Uncategorized

2012

I found many people in social networking media like facebook and twitter yelled and generally happy to face the new years which will come for 2 days from now. The trully facts which will happen in the next two days is our age reduce days by days, weeks by weeks, months by months, and years by years. So, what will you do in the next year?
Many people always talk about resolution  for facing the new years. This is not bad and we should to arrange if necesarry. The question is how to define your resolution?
To answer above question, I hope this link will benefit for those of you who will arrange your goals in the next following years.I have read this and, I hope I can define my own resolution.

Here is the link: 5 Keys to Making and Keeping Your New Year Resolutions

#bahlias30122011

Catatan Perjalanan

Catatan Kecil Borneo

R
Rumah panggung

Semenjak menginjakkan kaki di Pulau kalimantan, ada hal yang saya perhatikan mengenai tempat tinggal para penduduk setempat. Hal ini bisa kita temukan tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pelosok. Justru memang di pelosok lebih mudah bagi kita untuk menemukannya. Apakah itu?

Ya, sesuai dengan judul postingan di atas kita dengan mudahnya menemukan Rumah Panggung dimana-mana. Foto pada gamabr di atas, diambil ketika saya mengunjungi perkampungan Dayak Benoa di Desa Dingin. Walaupun bernama Desa Dingin, suhu udara disini tidak sedingin namanya. Berdasarkan pengamatan saya, hampir kebanyakan pola permukiman disini memanjang mengikuti alur sungai. Adapun Desa Dingin berada di pinggiran Sungai Kedang yang merupakan salah satu dari anak Sungai Mahakam.

Mengapa pola permukiman memanjang mengikuti alur sungai?

Berdasarkan pengamatan saya, sungai di sini merupakan jalur transportasi yang vital untuk pergerakan penduduk. Hampir setiap hari kita bisa melihat hilir mudiknya penduduk yang melintasi sungai menggunakan Taksi (demikian penduduk sini menyebutnya), yakni perahu motor yang mengangkut penumpang atau menggunakan Ketinting (ukurannya lebih kecil daripada Taksi). Sehingga, dengan pertimbangan kemudahan untuk menjangkau sungai sebagai jalur utama transportasi itulah yang membuat pola permukiman di Desa Dingin mengikuti alur sungai. Adapun kata Ketinting pertama kali saya dengar dari teman seangkatan, Dicky, yang melakukan penelitian skripsinya di Kota Samarinda pada tahun 2010.

Rumah Panggung

Ketika melihat deretan rumah panggung, satu pertanyaan yang melintas dalam benak saya adalah ‘mengapa harus rumah panggung’? Pertanyaan ini bisa saya jawab ketika melintasi deretan rumah panggung yang berjejer di sekitar Tenggarong. Rumah panggung yang saya lihat kebanyakan berdiri di atas rawa. Ya, rawa merupakan wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya sehingga hampir pasti dapat kita temui genangan air. Jawaban sementara tersebut akhirnya bertahan sampai akhirnya  tiba di tempat yang lebih terpelosok, tepatnya di Tanjung Isuy.

Ternyata, tidak semua rumah panggung yang saya temui di Tanjung Isuy dibangun di atas rawa. Banyak rumah panggung yang dibangun di atas tanah datar yang bukan rawa (contohnya foto di atas). Untuk sementara jawaban sementara sebelumnya gugur. Dan akhirnya, saya mempertimbangkan aspek budaya untuk menjawab pertanyaan utama. Lamin, merupakan salah satu rumah adat suku Dayak yang berupa rumah panggung dan memanjang. Biasanya ditempati oleh lebih dari satu keluarga. Bermula dari kenyataan inilah akhirnya saya punya jawaban tersendiri yang merupakan gabungan dari jawaban sebelumnya.

Rumah panggung yang banyak didirikan oleh suku Dayak, bisa jadi dipengaruhi oleh keadaan fisik wilayah yang didominasi dataran rendah, terutama rawa. Hal ini kemungkinan menjadi salah satu faktor pemicu mengapa nenek moyang suku Dayak membangun rumah panggung. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan ini pun diwariskan turun temurun sehingga masih tetap dipertahankan sampai saat ini. Gabungan antara faktor fisik dan budaya inilah yang menjadi jawaban saya dari pertanyaan ‘mengapa harus rumah panggung’.

