Tags

, , , , ,

Time flies

Tidak terasa tahun 2013 pun berlalu. Pastinya masing-masing dari kita menyempatkan untuk mengevaluasi target-target hidup selama satu tahun. Sederhana saja, jika tidak sempat terlaksana, silakan melanjutkan di tahun berjalan agar bisa tercapai.

Awal tahun 2014 bagi saya masih sama saja seperti tahun baru yang sudah dilalui. Tidak ada kembang api atau perayaan meriah lainnya. Cukup berkumpul dengan kawan-kawan dekat dan menikmati beberapa kudapan tanpa perayaan.

Pekan pertama berjalan malahan saya dan beberapa kawan melakukan jalan-jalan perdana ke lokasi geowisata dalam rangka ‘perayaan’ yang dipersebahkan untuk salah seorang kawan penghuni Multihousing yang akan melepas masa lajangnya di bulan depan. Rencana perjalanan yang terkesan dadakan pun dibuat. Sibolangit pun akhirnya menjadi salah satu tujuan kami untuk melihat dari dekat objek geowisata yang terkenal dengan nama Air Terjun Dua Warna.

Rute yang kami tempuh menuju Sibolangit yaitu dengan menyewa sebuah mobil dari Kota Perdagangan menuju Sibolangit. Adapun kota yang dilewati yaitu Perdagangan, Pematang Siantar, Raya, Pematang Purba, Merek, Tiga Panah, Kaban Jahe, Brastagi, dan Sibolangit. Waktu perjalanan memakan waktu sekitar lima jam yang kami nikmati dengan masa dormansi di dalam mobil.

Pintu masuk menuju air terjun yaitu melalui Bumi Perkemahan Sibolangit. Adapun posko air terjun berada kurang lebih 400 meter dari jalan lintas. Nah, di posko ini rombongan harus melapor kepada pengelola dan saya sarankan untuk yang belum pernah ke sana untuk menyewa penunjuk jalan alias ranger. Harga sewanya cukup masuk akal, yaitu dua ratus ribu untuk rombongan dengan jumlah sepuluh orang atau kurang. Apabila lebih dari sepuluh orang maka per orang dihitung dua puluh ribu rupiah saja. Keuntungan yang kita dapatkan dengan menyewa ranger tentunya agar kita tidak tersesat selama di perjalanan mengingat rute yang ditempuh masih belum terbuka. Hal ini dapat dimaklumi karena objek geowisata ini belum lama ditemukan secara tidak sengaja oleh sekelompok pecinta alam untuk mencari rekannya yang tersesat tahun 2008. Setidaknya, kita tidak akan keluar dari jalur resmi yang memang sudah ditentukan untuk meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan akibat semakin banyaknya pengunjung yang datang.

Bagian sulit

Salah satu bagian tercuram menuju air terjun. Kami harus meniti dengan bantuan tali pengaman agar tidak tergelincir.

Selama perjalanan menuju air terjun, kita akan disuguhkan pemandangan khas hutan primer. Pohon dengan diameter besar dengan tutupan kanopi padat akan sering kita jumpai selama perjalanan. Beberapa kali saya menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-paru dengan udara segar dan terasa sangat menyejukkan. Sebagian rute menuju air terjun, kita disuguhkan lintasan menyisir lereng sehingga dapat dengan jelas kita melihat sisi lereng yang curam dan berjurang. Beberapa kali sepanjang rute kita pun akan melintasi anak sungai yang sangat jernih airnya pun dengan kesejukannya. Lelahnya trekking pun seakan sirna saat menjumpai anak sungai yang menghadang di depan kami.

Setelah selama dua jam berjalan, terdengar gemericik air sungai mengalir dengan derasnya. Namun ternyata lokasi air terjun masih cukup jauh. Napas terengah-engah pun semakin berat namun samar-samar terdengar derasnya air yang jatuh dari ketinggian. Siapa pun pasti akan bersemangat menuju garis akhir tentunya. Dan, tersajilah pemandangan ciamik nan luar biasa. Jangan ragu untuk memuji nama Tuhan saat itu.

Air terjun

Air terjun yang warrrbasyah…..!

Sampai di lokasi saya akhirnya mengerti mengapa disebut dengan dua warna. Di sini ternyata terdapat dua air terjun utama yang lokasinya cukup berdekatan. Gambar di atas adalah yang utama. Memiliki ketinggian lebih dari tiga puluh meter dengan suhu air yang sangat dingin dan air berwarna biru langit yang cerah di kolamnya. Tidak seperti air biasanya, air terjun ini sedikit berasa lengket seperti memiliki kandungan minyak. Dugaan sementara saya, air tersebut mengandung unsur belerang.

Lain halnya dengan air terjuan utama, air terjun kedua yang tentunya lebih pendek dibanding yang pertama, airnya bening seperti air pada umumnya. Yang berbeda yaitu suhu airnya lebih hangat dibanding air terjun pertama. Jadi setelah berdingin-dingin ria di air terjun pertama, kita bisa sedikit menghangatkan tubuh dengan mandi di air terjun kedua walaupun tidak begitu berpengaruh karena memang di lokasi suhunya cukup dingin.

MTH

M – T – H (Multihousing)

Air terjun kedua

Air terjun kedua

Selain bermandi ria di sini saya sempatkan untuk mengabadikan gambar dengan beberapa teknik yang sebelumnya belum pernah saya lakukan walaupun dengan hasil yang belum memuaskan. Mengingat objek utamanya adalah air terjun, saya banyak mencoba memanfaatkan dan mempermainkan kecepatan rana untuk mendapatkan efek dramatis. Beberapa kali mencoba dengan mengatur rana dan aperture, hanya beberapa foto saja yang hasilnya lumayan sebagai fotografer pemula dan amatiran. Objek dengan pantulan terang dari foto yang saya ambil pasti mencolok hasilnya. Selidik punya selidik ternyata memang saya memotret bukan pada waktu emasnya. Menurut artikel yang saya baca, untuk memotret air terjun paling baik yaitu sebelum jam sepuluh pagi atau di atas jam empat sore. Jreng, pantas saja. Selain itu ternyata untuk meminimalisasi dampak pantulan cahaya yang sangat terang kita harus menambahkan filter lensa. Nah, ini berarti saya harus kembali untuk menyempurnakan gambar hasil jepretan sebelumnya.

Singkat cerita, setelah menghabiskan waktu dengan mandi, makan, dan foto-foto pengunjung air terjun semakin ramai. Beruntunglah kami menjadi pengunjung perdana di hari itu. Setidaknya hasil dokumentasi tidak banyak gangguannya, hehe.

asdf

Salah satu spot yang saya sukai walaupun berlokasi di pinggir jalan setapak menuju air terjun