Catatan Perjalanan · Pariwisata

Trip to Aceh #1

Sebagai kelanjutan dari blog saya sebelumnya mengenai catatan perjalanan ke Aceh, maka pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan mulai dari kedatangan saya di Banda Aceh hingga kunjungan perdana saya ke Pulau Weh. Silakan dibaca dan mudah-mudahan tulisan ringan ini bermanfaat untuk pembaca budiman yang akan berjalan-jalan ke Aceh.

Setelah melalui perjalanan darat selama 12 jam melalui jalur darat dari Medan akhirnya kami sampai di Terminal Batoh yang merupakan terminat bus antar kota di Banda Aceh. Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi dan masing-masing dari kami langsung memesan sepiring lontong sebagai ransum sarapan pertama setibanya di Tanah Rencong. Sekonyong-konyong seorang bapak tua akhirnya bergabung bersama kami untuk menikmati sarapan dan belakangan saya baru tahu jika beliau adalah seorang supir taksi. Setelah melakukan negosiasi akhirnya kami bertiga sepakat untuk memakai jasa si bapak tua untuk membawa kami menggunakan taksinya menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Sebenarnya selain taksi terdapat juga para pengemudi bentor yang menawarkan jasanya dan Tuhan menakdirkan si bapak tua yang kebagian rezeki. Kami menaiki taksi miliknya yang tua (merk mobilnya lupa) dan bagian bumper belakangnya ringsek namun bertransmisi otomatik.

Tak terasa perjalanan menuju pelabuhan memakan waktu selama 30 menit. Kami pun membayar jasa taksi sebesar 50,000,- yang menandai kami sudah tiba di Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang menuju Pelabuhan Balohan di Weh. Pelabuhan tampak lengang. Selain kami bertiga terlihat sekelompok anak muda dan beberapa wanita dan pria paruh baya yang menunggu loket kapal dibuka. Loket kapal express KM Rondo pun dibuka, secepatnya saya mengantri untuk membeli karcis. Harga kelas ekonomi 60,000,-, kelas bisnis 75,000,-, dan untuk kelas eksekutif seharga 85,000,-.  Nah untuk CP KM Rondo bisa menghubungi Pak Isro (085261316401) untuk booking karcis walaupun sepengalaman kami nampaknya sistem booking tersebut setengah hati. Agar lebih aman sebaiknya datang saja dari pagi di pelabuhan untuk mencegah kehabisa tiket. Namun jika menyeberang di akhir pekan seperti Jumat/Sabtu sebaiknya pesan jauh-jauh hari saja. Untungnya kami menyeberang di hari kamis sehingga tidak terlalu padat.

Kapal penyeberangan ekspress KM Rondo
Kapal penyeberangan ekspress KM Rondo

Lama waktu penyeberangan ke Balohan memakan waktu 45 menit dan kami menghabiskan waktu di atas kapal dengan duduk manis sambil bercanda dengan balita imut yang duduk di kursi depan kami. Selepas turun dari kapal penyeberangan para penumpang turun secara beruntun. Sejurus kemudian tersempatkan saya melihat beningnya air laut di Pelabuhan Balohan ini sehingga dasarnya pun terlihat. Tampak ikan-ikan kecil bergerombol berenang ke sana kemari dengan riangnya. Setelah mengabadikan beberapa momen akhirnya ketenangan kami terusik oleh datangnya para pengemudi taksi. Serentak mereka menanyai setiap penumpang yang baru turun dari kapal dengan logat khas Acehnya. Kita bisa menggunakan jasa taksi yang kebanyakan mobil L300  menuju Sabang atau penginapan dengan membayar jasa mulai dari 25,000,-. Namun apabila ingin menyewa sehari penuh harga berkisar dari 400,000,- hingga 550,000,-. Untuk setengah hari kita bisa pun bisa menyewa seharga 250,000,-. Mengingat itinerary kami di hari pertama yang tidak terlalu padat akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa taksi.

