Uncategorized

Kontemplasi

Waktu memang akan dan selalu menjadi misteri. Bagaimana tidak, mau bagaimanapun kondisi bumi dan alam semesta ini waktu pasti akan terus berjalan. Detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, dan seterusnya. Jikalau waktu bisa dijelajahi, mungkin banyak orang yang menginginkan untuk segera kembali ke masa lalunya atau mungkin melaju ke masa depannya. Mungkin saja di masa lalu banyak kenangan indah yang akan diselaminya kembali atau banyak orang penasaran akan masa depannya sehingga tidak sabar untuk pergi ke masa depan. Namun kenyataannya kita tidak dapat kembali ke masa lalu ataupun pergi ke masa depan. Saat inilah ‘masa’nya kita.

Penyesalan dalam hidup pasti pernah dirasakan oleh semua orang. Bisa saja orang meratapi masa lalunya karena salah pilihan. Lalu ia tenggelam dalam lautan penyesalan hingga akhirnya malah lupa bahwa pilihan yang dipilihnya adalah pilihan Tuhan juga. Saking larutnya dalam penyesalan, bisa jadi orang tersebut tidak langsung berkaca kepada kenyataan. Ia tidak dapat menerima kenyataan hidup. Jiwanya lunglai hingga akhirnya jatuh kepada keputus-asaan.

Hidup tanpa perencanaan seperti kapal tanpa nahkoda. Kita wajib berusaha dan hasilnya serahkanlah pada Tuhan. Bentuk dan susunlah perencanaan hidup kita. Rancang target jangka pendek, menengah, dan juga jangka panjangnya. Tentukan perangkat-perangkat untuk menuju dan mencapai target kita. Dan jangan lupakan, persiapkan target cadangan kita. Bila perlu, persiapkan dari rencana cadangan A sampai Z karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.

#bahlias26112011

GIS

Kemampuan Export ArcGIS 9.3

Selama bergelut dengan dunia per-GIS-an selama kurang lebih empat tahun, selama itu pula penulis akrab dengan perangkat lunak produksi ESRI seperti ArcView GIS dan ArcGIS. Terdapat perbedaan kemampuan antara format lama (ArcView) dengan format baru (ArcGIS) termasuk juga segala kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti, yang muncul terakhir tentunya memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dibandingkan dengan perangkat yang terdahulu.

Saat ini, produk terbaru yang dikeluarkan oleh ESRI yaitu ArcGIS 10, menggantikan pendahulunya yang masih versi 93. Walaupun penulis belum pernah merasakan performa dari ArcGIS 10, penulis masih merasa cukup dengan performa versi ArcGIS 93 disamping masih mempertimbangkan kemampuan hardware laptop yang kurang mendukung juga sehingga tetap memakai versi sebelumnya.

Migrasi antara kemampuan ArcGIS dari versi 92 ke 93 memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam hal export file yang bertipe pdf. Jika dahulu dengan versi 92 hanya bisa dihasilkan file bertipe pdf yang standar sifatnya dengan kata lain tidak berbeda dengan file yang di export bertipe image seperti jpg, tiff, atau png. Dengan menggunakan tipe 93 ini, kita dapat mengexport file pdf yang memiliki georeferensi atau dengan kata lain memiliki informasi koordinat serta atribut fitur yang dimiliki pada project  mxd yang kita pakai. Tentunya fitur ini sangat bermanfaat dan memudahkan end user untuk mengetahui informasi ‘lebih’ yang terdapat pada petanya.

Fitur yang baru diperkenalkan pada versi 93 ini tentunya memiliki beberapa ketentuan yaitu user harus menginstall patch tambahan sehingga fitur export ke file pdf yang bergeoreferensi dapat diaktifkan. Patch in tersedia di website Esri dan dapat diunduh secara gratis. Selain itu, untuk dapat melihat fitur baru tersebut pada file pdf yang bersangkutan, adobe reader yang kita miliki sebagai viewer data pdf harus yang sudah versi 9 atau 10. Jika kita buka file pdf dengan menggunakan versi lama seperti  adobe reader 8 hanya akan terlihat sama dan informasi geografis tidak akan keluar. Berikut ini terlampir gambar yang menunjukkan informasi georeferensi tambahan termasuk informasi atribut layer  yang bisa kita lihat dari adobe reader. Semoga bermanfaat.

