Resensi Buku

Bait-bait Suci Gunung Rinjani

Membaca akhirnya menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi saya selama bekerja di lingkungan perkebunan sawit. Apa pasal? Hanya dengan membacalah kita bisa menambah wawasan keilmuan dan juga sebagai pengisi waktu yang sangat bermanfaat di sela-sela waktu yang kosong.

Novel terakhir yang saya baca yaitu Bait-bait Suci Gunung Rinjani buah karya Khairul “Ujang” Siddiq. Novel tersebut terbitan Dian Rakyat tahun 2009. Pada sampul depan novel terdapat tulisan ‘Novel yang lahir dari jalanan’ yang akhirnya membuat saya penasaran untuk membaca novel tersebut.

Secara garis besar, alur cerita dari novel tersebut sederhana yaitu bercerita tentang kehidupan seorang Fajar, lulusan pesantren yang menyukai hiking sebagai sarana untuk bersyukur kepada Tuhan. Rangkaian alur cerita menyajikan potret pemuda mandiri yang memiliki pengetahuan agama dan mengamalkannya di dalam kehidupannya secara konsisten. Tampaknya penulis ingin menitikberatkan pada aspek dakwah dalam setiap alur cerita yang disajikannya.

Menurut saya, nilai moral yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca yaitu bagaimana seharusnya seorang muslim mengimplementasikan dan mengejawantahkan nilai-nilai Islam yang telah terintegrasi secara kultural (terutama agama warisan) secara konsisten. Penulis menyampaikan dan menyajikan kejadian-kejadian tersebut dalam praktik yang sederhana dan jamak terjadi dalam kehidupan remaja/pemuda terutama dalam konteks percintaan.

Selebihnya jika ingin mengetahui lebih lanjut jalan cerita dan petualangan Fajar sila saja baca novelnya dari awal halaman hingga akhir halaman. Nikmati rangkaian cerita yang sederhana namun sarat makna dengan nilai-nilai dakwah di setiap peristiwa yang diceritakan. 🙂

#bahlias17012012

GIS · Opini · Tips dan trik

The Utilization of Remotely Sensed Data for Plantation

During the recent decade, the use of data taken from remote sensing has been widely developed for many aspects in plantation. Begin with the application for mapped the field and plantation until the use of multi/hyperspectral censors for further application. The development of remote sensing application in plantation, generally agriculture, encourage the multi-disciplinary related science which later known as Precision Agriculture.

In precision agriculture, intervention of ge0-related science such as Geography, Geodesy, GIS and Agricultural science like Agronomy, Crop Protection, Plant Breeding are clearly visible in actual application. From various articles and journals related to precision agriculture that I have read, mostly the themes of them are related to the utilization of data from remote sensing. Due to its practicability and easiness of temporal acquisition, remote sensing data also show the accurate and precise result for identify and give the solution for agricultural problems.

Oil palm plantation play major role important in economic aspect in Indonesia. As the second largest (cmiiw) exporter of crude palm oil in the world, it is not surprising if there are a lot of plantation which owned by government or private. There are also many seed producer which have best quality such as SumBio, PPKS, etc.  The most important also, many of the plantation company in Indonesia which have utilized GIS as a decision support tools, mostly used for mapping their estate and for research purpose.

Using satellite imagery is one of various methods to get the spatial data, for example for mapping the estate. We can easily digitize the feature like main road, block road, field boundary, river, and many more. Estate mapping is essential for getting the basic data from remote sensing data. Besides, ground checking is also needed for taking the data which we could not get from satellite imagery such as if the area covered with cloud or its shadow. So, the combination source of data taken both from remote sensing and ground checking will improve the accurate and precise measurement.

Recent mapping related to oil palm plantation has a significantly shifting from only estate mapping to more detail mapping. As oil palm trees are valuable asset of the company, it is necessary for monitoring them individually. It has been done in oil palm company to monitor individual palm especially for research purposes which are related to pathology or daily census trees. Therefore, the same of how the data should be taken which previously described in the paragraph before, is absolutely can be applied. But because each of individual palm tree has absolute location, which represent in center point of its tree, it is better to use differential GPS receiver if the data taken from ground checking. Why this should be done? It is precision matter. Data with no differential post-processing have less accuration than using post-processing calculation.

