Tags

, , ,

Peta adalah senjata. Senjata untuk melakukan penaklukan dan penjajahan suatu Negara. Hal ini sudah terbukti pada masa lampau, bahkan mungkin berlanjut sampai sekarang, dimana dengan bermodalkan peta kolonialisme merajalela di berbagai belahan dunia yang dipelopori oleh Negara-negara Barat. Saking sakti mandragunanya sebuah peta, bangsa Eropa mampu menjelajahi lautan untuk menaklukan Afrika, India, Nusantara, bahkan hingga Polinesia. Tak kurang dari sumber daya alamnya hingga sumber daya manusia disedot sampai habis untuk memuaskan nafsu menjajah para imperialis. Peta memainkan peranan penting pada masa itu sehingga bisa dikatakan peta Nusantara saat itu layaknya peta harta karun yang bisa memperkaya diri Negara penjajah.

Saat ini, peta bisa didapatkan dimana saja. Bahkan hanya dengan bermodalkan komputer dan koneksi internet, informasi permukaan bumi demikian mudahnya didapatkan. Makna peta sebagai senjata kolonialisme pun sudah sedikit bergeser karena kemudahan akses untuk mendapatkan data peta. Saat ini disamping sebagai alat untuk monitoring sumberdaya alam, peta digunakan juga sebagai senjata bagi para ilmuwan yang berkecimpung di bidang geospasial.

Pemetaan dulu dan kini

Teknologi pemetaan yang ada dahulu amat berbeda dengan yang ada pada masa kini. Jika kita beranjak keluar dari masa Idrisi dan Gerardus Mercator (pada masa dimana alat ukur teodolit sudah ada), maka akan terlihat perbedaan mencolok antara keduanya. Dahulu, dengan menggunakan teodolit, sorang juru ukur melakukan pengukuran suatu area dengan terjun langsung menembus belantara yang ganas sehingga untuk menghasilkan peta memerlukan waktu yang cukup lama. Belanda yang dahulu pernah menjajah Negara kita adalah sedikit dari salah satu para jago dalam hal teknologi pemetaan pada saat itu. Kita pun beruntung karena peninggalan titik kontrol peta masih ada dan bahkan dipakai juga oleh kita hingga kini.

Selain melakukan pengukuran triangulasi dari titik-titik kontrol yang sudah ditentukan, para juru ukur juga harus melakukan pemetaan garis kontur, toponimi, jalan, sungai, serta kondisi permukiman pada saat itu. Tak terbayang juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar peta yang sudah jadi. Sehingga tak heran jika peta yang dihasilkan adalah informasi yang sangat berharga karena memuat informasi keadaan alam yang ada pada saat itu.

Saat ini dengan berkembangnya teknologi pemetaan seperti GPS tentunya mempercepat proses dalam proses pembuatan peta dengan ketelitian yang tak jauh beda jika dikerjakan dengan cara manual. Teknik pemetaan pun beralih, dari teknologi intip-intip melalui teodolit menuju teknologi pencet-pencet melalu alat GPS. Saat ini teknologi GPS untuk keperliuan navigasi sudah menghasilkan ketelitian hingga 5 meter sedangkan untuk geodetic bahkan mencapai tingkat ketelitian hingga sentimeter. Konon, sistem GPS militer milik Amerika sudah memiliki tingkat ketelitian hingga millimeter namun tertutup dan rahasia.

Sistem dulu dan sekarang

 

Antara pemetaan dahulu dan sekarang, sama-sama memuat informasi geografis. Yang membedakan adalah sistemnya. Dahulu data-data peta disimpan secara manual hingga berlembar-lembar banyaknya. Selain memenuhi ruangan, lembaran peta pun berpotensi rusak karena pengaruh cuaca atau lapuk karena umur. Berbeda dengan saat ini dimana informasi peta disimpan dalam format digital atau terkomputerisasi. Jika kita melakukan perbandingan waktu untuk melakukan reproduksi peta masa lalu dengan masa kini maka akan didapat perbedaan waktu yang signifikan prosesnya. Produksi peta yang sudah tersimpat dalam sistem komputer akan memungkinkan reproduksi dan manipulasi peta berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara manual.

 

Sistem Informasi Geografis (SIG) atau GIS (Geographical Information System) inilah yang menjadi basis sistem dalam pengelolaan data geografis yang mencakup penyimpanan, pengolahan, manipulasi, dan pengeluaran dalam bentuk peta yang tersusun dalam sistem berbasis komputer. Saat ini teknologi GIS yang juga kerap disandingkan bersamaan dengan Remote Sensing, amat pesat perkembangannya antara lain karena sifatnya yang multi guna di berbagai bidang (multisiplin). GIS bisa menjamah bidang-bidang seperti militer, pertanian, kehutanan, kependudukan, perkebunan, arkeologi, kesehatan, dan masih banyak lagi bidang yang lain.

#bahlias13112011