Opini · Resensi Buku

“Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Negeri ini memang ironi. Ya, itulah yang bisa dilihat dari film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Baru saja saya menonton film ini walaupun sudah tampil di layar lebar mungkin satu atau dua tahun yang lalu. Kebiasaan tidak menonton di bioskop selama mahasiswa banyak sedikit mengurangi pengetahun akan film-film yang sedang beredar. namun bukan berarti tidak menonton sama sekali, kebanyakan hanya menonton di depan layar monitor komputer dari film-film yang diunduh oleh kawan-kawan saya.

Potret pengangguran terdidik sebagai gambaran di negeri ini, ditampilkan pada awal film diputar. Sang tokoh utama, Muluk, yang merupakan sarjana manajemen tampak kesulitan mencari pekerjaan. Ironi, karena di satu sisi pemerintah menggalakkan pendidikan, namun ternyata mencari bekerja setelah lulus pun malah sulit. Muluk pun kemudian akhirnya bertemu dengan anak jalanan yang berprofesi sebagai pencopet. Tampak dari setting film, mengambil latar Pasar Asemka yang tidak jauh Stasiun Beos. Singkat cerita, karena tidak kunjung mendapat pekerjaan akhirnya Muluk pun bertemu dengan bos si pencopet untuk mengajukan proposal kerja sama.

Karena terenyuh melihat kehidupan para pencopet cilik yang semrawut, Muluk tergerak untuk melakukan kerja sama dengan mereka dari hasil copet sehari-hari. Muluk berencana untuk memutar uang yang ada agar suatu saat mata pencaharian para pencopet cilik tidak melulu mengandalkan dari hasil mencuri. Muluk menginginkan memutar uang mereka untuk dijadikan lahan usaha yang tetap dan bertahap mulai dari mengasong, membuka ruko, hingga memperluas usahanya.

Lambat laun dan sedikit demi sedikit para pencopet mulai tergerak untuk berubah. Tak hanya memutar uang hasil copet mereka, Muluk pun membekali juga dengan pendidikan sehingga mengajak dua tetangganya yang sama-sama berpendidikan tinggi untuk mengajar di lingkungan pencopet  tersebut. Pelajaran membaca, kebersihan, Pancasila, serta agama pun diberikan oleh Muluk dan kawannya.

Orang tua Muluk pun lambat laun tahu bahwa hasil uang yang didapatkan anaknya, Muluk, dari hasil copet para pencopet cilik. Ayahnya kecewa karena selama ini anaknya mendapatkan uang dari hasil copet yang merupakan hasil yang haram. Muluk dan kawannya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti mengelola sekolah pencopet setelah berhasil memodali para pencopet dengan enam buah kotak asong.

Karena negeri ini memang penuh dengan ironi, di akhir film disajikan drama lucunya negeri ini. Para pencopet yang akhirnya ‘insaf’ dan memilih untuk berdagangan asongan akhirnya dikejar-kejar oleh Satpol PP.  Adapun kawan-kawan pencopet yang belum insaf dan tetap mencopet di jalanan, juga dikejar-kejar oleh massa yang beringas. Memang sungguh ironi, mencari nafkah secara halal tidak aman, apalagi mencari nafkah yang tidak halal. Benar-benar lucu negeri ini.

Menurut saya, film ini sangat sarat makna dan membuka mata kita akan realita fenomena yang terjadi di negeri kita tercinta. Masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menyelesaikan dan mengatasi berbagai krisis multidimensi yang membelenggu Negara kita. Tinggal tunggu peran kita sebagai orang yang berpendidikan untuk menjadi bagian solusi menyelesaikan berbagai krisis tersebut.

#bahlias231011

Advertisements
Opini

Merantau

Malam ini genap sudah saya menjalani malam ke-144 di tanah rantau. Jauh dari orang tua, namun lumayan dekat dengan sanak saudara. Mungkin ini yang dinamakan relativitas. Walaupun berjarak fisik jauh dengan keluarga inti, namun memiliki kedekatan jarak psikologis dengan mereka.

Ada sebuah syair menarik dari Imam Syafii, hujjatul Islam.

 

Orang berilmu dan beradab tidak diam di kampong halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika  mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

 

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

 

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

 

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan

 

Sepintas setelah membaca, saya menarik kesimpulan hanya dalam satu kalimat. “Manusia harus berusaha”. Satu kalimat tersebut mungkin cukup mumpuni untuk mewakili berbait-bait syair dari Imam Syafii. Tak perlu dengan gagah berani ‘merantau’ ke negeri orang karena tanpa merantau –dalam artian berpindah jauh dari kampung halaman- pun orang berilmu bisa mengamalkan ilmunya. Namun bisa jadi, dengan melakukan rantau ke negeri orang, pengganti kerabat dan kawan inilah yang mungkin tidak kita dapatkan ketika ‘merantau’ tidak dalam artian berpindah tempat.

 

#bahlias191011, dalam hening malam dan gemericik hujan