#bahlias19112011

Geografi · GIS · Opini

Pemetaan

Peta adalah senjata. Senjata untuk melakukan penaklukan dan penjajahan suatu Negara. Hal ini sudah terbukti pada masa lampau, bahkan mungkin berlanjut sampai sekarang, dimana dengan bermodalkan peta kolonialisme merajalela di berbagai belahan dunia yang dipelopori oleh Negara-negara Barat. Saking sakti mandragunanya sebuah peta, bangsa Eropa mampu menjelajahi lautan untuk menaklukan Afrika, India, Nusantara, bahkan hingga Polinesia. Tak kurang dari sumber daya alamnya hingga sumber daya manusia disedot sampai habis untuk memuaskan nafsu menjajah para imperialis. Peta memainkan peranan penting pada masa itu sehingga bisa dikatakan peta Nusantara saat itu layaknya peta harta karun yang bisa memperkaya diri Negara penjajah.

Saat ini, peta bisa didapatkan dimana saja. Bahkan hanya dengan bermodalkan komputer dan koneksi internet, informasi permukaan bumi demikian mudahnya didapatkan. Makna peta sebagai senjata kolonialisme pun sudah sedikit bergeser karena kemudahan akses untuk mendapatkan data peta. Saat ini disamping sebagai alat untuk monitoring sumberdaya alam, peta digunakan juga sebagai senjata bagi para ilmuwan yang berkecimpung di bidang geospasial.

Pemetaan dulu dan kini

Teknologi pemetaan yang ada dahulu amat berbeda dengan yang ada pada masa kini. Jika kita beranjak keluar dari masa Idrisi dan Gerardus Mercator (pada masa dimana alat ukur teodolit sudah ada), maka akan terlihat perbedaan mencolok antara keduanya. Dahulu, dengan menggunakan teodolit, sorang juru ukur melakukan pengukuran suatu area dengan terjun langsung menembus belantara yang ganas sehingga untuk menghasilkan peta memerlukan waktu yang cukup lama. Belanda yang dahulu pernah menjajah Negara kita adalah sedikit dari salah satu para jago dalam hal teknologi pemetaan pada saat itu. Kita pun beruntung karena peninggalan titik kontrol peta masih ada dan bahkan dipakai juga oleh kita hingga kini.

Selain melakukan pengukuran triangulasi dari titik-titik kontrol yang sudah ditentukan, para juru ukur juga harus melakukan pemetaan garis kontur, toponimi, jalan, sungai, serta kondisi permukiman pada saat itu. Tak terbayang juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar peta yang sudah jadi. Sehingga tak heran jika peta yang dihasilkan adalah informasi yang sangat berharga karena memuat informasi keadaan alam yang ada pada saat itu.

Saat ini dengan berkembangnya teknologi pemetaan seperti GPS tentunya mempercepat proses dalam proses pembuatan peta dengan ketelitian yang tak jauh beda jika dikerjakan dengan cara manual. Teknik pemetaan pun beralih, dari teknologi intip-intip melalui teodolit menuju teknologi pencet-pencet melalu alat GPS. Saat ini teknologi GPS untuk keperliuan navigasi sudah menghasilkan ketelitian hingga 5 meter sedangkan untuk geodetic bahkan mencapai tingkat ketelitian hingga sentimeter. Konon, sistem GPS militer milik Amerika sudah memiliki tingkat ketelitian hingga millimeter namun tertutup dan rahasia.

Sistem dulu dan sekarang

 

Antara pemetaan dahulu dan sekarang, sama-sama memuat informasi geografis. Yang membedakan adalah sistemnya. Dahulu data-data peta disimpan secara manual hingga berlembar-lembar banyaknya. Selain memenuhi ruangan, lembaran peta pun berpotensi rusak karena pengaruh cuaca atau lapuk karena umur. Berbeda dengan saat ini dimana informasi peta disimpan dalam format digital atau terkomputerisasi. Jika kita melakukan perbandingan waktu untuk melakukan reproduksi peta masa lalu dengan masa kini maka akan didapat perbedaan waktu yang signifikan prosesnya. Produksi peta yang sudah tersimpat dalam sistem komputer akan memungkinkan reproduksi dan manipulasi peta berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara manual.

 

Sistem Informasi Geografis (SIG) atau GIS (Geographical Information System) inilah yang menjadi basis sistem dalam pengelolaan data geografis yang mencakup penyimpanan, pengolahan, manipulasi, dan pengeluaran dalam bentuk peta yang tersusun dalam sistem berbasis komputer. Saat ini teknologi GIS yang juga kerap disandingkan bersamaan dengan Remote Sensing, amat pesat perkembangannya antara lain karena sifatnya yang multi guna di berbagai bidang (multisiplin). GIS bisa menjamah bidang-bidang seperti militer, pertanian, kehutanan, kependudukan, perkebunan, arkeologi, kesehatan, dan masih banyak lagi bidang yang lain.

