Opini

Sekolah itu Pilihan, Kawan…

Kesempatan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi adalah anugerah bagi saya. Hal ini karena suatu fenomena piramida laiknya umur manusia. Orang yang berumur tua pasti lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan penduduk yang lebih muda. Atas dasar tersebut saya pun berani menyimpulkan bahwa jumlah orang yang menempuh pendidikan tinggi akan lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang menempuh pendidikan di tingkat bawahnya. Kesimpulannya bersyukurlah untuk semua orang yang mampu mengenyam pendidikannya sampai perguruan tinggi dan jangan lupakan pula Tridarma-nya.

Piramida pendidikan
Piramida pendidikan

Nah, kebetulan saya sendiri sudah melewati jenjang salah satu pendidikan tinggi level S1, hanya tinggal dua jenjang lagi apabila ingin melanjutkan hingga S3. Berbicara jurusan saat kuliah, jurusan yang saya tempuh termasuk yang kurang popular dikalangan masyarakat umumnya. Kebanyakan orang tua pasti mengharapkan anaknya untuk berkuliah di jurusan yang mentereng seperti Teknik, Kedokteran, ataupun Akuntansi. Saya sendiri saat kuliah mengambil jurusan Geografi dan bukan pada jurusan yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya.

Jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan awal mula saya menyenangi pelajaran IPS. Saat SD bisa dibilang kemampuan dalam pelajaran eksakta dan social hampir sama bagusnya. namun saya pikir, dipelajaran IPS lah (sejarah dan pengetahuan umum) saya sedikit lebih unggul. Dari dua kejuaraan saat SD di bidang Nalar Matematika dan Cerdas Cermat IPS Terpadu, hanya di bidang Cerdas Cermat lah saya mendapatkan prestasi. Untuk adu Nalar Matematika cukup hanya menjadi penggembira saja. Dari 12 soal Matematika, hanya bisa dijawab seingat saya tiga soal dan selebihnya saya kosongkan karena sama sekali tanpa persiapan dari SD dan baru pertama kali dalam sejarah saya melihat soal Matematika yang seperti itu. Yang pasti tidak pernah ada di buku-buku Matematika SD yang saya miliki.

Saat SMP, pelajaran Geografi sudah mencuri perhatian saya. Bab di buku yang saya senangi yaitu tentang profil bentang alam permukaan bumi dan profil Negara di Asia, Eropa, ataupun Amerika. Apabila tebak-tebakan ibukota Negara atau mata uang dijamin hapal, hehe. Saya berpikir bahwa inti dari pelajaran Geografi hanya hapalan. Hal ini ditunjang oleh proses belajar mengajar yang mengharuskan seperti itu sehingga pola pikir saya pun seperti itu juga. Di kemudian hari (saat kuliah tepatnya) saya baru menyadari bahwa Geografi sebenarnya bukan berfokus pada hapalan tetapi analisa timbal balik fenomena permukaan bumi. Lain dari itu, skill pelajaran eksakta saya bisa dibilang lumayan karena masih rajin belajar. Bahkan selalu mendapat ranking hingga kelas 3.

Menginjak SMA semua berubah. Karena sering bermain dan sibuk berekskul, ranking kelas tidak pernah didapatkan, tidak menyukai pelajaran Kimia dan Fisika (terbukti dengan nilai rendah yang didapatkan saat UAS), dan sangat menikmati belajar Matematika, Biologi, dan tentu saja Geografi. Pola mengajar yang didapatkan masih sama seperti saat SMP sehingga Geografi terasa monoton. Bahkan sempat ada tes peta buta untuk pelajaran Geografi dan tak kepalang tanggung soalnya yaitu peta buta Afrika. Namun tes tersebut dengan mudah dilalui (jika sekarang sudah lupa, hehe). Akibatnya nilai di rapor untuk pelajaran Geografi sempat menyentuh angka 9. Namun anehnya saat penjurusan kelas 3 saya tidak tertarik pada kelas IPS. Image anak IPS yang berandal dan selalu membuat keributan di sekolah kami akhirnya membuat saya memutuskan untuk masuk ke kelas IPA.

