Tags

, , , ,

Setelah tidak kesampaian untuk menuliskan beberapa ide di blog beberapa bulan terakhir, akhirnya sampai juga momentum untuk menuliskan satu tulisan saat ini. Mumpung masih hangat karena baru melaluinya beberapa hari yang lalu. Yup, mulai posting-an ini dan beberapa posting-an ke depannya saya akan menuliskan catatan perjalanan (bahasa gaul zaman sekarangnya ngebackpaking) saya selama tiga hari ke Tanah Rencong alias Nanggroe Aceh Darussalam. Mudah-mudahan beberapa catatan di bawah akan berguna untuk pembaca sekalian. Siapa tahu beberapa informasi yang ada bisa dipakai untuk jalan-jalan kelak ketika mengunjungi Aceh.

Rencana saya dan beberapa kawan untuk mengunjungi Aceh bisa dibilang dadakan karena memang tidak direncanakan sangat matang. Persiapan kami tak lebih dari 10 hari menjelang hari keberangkatan. Kami memutuskan untuk menggunakan moda transportasi darat dari Medan menuju Banda Aceh dan pulangnya menggunakan moda transportasi udara. Pilihan otobus dari Medan menuju Banda Aceh jatuh kepada PO PMTOH super executive jet bus. Pilihan ini diputuskan setelah mencari informasi dari internet terutama milis bismania serta obrolan ke beberapa orang. Untuk keefisienan waktu, sebaiknya pilih saja yang non stop. Harga tiketnya 200,000 ,- sedangkan untuk yang kelas patas executive harga tiket berada di kisaran 140,000,-. Keberangkatan bus pada malam hari (makanya disebut bus malam :D) jam 21.00.

Interior PMTOH Jet Bus Medan - Bd Aceh (AK)

Interior PMTOH Jet Bus Medan – Bd Aceh (AK)

Singkat cerita, jam 21.00 kami berangkat dari Medan. Bus pun melaju dengan mulusnya. Karena kondisi lalu lintas yang lumayan ramai, bus melaju dengan kecepatan sedang sampai Binjai. Namun, selepas dari Binjai bus mulai melakukan pertambahan kecepatan. Percepatan pun bertambah. Tak pelak, bus melalui kelokan-kelokan jalan dan dahsyatnya suspensi bus pun mulai terasa. Saat melalui jalan yang sedikit bergelombang (gojlagan) ataupun manuver menyalip, goncangan terasa sangat lembut. Walhasil saya pun terngiang-ngiang pengalaman salah seorang blogger yang juga menyatakan bahwa PMTOH super executive Medan ke Banda Aceh sangat memuaskan kesannya.

Praktis berhubung perjalanan dilakukan pada malam hari, tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Saya hanya bisa melihat dari plang-plang kantor untuk mengetahui sudah sampai mana bus melaju. Kondisi jalan yang dilewati untuk sampai Banda Aceh relatif sangat bagus dan mulus-mulus tanpa halangan berarti. Apalagi perjalanan malam hari yang memang cukup sepi lalu lintasnya. Namun ada beberapa lokasi yang cukup menyentil perhatian saya selama perjalanan. Saat bus kami melintasi Kabupaten Aceh Tamiang tepatnya di Kuala Simpang, bus melewati tikungan sangat tajam sehingga berbeloknya bus sangat terasa bagi saya. Sejenak pikiran saya pun melayang ke Cianjur, dimana ada tikungan serupa (biasa disebut pengkolan tapal kuda) yang merupakan perlintasan jalur Puncak – Bandung.

Tepat pukul enam pagi akhirnya bus sampai di Terminal Batoh, Kota Banda Aceh setelah setengah jam sebelumnya bus sempat merapat ke salah satu masjid untuk melaksanakan solat Subuh. Tanpa piker panjang kami langsung menuju kantin terminal dan memesan lontong sayur sebagai santap sarapan ditambah segelas teh panas. Sekilas saya melihat ada beberapa bapak-bapak yang sedang bercengkrama dengan koleganya sambil menyeruput kopi. Ya, akhirnya saya pun tersadar saya sudah menginjakkan kaki di Tanah Rencong, negerinya kedae kupi.

~bersambung…

Ps: Rute jalur darat à Medan – Binjai – Stabat – Pangkalanbrandan – Kuala Simpang – Langsa – Peureulak – Lhoksukon – Lhokseumawe – Bireun – Sigli – Banda Aceh