Tags

, ,

Malam ini genap sudah saya menjalani malam ke-144 di tanah rantau. Jauh dari orang tua, namun lumayan dekat dengan sanak saudara. Mungkin ini yang dinamakan relativitas. Walaupun berjarak fisik jauh dengan keluarga inti, namun memiliki kedekatan jarak psikologis dengan mereka.

Ada sebuah syair menarik dari Imam Syafii, hujjatul Islam.

 

Orang berilmu dan beradab tidak diam di kampong halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika  mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

 

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

 

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

 

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan

 

Sepintas setelah membaca, saya menarik kesimpulan hanya dalam satu kalimat. “Manusia harus berusaha”. Satu kalimat tersebut mungkin cukup mumpuni untuk mewakili berbait-bait syair dari Imam Syafii. Tak perlu dengan gagah berani ‘merantau’ ke negeri orang karena tanpa merantau –dalam artian berpindah jauh dari kampung halaman- pun orang berilmu bisa mengamalkan ilmunya. Namun bisa jadi, dengan melakukan rantau ke negeri orang, pengganti kerabat dan kawan inilah yang mungkin tidak kita dapatkan ketika ‘merantau’ tidak dalam artian berpindah tempat.

 

#bahlias191011, dalam hening malam dan gemericik hujan