Tags

, , , , , ,

Kedatangan saya untuk pertama kalinya ke Sulawesi menyisakan banyak cerita. Ceritanya bisa dibilang serba tidak mengenakkan, namun patut disyukuri dibalik kejadian yang saya alami tersebut. Manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan lah yang menentukan jalan untuk manusia.

Kejadian pertama adalah saat keberangkatan. Kebetulan saya dan seorang rekan kerja berangkat dari kota yang berbeda. Saya dari Balikpapan, rekan saya dari Medan. Menurut jadwal, seharusnya rekan saya tiba di Manado sekira Ashar. Namun tak dinyana, setelah percobaan mendarat dua kali akhirnya pesawat yang dinaiki oleh rekan saya pun memutar balik ke Balikpapan. Selain karena cuaca buruk, pesawat tersebut pun sudah kehilangan bahan bakar cukup banyak karena berputar-putar di langit Manado. Walhasil di Bandara Sepinggan saya berjumpa rekan saya. Tidak sampai setengah jam, saya pun menaiki pesawat ke Manado dan mendarat tepat waktu. Namun, lagi-lagi saya harus menunggu rekan saya tiba karena ternyata pesawatnya baru tiba di Manado dua jam kemudian. Walhasil kami berdua sampai lokasi kerja pada dini hari setelah makan malam yang sangat telat di suatu rumah makan padang di Kota Manado. Dalam hati saya bergumam, sebelum beranjak dari Manado saya harus mencoba bubur Manado yang kata orang aneh itu.

Kejadian kedua banyak melibatkan emosi karena merupakan gabungan perasaan takut, bimbang, was-was, dan lain-lainnya. Ceritanya, di akhir pekan yang cerah dan indah, saya beserta empat rekan kerja berencana berkunjung ke Bunaken. Walaupun cukup telat karena sampai di Marina Bay lewat tengah hari, saya optimis pasti ada kapal karena di akhir pekan akan banyak orang yang akan berpesiar ke Bunaken. Setelah menyelesaikan urusan reservasi dan tetek bengek lainnya, naiklah kami ke kapal kayu yang akan membawa saya untuk mencetak sejarah pertama kalinya ke Bunaken. Langkah pertama saya di kapal tersebut, kaki kanan saya terperosok. Triplek yang melapisi bagian lantai kapal jebol karena saya injak. Sejenak agak ragu, namun saya berpikiran lanjutkan saja.

Di tengah perjalanan ombak mengayun cukup kuat. Terbukti kapal yang kami naiki beberapa kali bermanuver naik turun menerjang ombak. Kapten kapal sesekali mengarahkan haluan mengikuti arah gerak ombak agar tidak terlalu melawan arah arus ombak yang datang. Botol kaleng bekas sekilas terlihat mengambang di antara jalur kapal yang kami naiki. Tiba-tiba kursi kayu yang saya duduki reot, saya agak menggeser posisi duduk. Rekan saya yang berada di seberang tiba-tiba terkejut. Ada air laut tiba-tiba menyeruak dari balik kursinya berulang kali. Seketika suasana menegang, semua saling bertatapan. Di dalam pikiran masing-masing mungkin sudah menakar kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Pelampung berwarna oranye di samping saya berayun-ayun seolah-olah akan bilang bahwa dialah yang kami butuhkan saat ini.

Secara refleks, saya langsung mengemasi backpack saya dengan coverbag. Sejurus kemudian Kapten Kapal membongkar dipan kursi tempat keluarnya air. Setelah terbuka, sekonyong-konyong saya melihat aliran air yang sangat deras masuk ke lambung kapal. Jreengggggg, kapal yang kami tumpangi bocor! Lubang crack hanya kurang lebih seukuran panjang pulpen dengan lebar dua pulpen. Namun karena laju kapal, air yang masuk ke lambung banyak karena hentakan maju kapal. Dua rekan saya bergegas untuk menguras air sesegera mungkin dari lambung kapal dengan menggunakan ember yang tersedia. Sesaat suasana mencekam, pasti masing-masing kami campur aduk melewati kejadian yang langka ini. Dalam hati saya berdoa dan mempersiapkan langkah-langkah apa yang sekiranya dilakukan jika kapal keburu karam di dalam pikiran. Ombak mengayun dengan kerasnya, saya selingi dengan sahutan agar suasana sedikit mencair. Namun tanpa tanggapan akhirnya.

