan data yang siap diunduh.

as
Step 5. Voila!

Setelah melakukan pengunduhan data selanjutnya tinggal melakukan pengolahan data post correction. Tahap ini bisa menggunakan perangkat lunak pengolahan data yang biasa digunakan seperti Pathfinder Office (gunakan menu Differential Correction dan arahkan base filenya pada hasil ekstrak data yang sudah kita unduh. Selamat mencoba!

Catatan Perjalanan · Pariwisata

Get Away

Prolog

Fungsi blog yang saya buat semata-mata hanya untuk mengarsipkan tulisan agar mudah diakses. Syukur-syukur malah bisa bermanfaat buat orang banyak. Kebanyakan mungkin tulisan seputar kunjungan ke suatu tempat atau tutorial-tutorial terkait SIG dan komputer. Dahulu saya terbiasa untuk membuat draf tulisan pada perangkat microsoft word kemudian saat sempat baru saya posting ke blog. Namun akhir-akhir ini terbiasa dengan cara akses langsung ke blog. Siang tadi malah menemukan cara baru yaitu mengunduh aplikasi wordpress di android. Lebih simpel.

Ide menulis bisa muncul kapanpun. Bagi saya, jika tidak langsung ditulis maka akan beresiko lupa akan deskripsi idenya, entah itu deskripsi tempat atau apapun. Namun bisa terbantu dengan adanya dokumentasi yang bisa sedikit banyak menjadi alat untuk mendeskripsikan ide atau suatu lokasi. Tulisan di bawah sebenarnya hasil kunjungan ke Berau pada awal tahun 2014. Namun baru sempat dituliskan sekarang ini.

Teluk Sumbang : Beranjangsana ke Rumah Nenek

Bekerja sambil jalan-jalan ke tempat baru memang menarik. Setelah berpenat ria untuk menyelesaikan tuntutan pekerjaan, di sisa waktu sambil menunggu kepulangan tak ada salahnya untuk memanfaatkan waktu mencuci mata ke tempat menarik. Dengan berkunjung ke tempat menarik akan ada pengalaman baru yang siap diceritakan kepada keluarga, teman, atau ke diri sendiri.

Ada pengalaman menarik saat saya berkunjung ke Teluk Sumbang di Kabupaten Berau. Teluk Sumbang bisa dicapai dari Teluk Sulaiman (Pangkalan TNI AL) dengan kapal motor selama kurang lebih satu jam. Untuk biayanya, nah, saya benar-benar lupa. Jika tidak salah sebesar empat ratus ribu untuk pulang-pergi.

Teluk Sumbang merupakan kampung yang tidak begitu ramai. Di pesisir banyak dihuni penduduk dari Sulawesi yang berprofesi sebagai nelayan. Hampir seluruh penduduk yang menghuni di bagian pesisirnya adalah muslim. Nah, adapun penduduk yang berada di agak pedalaman seluruhnya adalah orang Dayak yang bermata pencaharian sebagai petani ladang berpindah dan peternak. Agama yang dipeluk mereka yaitu Kristen.

Tujuan kunjungan saya dan kawan-kawan adalah mengunjungi air terjun bidadari yang tersohor di sana. Menurut informasi dari penduduk, terdapat tiga air terjun di Teluk Sumbang. Yang palng indah terletak lebih di pedalaman. Karena kami tiba saat hari sudah sangat siang, kami tak kebagian penduduk dari suku Dayak yang bisa mengantar kami ke lokasi. Para penunjuk jalan sudah jalan terlebih dahulu saat pagi. Kami mafhum, sudah pasti ukup memakan waktu untuk ke lokasi sehingga mereka memilih jalan lebih pagi. Beruntunglah para pelancong yang sempat berangkat pagi itu.

Di kampung Dayak, karena tak kunjung mendapatkan penunjuk jalan yang bersedia mengantar, kami berbincang dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain. Bingo. Kami mendapat informasi air terjun kedua yang tak jauh dari kampung lokasinya. Untuk lokasi air terjun pertama sih mudah ditemukan karena lokasinya tak jauh dari pelabuhan setempat. Akhirnya dua orang anak kecil bersedia untuk mengantar kami menuju air terjun bidadari kedua.

Sambil megusap sisa ingus di hidungnya kedua anak kecil beranjak pergi meninggalkan kampung Dayak. Berjalan menyusuri jalan setapak dengan rerumputan yang tampak meregang nyawa karena mulai sering dilewati, langit tampak mendung. Sempat kami lewati perladangan milik penduduk setempat juga pesawah yang tak seberapa luasnya. Di sebuah kubangan terlihat beberapa kerbau sedang mandi lumpur dengan asyiknya. Salah satunya kerbau bule yang tampak mencolok warnanya.

Jalur jalan setapak sudah habis, kedua anak kecil tampak masuk melalui semak. Ternyata jalurnya baru dirintis belum lama. Mungkin karena banyak pelancong yang datang sehingga dibuatkan jalur baru. Sekonyong-konyong kami harus menyiapkan tenaga ekstra untuk menuruni lereng yang curam juga licin. Kami harus berhati-hati juga dengan tumbuhan sejenis pandan yang tumbuh di sepanjang jalur. Bahkan, kami harus meniti pohon yang tumbang di lereng. Di ujung jalur sudah tampak air terjun juga gemericik airnya yang terdengar hingga jauh. Namun untuk mencapai air terjun kami harus melewati sungai selebar kurang lebih sepuluh meter dengan jembatan alam! Ya, satu-satunya cara yaitu dengan meniti pohon besar yang tumbang melintangi sisi ke sisi sungai. Di bagian tengah, batang pohon bahkan terendam hingga ketinggian tulang kering kaki saya.

