Catatan Perjalanan · Dibalik Lensa

Kebun Binatang di Pedalaman Kutai Barat

Berjalan-jalan menjadi salah satu pengisi kegiatan saya di hari Minggu. Disamping menghilangkan kepenatan bekerja di luar pulau, dengan berjalan-jalan kita bisa menemui tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah kita temukan di kediaman kita sebelumnya. Untuk itulah tempat selalu dikatakan unik karena memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan tempat-tempat lainnya.

Ternyata, di pedalaman Kutai Barat yang ‘ramai’ oleh pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, atau dipenuhi semak belukar dan hutan saya masih bisa menemui tempat menarik yang dikelola oleh perusahaan pertambangan batu bara yang beroperasi di sekitar Camp Baru. Dinamakan Camp Baru. Bukan merupakan sebuah kota dan hanya merupakan ‘kota persinggahan’ kecil di jalan lintas trans Kalimantan. Tempat menarik tersebut yaitu kebun binatang yang dibentuk sebagai bagian dari kegiatan CSR perusahaan tambang batu bara GBPC bekerja sama dengan BKSDA setempat.

Lokasi kebun binatang ini tidak jauh dari jalan aspal. Hanya berjarak kurang lebih 500 meter dan tempat ini menyatu dengan fasilitas kantor perusahaan tambang. Tidak seperti kebun binatang yang ada di Pulau Jawa dimana pengunjung harus membayar tiket masuk, di sini pengunjung digratiskan untuk menikmati fasilitas kebun binatang ini. Pengunjung hanya diwajibkan untuk mengisi daftar hadir di bagian pos pengawasan utama.

Keberadaan kebun binatang yang berada di pedalaman seperti ini ternyata menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi penduduk yang mendiami dan tinggal di sekitar daerah tersebut. Selain dijadikan salah satu pilihan untuk melepas kepenatan, kebun binatang juga bisa dijadikan sarana edukasi bagi anak sekolah walaupun kondisi fasilitas yang ada di kebun binatang ini masih jauh dari keadaan yang bisa dikatakan baik. Di bawah ini merupakan sebagian hasil gambar yang saya ambil selama berkunjung ke kebun binatang tersebut. Selamat menikmati.

#tanjungisuy24032012

Rusa putih
Beruang madu si pemalas
Bangau yang selalu tidur dengan satu kakinya
Buaya
Orang utan
Dua monyet sedang mengintai pengunjung yang memerhatikannya dari luar kandang
Kera putih dan jari mungilnya

 

Catatan Perjalanan

Rumah Adat Lamin

Akhirnya di Bulan Maret lalu saya menginjakkan kaki kembali untuk kedua kalinya di Borneo karena mendapatkan tugas dinas dari kantor. Masih sama kesan saya saat kunjungan pertama kalinya, cuaca di sini sangat panas. Dan pada kunjungan kali ini saya memang mengagendakan untuk mengunjungi beberapa tempat menarik yang bisa dijadikan hiburan sejenak di pedalaman Kabupaten Kutai Barat.

Kunjungan ke Lamin menjadi salah satu prioritas pertama saya karena sangat penasaran dengan bentuk dari rumah adat suku Dayak ini. Saya dan satu orang kawan mengunjungi Rumah Adat Lamin Mancong yang berada di Kecamatan Mancong. Secara astronomis, terletak di 00o32’02’’ LS dan 116o04’43’’ BT.


Lamin

Rumah adat Lamin ini terletak di tengah perkampungan Suku Dayak Benuaq dan rumah adat ini merupakan salah satu tujuan lokasi kunjungan para wisatawan terutama yang berasal dari luar negeri. Menurut penduduk, hampir setiap harinya Lamin dikunjungi oleh para bule yang penasaran dengan bentuk rumah adat ini. Bahkan tidak jarang, akan dilakukan upacara penyambutan bagi pengunjung yang akan diselenggarakan oleh penduduk sesuai dengan permintaan pengunjung yang bersangkutan. Sayangnya, saat saya berkunjung hanya ada dua orang yaitu saya dan teman saya. Bahkan sang juru penjaga Lamin pun sedang tidak berada di tempat. Walhasil akhirnya kami berdua saja yang menjelajahi, masuk, keluar, menyusuri ruangan, dan tak lupa untuk mengabadikan gambar dengan menggunakan kamera saku.

Rumah lamin ternyata berukuran besar. Tak heran jika dahulu sebelum diresmikan sebagai Lamin adat (diresmikan tahun 1987), rumah ini dihuni oleh tak kurang dari 12 kepala keluarga yang hidup bersama dalam satu rumah. Menurut pengamatan, panjang rumah Lamin ini sekitar 30 meter dan lebar 15 meter (kira-kira lho). Pada bagian muka Lamin berdiri dengan gagahnya totem-totem khas dayak yang berbeda-beda antara satu patung dengan patung lainnya. Ada yang berupa lelaki dengan binatang anjing, wanita memakai kain, serta bentuk semi-abstrak lainnya yang mungkin agak serupa dengan totem-totem khas suku Indian. Hanya saja totem disini tidak berwarna alias alami. Bisa jadi fungsi dari totem-totem ini yaitu untuk mengusir roh-roh jahat mengingat kepercayaan suku dayak yang masih percaya dengan kekuatan-kekuatan gaib atau animisme.

Bahan utama bangunan rumah adat Lamin adalah kayu ulin atau banyak orang yang menyebutnya sebagai kayu besi. Disebut kayu besi karena memang jenis kayu tersebut adalah kayu yang sangat kuat. Bahkan banyak orang mengatakan jika kayu ulin terkena air maka justru tingkat kekuatannya akan semakin keras. Mungkin hal inilah yang membuat banyak orang yang membangun rumah di atas dataran rawa atau pinggiran sungai namun tahan lama umur bangunannya. Selain bangunan, totem-totem yang ada di bagian depan Lamin juga terbuat dari bahan kayu ulin. Menurut saya pribadi, bangunan yang terbuat dari bahan kayu ulin memiliki kesan mewah karena warna hitam khasnya. Hanya saja menurut penduduk sekitar saat ini agak sulit untuk mencari pohon ulin karena ada alih konversi lahan serta perambahan hutan-hutan.

Di bagian dalam lamin terdapat beberapa alat yang biasa digunakan dalam melakukan upacara adat tertentu. Sayangnya karena tidak ada guider, akhirnya kami hanya berjalan-jalan saja menjelajahi isi Lamin. Di bagian dalam Lamin sempat kami lihat ada beberapa tengkorak kepala kerbau yang bertuliskan tanggal waktu. Menurut saya tanggal tersebut menunjukkan kapan seseorang tersebut meninggal. Dan juga Saya yakin tengkorak tersebut adalah bagian dari upacara melepas kematian yang biasa dilakukan oleh suku Dayak. ‘Menyembelih’ kerbau adalah rangkaian puncak dari upacara Kuangkai (lihat postingan saya sebelumnya) yang dilakukan untuk upacara kepergian seseorang yang telah meninggal).

totem dan kayu ulin

         #tanjungisuy19032012