Awak kapal mematikan satu mesin kapal. Kapal yang kami tumpangi hanya memakai satu mesin akhirnya. Saya perkirakan hal ini untuk mencegah laju kapal yang tidak beraturan mengingat ombak yang semakin kuat menerpa kapal kami. Kapal akhirnya melaju. Kapten kapal sesekali menghubungi orang di darat dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Saya meraih ponsel pintar saya, kemudian membuka aplikasi navigasi. Posisi gerak kapal menunjukkan bahwa kapal mengarah kembali ke daratan dengan posisi menyerong lebih ke utara dibanding sebelumnya. Ya, sudah jelas kapal akan kembali ke daratan. Dengan kondisi kapal yang bocor dan ombak yang tidak bersahabat sangat tidak memungkinkan untuk meneruskan. Terlihat juga kapal yang lebih besar memutar arah kembali karena ombak yang tidak bersahabat dengan para pesiar di hari itu. Singkat cerita, kami kembali ke agen penyeberangan untuk klarifikasi dan sekian persen uang yang sudah kami setorkan dikembalikan sebagian besarnya. Kesimpulan kejadian kedua yang panjang ini yaitu saya tidak sempat mengunjungi Bunaken.

Kejadian ketiga masih tidak jauh ceritanya dengan laut. Rekan kerja kami di kebun mengajak kami untuk memancing di laut dan mengunjungi sero. Sero yaitu semacam keramba perangkap ikan yang memanfaatkan pasang dan surut air laut. Saat surut, ikan-ikan akan terperangkan dalam sero ini untuk kemudian dipanen si pemilik sero. Menggunakan kapal motor nelayan akhirnya kami menjauhi pantai. Tampak di sekeliling kami padang lamun yang terlihat jelas dasarnya. Air lautnya benar-benar bening tak terkira. Bintang laut berwarna oranye dan biru sering tampak menyelingi lamun-lamun berwarna kehijauan tersebut. Sampai di sero kami langsung menyebur dan berenang melepas kepenatan di air yang bening. Beberapa kawan tampak memancing menggunakan umpan daging cumi namun tidak kunjung mendapatkan hasilnya. Kami pun beranjak ke atas kapal dan dimulailah serangan serangga kecil ke tubuh kami. Ukurannya seperempat dari nyamuk, saat menggigit terasa nyelekit. Seorang kawan yang membawa losion anti nyamuk menyarankan menggunakan losion tersebut namun ternyata tidak ampuh. Seorang kawan yang lain malah lebih ekstrim, mengoleskan minyak tanah di bagian tubuh yang terbuka. Saya tidak menggunakan keduanya dan memilih untuk menepuk-nepuk saja serangga tersebut jika tertangkap basah sedang hinggap di badan. Pilihan yang kelak saya sesali.

Sampai di mes, hasil gigitan yang ada di tubuh saya yaitu yang terbanyak diantara kedua rekan kerja saya. Tampak titik polkadot merah bergerombol di lengan kiri, kanan, kaki kira dan kanan, dan tak ketinggalan di bagian badan saya. Karena saya kira biasa saya biarkan saja. Sesekali saya oleskan minyak angin untuk menghilangkan rasa gatal yang timbul. Akibatnya fatal, bekas gigitan yang terdapat di lengan saya semakin parah dan muncul kemudian bentol-bentol kemerahan dengan rasa gatal. Kepulangan saya kembali menuju Medan di Hari Natal pun saya lalui dengan selalu menggunakan jaket untuk menutupi bentol tersebut (bahkan sampai sekarang). Belakangan saya ketahui setelah kontrol ke dokter spesialis, bahwasanya bentol tersebut diakibatkan alergi bisa serangga. Efeknya ke masing-masing orang bisa berbeda bergantung kondisi kulit. Walhasil, saat Natal pun kami berkeliling ke toko suvernir di Manado, yakni kawasan Kawanua dan empat lima, tidak ada yang buka karena sedang merayakan Natal.

Lengkap sudah cerita berkesan saya saat kunjungan pertama ke Sulawesi. Mungkin bila tidak ada kejadian seperti ini, tulisan ini tidak akan ada. Salah seorang kawan di Sondaken pernah mengatakan kepada saya. “Belum ke Manado jika belum sempat mencicipi bubur manado, bibir manado, dan Bunaken”. Haha, mungkin saya adalah salah satunya karena belum sempat mencicipi ketiganya.🙂