Saya curiga semenjak melihat sungai yang kami lintasi tersebut alirannya tidak deras karena saya yakin memiliki kedalaman yang lumayan. Permukaannya tenang berwarna kehijauan dan dasarnya tidak tampak. Di sisi-sisi sungai terdapat tumbuhan pandan ‘raksasa’ yang cukup lebat. Sejujurnya pemandangannya cukup menyeramkan, terlihat seperti masih sangat alami.

Air terjuan bidadari 2
Air terjuan bidadari 2

Sampai di lokasi, kami langsung mengabadikan potret kami selama beberapa waktu. Air terjunnya sendiri menurut saya biasa saja. Kira-kira hanya memiliki ketinggian tidak lebih dari dua meter. Awalnya kami berniat untuk berenang. Namun entah kenapa perasaan saya saat itu tidak enak. Salah seorang kawan malah menyempatkan untuk BAB di sekitar lokasi karena tidak bisa menahan tekanan zat padat di usus besarnya. Tidak lama kami menghabiskan waktu di sana. Saat pulang kami kembali melewati jalur yang dilewati saat berangkat. Meniti jembatan alam yang terendam (sekarang saya menyesal tidak mengabadikan momen ini) hingga jalur rintisan di semak-semak yang rimbun.

Perjalanan pulang kami kembali melewati perladangan yang kebetulan empunya lahan sedang di sana (beliau sudah tua dan kami memanggilnya nenek). Melihat kami lewat beliau tersenyum dan sempat bertanya-tanya. Beliau sempat bertanya berapa orang jumlah rombongan, asal kampung halaman, dan sebagainya. Beliau pun sempat menimpali kami mengapa berani untuk berkunjung air terjun tersebut. Sang Nenek akhirnya mengatakan sesuatu yang di luar perkiraan kami. Beliau mengatakan tempat kami berfoto-foto dan lokasi jembatan tumbang tersebut merupakan lokasi yang memang terdapat buayanya (penduduk setempat menggunakan nenek sebagai pengganti kata buaya). Sejenak kami langsung tercengang dan saling melihat satu sama lain. Sekian.

 

Uncategorized

Speechless

A : “Bang, nasi gurih komplit satu ya pakai dadar, ngga pake CABE!”
B : “Oke, nanti diantar ya, Bang.”
Lima menit saya manfaatkan untuk memainkan ponsel pintar. Tak berapa lama pesanan nasi gurih pun tiba.
B : “Bang, nasinya. Ini kukasih cabenya. Ya, buat syarat aja ya. Sikit aja nya.”
A : *&^%$!#@!$#@%&*^%$@#!@*

Terkadang kita temukan penjual makanan yang karena saking mendarah dagingnya makan dengan sambal hingga ia tak tega jika ada satu pembelinya yang walaupun sudah meminta tak dikasih sambal, tetap saja diberikan pada makanan pesanan si pembeli. Walhasil makanan saya makan dengan penuh kehati-hatian dengan menyingkirkan goresan sambal yang kadung menempel pada lauk pauk.

GIS · Opini

GIS Software are everywhere

Maraknya pengembangan aplikasi pemetaan dan SIG berbasis sumber terbuka saat ini, sepertinya membuat SIG tidak spesial saja hanya untuk orang-orang yang memiliki latar belakang keilmuan ilmu kebumian. Bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, industri, teknologi informasi, kesehatan, perdagangan, ekonomi, arkeologi, dan lain sebagainya memiliki kecenderungan memakai perangkat lunak SIG untuk menunjang analisis di bidangnya masing-masing.

asd

Perangkat lunak SIG paling mainstream saat ini diproduksi oleh ESRI. Namun, dikarenakan harga lisensi yang cukup mahal, banyak dari pengguna yang akhirnya beralih ke perangkat SIG berbasis sumber terbuka. Bahkan kemampuan perangkat lunak berbasis terbuka ini sudah bisa menyaingi perangkat SIG yang diproduksi oleh komersial. Mulai dari aplikasi desktop, ketersambungan dengan database yang juga berbasis sumber terbuka, hingga aplikasi WebGIS! Tak ada alasan untuk orang yang bergelut di bidang SIG saat ini untuk tidak bisa menggunakan perangkat SIG untuk menunjang pekerjaannya. Beberapa perangkat lunak SIG sumber terbuka yang saya ketahui diantaranya yaitu:

1. Quantum GIS : Salah satu aplikasi desktop SIG yang banyak digunakan saat ini.

2. ILWIS : Perangkat pengolah penginderaan jauh yang dikembangan ITC.

3. Map Window : Aplikasi SIG berbasis desktop legkap dengan programmer toolsnya juga.

4. GRASS GIS : Salah satu perangkat mumpuni untuk mengolah data remote sensing.

5. gvsig

6. Postgresql : Untuk penyimpanan basis data, postgresql bisa menjadi pilihan. Menunya kurang lebih sama dengan yang ada di SQL Server.

7. Mapserver : Perangkat lunak gratis untuk pengembangan aplikasi SIG berbasis web.

Sebenarnya jumlah perangkat yang gratis alias berbasis open source masih banyak. Hanya pada umumnya pengguna saat ini menggunakan perangkat di atas. Tidak menutup kemungkinan ke depannya akan bermunculan perangkat lunak SIG yang baru sehingga pada akhirnya seluruh aplikasi SIG yang ada berbasis open source.