Karena abang saya dua tahun lebih tua dari umur saya, saya sempat mencari tahu lebih dahulu mengenai kemungkinan-kemungkinan jurusan yang kelak akan saya ambil melalui buku pendaftaran SPMB miliknya itu. Keputusan memilih Geografi sebenarnya didasarkan atas dua hal yaitu minat dan relita. Prinsip saya saat kelas 3 SMA hanya satu yaitu harus melanjutkan pendidikan di universitas negeri favorit seperti ITB, UI, dan Unpad. Pilihan pertama saya saat SPMB sebenarnya jurusan Biologi ITB dan Geografi UI. Mengapa Biologi dan Geografi karena saat SMA kedua pelajaran itulah yang saya senangi disamping memang nilai try out SPMB saya tidak bisa menjangkau nilai FK UI atau FT ITB (inilah realita yang harus saya terima, haha). Bahkan saking terobsesinya dengan ilmu bumi, saat UM UGM pilihan jurusan saya sangat geosentris yaitu Teknik Geologi, Teknik Geodesi, dan Geofisika. Walhasil tidak lulus saat tes tersebut.

Singkat cerita akhirnya saya berkuliah di jurusan Geografi UI. Jurusan yang selalu ribut dengan Jurusan Fisika saat adu futsal di fakultas. Tahun pertama kurang menikmati perkuliahan karena masih bertemu dengan Fisika dan Kimia Dasar. Namun terobati dengan kehadiran Kalkulus dan Biologi Umum. Walaupun sangat menyenangi Kalkulus dan memiliki nilai bagus, nilai mata kuliah Statistik dan Metode Kuantitatif saya tidak begitu bagus. Hal ini tetap mengherankan saya sampai saat ini.

Sepanjang petualangan ilmu di Geografi UI, ada beberapa mata kuliah yang menjadi favorit saya untuk digeluti tentunya tanpa mengecilkan peran mata kuliah lainnya untuk membentuk pola pikir Sarjana Geografi. Mata kuliah tersebut yaitu Introduction to Geography, Cartography, Geomorphology, GIS, Digital Imagery Interpretation, Urban Geography, Geography of Transport, Political Geography, Tourism Geography, dan Regional Climatology of Indonesia. Lebih lanjut seputar perkuliahan di jurusan Geografi UI akan saya postingkan di kesempatan berikutnya. Semoga menambah informasi untuk pembaca.

Advertisements
Opini

Memoar Bus Malam

Berbicara mengenai alat transportasi, bus malam merupakan salah satu favorit saya. Mengapa? Hal ini karena saat kecil, terutama saat SD dan SMP hampir tiap Lebaran tiba kami sekeluarga menyempatkan untuk merayakannya di kampung halaman ibu saya di Purworejo. Nah, hampir setiap tahun pula bus malam menjadi angkutan andalan kami sekeluarga menuju Purworejo.

Saat SD dan SMP, hampir tidak ada bus malam AC yang melintasi Purworejo. Kalaupun ada yaitu bus malam Jogja via Magelang. Jadi jika mau menuju Purworejo harus transit dahulu di Magelang baru kemudian menyambung angkutan ke Purworejo. Namun karena alasan kepraktisan, kami lebih sering untuk menggunakan bus malam non AC. Bus malam AC yang melewati Purworejo baru ada saat saya menginjak SMA, namun saat ini malah sudah jarang untuk pulang kampung lagi ke Purworejo. Bus malam yang sering dinaiki kami sekeluarga yaitu Lima* Express. Berangkat dari Bogor sekitar jam dua siang dan sampai di Purworejo pasti jam empat pagi. Pastinya, saya sangat menikmati perjalanan tersebut bahkan menjadi pengamat bus malam AKAP di sepanjang perlintasan perjalanan. Saya dan kakak saya bahkan menjadikan nama PO bus malam menjadi tandingan tebak-tebakan menjelang tidur. Sangat sering kami memainkannya dan kami menyebutnya permainan “bis-bisan”. Sebenarnya permainannya simpel yaitu hanya menyebutkan nama bus malam secara bergantian. Nah, saat salah satu dari kami tidak bisa menjawabnya saat itulah dia kalah.