#bahlias29122011

Catatan Perjalanan · Kuliner

Sop Daging Rusa

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan, saya akhirnya mencicipi juga nikmatnya Sop Daging Rusa. Dan tak kepalang tanggung, langsung mencobanya di pedalaman Kalimantan tepatnya di Satuan Permukiman (demikian saya menyebutnya karena bukan merupakan sebuah kota juga) Lebak Cilong.

Sepintas dagingnya memang seperti daging sapi pada umumnya. Namun akan terasa saat gigitan pertama masuk ke rongga mulut kita. Dagingnya sungguh terasa sangat lembut dan lebih ‘manis’ jika dibandingkan dengan daging sapi atau kambing. Yang saya suka dari Sop Daging Rusa di Lebak Cilong ini, bumbunya tidak terlalu neko-neko sehingga rasanya lebih ‘jujur’. Mungkin tebakan saya, bumbunya hanya bawang putih dan garam saja, hehe.

#bahlias17122011

Catatan Perjalanan

Kuangkai

Prolog

Beruntung sekali akhirnya saya menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan untuk pertama kalinya. Pulau luas yang memiliki kekayaan budaya dan juga kekayaan perut bumi ini akhirnya saya injak pada tanggal 30 November. Ternyata berada di sekitar garis khatulistiwa memang membuat tubuh terasa gerah. Lebih gerah dibandingkan di lintang 1 derajat lintang utara atau di sekitar 6 derajat lintang selatan.

In the heart of Borneo

Setelah menempuh perjalanan darat selama delapan jam dari Samarinda, akhirnya sampailah di Tanjung Isuy. Tanjung Isuy merupakan lokasi penempatan kerja saya selama di Kalimantan. Tempat ini berada di Kabupaten Kutai Barat dan selama saya menempuh perjalanan hampir selalu menemui hutan sekunder atau ladang-ladang yang diolah penduduk sekitar. Adapun akses selama saya menempuh perjalanan ke Tanjung Isuy relatif baik, namun banyak sekali diselingi oleh kondisi jalan yang rusak parah dengan topografi yang bergelombang. Ada baiknya jika ingin menempuh jalur transportasi darat di Kalimantan pada siang hari mengingat hampir di seluruh ruas jalan pedalaman tidak memiliki lampu penerangan.

Sesekali pada saat menempuh perjalanan, tampak permukiman penduduk yang mengelompok yang dapat kita temui sepanjang jalan. Tampak beberapa penduduk yang ada bermata sipit dan berkulit cokelat muda dan cerah. Ya, itulah penduduk yang bersuku Dayak. Akhirnya kesampaian juga bertemu langsung dengan orang Dayak. Wajahnya khas dan unik, apalagi jika berbicara bahasa Indonesia dengan mereka hehe.

Ritual Kematian

Dalam suatu kesempatan berkunjung ke Desa Dasaq, saya dan beberapa rekan kolega kerja pernah diundang pada suatu malam untuk menghadiri ritual “Kuangkai”. Ritual Kuangkai adalah salah satu rangkaian ritual untuk menghormati arwah orang yang sudah meninggal. Ritual Kuangkai memiliki rangkaian upacara yang sangat panjang, yaitu selama dua bulan penuh sejak mumi orang yang meninggal diambil sampai acara puncaknya yang biasanya diakhiri dengan mengurbankan kerbau atau sapi.

Ritual Kuangkai diselenggarakan setiap hari selama dua bulan di salah satu rumah penduduk yang menyelenggarakan upacara tersebut. Sebelum dimulai aktivitas ritual, terlebih dahulu diambil mumi orang yang sudah meninggal tersebut lalu ditaruh di dalam rumah kayu kecil dan ditaruh di bagian tengah rumah yang digantung dengan menggunakan penyangga sehingga bisa diayun-ayun. Di dekat dengan rumah kayu juga tergantung miniatur patung orang yang telah meninggal. Di sekitar ayunan tersebut terdapat semacam pelaminan tertutup yang berisi barang-barang yang dibutuhkan arwah. Ada juga benda-benda seperti baju, termos, rantang, panci, dan perabotan lainnya yang digantung berdekatan dengan gantungan ayunan rumah kayu yang berisi mumi yang meninggal. Benda-benda tersebut dipercaya sebagai benda yang dibutuhkan oleh arwah dalam menempuh alam selanjutnya. Pada puncak acara, benda-benda tersebut akan dibagikan kepada para pelayat yang menghadiri upacara ritual Kuangkai.

