R

Rumah panggung

Semenjak menginjakkan kaki di Pulau kalimantan, ada hal yang saya perhatikan mengenai tempat tinggal para penduduk setempat. Hal ini bisa kita temukan tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pelosok. Justru memang di pelosok lebih mudah bagi kita untuk menemukannya. Apakah itu?

Ya, sesuai dengan judul postingan di atas kita dengan mudahnya menemukan Rumah Panggung dimana-mana. Foto pada gamabr di atas, diambil ketika saya mengunjungi perkampungan Dayak Benoa di Desa Dingin. Walaupun bernama Desa Dingin, suhu udara disini tidak sedingin namanya. Berdasarkan pengamatan saya, hampir kebanyakan pola permukiman disini memanjang mengikuti alur sungai. Adapun Desa Dingin berada di pinggiran Sungai Kedang yang merupakan salah satu dari anak Sungai Mahakam.

Mengapa pola permukiman memanjang mengikuti alur sungai?

Berdasarkan pengamatan saya, sungai di sini merupakan jalur transportasi yang vital untuk pergerakan penduduk. Hampir setiap hari kita bisa melihat hilir mudiknya penduduk yang melintasi sungai menggunakan Taksi (demikian penduduk sini menyebutnya), yakni perahu motor yang mengangkut penumpang atau menggunakan Ketinting (ukurannya lebih kecil daripada Taksi). Sehingga, dengan pertimbangan kemudahan untuk menjangkau sungai sebagai jalur utama transportasi itulah yang membuat pola permukiman di Desa Dingin mengikuti alur sungai. Adapun kata Ketinting pertama kali saya dengar dari teman seangkatan, Dicky, yang melakukan penelitian skripsinya di Kota Samarinda pada tahun 2010.

Rumah Panggung

Ketika melihat deretan rumah panggung, satu pertanyaan yang melintas dalam benak saya adalah ‘mengapa harus rumah panggung’? Pertanyaan ini bisa saya jawab ketika melintasi deretan rumah panggung yang berjejer di sekitar Tenggarong. Rumah panggung yang saya lihat kebanyakan berdiri di atas rawa. Ya, rawa merupakan wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya sehingga hampir pasti dapat kita temui genangan air. Jawaban sementara tersebut akhirnya bertahan sampai akhirnya  tiba di tempat yang lebih terpelosok, tepatnya di Tanjung Isuy.

Ternyata, tidak semua rumah panggung yang saya temui di Tanjung Isuy dibangun di atas rawa. Banyak rumah panggung yang dibangun di atas tanah datar yang bukan rawa (contohnya foto di atas). Untuk sementara jawaban sementara sebelumnya gugur. Dan akhirnya, saya mempertimbangkan aspek budaya untuk menjawab pertanyaan utama. Lamin, merupakan salah satu rumah adat suku Dayak yang berupa rumah panggung dan memanjang. Biasanya ditempati oleh lebih dari satu keluarga. Bermula dari kenyataan inilah akhirnya saya punya jawaban tersendiri yang merupakan gabungan dari jawaban sebelumnya.

Rumah panggung yang banyak didirikan oleh suku Dayak, bisa jadi dipengaruhi oleh keadaan fisik wilayah yang didominasi dataran rendah, terutama rawa. Hal ini kemungkinan menjadi salah satu faktor pemicu mengapa nenek moyang suku Dayak membangun rumah panggung. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan ini pun diwariskan turun temurun sehingga masih tetap dipertahankan sampai saat ini. Gabungan antara faktor fisik dan budaya inilah yang menjadi jawaban saya dari pertanyaan ‘mengapa harus rumah panggung’.

#bahlias29122011