Limas

Saking terobsesinya dengan bus malam bahkan saat pelajaran menggambar ketika SD saya sudah pasti bertemakan bus malam, lengkap dengan nama Perusahaan Otobusnya. Jika kawan-kawan saya selalu menggambar pemandangan (dua gunung, matahari di tengah, dibelah jalan, ada persawahan) yang jamak kita temui bahkan hingga anak SD zaman sekarang, saya sudah pasti menggambar bus malam. Entah kenapa saya lebih menyenangi menaiki bus dibandingkan kereta api atau bahkan pesawat terbang sekalipun. Saya senang ketika melewati pergantian hari di dalam bus malam. Menikmati fajar atau mega merah dari dalam bus malam. Saya selalu terperangah saat suara desisan rem bus yang selalu mendesis ataupun saat suara deru mesin intercooler yang berteriak. Untuk rute kampung halaman bapak saya di Probolinggo seringnya kami menggunakan Loren* atau Pahala Kencan*.

Perjalanan jauh terakhir yang saya rasakan menggunakan bus malam yaitu saat kuliah lapang terakhir angkatan kami menuju Bintuhan di Bengkulu dari Depok. Lama perjalanannya sekitar 27 jam, sudah termasuk melintasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan serta jalan kaki di tanjakan daerah Liwa karena bus tak kuasa untuk melaju dengan beban penumpang penuh. Rute perjalanan sangat menantang mengingat yang dilintasi adalah deretan Bukit Barisan. Namun pemandangan yang tersaji sangat indah terutama hamparan pasir putihnya. Saya teringat ketika menjadi tim advance untuk kegiatan ini. Saat perjalanan survey pendahuluan bus kami sempat terjebak di tengah hutan jam 12 malam karena mengalami masalah di ban belakang. Walhasil dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi, tidak ada seorang pun yang berani turun dari bus karena takut akan binatang liar. Sang kernet pun akhirnya memperbaiki ban bus saat pagi tiba.

Mulai SMA hingga kuliah, intensitas pulang kampung ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur sudah berkurang, tidak sesering SD atau SMP. Moda transportasi yang dipakai pun selain bus malam yaitu kereta api. Nah, sekarang karena saya sementara berdomisili di Simalungun sebenarnya ingin lagi merasakan sensasi naik bus malam. Hanya saja sangat sulit mencari waktu yang pas mengingat hari kerja yang padat dan cuti yang terbatas. Rute yang ingin dicoba yaitu rute Medan – Banda Aceh, Medan – Padang, atau Medan – Jakarta. Dari ketiga rute tersebut yang paling realistis yaitu Medan – Banda Aceh, hanya tinggal mencari momentum waktu yang pas saja untuk dieksekusi. Selain itu rute Medan – Jakarta menggunakan kapal laut pun sepertinya harus dirasakan mengingat serunya melintasi perjalanan laut. Perjalanan laut terpanjang yang pernah dirasakan hanya sekitar 5 jam, dari Sekupang menuju Lingga di Kepulauan Riau. Untuk rute Selat Sunda, tidak terlalu lama, hanya 2 jam. Nah, Untuk rute Medan – Jakarta kurang lebih akan memakan waktu 3 hari sehingga jadi lebih penasaran saja menggunakan moda tersebut.