Palm points classification from satellite imagery

Further development by multispectral bands or hyperspectral bands made the application of remote sensing in agriculture valuable. Recent research shows that there are corelation between near-infrared bands in multispectral with the leaf nutrients like nitrogen, magnesium, phosphorus, and sulfur so that with remote sensing data we can detecting and make prediction for nutrients management such as fertilizer recommendation and nutrients deficiency management. It also can be applied in pathology since Ganoderma became the major problems in every oil palm plantation in Indonesia. The oil palm trees which suffered from Ganoderma show stress on their leaves so we can detect the spread of oil palm trees  by using the vegetation index such as NDVI, GBNDVI, SR, etc.

#bahlias12012012

 

Opini

Postingan Pertama di 2012 :)

Kembang api
Kembang api

Akhirnya malam pergantian tahun telah lewat dan resmi mulai hari ini kita sudah hidup di masa tahun 2012. Sudah pasti banyak orang yang merayakannya dengan suka cita. Saya teringat dengan perayaan tahun baru pada tahun-tahun sebelumnya di Bogor, di mana pasti terjadi kemacetan yang tak terkira. Banyak orang yang menuju kawasan Puncak untuk sekedar menikmati hawa sejuk pegunungan. Akibatnya, Jalan Raya Tajur sebagai poros utama jalur menuju Puncak, selain Tol Jagorawi, walhasil tumpah ruah oleh berbagai kendaraan bermotor terutama yang beroda dua. Pernah sekali waktu saya akhirnya memutuskan untuk turun dari angkot dan berjalan kaki dari Biotrop sampai rumah karena jalan benar-benar ‘stuck in jam’, tersumbat sama sekali sehingga tidak ada yang bisa berjalan. Diantara sekian sebab itulah, selama ini saya memang tidak pernah mengagendakan acara khusus untuk tahun baru.

Tahun baru ini memang berbeda dengan sebelumnya. Yang pasti, ketika terjadi penggantian tahun tadi malam lokasi saya berbeda dengan lokasi yang saya tempati pada pergantian tahun pada tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya saya berada di sekitar lintang 6 dan bujur 106, maka saat ini saya berada di sekitar lintang 3 dan bujur 99. Hampir tidak ada bedanya perayaan tahun di mana pun. Suara terompet, petasan, dan kembang api seakan menjadi rukun tahun baru yang dilangsungkan di berbagai belahan dunia manapun.

Hampir sama dengan pergantian tahun-tahun sebelumnya, saya memang tidak punya agenda khusus untuk merayakan. Hanya berada di kamar mes dan bergumul dengan laptop yang terkoneksi dengan dunia maya. Tadinya saya sudah akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di malam tahun baru dan sayangnya takdir berkata lain. Jam 8 malam, ternyata sudah tertidur lelap dan hanya sesekali bangun ketika jam 12 malam, saat terdengar petasan dan suara terompet, selebihnya melanjutkan tidur yang sungguh terasa nikmat.

Dunia ‘social media’ sudah pasti statusnya bertemakan tahun baru. Kita bisa membaca berbagai ungkapan, harapan, dan doa dari teman-teman kita yang rajin mengupdate statusnya baik di facebook, twitter, plurk, dan sederet lainnya. Ada juga yang statusnya menarik perhatian saya karena amat menggugah. Seorang kawan yang solih mengupdate statusnya yang kurang lebih berisi seperti ini, “Tidur terbangun akan bisingnya suara gegap gempita kembang api. Dahsyat. Mirip Gaza kala dibombardir Zionis saja”. Saya cukup tersentak karena sungguh mengingatkan akan kondisi saudara-saudara kita di Gaza. Jika kita merayakan tahun baru dengan suka ria di sini dan di kota besar dengan suara kembang api yang gegap gempita, maka mungkin bagi saudara kita di Gaza suara-suara tersebut adalah hal yang biasa di tiap-tiap malam mereka, bahkan mungkin bersuasana mencengkam. Sungguh, mudah-mudahan saya menjadi lebih bersyukur dengan kondisi yang saya alami sekarang dan tidak termasuk orang-orang yang mmeubazirkan hartanya untuk sesuatu yang tidak begitu perlu. Tahun baru bukan saja untuk perayaan baru, tetapi juga bagaimana kita membentuk mental yang lebih baru.

Sumber Gambar di sini

#bahlias01012012