Tags

Suap demi suap nasi saya masukkan ke dalam rongga mulut. Potongan ayam goreng perlahan saya suir dan dicocol saus cabai dua b****** dengan lahapnya. Sejenak rasa gurih, tawar, dan pedas bergumul dalam rongga mulut saya sebelum berpindah ke kerongkongan dan dengan bantuan gravitasi ‘jatuh’ hingga ke perut saya.

Beberapa saat kemudian saya tersadar dari buaian kenikmatan menikmati makanan. Pikiran saya tetiba langsung menuju masa silam di sudut pinggiran jalan Kukusan Kelurahan – Kukel. Dengan menu yang kurang lebih sama, lengkap dengan merek saus cabai pun sama, saya sedang bergelinjang semangat menghabiskan makanan tersebut. Keringat butiran jagung tak hentinya mengalir dari bagian wajah saya. Saya kepedasan.

Efek kepedasan dahulu ternyata tidak saya rasakan saat ini. Pun dengan mencecap saus cabai favorit dengan merek yang sama. Tidak ada rasa pedas dibarengi keringat deras yang menetes dari wajah dan sebagian tubuh saya kemarin.

Saya selalu mengingat definisi kebiasaan walaupun sumbernya saya lupa. Jika tidak salah sih dari buku ajar SMA. Kebiasaan dalam buku tersebut didefinisikan sebagai aktivitas yang kita lakukan berturut-turut selama minimal 40 hari.

Saya langsung menganalogikan kebiasaan makan saya selama merantau di Sumatera. Selama hampir empat tahun, saya selalu makan makanan khas Sumatera dengan cita rasa pedas pake banget. Pun tanpa sambal – orang sini menyebutnya dengan cabe, bagi saya masih terasa sangat pedas di lidah. Karena tidak banyak pilihan, mau tidak mau saya makan walaupun dengan efek yang cukup merepotkan bagi tubuh saya untuk beradaptasi terutama pada masa awal perantauan.

Tanpa saya sadari, tingkat kepekaan mengecap pedas pada indra pengecap saya berubah perlahan. Saus cabai dua b****** yang dahulu saya anggap saus pedas banget maka saat ini saya tidak bereaksi kepedasan saat mencocol saus tersebut! Ini berarti selera pedas saya naik level walaupun secara pribadi sebisa mungkin saya akan menghindari makan pedas jika masih bisa. Bahkan sampai sekarang saya selalu menolak menggunakan sambal cabai di rumah makan atau nasi kapau bungkus. Nah, bagaimana dengan Anda?