Catatan Perjalanan · Dibalik Lensa

Lalat

Saat survey lapangan terakhir ke Kalimantan bulan lalu, sempat mengabadikan foto lalat hutan yang besarnya seujung jari kelingking saya. Itulah lalat terbesar yang pernah saya lihat seumur hidup. Foto diambil dengan mengandalkan mode makro kamera pocket biasa. Dari beberapa pengambilan gambar yang kebanyakan gagal hasilnya karena sang lalat selalu bergerak, hanya dua yang terbaik menurut saya yaitu gambar di bawah ini.

Sudut 1
Sudut 1
Sudut 2
Sudut 2

Sebenarnya ada satu binatang lagi yang berukuran besar yang sempat saya temukan di hutan yaitu semut. Hanya saja tidak sempat terdokumentasikan.

 

Catatan Perjalanan · Pariwisata

Toba #RandomPost

Mitos dan legenda adalah keniscayaan. Di Indonesia sendiri keduanya tumbuh dengan suburnya sesubur tanahnya. Biasanya hal ini dituturkan oleh orang tua kita dan selalu diwariskan ceritanya kepada keturunannya.

Hal inilah yang banyak saya temui saat berkunjung ke Danau Toba. Apabila kita bertanya kepada beberapa orang atau penduduk pasti akan dijawab terlebih dahulu dengan legenda yang membelakanginya. Ya, pasti sudah banyak tau kalau Danau Toba berasal dari Legenda yang terkenal tentang kisah anak manusia yang jatuh cinta dengan seekor ikan sakti. Ketiga tokoh legenda tersebut yaitu Nauli, Toba, dan Samosir. Dan kalau diceritakan, akan sangat panjang sampai-sampai ada tuh filmnya di MN* yang khusus menampilkan cerita-cerita rakyat tentang asal muasal suatu tempat. Di samping tentang kisah asal muasal Toba yang sudah sering saya dengar, ternyata ada satu lagi legenda yang tidak kalah serunya. Jika mengarungi Danau Toba dengan menggunakan kapal wisata pasti akan diajak ke lokasi Batu Gantung. Lagi-lagi akan munculah legenda yang membelakangi situs tersebut. Lain waktu mungkin akan saya posting ceritanya di balik batu gantungnya.

Batu gantung
Batu gantung

Pernah saya terpikir dalam lamunan. Sebenarnya penduduk yang tinggal di sekitar Danau Toba pada tau nggak ya kalau Danau Toba itu tercipta karena peristiwa plutonik yang mengubah bumi. Juga akan bahaya yang mengancam (silent threat) mereka apabila suatu saat aktivitas geologi vulkanik di sekitar Toba akan kembali aktif. Hmm, pastinya ada sedikit yang tau dan tak banyak pula yang tidak tau. Lagian ngapain juga ya dipikirin. Toh kebanyakan orang yang datang ke Toba kan hanya ingin bersenang-senang. Biasanya yang bikin rumit itu ya para peneliti.

Ngomong-ngomong tentang Toba, kawan memang nggak bisa dibohongi kalau pemandangan yang tersaji di sini luar biasa. Danau terasa seperti laut lengkap dengan goyangan ombak. Nggak kebayang kalau dulu betapa dahsyatnya aktivitas vulakano-tektonik yang terjadi. Kawah yang terbentuk pun luar biasa dalamnya dan luasnya. Bayangkan saja sudah pasti proses terbentuknya kawah hingga menjadi danau akan memakan waktu ribuan tahun mungkin. Inilah yang diteorikan William Moris Davis tentang siklusnya. Ya tiba-tiba teringat pelajaran geomorfologi saat kuliah dan tafsirnya tersaji di Danau Toba. Dan akhirnya sempat juga melihat yang orang geolog bilang tuf vulkanik. Batuan ini merupakan hasil keluaran dari letusan gunung berapi dan di Toba sini terdapat di sekeliling danau. Masih inget di otak, dulu pas kuliah liat gambar kayak gini di buku Geografi Regional Indonesia karangan Alm Prof Sandy.

Danau Toba
Danau Toba

#bahlias01122012