Menuju KM 0

Jalanan di Pulau Weh relative bagus. Hanya saja kerap tersaji jalanan naik turun mengikuti kontur perbukitan. Cuaca khas pantai pun terasa sesaat kami berada di sana. Udara panas nan lembab dengan secepat kilat membuat permukaan kulit mengeluarkan keringat lebih cepat daripada biasanya. Perjalanan banyak melewati hutan lindung yang kata warga sekitar biasanya jika melintas saat pagi hari, monyet-monyet akan bergelantungan di sisi-sisi jalan raya. Tak sampai 45 menit akhirnya mobil yang kami naiki sampai di ujung Pulau Weh. Di sinilah terdapat monument geografis sebagai penanda titik kilometer 0 di ujung Indonesia. Sudah pasti di titik ini merupakan titik ikat jaring pemetaan yang digunakan sampai saat ini.monumen titik 0 berbentuk tugu dengan tangga yang membelah bangunan dan dikelilingi oleh rimbunan pepohonan. Letak monumen ini terdapat di ujung sebuah bukit persis di pinggir pantai bertebing curam. Di bagian atas terdapat patung Sang Garuda.

Monumen Kilometer Nol
Monumen Kilometer Nol

Sambil mengabadikan beberapa foto di monument KM0, kita bisa juga menikmati pemandangan horizon Samudera Hindia yang luas. Tak jauh dari monument pun kita bisa bersantai sambil menikmati kelapa muda dan cemilan khas Weh seperti sate kentang, sate tempe, ataupun bola ubi (nama lokalnya kebetulan belum saya ketahui). Kita pun disuguhi tingkah laku hewan liar yang kebetulan terdapat di sekitar kedai seperti monyet dan babi liar yang jinak. Monyet yang ada kadang bertingkah lucu ketika mencoba meminum cola dari botol kalengnya. Mereka pun selalu petintingan tidak bisa diam dengan cara memakan makanan atau bermain bersama dengan kelompoknya. Satu hewan liar unik yang selalu berkunjung ke monumen KM 0 ini yaitu si babi liar yang jinak dan baik hati. Walaupun rupanya cukup menyeramkan, namun menurut pedagang yang biasa berjualan di situ si babi tidak pernah mengganggu apalagi menyeruduk atau ngepet. Si babi hanya berjalan dengan tenang sesekali mendekati keramaian kemudian berdiam dan kembali lagi ke hutan sekitarnya. Sepertinya dia sudah akrab dengan kunjungan wisatawan yang ramai ke monument tersebut. Apabila ada wisatawan yang ingin membuat sertifikat, maka kita bisa memesannya kepada pembuat sertifikat dari pemerintahan setempat hanya dengan membayar 20,000,- saja. Cukup tunggu 20 menit sertifikat yang berisi nama kita bahwa sudah pernah menjejakkan kaki di KM 0 pun bisa kita bawa pulang segera.

Hewan liar di sekitar monumen kilometer nol
Hewan liar di sekitar monumen kilometer nol

Benteng Jepang

Setelah puas menikmati pemandangan dan rasa penasaran di titik kilometer nol Pulau Weh kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju Benteng Jepang. Perjalanan dari KM 0 memakan waktu selama sekitar 40 menit untuk menuju Benteng Jepang. Letak Benteng Jepang ini berada di pinggir pantai yang bertebing. Walaupun landmark ini merupakan peninggalan sejarah saya tidak menemukan adanya papan informasi yang menerangkan tentang benteng tersebut seperti misalnya kapan dibangun, fungsi benteng, dan siapa arsiteknya. Menurut pengamatan saya, benteng tersebut hanya merupakan bangunan pengintai musuh dan bukan murni benteng untuk pertahanan. Apabila biasanya pada benteng pertahanan terdapat koridor laiknya tembok cina yang memanjang membentuk perimeter dan terdapat meriam di tiap bagiannya, maka saya tidak menemukannya pada benteng jepang ini. Mungkin saja karena sudah tergerus waktu dan perubahan di sana-sini sehingga bangunan aslinya kurang tampak mencolok mata. Selain bangunan benteng kita hanya bisa menemukan meriam yang terdapat di lorong dalam utama bagian benteng.

Japanese Fortress
Japanese Fortress

Selepas mengunjungi Benteng Jepang kami langsung menuju penginapan di Ujung Karang untuk beristirahat. Penginapan yang kami tempati ternyata dimiliki oleh seorang pengusaha bule. Bangunan terbuat mayoritas dari kayu dan cukup nyaman karena tidak terlalu panas. Harganya pun cukup terjangkau yaitu 200,000,- permalam yang bisa ditempati sampai delapan orang. Pemandangan dari penginapan menghadap langsung ke pantai yang berkarang (sesuai namanya Ujung Karang).