#bahlias13112011

 

 

Uncategorized

Transfer Shapefile ke Garmin GPS

Karena pesatnya perkembangan teknologi pemetaan, begitu mudahnya kita menjumpai alat-alat untuk mendukung pekerjaan tersebut. Alat yang jamak dijumpai oleh kita adalah apa yang dinamakan alat penerima sinyal GPS yang biasanya orang langsung menyebut dengan GPS. Dengan menggunakan GPS, dengan mudahnya kita akan mengetahui dimana lokasi kita pada saat melakukan penjelajahan atau perjalanan.

Garmin merupakan salah satu vendor dari alat penerima sinyal GPS yang bertipe navigasi dan banyak dipakai di seluruh dunia. Mulai dari tipe e-trex, 60i, 76csx, dan sederet model dan rupa bentuknya akrab digunakan para penggiat keilmuan multidisiplin yang selalu melibatkan ‘tempat’ dalam praktik kegiatannya.

Saat kita menggunakan GPS, versi default dari sistemnya biasanya sudah terinput data global seperti kota-kota besar dunia, garis pantai, atau jalan-jalan utama di Negara-negara tertentu. Namun, bagaimana jika kita ingin menginput data sendiri milik kita yang memiliki skala besar misalnya seperti jalan/gang di kelurahan, atau persil bangunan di RW kita?

Untuk mentransfer data ke dalam GPS Garmin tidak semudah layaknya kita mengirim data ke dalam flashdisk kita. Dibutuhkan beberapa tahapan sehingga data yang kita inginkan dapat kita masukkan dan menjadi latar belakang GPS kita.

  1. Siapkan shapefile (.shp) data yang akan kita transfer ke dalam GPS kita. Untuk memasukkan data ke dalam GPS Garmin, kita tidak dapat mengirim langsung menggunakan shp yang bersangkutan. Siapkan seluruh file yang akan kita masukkan seperti misalnya layer jalan, sungai, persil bangunan, dan data lainnya yang ingin kita transfer.
  2. Persiapkan perangkat lunak MapEdit, CGPSMapper routable, dan SendMap. Silakan dicari dan ditelusuri di situs pencari.
  3. Selanjutnya, kompilasi data yang ingin kita kirim dari format shp ke dalam format image (.img). Namun sebelum ke dalam format img, kita harus merubahnya terlebih dahulu ke dalam format polish map format (.mp) dengan menggunakan perangkat MapEdit. Data yang akan kita kompilasi ke dalam format mp ini akan tergabung menjadi satu. Misalkan kita memiliki data jalan, sungai, dan persil. Maka hasil dari kompilasi file tersebut akan menjadi satu file saja, misalkan menjadi bernama (dataku.mp) Pada tahapan ini kita pun dapat mengatur faktor skala sesuai dengan selera yang kita inginkan.
  4. Setelah dikompilasi ke dalam format mp, maka selanjutnya kita tinggal mengconvertnya ke dalam format img karena untuk memasukkan data ke dalam GPS Garmin harus berada dalam format seperti ini.
  5. Untuk menjalankan perangkat ini mungkin agak mengalami kesulitan bagi sebagian besar pengguna karena berformat command prompt untuk menjalankan perintahnya. Caranya, setelah masuk dalam command prompt, ketik saja root drive dimana kita menyimpan perangkat tersebut kemudian tekan enter. Misalkan kita menaruh perangkat tersebut di drive D dalam folder CGPSMapper (D:\software\CGPSMapper\CGPSMapper.exe).
  6. Setelah masuk ke dalam program, tinggal salin perintah untuk membuka program (pada langkah sebelumnya) lalu tambahkan spasi dan ketiklah drive dimana kita menyimpan file yang berformap mp tadi. Jalankan (ketik enter) dan tunggu hingga file img dibuat pada drive yang sama seperti tempat penyimpanan file berformat mp.
  7. Setelah file berformat img jadi, tinggal unggah pada GPS Garmin kita dengan terlebih dahulu membuka software SendMap.
  8. Nyalakan GPS Garmin dan file yang kita unggah siap digunakan. Jika belum terlihat, tinggal ubah map setup dengan file yang kita unggah.

#bahlias03112011