Tags

,

Disaat melihat koleksi foto-foto saat kuliah lapang dahulu di Banjarnegara, tersibaklah salah satu ingatan ketika melakukan pengamatan geomorfologi. Saya dan salah seorang kawan sekelompok, Zul, sepakat menyebut bentukan tersebut sebagai Devil’s Tower.

Image

Ini dia Devil’s Tower

Sebetulnya bentukan tersebut sering kita temui di dataran tinggi atau daerah berkapur yaitu berupa tebing cadas yang menjulang hingga memiliki kemiringan yang hampir tegak lurus mendekati ke arah puncaknya. Namun, yang menjadi istimewa adalah sepanjang melakukan pengamatan di daerah penelitian kelompok kami, Devil’s Tower selalu membuat penasaran. Bahkan, akhirnya kami memutuskan untuk menjelajahinya pada hari terakhir pengamatan kami.

Image

Jalur masuk menuju puncak

Pada kenyataannya kami sekelompok tidak sampai menuju puncak walaupun jalur tracking menuju ke atas sudah tersedia. Hal ini dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan kembali. Bisa dibilang perjalanan kami sudah mencapai 90% menuju puncaknya yang pada akhirnya kami memotong jalur menuju ke puncak. Kemiringan lereng yang kami lewati hampir vertikal, mungkin mencapai 60 derajat kemiringan. Apalagi, jalur yang kami lewati tersebut banyak ditanami pohon salak. Jika salah mengambil pegangan, bersiaplah telapak tangan bercucuran darah terkena duri-durinya. Berbicara buah salak, Banjarnegara adalah salah satu daerah penghasil salak yang terkenal. Rasanya tak kalah dengan salak pondoh. Menurut penuturan petani setempat, buah salak banjarnegara merupakan persilangan dari salak pondoh dan salak (lupa namanya).

Image

Jalur curam dan penuh pohon salak

Image

Titik terakhir

Akhirnya setelah mencapai titik terakhir, kami langsung turun setelah mengabadikan beberapa foto. Dan tak disangka, mengingat daerah pengamatan kami berada di dataran tinggi, sesuai dengan kaidah umum iklim bahwasanya semakin tinggi suatu tempat maka curah hujannya semakin tinggi juga, perjalanan pulang kami disambut oleh turunnya hujan.

Perjalanan turun

#bahlias23062012