Tags

, , ,

Celotehan berikut ini merupakan buah dari perjalanan pulang kampung Lebaran lalu. Setelah pulang kampung dari Medan menuju Bogor, dilanjutkan lagi pulang kampung menuju Probolinggo dimana nenek satu-satunya saya masih sehat wal afiat. Sebenarnya perjalanan ke Probolinggo adalah hal dadakan mengingat baru direncanakan sewaktu baru tiba di Bogor. Hal ini pun sebagai pengisi sisa cuti 8 hari yang saya ambil jatahnya saat Lebaran tiba.

Lokasi wisata Gunung Bromo terletak di Kabupaten Probolinggo dan dari rumah nenek saya jika melakukan perjalanan darat menggunakan minibus hanya memakan waktu sekitar 3 jam saja. Ongkosnya pun relatif murah yaitu 20 ribu sekali jalan namun harus menunggu penuh dahulu baru jalan. Karena menunggu terlalu lama akhirnya saya mencarter minibus tsb untuk berangkat bertiga ditambah sepasang bule asal Spanyol. Karena mencarter maka biaya per sekali jalan menjadi 250ribu dibagi 5 kepala. Impaslah kami masing-masing membayar 50ribu untuk sekali jalan. Daripada waktu terbuang percuma lebih baik membayar lebih agar lebih cepat sampai lokasi.

Minibus

Sepanjang perjalanan dari Probolinggo jalanan relatif datar namun makin lama makin menanjak. Pemandangan disuguhi oleh ladang-ladang masyarakat yang ditanami tebu, padi, atau pohon-pohon kayu. Lama-lama tikungan semakin tajam ditambah dengan menanjak, kuping terasa pengang karena tekanan udara semakin rendah, udara dingin pun menyeruak merasuki minibus. Semakin mendekati lokasi jalur jalan semakin tidak karuan tikungannya, persis seperti jalanan yang berada di terasan kebun. Apabila menengok sebelah kanan yang ada adalah bukit-bukit curam mendongak, sebaliknya di sebelah kiri adalah jurang yang menganga lebar. Luar biasa memang lukisan alam yang terbentuk di sini.

Sesampainya di Taman nasional Bromo kami diharuskan membeli karcis seharga 6500. Seketika turun dari minibus udara dingin langsung menyergap. Angin khas gunung menerpa. Langit siang yang cerah dengan sinar matahari tidak terasa karena udara dingin. Tetiba terlihatlah rona gunung yang menyembul dari balik pohon cemara. Ya itulah Gunung Batok. Gambarnya sering menghiasi kalender ataupun iklan-iklan promosi pariwisata provinsi. Banyak orang salah kaprah dengan menyamakan Gunung Batok dan Gunung Bromo padahal keduanya memiliki morfologi berbeda.

Gunung Batok; Sering disangka Gunung Bromo oleh orang

Foto di atas persis diambil dari lokasi gazebo-gazebo yang disediakan oleh Taman nasional untuk melihat pemandangan kawah pasir. Puncak Bromo, Batok, dan puncak lainnya terletak di kawah pasir yang menurut saya merupakan kaldera dari Komplek Gunung Api. Luas kawah pasir sangat luas sejauh mata memandang dan sesuai namanya pasir vulkanik dengan butiran kecil beterbangan seiring dengan kencangnya angin yang ada. Jika berdiam diri saja selama 5 menit maka di sela-sela gigi kita akan terasa pasir yang masuk terselip lewat angin. Saran untuk pengunjung yaitu memakai masker, kacamata, dan kupluk agar selama disana tidak bermandi pasir.

Untuk menuju puncak Bromo, kita bisa sewa sepeda motor seharga 30ribu sampai 50ribu pulang pergi menuju Komplek Pura. Di lokasi ini pengojek akan menunggu sampai kita kembali lagi menuju gazebo. Sebaiknya selama dibonceng wajah harus tertutup rapat karena sewaktu-waktu ada pusaran angin kecil yang membawa butiran pasir debu ke sekeliling kita. Dari lokasi pura perjalanan menuju Puncak Bromo bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menaiki kuda. Berhubung seumur-umur belum pernah naik di atas punggung kuda akhirnya kami bertiga memantapkan diri menjadi pengendara kuda sampai titik perhentian puncak. Untuk menyewa kuda bisa ditawar dari kisaran harga 30ribu-50ribu pulang-pergi.

Ksatria berkuda

Melanjutkan ke puncak Bromo harus dilalui dengan berjalan kaki lewat anak tangga yang konon berjumlah 200. Saat saya ke sana karena erupsi terakhir, anak tangga tersebut tertutup oleh pasir tebal. Untuk pengunjung terutama perempuan yang memakai sepatu berhak harus ekstra hati-hati. Sebaiknya sih tanpa alas kaki saja agar tidak licin. Cukup menyedot energi untuk sampai di puncak, namun akan terpuaskan dengan melihat pemandangan yang ada. Voila. Tersajilah pemandangan kawah Bromo yang legendaris. Kawah ini merupakan tempat suci Suku Tengger yang beragama Hindu untuk menyerahkan sajen kepada Sang Hyang pada waktu tertentu seperti ritual tahunan Kesada. Tercium aroma belerang menyengat ditambah hempasan angin yang membawa butiran pasir debu.

Stairway to peak

Dari puncak kita bisa menyaksikan dengan jelas Gunung Batok, Pura, dan komplek kawah lautan pasir yang ada di sekeliling. Apabila berjalan terus ke arah selatan akan bertemu dengan Gung Semeru, tempat bersemayamnya para dewa.
Setelah berpuas memandangi alam dan bermandi pasir di Puncak Bromo segeralah untuk turun karena semakin sore angin yang berhembus membawa pasir debu akan semakin kencang bertiup.

#bahlias04102012