"Ritual Kuangkai"
Perlengkapan Ritual Kuangkai

Ritual Kuangkai yang saya datangi dimulai pada saat malam hari jam 9. Dan saya sangat menyesal tidak membawa kamera saku saat ritual, padahal ritual tersebut cukup menarik dan unik untuk diabadikan. Terpaksa akhirnya yang menjalankan tugas untuk mengabadikan momen tersebut yaitu kamera dari ponsel saya yang pas-pasan dan tak memiliki lampu flash.

Setiap hari mulai pagi hingga malam, ada pawang yang mendoakan arwah tersebut dengan mantra-mantra tertentu dan dilakukan secara terus menerus di dalam rumah. Adapun ritual Kuangkai dilaksanakan dengan melakukan tarian-tarian yang memutari rumah kayu yang tergantung sebagai pusat putaran. Tarian ini disebut dengan “Ngarangkau”. Tarian ini dimulai dengan tarian yang dilakukan oleh sekelompok laki-laki dahulu baru kemudian dilanjutkan oleh kelompok perempuan. Tarian yang dilakukan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya dimana saya membayangkan baju adat yang dipakai adalah baju hitam dengan aksesoris bulu burung berwarna panjang. Ternyata Ngarangkau dilakukan hanya dengan menggunakan aksesoris seperti:

– Bioyak : Semacam mahkota sebagai pengganti rambut orang yang sudah mati

– Ulap : Kain khas Dayak Benoa, hanya dipakai oleh wanita ketika melakukan ritual

– Gamelan : Sama seperti gamelan Jawa. bahkan menurut penuturan orang yang memiliki hajat Kuangkai, Gamelan tersebut sudah ada sejak zaman Portugis dan khusus didatangkan dari Tanah Jawa. Karena umur Gamelan yang diperkirakan sekitar 300an tahun, gamelan tersebut memiliki warna yang kusam kehitaman

– Kendang

Ngarangkau

Sambil melakukan tarian Ngarangkau, para penari menari sambil membawa gendongan yang diikat dengan selendang. Gendongan tersebut berisi tulang belulang orang yang sudah mati. Biasanya penari yang berada di paling depan membawa tempurung tengkorak, sedangkan penari-penari di belakangnya membawa sisa-sisa tulangnya. Saat berada dalam area tarian, suara sungguh berisik karena gamelan dan kendang bertalu talu diikuti dengan tarian para penari yang melangkah silang sambil mengayunkan kedua tangannya. Ritual Ngarangkau berlangsung selama kurang lebih 1 jam dan setelah berakhirnya Ngarangkau sang pawang akan kembali mendoakan arwah tanpa hentinya.

Setelah ritual Ngarangkau dilangsungkan, dimulai kembali rangkaian ritual Kuangkai selama dua bulan tersebut di luar rumah. Dengan menempati area panggung kayu yang ditinggikan rendah di situlah dilangsungkan ritual Takok. Takok merupakan bagian dari ritual Kuangkai dan diikuti oleh anak kecil hingga orang dewasa. Sepengetahuan saya dengan melihat Takok, ritual tersebut semacam perjudian dengan menggunakan dadu balok panjang yang memiliki dua warna, merah dan putih. Kegiatan ini dimainkan dengan menggunakan papan yang memiliki empat sisi dimana sang bandar akan menempati salah satu sisinya. Sebagian keuntungan dari permainan judi ini akan disumbangkan kepada sang pemilik hajat dan sisanya tentunya diambil oleh pihak yang beruntung memenangkan taruhannya. Yang membuat saya kaget ketika disini yaitu ada gadis-gadis kecil berumur 7 tahun yang ikut bermain Takok. Wow, agak ngeri sebenarnya membayangkannya namun itulah yang terjadi di depan mata saya. Dengan entengnya mereka bertaruh dengan uang dan dengan lihainya menarik taruhan jika ia telah memenangkan taruhan. Sebenarnya setelah memelototi mereka bermain selama kurang lebih 1 jam, sampai sekarang pun bahkan saya masih nelum mengerti tata cara permainan Takok ini.

Takok

Sayangnya ritual puncak dari Kuangkai tidak dapat disaksikan namun setidaknya sudah cukup banyak tradisi budaya setempat (Dayak Benoa) yang saya saksikan. Semoga di lain kesempatan bisa melihat tradisi kekayaan budaya dari Suku Dayak lainnya seperti Iban ataupun Punan.

#TanjungIsuy07122011 23.00 WITA