Lokasi penginapan dan pantai Ujung Karang
Lokasi penginapan dan pantai Ujung Karang

~bersambung…

Advertisements
Catatan Perjalanan · Pariwisata

Trip to Aceh – Prolog

Setelah tidak kesampaian untuk menuliskan beberapa ide di blog beberapa bulan terakhir, akhirnya sampai juga momentum untuk menuliskan satu tulisan saat ini. Mumpung masih hangat karena baru melaluinya beberapa hari yang lalu. Yup, mulai posting-an ini dan beberapa posting-an ke depannya saya akan menuliskan catatan perjalanan (bahasa gaul zaman sekarangnya ngebackpaking) saya selama tiga hari ke Tanah Rencong alias Nanggroe Aceh Darussalam. Mudah-mudahan beberapa catatan di bawah akan berguna untuk pembaca sekalian. Siapa tahu beberapa informasi yang ada bisa dipakai untuk jalan-jalan kelak ketika mengunjungi Aceh.

Rencana saya dan beberapa kawan untuk mengunjungi Aceh bisa dibilang dadakan karena memang tidak direncanakan sangat matang. Persiapan kami tak lebih dari 10 hari menjelang hari keberangkatan. Kami memutuskan untuk menggunakan moda transportasi darat dari Medan menuju Banda Aceh dan pulangnya menggunakan moda transportasi udara. Pilihan otobus dari Medan menuju Banda Aceh jatuh kepada PO PMTOH super executive jet bus. Pilihan ini diputuskan setelah mencari informasi dari internet terutama milis bismania serta obrolan ke beberapa orang. Untuk keefisienan waktu, sebaiknya pilih saja yang non stop. Harga tiketnya 200,000 ,- sedangkan untuk yang kelas patas executive harga tiket berada di kisaran 140,000,-. Keberangkatan bus pada malam hari (makanya disebut bus malam :D) jam 21.00.

Interior PMTOH Jet Bus Medan - Bd Aceh (AK)
Interior PMTOH Jet Bus Medan – Bd Aceh (AK)

Singkat cerita, jam 21.00 kami berangkat dari Medan. Bus pun melaju dengan mulusnya. Karena kondisi lalu lintas yang lumayan ramai, bus melaju dengan kecepatan sedang sampai Binjai. Namun, selepas dari Binjai bus mulai melakukan pertambahan kecepatan. Percepatan pun bertambah. Tak pelak, bus melalui kelokan-kelokan jalan dan dahsyatnya suspensi bus pun mulai terasa. Saat melalui jalan yang sedikit bergelombang (gojlagan) ataupun manuver menyalip, goncangan terasa sangat lembut. Walhasil saya pun terngiang-ngiang pengalaman salah seorang blogger yang juga menyatakan bahwa PMTOH super executive Medan ke Banda Aceh sangat memuaskan kesannya.

Praktis berhubung perjalanan dilakukan pada malam hari, tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Saya hanya bisa melihat dari plang-plang kantor untuk mengetahui sudah sampai mana bus melaju. Kondisi jalan yang dilewati untuk sampai Banda Aceh relatif sangat bagus dan mulus-mulus tanpa halangan berarti. Apalagi perjalanan malam hari yang memang cukup sepi lalu lintasnya. Namun ada beberapa lokasi yang cukup menyentil perhatian saya selama perjalanan. Saat bus kami melintasi Kabupaten Aceh Tamiang tepatnya di Kuala Simpang, bus melewati tikungan sangat tajam sehingga berbeloknya bus sangat terasa bagi saya. Sejenak pikiran saya pun melayang ke Cianjur, dimana ada tikungan serupa (biasa disebut pengkolan tapal kuda) yang merupakan perlintasan jalur Puncak – Bandung.

Tepat pukul enam pagi akhirnya bus sampai di Terminal Batoh, Kota Banda Aceh setelah setengah jam sebelumnya bus sempat merapat ke salah satu masjid untuk melaksanakan solat Subuh. Tanpa piker panjang kami langsung menuju kantin terminal dan memesan lontong sayur sebagai santap sarapan ditambah segelas teh panas. Sekilas saya melihat ada beberapa bapak-bapak yang sedang bercengkrama dengan koleganya sambil menyeruput kopi. Ya, akhirnya saya pun tersadar saya sudah menginjakkan kaki di Tanah Rencong, negerinya kedae kupi.

~bersambung…

Ps: Rute jalur darat à Medan – Binjai – Stabat – Pangkalanbrandan – Kuala Simpang – Langsa – Peureulak – Lhoksukon – Lhokseumawe – Bireun – Sigli – Banda Aceh